
Setelah lama berbincang dengan Dokter Nesa, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang kerumah, tapi selama perjalanan bella hanya diam karena tak menyangka ternyata anak yang bernama Raisa itu ternyata adalah Abel, adik kandungnya sendiri.
"Bella kenapa sayang?" tanya Viana kepada bella.
"bella nggak papa Bun, oh iya ulang tahun bella kan tinggal 3 bulan lagi, sekalian sama ulang tahun sekolah jadi bella mau minta sesuatu sama Ayah dan Bunda boleh nggak?" tanya bella.
"Boleh sayang, emang bella mau minta apa nak?" tanya sang Ayah lembut.
"bella mau ulang tahun bella di selenggarakan di sekolah, sekalian sama ultah sekolah, terus bella bakalan nyiapin semuanya," ucap bella.
"Hanya itu sayang?"
"Sama satu lagi, Bella mau Raisa datang ke acara itu, nanti semuanya juga Bella yang ngatur," ucap Bella.
"Baiklah sayang, jika itu membuatmu senang maka Ayah akan mengizinkannya," ucap sang Ayah.
"Makasih Yah," ucap Bella sambil memeluk ayahnya.
"Jadi Ayah aja nih yang di peluk?" tanya Viana yang membuat mukanya secemberut mungkin.
"Hehe nggak dong," jawab bella lalu bergantian memeluk viana.
***
Kini hari telah berganti dan saat ini Bella sudah berada di sekolah masih dengan keadaan yang biasa, kacamata bulat besar yang terus menempel di matanya, dan tertahan hidungnya yang tak terlalu mancung.
Sekitar dua puluh menit yang lalu Bella sudah berada di sekolahnya untuk mempersiapkan dirinya, karena hari ini mereka akan menginap di pesantren raudhatul jannah untuk mewawancarai pemilik pondok pesantren tersebut.
"Hay bel ...," sapa seseorang yang selama ini bella telah menunggu - nunggu orang tersebut untuk menyapanya.
"Hay Stel ...," balas bella dengan senyuman manisnya.
"Rindu banget gue sama lo bel," ucap Stella sambil memeluk Bella.
"Gue apalagi Stel, gue rindu banget tau nggak sih sama lo dan Sinta," ucap bella sambil membalas pelukan Stella.
"Maafin kita yah," ucap Stella.
Brakh ...!
"Aws ...!" ringis bella sat tangannya kejepit meja saat mejanya di tendang oleh seseorang yang tak lain adalah Stella.
"Sorry sengaja," ucap Stella dingin lalu duduk di samping Bella.
Dan saat tangan bella kejepit meja saat irulah dirinya sadar ternyata yang tejadi tadi hanyalah sebuah hayalan yang entahlah apakah dia akan bisa merasakan itu semua ataukah tidak.
"Makanya kalau ngelamun lihat tempat dong, emangnya ini sekolah punya nenek moyang lo" ucapnya terjeda "ups gue lupa ternyata ini skolah kan milik bokap lo," ucap stella sambil menutup bibirnya.
"Salah aku apa Stel?"
"Banyak," jawab Stella ketus.
***
Saat ini Bella, Stella, Raka dan Riki sudah berada di depan gerbang pesantren yang berdiri kokoh dengan dominasi warna hijau serta gerbang yang sangat tinggi, mungkin agar para santrinya tidaj kabur.
__ADS_1
Saat ini mereka semua memakai pakaian yang layak, tapi tetap saja Bella berpenampilan cupu hanya saja dia memakai baju gamis berwarna hitam dengan hijab yang tak terlalu panjang dengan warna coklat susu, tapi walaupun begitu dia tetaplah mwnjadi cupu, akibat jilbab yang di sengajakannya agar menjadikan wajahnya menjadi bulat, serta kacama yang menempel di matanya dan buku catatan di tangannya untuk persiapan mencatat apa yang di katakan oleh pemilik pesantren ini.
"Assalamu'alaikum adik - adik, ini ada apa toh ramai - ramai ngumpul di sini?" tanya seseorang dari dalam gerbang yang masih tertutup rapat.
"Wa'alaikumsalam kak, ini kita dari sekolah SMA ANTARA ingin mewawancarai pak kiayi pemilik pesantren ini," jawab Andra tapi salamnya mereka menjawabnya dengan seksama.
"Lebih baik kalian pulang saja, karena percuma saja kalian datang kemari," jawab orang itu.
"Tapi kak please, kasih kami waktu kak," ucap Bella yang mulai membuka suara.
"Tapi sebaiknya yang masuk hanya satu orang, dan sebaiknya yang masuk wanita saja, karena di dalam hanya ada Ummi, karena Abah lagi ada urusan di pondok yang ada di kota - kota kecil," jawab seseorang itu.
