
"Mas, aku sangat berterima kasih sekali karena kau sudah bersedia menungguku sampai selama ini, dan aku sangat senang sekaligus menghargai pengorbanan mu, untuk satu bulan ke depan, aku harap kita tidak membahas apapun tentang perasaan, karena aku ingin fokus dengan semua tanggal yang sudah padat ini, apa kau bersedia, Mas?" tanya Saras meminta persetujuan.
"Tentu saja aku bersedia Saras, menunggumu selama ini saja aku mampu, apalagi menunggu mu sampai satu bulan ke depan, itu mudah bagiku." jawab Dewo dengan tulus dan senyum yang ia pancarkan.
Saras terkesima mendengar jawaban dari Dewo, sayang sekali ia harus memberikan jawaban itu pada Dewo, padahal jauh dalam lubuk hati Saras yang paling dalam, ia juga sebenarnya menyimpan perasaan yang sama seperti yang diungkapkan oleh Dewo, namun Saras selama ini lebih memilih diam dan menyimpan perasaan itu sendiri tanpa mengatakan apa-apa pada Dewo.
Keesokan harinya, Saras dan Dewo memulai aktivitas baru setelah sibuk di salon selama ini, WO yang dipegang oleh Saras tak kalah sukses baik di sosial media maupun di dunia nyata, sudah banyak pengikut yang Saras memiliki, karena setiap momen penting selalu Saras abadikan melalui vidio dan foto, sebagai strategi mereka untuk mencari peluang kesempatan agar orang-orang mengenal riasan yang dibuat oleh Saras.
Selama ini tidak pernah ada cekcok antara Saras dan juga Dewo, mereka selalu saja seiring berdua tanpa ada perdebatan yang membuat hubungan mereka renggang, justru hubungan mereka semakin akrab hingga membuat para pelanggan mereka itu mengira bahwa mereka adalah sepasang suami dan istri.
Suatu ketika, saat Saras tidak sempat menikmati makan siang di tengah pesta yang sedang berlangsung, Saras merasa perutnya sangat sakit, karena sejak tadi ia menahan lapar. Sementara Dewo sendiri bersama tim nya sudah menyantap makanan yang dihadiri beberapa menu di dalam prancisan.
'Aduh, ya ampun perut ku sakit sekali, aku lapar.' batin Saras yang menahan diri ketika tangannya masih sibuk merias.
Karena tugasnya masih banyak dan tidak bisa digantikan oleh orang lain, akhirnya Saras memutuskan untuk mempercepat riasannya. Ini adalah hari ke delapan mereka mendatangi tempat pesta yang memakai riasan Saras, dan Saras pun nampak terlambat makan beberapa hari ini karena kesibukannya yang tidak ada pengganti.
Dewo pun nampak celingukan mencari Saras di saat jam siang tiba, saat itu Saras datang dengan wajah yang sangat pucat, ia tidak nafsu makan karena perutnya semakin terasa sakit saat itu.
Dewo menyadari kedatangan Saras, namun dalam kondisi yang berbeda, kondisi yang ia lihat saat ini adalah Saras yang nampak sekali sedang menahan rasa sakit. Dengan cepat Dewo menghampiri Saras dan meminta Saras untuk duduk di sebuah kursi berbungkus kain itu.
__ADS_1
"Saras, ada apa dengan mu, kenapa kau terlihat sedang menahan rasa sakit?" tanya Dewo menyadari.
"Entah lah, perut ku sangat sakit sekali, Mas," lirih Saras menahan perutnya.
"Kau mungkin terlambat makan, apa jangan-jangan kau juga tidak mengkonsumsi air mineral di saat kesibukan mu datang!" omel Dewo yang saat itu mencemaskan keadaan Saras.
"Entah lah Mas, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan sakit ini lagi." jawab Saras memejamkan kedua matanya sambil meremas perutnya yang sakit.
Dewo terlihat panik, mana mungkin ia tidak panik saat melihat wanitanya sedang merasakan sakit. Ia nampak sedang berpikir apa yang harus ia lakukan saat itu, di tengah pesta yang sedang berlangsung akhirnya Dewo memutuskan untuk membawa Saras pulang.
