
Setelah menyelesaikan riasannya, dan acara pun akan dimulai. Saras meminta teman dari pengantin wanita itu datang dan membantu untuk memegangi gaun pengantin yang sangat mewah dan panjang itu. Agar pengantin dapat berjalan dengan selamat, dan saat itu Dewo menemukan sebuah pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Ya, pengandangan kala bertemu dengan Saras adalah pemandangan yang sangat membahagiakan, bahkan ia lebih bahagia dari sekedar lepas dari masalahnya pada mafia beberapa hari terakhir ini.
"Ya ampun, kapan aku bisa melihat Saras memakai gaun pengantin seperti itu, dan duduk di sampingku dengan siap untuk mendengar ijab qobul yang ku lantunkan, aku bisa gila kalau terus-terusan berpikir seperti ini." ungkap Dewo yang saat itu merasa sangat bingung, bingung mengendalikan perasaannya yang begitu menggebu pada Saras.
Saat ijab qobul telah berlangsung, Saras dan Dewo duduk di kursi tamu. Mereka menjadi saksi atas pernikahan yang mereka hadiri. Wajah Saras nampak ceria ketika ia mengingat kembali ucapan calon pengantin wanita yang memuji usaha riasnya. Dan hal itu disadari oleh Dewo yang tiba-tiba menyentuh pundak Saras, hingga membuat Saras terkejut dan menatap ke arah Dewo.
"Ada apa Mas?" tanya Saras yang mengira bahwa Dewo akan bicara padanya.
"Tidak ada, aku hanya bingung melihat sikap mu, kau terlihat begitu sangat bahagia. Kalau boleh aku tahu, apa yang membuat mu tersenyum sendiri seperti ini," lirih Dewo membalas tatapan Saras.
"Oh, jadi kau ingin tahu, dan ingin mendengar ceritaku? Baik lah, aku akan menceritakan semua padamu. Kau tahu, tadi pengantin wanita itu memuji karyaku dan kerja kerasku saat memoleskan make up di wajahnya, hal itu tentu saja membuat aku sangat senang dan bahagia, Mas," ucap Saras menatap Dewo yang sedang menatap nya juga.
"Oh ya? Apa kau tidak menjadikan itu kesempatan untuk mempromosikan WO kita, siapa tahu hasilnya akan sangat memuaskan?" tanya Dewo sangat tertarik mendengar cerita Saras.
"Ya, aku promosikan padanya, aku meminta dia untuk memperkenalkan WO kita kepada teman-temannya, dan kau tahu apa jawabannya? Dengan senang hati dia akan mempromosikan WO kita, Mas." jawab Saras dengan semangat.
Dewo tentu saja merasa sangat senang. Saras memang patut untuk dipuji, karena usaha dan kerja kerasnya tidak pernah main-main selama ini, dan dia berhak atas pujian yang membuat hatinya melayang itu. Karena Dewo sendiri tidak pernah lepas memuji Saras ketika ia selesai merias pengantin atau wanita yang ingin pergi ke sebuah acara.
"Saras, apa kau memiliki ide lain, mencari karyawan lain untuk mempromosikan WO kita, agar segera di kenal oleh masyarakat?" tanya Dewo memberikan usulan.
Saras menatap Dewo saat itu, tiba-tiba saja wajahnya semakin ceria ketika mendengar penawaran dari Dewo.
__ADS_1
"Mas, kau memberikan ide yang sangat bagus sekali," ucap Saras yang langsung menatap wajah Dewo dengan senyuman.
"Apa kau setuju dengan ide dariku?" tanya Dewo memastikan.
"Tentu saja aku setuju Mas, setuju sekali. Baik lah, untuk usaha kita yang akan semakin berkembang nantinya, maka kita harus berkorban dari sekarang." jawab Saras setuju, dan dengan senyuman ia menatap Dewo.