"Lalu siapa yang masuk kak?" tanya Riki.
"Kalau kamu bagaimana?" tunjuk kaka itu kepada Stella.
"Emn enggak kak," tolak Stella pelan.
"Kenapa? ayok cepatlah lagian ini demi tugas sekolah mu, oh iyah kenalkan namaku Aisyah panggil saja dengan kak Aisya," ucap Aisya lembut.
"Baiklah kak," ucap Stella lalu masuk kedalan gerbang dan diukuti oleh raka, Riki dan Bella dari belakang tapi mereka hanya menunggu di tempat duduk dekat gerbang saja, sedangkan Stella terus berjalan bersama Aisya menuju sebuah rumah yang tak terlalu besar namun elegan di lihat.
***
sekitar tiga puluh menit menunggu kedatangan Stella akhirnya dia datang dengan muka yang lusuh.
"Gimana Stel?" tanya Riki.
"Gimana apanya? Orang yang punya aja dingin banget, terus judes lagi?" ucap Stella kesal sampai dirinya lupa kalau ternyata masih ada Aisya di antara mereka berempat.
"Kan kenyataan," ketus Stella.
"Kak boleh satu kali lagi nggak? biar aku aja yang masuk," kata bella memohon.
"Mari saya antar," ucap Aisya lalu pergi dengan Bella menuju rumah tersebut.
***
Sekitar swpuluh menit menunggu akhirnya Bella datang dengan wajah lusuh sama seperti Stella tadi, sedangkan Aisya sudah kembali ke asrama untuk mwngganti pakaiannya serta untuk menunaikan sholat ashar.
"Gimana Bella?" tanya raka.
"Berhasil," ucap Bella dengan merubah mimik wajahnya yang tadinya lusuh menjadi senang, dan tanpa dirinya sadari ternyata Stella sudah memeluk dirinya dan berkata "Kamu memang the best," ucap Stella.
Namun sekitar sepuluh detik dari situ akhirnya Stella kembali sadar dan melepas pelukannya dan kembali judes dan dingin seperti sebelumnya.
"Jadi kapan kita akan mulai mewawancarai?" tanya raka.
"Besok, tapi entar malam kita kembali kesini lagi tapi jangann lupa bawa pakaian yang sopan sama seperti yang kalian pakai saat ini dan jangan lupakan peci dan hijab, gue diluan yah, oh iya sama jangan lupa sebelum isya semuanya sudah harus di sini," ucap Bella lalu pergi melangkahkan kakinya menuju halte untuk menunggu bus.
#Part_33
Saat ini Rahma sedang berada di halte bus, sama seperti perkataannya tadi sebelum meninggalkan teman - temannya, namun saat ini fikiran Rahma melayang - layang memikirkan perkataan yang di katakan istri dari pemilik pesantren tersebut.
FlashBack on.
__ADS_1
Pov bella
Saat Aku mengikuti kak Aisyah ke rumah yang sederhana namu elegan itu awalnya aku terpaku saat masuk ke dalam rumah tersebut, menurutku ini benar - benar sangat indah bagaimana tidak, di pojok kanan lurusannya pintu masuk terdapat sebuah jam yang berdiri dengan warna kuning ke emasan, serta di pojok depan jam tersebut terdapat sebuah rak yang berwarna kecoklatan, dan di beberapa kitab suci Al-Qur'an yang terseseun rapi di bagian kedua dari atas rak tersebut, dan sisa rak - rak tersebut tersedia tasbih, dan beberapa benda yang lebih menonjok ke islamiah, benar - benar pemandangan yang indah.
Dalam rumah ini benar - bear sejuk, yang di dominasi warna kuning ke emasan, serta warna yang coklat dan putih, hingga menambah kesan elegannya.
"Dek ayo," tegur kak Aisya membuat aku langsung terkaget dan tersenyum.
"Kagum yah Dek?" tanya kak Aisyah sedikit berbisik saat aku sudah berada di sampingnya.
"Iya Kak, rumahnya sederhana, bagus dan elegan, benar - benar rumah impian aku dari dulu," ujarku dengan mata berbinar.
"Kamu nih, yasudah kamu silahkan masuk ke ruang keluarga," ucap kak Aisya.
"Dimana kak?" tanyaku bingung, karena walaupun rumah ini sederhana tapi tetap saja bagiku rumah ini cukup luas hingga ruang keluarga pun tak aku ketahui.
"Masuk ke pintu itu aja dek," ucap kak Aisya sambil menujuk lorong yang agak panjang dikit sekitar dua meter.
"Oke kak," kataku lalu kak aisyah mengepalkan tangannya lalu di angkat "semangat," kata kak Aisyah tanpa suara sedangkan aku hanya menyatukan ibu jariku dan telunjukku lalu mengankatnya.
