Perubahan Sigadis Cupu

Perubahan Sigadis Cupu
Raka pindah ke sekolah Bella


__ADS_3

"Bella ...," teriak seseorang dari belakangku, akupun langsung berbalik.


"Eh Stella," ucapku, yah orang yang memanggilku adalah Stella.


"Kamu dari mana?"


"Dari kantin."


"Mau kemana?"


"Ke taman."


"Aku ikut yah, tapi aku simpan tas dulu."


"Iya, tapi aku tunggu kamu di taman yah."


"Iya, aku di luan yah."


"Iya."


Belum sempat mlangkahkan kaki menuju taman bel pun berbunyi.


Kring ... kring ... kring ...


"Eh udah bel, kita ke kelas bareng aja yuk."


"Yaudah deh," ucapku pasrah.


***


Kami pun sudah sampai di kelas, tapi anehnya siswa-siswi yang ada di kelas tidak mengejek kami, mereka hanya asik membahahas murid baru.


"Mereka nggak cari masalah lagi ?"


"Kalau itu aku nggak tau, yang aku tau katanya ada murid baru."


"Siapa Stel?"


"Yah aku nggak kenal sih, tapi yang aku tau mereka cowo dua orang."


"Oh, baguslah ada mereka, jadi aku nggak di ejek lagi," ucapku.


"Iya, tapi bukan cuma kamu doang yang nggak di ejek, aku juga bel."


"Hehe iya deh."


***


Tak lama kemudia bu Rani masuk.


"Misi anak-anak, assalamu'alaium."

__ADS_1


Kedatangan bu ririn membuat se isi kelas menjadi hening.


"Wa'alaikumsalam bu," jawab siswa kompak.


"Oke anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru, pindahan dari paris, kalian berdua silahkan masuk."


Tiba-tiba dua orang cowo masuk ke kelas.


"Silahkan perkenalkan diri kalian."


"Perkenalkan nama gue raka Al-Mahendra," ucap raka.


"Kalau gue riki Al-Mahendra."


'Wah tu cowok ganteng banget sih.'


'Aduh mak, menantu mama udah jemput nih.'


'Dih calon imam idaman banget nih.'


Itulah pujian yang di lontarkan cewe-cewe yang ada di dalam kelas.


***


raka Al-Mahendra, adalah anak pertama dari keluarga Mahendra, memiliki tubuh yang atletis, kulit putih, mata berwarna coklat pekat, dan hidung mancung. Sedangkan Riki Al-Mahendra adalah anak kedua dari keluarga Mahendra dan memiliki fisik yang sama seperti Raka, tapi wajah mereka nggak sama yah .


***


"Di mana bu?" tanya Raka.


"Di sampingnya Bella dan Stella," jawabnya.


"Dan yang mendapatkan tugas untuk mewawancarai pendiri pondok pesantren Raudhatul Jannah adalah Stella, Bella, Riki, dan raka," sambung bu Rani.


"Hah," ucap stella kaget.


"Kenapa?" tanya bu Rani


"Nggak papa bu," jawab Stella.


"Yasudah kalau begitu," jedanya "oke untuk kelompok tiga adalah ...," ucap bu Rani menyebutkan nama-nama siswa beserta tempat yang akan mereka wawancarai.


Setelah selesai membagi kelompok bu Rani pun keluar dari kelas karena pelajaran telah selesai dari 15 menit yang lalu.


***


"Duh gimana nih?" tanya Stella pada dirinya sendiri.


"Emang ada apa sih Stel?" tanyaku.


"Bisa-bisa kita stress nih."

__ADS_1


"Emang ada apa sih Stel? itukan tempat agama, untuk apa harus takut?" tanyaku.


"Yah karena pemilik pondok pesantren itu nggak bisa di tanya."


"Emang kenapa?"


"Kalau menurut kabar yang aku dengar sih, dulu itu pemilik pondok pesantren itu hidup bahagia."


"Loh, emang sekarang nggak?"


"Yah katanya sih nggak, semenjak anak kandungnya hilang entah kemana," jedanya "tapi aku juga nggak tau sih, itu benar atau nggak," sambungnya.


"Ohh, yaudah nanti kita coba aja dulu."


"Iya bel, ohh iya sebentar kita latihan kan?"


"Iya sebentar kita latihan kok, kan tugasnya akan di mulai kalau lomba sekolah telah selesai di laksanakan," jawabku.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ternyata ada yang memperhatikan mereka, siapa lagi kalau bukan Raka dan Riki.


***


"Tuh cewek kalau gue perhatiin kayaknya pernah lihat deh," gumam Raka.


"Kenapa kak?" tanya Riki, yah Raka dan Riki sekelas karena mereka lahir hanya beda 10 menit saja.


"Ehh, nggak papa kok dek, tapi kalau gua perhatiin tuh cewek beda yah."


"Beda apanya kak?"


"Yah beda aja gitu, coba deh lo perhatiin semua cewek yang ada di kas ini."


"Terus kenapa?"


"Lo bego amat sih, coba deh lo perhatiin mereka, mereka itu beda, dari tadi kita masuk mereka hanya B aja, sedangkan sedangkan siswi yang lain ngelihatin kita semua."


"Yaelah kak gitu aja di ambil pusing, mungkin mereka nggak sadar kali dengan ketampanan kita, ata mungkin mereka sadar diri kalli."


"Ehh lo apa-apaan sih, Abi nggak pernah yah ngajarin kita buat mandang orang dari fisik, tapi Abi itu ngajarin kita buat mandang orang dari hati."


"Hehe iyah deh."


"Lagian gue perhatiin wajah wanita itu, kayaknya nggak asing deh."


"Wanita yang mana kak?"


"Yang di pojok dekat dinding."


"Loh kok bisa nggak asing? Perasaan kita baru pindah kemarin deh, kok kaka bisa nggak asing?"


-

__ADS_1


__ADS_2