
"Bagaimana tidurmu semalam, cukup nyenyak, kan?" tanya Saras ketika bertemu dengan Dewo setelah semalaman begadang menemaninya.
"Tentu saja Saras, tidurku terasa sangat nyenyak dan mimpiku sangat indah," ucap Dewo melempar senyum andalannya.
"Kau seperti orang yang masih remaja sama Mas, sikap mu seperti orang yang tidak waras," ledek Saras menggelengkan kepala melihat tingkah Dewo.
"Aku tidak waras dikarenakan kau Saras, saking cintanya mungkin, jadi seperti ini." jawab Dewo yang masih tersenyum menatap Saras.
Saras melotot ke arah Dewo, ia mencubit pinggang Dewo dengan tangan kanannya, dan saat itu Dewo terlihat sangat kesakitan.
"Siapa suruh kau mencintaiku, aku tidak memintamu untuk mencintaiku," ucap Saras menatap tajam.
"Aku sendiri tidak mau, tapi entah kenapa hatiku tetap saja mau, lalu aku bisa apa?" Dewo mencoba untuk menghindar dari cubitan Saras yang kecil namun terasa sangat sakit itu.
Karena terkesan menyebalkan, membuat Saras tidak berhenti untuk mengejar Dewo dan mencubitnya terus menerus, ada tawa di sana, ada juga kebahagiaan yang dapat Saras rasakan ketika menatap wajah Dewo, kini Dewo semakin berani dan terang-terangan membuka tabir perasaannya pada Saras. Hingga membuat Saras benar-benar takut jika sampai Dewo pergi dari hidupnya karena tidak terbalas.
Sebelum berangkat bekerja, Saras dan Dewo menghabiskan waktu dalam canda bersama, dan saat itu Saras menatap Dewo dengan tajam setelah Ia mengejar Dewo untuk mendapatkan cubitan darinya.
"Tolong jangan cintai aku sekarang," lirih Saras meminta hal itu pada Dewo.
"Kenapa? Apa mencintaimu adalah sebuah kesalahan?" tanya Dewo sedikit terkejut mendengar permintaan Saras.
__ADS_1
"Kau tahu kan, tugasku berat. Tanggung jawabku besar, aku harus melunasi hutang-hutangku terlebih dahulu agar aku bisa hidup dengan tenang, dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama, aku takut jika kau mencintaiku sekarang, di saat aku sudah siap nanti, kau sudah tidak lagi memiliki perasaan itu lagi." jelas Saras menatap kedua bola mata pria yang sudah membuat dirinya nyaman itu.
Dewo terdiam sejenak ketika mendengar penjelasan dari Saras, ia melempar senyum lalu menggenggam kedua tangan Saras dengan tatapan sayu.
"Saras, dengar aku, kau pikir cinta ku ini memiliki masa, hingga kau takut aku tidak mencintai mu lagi? Tidak Saras, kau salah besar. Aku mencintaimu sekarang, besok, dan nanti. Jadi kau tidak perlu takut jika cintaku ini akan kadaluarsa," ucap Dewo mencoba untuk meyakinkan Saras ketika itu.
"Benar kah? Manis sekali pengakuan cintamu Mas, tapi mohon sabar menunggu, aku ingin kau bersamaku sebagai partner kerjaku saat ini, setelah semua hutangku lunas, kau akan menjadi partner kerja sekaligus partner hidupku," seru Saras yang membalas pengakuan cinta dari Dewo.
"Apa itu artinya kau menerima cintaku?" tanya Dewo penasaran.
"Mas, jangan terlalu jauh. Oh ya, kita sudah telat, hari ini jadwal kita ke salon mu, ayo bantu aku untuk tetap bersemangat." ajak Saras menarik tangan Dewo dan membawanya pergi.
Sengaja Saras menggantung pertanyaan Dewo di atas rasa penasaran, karena jika sampai Dewo tahu lebih cepat, hal indah itu akan berkurang dan rasa penasaran Dewo terhadapnya pun akan berkurang jauh.
Senyum Saras menyambut pagi yang indah ini, entah mengapa ia selalu merasa bahagia ketika bersama dengan Dewo, sementara Dewo sendiri juga terlihat fokus pada niatnya untuk membantu Saras, melunasi hutang yang cukup banyak butuh kerja keras ekstra agar semua hutangnya dalam terlunasi.