Dewo pun merasa sangat lega saat itu, karena melihat Saras yang langsung menyetujui ide darinya. Dan setelah semua berjalan dengan lancar, kini tiba giliran Dewo yang meluncurkan aksinya. Mengabadikan prewed yang saat ini ia hadiri, di memory kamera yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku tinggal dulu ya, mereka sepertinya menginginkan aku," ucap Dewo berpamitan.
"Menginginkan apa?" tanya Saras menatap serius.
"Menginginkan untuk memintaku memotret mereka." jawab Dewo penuh tanya.
Malam harinya, Dewo dan Saras kembali ke ruko mereka. Dengan rasa lelah yang mereka rasakan satu sama lain. Acara pesta pernikahan yang mereka hadiri itu cukup membuat mereka kewalahan, Saras harus merias para keluarga yang meminta untuk di foto. Sementara Dewo sendiri terlihat lelah lantaran banyak sekali keluarga yang meminta untuk di foto.
"Oh ya ampun, aku lelah sekali," ucap Saras yang menyandarkan dirinya di depan ruko.
"Mana kuncinya, biar aku yang membuka. Agar kau bisa segera istirahat," pinta Dewo yang merasa kasihan pada Saras.
"Di dalam tas Mas, aku memang benar-benar lelah kali ini." jawab Saras lirih dengan kedua mata yang sudah sangat berat untuk ia buka.
__ADS_1
Saat sudah dibuka Dewo meminta Saras untuk segera istirahat di kamarnya. Dan saat itu Saras hanya membalas dengan anggukan kepala, lalu setelah itu ia masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya lalu tidur.
Sementara Dewo sendiri masih harus mengecek kameranya di kamar, ia ingin memasang foto Saras di atas dipan kamarnya, di sana sudah ada beberapa foto Saras dengan pose yang berbeda-beda. Dan tentunya hal itu tidak disadari oleh Saras yang tidak tahu bahwa Dewo melakukan hal tersebut.
Dewo menatap wajah Saras di foto tersebut tanpa kedip, rasa lelah nya kini hilang seketika saat melihat senyum dari Saras yang telah ia curi. Wajahnya terlihat sumringah kembali ketika menatap wajah Saras, wanita yang amat ia cintai.
"Kan ku tunggu sampai kau bersedia menikah dengan ku Saras, akan aku dukung sampai semua hutang mu lunas pada tuan Takur, aku tidak akan membiarkan dirimu sendirian menghadapi semua masalah mu, aku akan ada di sini untukmu." ungkap Dewo yang berbicara pada gambar Saras yang ada di tangannya.
Setelah puas menatap wajah Saras, Dewo pun meletakkan foto tersebut pada jejeran foto-foto lainnya. Lalu setelah itu ia merebahkan tubuhnya untuk melanjutkan istirahat, ia tidak mau jika sampai besok pagi ia akan telat bangun dan mendapatkan omelan lagi dari Saras.
Namun beberapa kali ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya, entah mengapa Dewo tidak berhasil. Sampai akhirnya Dewo memutuskan untuk menghubungi Saras agar hatinya lega.
Suara ponsel yang berdering menganggu istirahat Saras, namun ia masih berusaha membuka mata dan meraih ponselnya.
"Halo," lirih Saras mengangkat telpon tersebut.
"Saras, apa kau sudah tidur?" tanya Dewo.
Suara yang begitu familiar, dan saat Saras membuka mata lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya menunjukkan bahwa itu adalah Dewo membuatmu Saras menepuk jidatnya.
"Apa seharian kita bertemu dan bersama tidak cukup untuk mu Mas, sampai membuat mu harus menggangguku di saat waktunya aku untuk tidur," omel Saras pada Dewo saat itu.
__ADS_1
"M-maafkan aku, tapi aku sangat ingin mendengar suaramu sebelum aku memejamkan kedua mataku, aku sangat gelisah, Saras," ucap Dewo mengutarakan isi hatinya.
Saras pun tersenyum, ia benar-benar membuka kedua matanya saat ini dan menemani Dewo mengobrol, meksipun saat itu ia sangat mengantuk.