Pesona Saraswati

Pesona Saraswati
20


__ADS_3

Bab 13


"Kalau begitu, ayo kita pergi, aku akan menemani kamu ke sana, dan setelah itu menikah ya denganku?"


Lagi-lagi Dewo mengutarakan keinginannya untuk menikahi Saras, dan kali ini Saras sepertinya tidak bisa menolak, tiba di penghujung perjalanan, perjalanannya dalam melunasi hutang-hutang sudah terbayar dan lunas, tidak ada lagi alasan bagi Saras untuk menolak Dewo ketika itu.


"Saras, kau tidak mau menjawab ajakan ku?" tanya Dewo yang saat itu sedang menunggu.


"Mas, aku sangat berterima kasih sekali karena kau masih mau menunggu ku dengan sabar, ketika aku selalu menolak mu, kau justru tetap menunggu dan meminta yang sama. Dan sekarang aku tahu kalau cintamu perlu untuk di balas, dan ajakan mu perlu untuk di jawab, setelah pertemuan dengan tuan Takur, aku akan menjawab permintaan mu, Mas," ucap Saras yang ingin sekali memberikan jawaban di saat waktu yang sudah tepat.


"Oke baik lah, sekarang juga kita bisa pergi ke sana, untuk bertemu dengan tuan Takur." ajak Dewo yang sudah tidak sabar.


Saras pun saat itu mengangguk pelan dan setuju dengan ajakan Dewo. Hari ini mereka akan pergi bertemu dengan seseorang yang sudah membuat Dewo menunggu lama, dan setelah itu Dewo akan mendengar langsung jawaban apa yang akan diberikan oleh Saras.


Saat tiba di sebuah rumah mewah milik tuan Takur, Saras dan Dewo bertemu dengan bodyguard di depan rumah, lalu mereka menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan tuan Takur, setelah itu mereka berdua pun dipersilahkan masuk.


Dewo dan Saras berada di ruang tamu bersama tuan Takur, tatapan tuan Takur saat itu mengarah pada Saras dan juga Dewo yang terlihat tegang. Sudah lama sekali Saras tidak bertemu dengan tuan Takur, dan hari ini ia berada di ruangan yang sama dengannya.


"Emm, begini Tuan, saya datang ke sini karena saya ingin melunasi hutang-hutang almarhum ayah saya," ucap Saras yang saat itu menyampaikan hajatnya.


"Oh ya, apa kau sudah memiliki uangnya Saras?" tanya tuan Takur dengan tatapan tidak yakin.


"Ya Tuan, saya sudah memiliki uangnya, dan Insya Allah ini sudah cukup untuk melunasi semua hutang-hutang almarhum ayah saya." jawab Saras dengan yakin, karena ia tahu jumlah rupiah hutang yang dimiliki oleh almarhum orang tuanya.

__ADS_1


Tuan Takur saat ini sedang memegang amplop kuning yang diserahkan oleh Saras padanya, lalu ia mencoba untuk menghitung lembaran uang tersebut sebelum akhirnya ia menutup nya kembali.


"Ya, benar sekali, hutang ayah mu memang sebesar ini, terima kasih kau sudah melunasinya, meksipun waktu yang harus ku tunggu sampai selama ini," ucap tuan Takur dengan tatapan mengarah pada Saras.


"Ya Tuan, maafkan saya, saya harus berusaha di tengah banyaknya ujian yang datang. Dan saya sangat senang sekali bisa melunasi hutang-hutang ini, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan." jawab Saras yang saat itu langsung berpamitan.


Tuan Takur mempersilahkan Saras pergi, dan saat itu Dewo menggandeng tangan Saras karena ia tidak berhenti merasa bangga pada Saras. Entah mengapa ia begitu sangat kuat dan hebat di mata Dewo kala berbicara pada tuan Takur.


"Saras, aku sangat senang sekali melihat mu dengan tegas berbicara pada tuan Takur, aku sangat bangga padamu karena pada akhirnya sekarang kau tidak lagi memikirkan hutang," ucap Dewo yang sangat bersyukur.