Saat itu Saras menolak ketika Dewo mengajaknya pulang, karena ia merasa bahwa tugasnya itu belum selesai.
"Mas, kau mau bawa aku ke mana? Tugasku belum selesai, Mas," ucap Saras keberatan.
"Ayolah Mas, jangan terlalu mencemaskan aku seperti ini, aku serius, aku baik-baik aja kok." jawab Saras yang saat itu terlihat memaksa untuk tetap ada pada pendiriannya.
Dewo tak bisa berbicara ketika Saras memaksa, meskipun kasihan namun Dewo tidak bisa mencegah keinginan Saras untuk tetap mengemban amanahnya. Dewo hanya bisa memutuskan untuk mengambil makanan yang sekiranya bisa dinikmati oleh Saras ketika perutnya terasa sakit. Dan Saras pun memakannya ketika nasi tidak bisa ia nikmati dengan lezat.
Tepat pukul tujuh malam, rupanya rasa sakit itu tidak bisa di sembuhkan hanya dengan duduk dan istirahat di tempat orang yang sedang merayakan pesta. Saras akhirnya mengajak Dewo untuk pulang karena rasa yang tidak tertahankan itu. Dan saat itu Dewo dengan cepat mengikuti ajakan Saras karena memang itulah yang sejak tadi dinantikan oleh Dewo.
__ADS_1
"Apa rasa sakitnya tidak berkurang?" tanya Dewo pada Saras ketika berada di satu mobil taksi yang sama.
"Tidak Mas, rasanya semakin sakit saja, aku tidak tahu kenapa," ucap Saras yang saat itu masih meremas perutnya.
"Kita ke klinik dulu ya, biar kita tahu apa masalah nya." tawar Dewo yang saat itu tidak bisa diam saja.
Kali ini Saras tidak mau membantah atau menolak, karena sakit yang ia rasakan akan semakin terasa ketika melihat Dewo kecewa dengan penolakan darinya. Untuk itulah Saras kali ini mengikuti perintah Dewo yang mencemaskan dirinya.
Tibanya di sebuah klinik, Dewo membantu Saras dengan cara memapah dirinya, dan sebelum masuk ia berpesan pada supir taksi untuk menunggu di luar, karena setelah di periksa mereka akan kembali melanjutkan perjalanannya ke salon.
Setelah melakukan pemeriksaan, akhirnya dokter mendapatkan informasi terkait penyakit apa yang pasien barunya itu alami. Dewo yang sejak tadi berada di samping Saras itu nampak tegang ketika ingin mempertanyakan hal tersebut.
"Bagaimana Dok?" tanya Dewo yang akhirnya memberanikan diri.
"Anda suami dari pasien?" dokter tersebut justru berbalik tanya pada Dewo, dan pertanyaan itu tentu saja membuat Dewo tidak tahu harus menjawab apa.
"Emmm, iya Dok, bagaimana keadaan Saras," lirih Dewo mengiyakan pertanyaan dokter, ia terpaksa menjawab itu karena ingin cepat-cepat tahu masalahnya.
"Ini gejala sakit mag Pak, istri Bapak tidak boleh telat makan dan kalau bisa banyak-banyak minum air putih, jangan sampai telat, karena ini hanya gejala saja, dan masih bisa disembuhkan kalau kita mau berusaha mengubah pola hidup sehat kita." jelas dokter tersebut memberi tahukan penyakit yang dirasakan oleh Saras.
__ADS_1
Saat itu Dewo tidak berkata apa-apa, ia hanya menatap Saras yang juga sudah mendengar penjelasan dari dokter, tak lama kemudian dokter tersebut meminta Dewo untuk menebus resep obat ke apotek yang ada di samping Klinik tersebut, lalu setalah itu ia kembali ke ruangan Saras.
Saat itu Saras sudah bisa kembali, ia tidak perlu dirawat karena penyakit yang ia rasakan itu adalah sebuah penyakit umum bagi orang yang menderita mag. Namun karena Saras hanya gejala membuat Dewo dengan semangat membantu Saras untuk bisa segera sembuh.