
"Karena kau harus minum obat, maka kau harus makan dulu sekarang," ucap Dewo yang saat itu sudah menyiapkan makanan untuk Saras.
"Apa ini, Mas?" tanya Saras ketika melihat makanan di sebuah mangkuk.
"Aku membuatkan mu bubur ayam spesial, karena kau sedang sakit, jadi aku harus merawat mu," seru Dewo yang saat itu sudah siap untuk menyuapi makanan pada Saras.
"Mas, aku ini sehat, hanya saja perutku yang sedang bermasalah. Tapi bukan berarti kedua tangan dan kedua kakiku tidak bisa digerakkan," kata Saras yang menatap Dewo serius, kali ini ia menganggap bahwa Dewo sedikit berlebihan.
"Intinya aku ingin merawat mu Saras, tidak perduli kau suka atau tidak. Yang jelas aku ingin merawat mu saat ini." jelas Dewo dengan tatapan seriusnya.
Saras terdiam, ia tidak bisa menolak saat itu, rasanya ia merasa sangat senang ketika mendengar ucapan dari Dewo yang terdengar sangat manis. Sayang saja Saras harus sakit seperti itu hingga membuatnya tidak bisa bekerja dengan maksimal. Pekerjaan yang sudah terlanjur disetujui itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena Saras pastinya akan mendapatkan masalah jika itu terjadi.
Pukul sembilan nanti mereka berdua mau tidak mau harus kembali bekerja, di salah satu gedung mewah. Dan Saras pun harus berangkat karena itu adalah sebuah janji yang harus ia tepati.
"Saras, jika kau masih merasa belum sembuh, lebih baik kau di rumah saja," ucap Dewo saat itu.
"Enggak bisa Mas, aku harus tetap berangkat karena ini adalah tugasku, tugas kita. Kebahagiaan mereka, ada saat kita datang ke sana, jadi kita harus tetap berangkat, ayo." jelas Seras bangkit tanpa mengindahkan larangan dari Dewo.
Dewo menggelengkan kepala, ia tidak menyangka jika Saras adalah wanita yang sekuat itu, bahkan di saat dirinya sakit saja ia tidak mengeluh, dan Dewo sama sekali tidak mendengar keluhan itu, Saras justru memikirkan kebahagiaan orang lain, orang yang telah memesan jasanya.
"Baik lah karena kau memaksa, aku akan ikut bersamamu," ucap Dewo yang saat itu akhirnya mengikuti keinginan Saras.
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya Mas, kau sudah mau mengerti keadaan ku, aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun dari usaha yang selama ini aku bangun, meskipun aku tahu bahwa mereka akan memahami keadaan ku, tapi bagaimana dengan nasib gadis itu yang harus ku rias dengan baik, pastinya akan ada kekecewaan yang ada di hatinya," seru Saras yang begitu sangat berhati-hati.
"Ya, aku tahu maksud mu, ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat." ajak Dewo yang saat itu mencoba untuk memahami Saras.
Saras menganggukkan pelan, ia pergi untuk bersiap-siap lalu setelah itu ia menemui Dewo kembali. Dengan sangat hati-hati Dewo menuntun Saras padahal Saras menolaknya karena mengira bahwa ia masih kuat berjalan sendiri. Namun kali ini Dewo tidak akan mengalah, Saras lah yang harusnya mengikuti perintahnya, bukan dirinya.
Tibanya di lokasi, saat sesi pemotretan belum berjalan, Dewo mengantarkan Saras pergi ke kamar pengantin, lalu ia memesan pada salah satu pelayan untuk memberikan cemilan di kamar tersebut, agar Saras tidak sampai kelaparan dan mag yang ia rasakan itu akan kembali kambuh.
Perhatian kecil itu membuat Saras merasa sangat senang, karena Dewo begitu memperhatikan dirinya yang kala itu sedang membutuhkannya.
'Terima kasih Mas, kau selalu memberikan perhatian lebih untukku, aku sangat bersyukur karena kau selalu memberikan yang terbaik untukku.' batin Saras menatap penuh senyum sembari masih fokus merias seorang gadis yang sedang duduk dengan perasaan was-was itu.