Namun, hal itu tidak mudah seperti bayangan. Bekerja siang dan malam tidak menutupi kebutuhan yang ada, terkadang Saras dan Dewo juga harus memutar otaknya agar modal yang mereka pakai dalam berbisnis tidak terpakai untuk kehidupan sehari-hari.
Pasang surut sebuah bisnis pun mereka berdua alami, dari WO yang sepi karena tidak musim kawin, juga salon yang tidak begitu banyak pelanggan karena di kota itu sudah ada banyak sekali saingan yang membuka salon, sama seperti bisnis Dewo yang ia pilih.
Sampai suatu ketika, salon yang buka dari jam delapan pagi hingga jam lima sore, tidak ada satu pun yang datang untuk melakukan perawatan, Dewo dan Saras yang saat itu sedang duduk menanti pelanggan pun nampak gelisah karena seharian ini belum ada pemasukan yang meraka terima.
__ADS_1
Pandangan Saras dan Dewo mengarah ke pintu kaca yang sengaja dibuka, terlihat ramai jalanan itu dengan sepeda motor dan mobil, namun tidak ada satu mobil atau sepeda motor yang memarkirkan kendaraannya di depan salon milik Dewo.
Semangat yang tadinya membara kini seperti hilang di telan masa, Dewo melihat dengan jelas tatapan kecemasan di wajah Saras saat itu, dan saat itu Dewo mencoba untuk mendekati Saras dan menyadarkan nya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Saras?" tanya Dewo menggenggam tangan Saras yang terasa sangat dingin.
"Mas, ini sudah mau magrib, tapi tidak ada satu pelanggan pun yang datang, aku cemas kalau salon mu ini ternyata sudah memiliki banyak saingan," ucap Saras yang begitu panik.
"Sssst, Saras, jangan cemas berlebihan. Rezeki, maut, dan jodoh sudah di atur oleh yang menciptakan kita. Jangan berkecil hati, sebelum salon ini sepi, bukannya kita pernah menerima pelanggan sampai antri-antri?" tanya Dewo yang mencoba untuk mengingatkan Saras.
Saras mengangguk pelan, ia tentu saja mengingat kala itu, di mana Dewo dan Saras sangat bingung ketika banyak sekali yang datang untuk melakukan perawatan, dan saat mengingat hal itu Saras bisa tersenyum kembali seperti sebelumnya.
"Ya Mas, aku sangat ingat masa-masa itu," lirih Saras membenarkan ucapan Dewo.
"Kita juga tidak pernah melihat salon kita sesepi ini, kan?" tanya Dewo pada Saras.
"Tidak Mas, baru kali ini aku mendapati salon ini begitu sepi," seru Saras menatap beberapa bangku yang terlihat tidak ada satu orang pun yang menempati.
"Begitu lah sebuah bisnis Saras, terkadang sepi dan terkadang juga ramai, kita harus sabar menghadapi semua liku-liku perjalanan bisnis kita, asalkan kita tidak menyerah di tengah jalan, dan tetap menikmati prosesnya, jangan takut jika kita tidak mendapatkan jatah dari yang memberikan kita rezeki." jelas Dewo yang memberikan semangat pada Saras.
Saat itu Saras membalas tatapan Dewo, di sini Dewo lah sebagai peran utamanya, karena salon itu adalah milik Dewo pribadi, dan Saras tersadar bahwa pemilik salon saja sama sekali tidak merasa cemas berlebihan, namun mengapa Saras yang hanya membantu terlihat begitu panik?
__ADS_1
Apa mungkin Saras berpikir bahwa jika salon Dewo sepi, ia tidak akan menerima bantuan dana dari Dewo? Tidak, Saras bukan wanita seperti itu, Saras adalah wanita pekerja keras, ia tidak mungkin memanfaatkan partner kerjanya dengan hal-hal yang tidak baik.
Karena sudah hampir malam, akhirnya Dewo memutuskan untuk menutup salon tersebut dan mengajak Saras pulang. Ia tidak ingin jika Saras kelelahan dalam berpikir yang tidak-tidak di sana.