
Setelah membaca surat tersebut bella ingin kembali ke kelas tapi di perjalanan ia tak sengaja melihat sinta dan Stella sedang tertawa bahagia tanpa dirinya.
"Apa aku cuma nambah beban sama mereka?" satu pertanyaan yang lolos keluar dari bibir indahnya, tapi sinta dan Stella tak mendengarnya karena mereka berjauhan.
"Lo baru sadar kalau lo itu beban buat orang - orang?" tanya seseirang dari belakangnya siapa lagi kalau bukan rina and the gengs.
"Maaf saya mau pergi ke kelas dulu," ucap bella dan meninggalkan Rina and the geng lalu pergi ke kelas dengan tas yang berada di tangannya.
"Heh cupu gue bekum selesai ngomong," teriak Rina penuh amarah dan membuat semua siswa melihat dirinya begitupun dengan Sinta dan Stella.
"Tadi kenapa yah Stel?" tanya sinta.
"Nggak tau gue," jawab Stella apa adanya.
Di sisi lain terlihat seorang gadis berpenampilan cupu sedang berada di wc, gadis itu adalah bella tadi dia bukan langsung ke kelas melaikan dia pergi ke wc terlebih dahulu tapi saat tiba di wc dia langsung....
Brukh...!
Dan tak sengaja bella menabrak tiang wc dan membuat dirinya tak sadarkan diri.
***
"Hoam," ucap Bella menguap dan menutup mulutnya, saat dirinya sadar dia sudah berada di dalam ruangan yang bernuansa putih dan hijau dan menurutnya itu ruangan asing.
"Eh pasian sudah sadar Dok," ucap salah satu perawat.
"Maaf saya ada dimana?" tanya bella.
"Nona ada di rumah sakit, tadi dua orang siswa perempuan yang mengantar Nona," jawab dokter tersebut yang umurnya sama seperti orang tua Bella.
"Apa boleh saya bicara berdua sama dokter?" tanya bella dan perawat itupun mengerti lalu dia keluar dari ruangan tersebut dan menuju ruangan pasien yang lain, sedangkan yang menngantar Bella sudah tak ada di sana.
"Dok saya boleh minta tolong?"
"Boleh Nona silahkan," jawab dokter tersebut.
"Tapi sebelumnya saya mau menanyakan dulu, tadi yang mengantar saya namanya siapa?"
"Kalau tidak salah tadi namanya Sista dan Bunga," jawab dokter tersebut.
"Terus habis mengantar saya mereka kemana?"
"Mereka langsung pulang, katanya untuk memberitahukan pihak sekolah dulu, karena jika mereka mengubungi orang tuamu katanya mereka tak mengetahui siapa irang tuamu," jawab dokter tersebut tersenyum ramah.
"Yasudah kalau begitu makasih atau infonya, jadi saya mau minta tolong ...." ucap Bella sedikit membisik ke telinga dokter tersebut.
(kita tinggalkan mereka dulu yah, ini sengaja au nggak beri tahukan dulu soalnya nanti akan di bertahukan oleh seseorang.)
Dan saat mereka berbisik - bisik akhirnya dokterpun meng iyakan permintaan Bella.
"Terimah kasih Dok," ucap Bella tersenyum Ramah.
"Iya sama - sama, melihat senyum kamu kayaknya saya tak asing sama dirimu..
"Masa sih Dok? Sebenarnya saya juga merasakan begitu Dok."
"Kalau seingat saya kamu seperti wajah majikan saya namanya juga Bella tapi dia tinggalnya di surabaya," ucap Dokter tersebut, yah dokter tersebut adalah wanita.
"Iya Dok, yang saya ingat juga seperti itu, Dokter itu kayak mukanya pembantu saya dulu, tapi namanya saya sudah lupa Dok," ucap Bella.
"Hehe mungkin cum kebetulan saja kali," ucap Dokter itu cengengesan sedangkan Bella yang melihat hanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Yasudah saya permisih dulu Nona, kalau ada apa - apa tinggal pencet bel saja," ucap dokter tersebut.
"Iya Dok, nanti kalau orang tua saya datang pasti akan saya pencet bel-nya, agar Dokter juga bisa kenalan sama mereka," ucap Bella dan Dokter tersebut hanya menganggukan kepala lalu pergi.
***
Jam sudah menunjukan pukul 16:20 tapi Bella masih berada di rumah sakit karena menunggu kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang lalu membuka knop pintu rumah sakit dan terlihat dia orang yang sudah paruh baya, siapa lagi kalai bukan Viana dan antara.
"Wa'alaikumsalam Ayah, Buna," jawab Bella dan tersenyum.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Viana.
"Tadi katanya ke pleset di wc sekolah Bun."
"Kenapa nggak telfon Bunda?"
"Kan kita ini di surabaya Bun, Bunda kan tau sendiri kalau bunda lagi jaga butik di samping Rumah pasti hp nya nggak kebawa jadi aku nggak nelfon siapa - siapa," jawab bella dan membuat kedua orang tuanya melongo karena kaget apa yang di ucapkan bella.
"Kata Dokter kamu kenapa?" tanya Viana dan membuat bella ingat kalau dia akan mengenalkan Dokter yang menanganinya lepada kedua orang tuanya.