"Hei, kenapa kau sepertinya sangat tegang sekali?" tanya Saras pada gadis itu.
"Wah, manis sekali ya kisah cintamu, pasti itu sangat membahagiakan sekali karena akhirnya kau bisa memiliki pria itu," seru Saras membalas curhatan gadis tersebut.
"Ya, tentu saja aku sangat bahagia, rupanya menikah dengan pria yang kita cintai itu merupakan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku tidak menyangka jika ternyata aku bisa sebahagia ini." jelas gadis itu melempar senyum.
Saras pun ikut tersenyum menanggapi ucapan dari gadis itu, ia kembali membayangkan sosok Dewo yang selama ini ada di dekatnya, Dewo yang selama ini ada untuknya dan selalu menyertakan bentuk cintanya dalam setiap langkah, entah mengapa Saras ketika itu merasa sangat senang dan terbayang jika gadis yang saat ini duduk di rias olehnya itu, ia gambarkan sebagai dirinya yang akan segera menikah dengan Dewo.
Lalu setelah membayangkan pernikahan bersama Dewo, Saras kembali membayangkan betapa bahagianya ketika hubungan mereka berubah menjadi suami istri, yang tadinya hanya sebatas partner biasa di dalam sebuah bisnis, kini mereka menjadi partner seumur hidup.
__ADS_1
"Mbak, kenapa kau memberikan make up tebal hanya di bagian pipi kanan ku?" tanya gadis itu yang langsung membuat Saras tersadar.
"Oh ya ampun, aku akan segera merapikannya, maaf ya aku tidak sengaja," ucap Saras yang saat itu merasa tidak enak hati.
"Ya ampun, apa kau sedang memikirkan sesuatu? Sampai kau tidak fokus seperti ini?" ulang gadis itu yang mempertanyakan sikap Saras.
"Ya, sebenarnya aku sedang memikirkan sesuatu saat aku merias wajahmu. Aku sudah berpengalaman merias banyak sekali pengantin wanita, tapi aku sama sekali belum merasakan bagaimana bahagia nya saat wajahku di rias." jawab Saras berbicara jujur pada gadis itu.
Gadis itu meresponnya dengan baik, ia terlihat fokus menatap Saras karena sebelumnya ia mengira bahwa Saras sudah menjadi seorang istri.
"Jadi kau masih gadis?" tanyanya dengan tatapan penasaran.
"Tentu saja, aku masih masih gadis," lirih Saras membalas dengan senyum.
"Astaga, aku berpikir kalau kau ini sudah menikah, kenapa kau belum menikah? Apa aku belum punya kekasih?" tanyanya lagi dengan penuh selidik.
"Tidak, aku tidak memiliki kekasih. Tapi aku hanya memiliki teman yang sudah ku anggap lebih dari seorang kekasih," lirih Saras dengan bangga.
"Benar kah? Wah, beruntung sekali pria yang diam-diam kau cintai itu, semoga nanti nya kalian bisa bernasib sama denganku, menjadi partner seumur hidup kalian nantinya." jelas gadis itu dengan percaya diri.
Saras tidak menjawab apapun, ia hanya tersenyum kecut lantaran melihat sikap gadis itu yang ternyata mudah sekali di ajak mengobrol, sepanjang ia merias hanya ada tawa di kamar itu. Saras menceritakan bagaimana ia mencintai dalam diam, dengan menyebut suatu hal yang perlu ia bereskan, dan gadis tersebut mengerti posisi Saras yang salah tingkah saat ini.
__ADS_1
"Kau benar-benar keren, tapi kalau bisa katakan saja bahwa kau mencintai nya, dengan begitu dia akan semakin tidak ragu ketika harus menunggu dirimu lebih lama," usul gadis tersebut setelah mendengar cerita dari Saras.
"Benarkah? Apa ide mu itu tidak akan membuat pertemanan kami menjadi kikuk dan canggung, ketika kami sudah saling mengetahui bahwa kami sama-sama mencintai? Aku ragu, aku takut justru nanti akan ada jarak di antara kami," ucap Saras yang sangat takut ketika membayangkan semua itu.