Saat aku memasuki lorong itu, tiba - tiba lorong yang tadinya sedikit gelap langsung terang karena saat aku masuk lampunya menyala, 'mungkin lampu otomatis,' fikirku.
saat aku sudah selesai melewati lorong tersebut akhirnya akupun sampai di ruang keluarga yang di bilang kak Aisya, lagi - lagi aku takjub degan pemandangan ini, benar - benar rumah yang ku impikan.
Sofa yang berwarna putih dan meja kaca yang di atasnya ada teplak transparan berbentuk bunga - bunga dengan warna kuning ke emasan, serta ada kaligrafi yang di cetak sangat besar yang di gantung di dinding dengan bingkai yang berwarna kuning ke emasan, dan di depan kursi tersebut terdapat televisi yang berukuran besar, serta di belakang televisi tersebut ada lukisan alam yang menggambarkan bunga - bunga indah yang di balik bunga itu ada air terjun yang mengalir seperi nyata, tapi itu hanyalah sebuah lukisan.
"Maaf permisi," ucapku.
"Lebih baik kamu balik dulu, lalu pikirlah kesalahanmu itu apa, jika sudah kau ketahui maka baliklah kemari," ucap wanita yang sudah paruh baya itu lembut tapi terkesan dingin.
Aku terkaget, saat mendengar suaranya, baru kali ini aku mendengarkan suara wanita lembut tapi dingin, benar - benar aneh bukan? apalagi menurutku wanita ini sudah sangat paruh baya, dan memakai hijab yang sangatlah panjang, aku bergifir apakah tidak gerah? tapi yasudahlah itu bukan urusanku, toh aku kesini buat minta izin.
Akupun segera keluar dan memikirkan kesalahanku, lalu sekitar tujuh menit berfikir akupun bingung apa kesalahanku, akhirnya aku menanyakan kepada kak Aisya.
"Kak Aisya," ucapku lirih.
"Ada apa?" tanya kak Aisyah, aku memang selalu memanggilnya dengan sebutan kak, karena dirinya ini sudah berumur dua puluh enam tahun, tapi tetap saja mukanya tak keriput masih terlihat seperi anak kuliahan. Yak aku mengetahuinya karena dia yang memberi tahuku tentang umurnya saat tadi aku kebingungan memikirkan kesalahanku.
"Kak Aisya tau nggak Bella salah apa?" tanyaku sedangkan kak aisyah hanya tersenyum lalu mengakat kepala.
"Tapi apa kak?" tanyaku bingung, yah kak Aisyah tau karena aku menceritakannya saat aku masuk ke ruang keluarga tadi.
"Assalamu'alaikum ukhty," terdengar samar - samar di telingaku kala melihat santri yang baru saja datang sedang menyapa santri yang lainnya yang sedang duduk dan memegang Al-Qur'an di tangannya.
Akupun mengerti apa kesalahanku lalu aku masuk, dan lagi - lagi lampu itu menyala tapi aku tak memikirkannya, karena menurutku itu adalah lampu otomatis.
"Assalamu'alaikum, maaf tadi saya tidak sopan saat masuk dan menyapa Ummi," ucapku sedikit pelan kala menyebutkan sebutan 'Ummi' sambil menunduk.
"Yasudh tak papa, tadi itu pasti temanmu yang masuk kesini, yasudah saya terima tawaran kalian, dan pasti abah akan menerima, tapi jangan lupa kamu harus mengajak teman - teman kamu untuk menginap di sini selama kalian ingin mewawancarai, nanti kalian akan tinggal di asrama yang kosong yang kebetulan ada dua kamar di ruangan yang berbeda, satu kamar terdapat di asrama putri dan satu kamar terdapat di asrama putra yang hanya terhalangi pagar yang tingginya sekitar saru meter, tapi ruangan itu sampingan dan terhalang pagar," ucap wanita paruh baya ini.
"Baiklah saya mewakili teman - teman saya ummi, kalau kami semua setuju, saya pamit ummi assalamu'alaikum," ucapku lalu menyalimi puncuk tangan wanita paruh baya ini.
"Ingat kamu masih punya waktu dua jam lebih untuk berada di rumah, lalu setelah itu kembalilah kemaari sebelum isya,ingat pesan itun hati - hati di jalan, wa'alaikumsalam," jawab wanita paruh baya itu lembut, tak ada lagi kata kata yang dingin kekuar dari mulunya hanya ada kata - kata lembut yang keluar dari mulutnya. Akupun hanya terswnyum dan mengangguk lalu pergi kembali ke teman - teman ku.
Pov Bella off.
__ADS_1
FlashBack Off.