"Eh aku sampai lupa kalau aku akan mengenalkan dokter itu sama Bunda," ucap Bella cengengesan sedangkan orang tuanya bingung.
Tanpa ragu - ragu kemudian bella memencet bel tersebut dan selang beberapa menit Dokter tersebut pun datang.
Ceklek ...!
"Permisi, maf ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter tersebut.
"Eh enggak Dok, ini saya cuma mau kenalin Dokter sama Ayah dan Bunda saya," ucap Bella.
Lalu kedua orang tua Bella pun berbalik dan terkejut dengan wajah Dokter tersebut, sedangkan Dokter tersebut pun terkaget dengan apa yang di hadapannya ini.
"Bi Sri kan?" tanya Viana dengan muka sumringah.
"Iya Nya, tapi itu sebenarnya bukan nama asli saya."
Flash
back on.
Terlihat seorang wanita yang berjas putih yang menandakan bahwa dia telah resmi menjadi seorang Dokter.
"Dok, ada yang mau bertemu dengan Dokter," ucap seorang perawat.
"Tapi saya masih sibuk, lagi pula ini hari pertama saya kerja."
"Tapi Dok-"
"Baiklah, dimana dia sekarang?"
"Katanya dia menunggu dokter di cafe depan," jawab perawat tersebut.
"Baiklah saya kesana sekarang."
Lalu dokter tersebut berjalan dengan anggung menuju cafe tersebut, tak lama kemudian dirinya telah sampai di cafe tersebut.
"Selamat datang Nona," ucap seorang yang sepertinya adalah penyambut tamu, tapi hanya di balas dengan senyum lalu berjalan mencari seseorang yang mencarinya, tapi hasilnya nihil karena dirinya lupa menanyakan kepada perwat tersebut siapa nama orang tersebut.
"Selamat datang Dokter Vanesha Sriendra," ucap seorang lelaki yang umurnya sudah sekitar 30 tahunan, lalu dokter tersebut berbalik dan membelalakan matanya.
__ADS_1
"Saya tidak ada lagi urusan dengan anda," ucap Vanesha cepat.
"Tapi saya masih mempunyai urusan dengan dirimu."
"Tapi saya cuma punya waktu lima menit."
"Itu tidak masalah Dokter Nesa."
Setela hampir lima menit berbincang dengan seriusnya akhirnya mereka pun kembali ke asal masing - masing. (😂)
Dan sejak kejadian yang menimpa dirinya di cafe tersebut akhirnya Nesa dengan terpaksa harus meninggalkan gelar dokternya terlebih dahulu dan bekerja sebagai seorang pembantu di rumah seorang pengusaha sukses yang membuat banyak orang iri hati kepadanya.
"Ya Allah apakah aku harus membuang anaknya?" tanya Nesa.
"Tapi aku takut dosa ya Allah, tapi jika tak ku lakukan maka ayahku akan di bunuhnya," gumam Nesa.
"Baiklah ini demi Ayah."
***
Kini hari telah berganti dan saat ini Nesa sudah bekerja sebagai seorang pembantu di rumah seorang pengusaha terkenal yang tak lain adalah rumah Maulana dan Oktaviani.
"Bunda ...," teriak anak kecil itu menggema di ruangan, yah anak kecil itu adalah bella.
"Ada apa sayang?"
abel nangis bund."
"Yaudah ibu kesana."
Sedangkan Nesa yang menyapu rumah hanya berpikiran yang aneh.
"Haruskan ku buang bayi yang tak berdosa itu?" gumam Nesa.
Tapi apalah daya saat ini nyawa ayahnya ada di tangan Nesa jika dia membuang bayi tersebut maka Ayahnya akan lepas dari tangan seorang Vito, tapi jika tidak maka Ayahnya akan mati di tangan Vito.
***
Hari ini adalah hari kelima dirinya bekerja sebagai pembantu di rumah tersebut, dan Nesa di perlkakukan layaknya adik dari seorang Viani, karena jika makan pun dirinya makan bersama majikannya, dan rahma pun sangan menyenangi Nesa.
Tapi hari ini dia akan membuang seorang anak kecil yaitu adik dari seorang Bella, karena saat ini hanya ada dirinya dan bayi itu berada di rumah karena bella pergi ke butik untuk memangil ibunya.
"Maaf kan saya Nya," gumam Nesa lalu menggendong Rahma dan di bawa larinya.
Flash back off.
"Lalu di mana anak saya?" tanya Viana dengan air mata mengalir deras.
"Saya membuangnya di pinggir jalan dan saya manurhnya di dalam dos," jawab Nesa.
Mendengar hal tersebut Bella pun laangsung mengingat tentang seorang ibu yang di bantunya dala waktu beberapa minggu yang lalu.
"Aku tahu di mana abel sekarang," ucap Bella antusias.
"Kamu ingat?"
"Aku enggak jadi pura - pura amnesianya, karena tadi aku cuma pura - pura amnesia."
"Lalu di mana kamu melihat Abel sayang?"
"Aku melihatnya di rumah seorang janda beranak dua, dan wajahnya sangat mirip denganku," ucap Bella yang mengingat kembali wajah anak tersebut.
__ADS_1
m