"Ya Mas, kamu benar. Setelah melunasi hutang ini, aku merasa beban hidup ku sangat berkurang, aku tidak memikirkan takut lagi saat ini," seru Saras yang saat itu melempar senyum pada Dewo.


"Itu bagus sekali, semoga kedepannya semua bisnis kita sukses dan kita bisa lebih mudah lagi mencapai segalanya," seru Dewo berharap.


"Aamiin Mas, semoga saja apa yang kau harapkan itu akan berbuah manis, aku sangat senang sekali jika semua harapan kita bisa tercapai di tahun ini." jawab Saras yang tak kalah merasa bahagia.


"Ada apa Saras, kenapa kita berhenti di sini?" tanya Dewo bingung.


"Kau sudah lama menunggu jawaban dari ku tentang ajakan mu untuk menikahi ku, Mas. Dan aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk menjawabnya," ucap Saras melempar senyum.


"Benarkah? Kau akan menjawab permintaan ku, kalau begitu ayo sekarang saja Saras, jawab lah ajakan ku, semoga yang kudengar bukan lah penolakan Saras." jelas Dewo yang saat itu terlihat sangat kikuk.


Saras melempar senyum ketika mendengar ucapan dari Dewo, rasa berharap nya Dewo sangat lah tinggi, hingga membuatnya tidak sabar untuk bisa mendengar jawaban yang diberikan oleh Saras.

__ADS_1


Saras sendiri terlihat seperti orang yang sangat bingung, melihat wajah Dewo yang sangat gugup saja membuat dirinya harus memulai nya dari mana, karena gugup akhirnya Saras pun harus berbicara yang sesingkat mungkin agar ia tidak berlama-lama menatap wajah Dewo.


"Mas, sebelumnya aku berterima kasih padamu, karena kau mau menungguku dengan sabar. Dan aku ingin memberi tahu mu bahwa aku bersedia menikah dengan mu," lirih Saras yang saat itu sudah memberikan jawaban yang membuat Dewo semakin bahagia.


"Boleh tidak aku mendengar lagi jawaban darimu?" pinta Dewo yang merasa bahwa ia perlu mendengar nya lagi.


"Mas, aku bersedia menikah dengan mu." jawab Saras yang kala itu terlihat malu-malu.


Wajah Dewo tidak bisa dibohongi betapa bahagianya ia saat ini, dan Dewo pun mengekspresikan dirinya dengan memutari tubuh Saras bak orang India yang sedang menerima kabar gembira.


Dengan gagah berani, Dewo mengangkat tubuh Saras dan membawanya berputar-putar. Penantian yang sangat panjang itu akhirnya berhenti dengan kebahagiaan. Kebahagiaan antaran Saras dan juga Dewo yang kini telah resmi menjalin kasih.


"Saran, secepatnya kita akan melangsungkan pernikahan, aku tidak ingin menunda jauh lebih lama lagi, dan itu sangat menyiksaku," ucap Dewo yang kala itu terlihat sangat serius.


"Aku ikut saja apa rencana mu Mas, karena apapun itu, aku yakin itulah yang terbaik." jawab Saras yang tak menolak keinginan Dewo.


Dewo melempar senyum, kali ini ia mengajak Saras pergi keliling kota, untuk berbagi kebahagiaan pada seluruh alam dan memberi tahukan pada mereka bahwa Dewo telah berhasil membawa Saras untuk menjadi teman hidupnya.


Malam ini Saras tidak bisa tidur dengan tenang, ia merasa bahwa hatinya saat itu sedang kasmaran, menerima ajakan Dewo menikah membuat Saras tidak bisa tidur malam ini. Apalagi Dewo berkata bahwa ia akan mempersilahkan pernikahan itu dengan segera.


Sebentar lagi Dewo dan Saras akan menjadi sepasang suami-istri. Dan itu karena keberanian Saras ketika mengutarakan perasaan cintanya.


Keesokan pagi, saat Saras terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menyambut hari, dan ketika ia membuka pintu karena hendak membayar makanan yang baru saja ia pesan. Tiba-tiba Saras dikejutkan dengan kedatangan Dewo yang membawa setangkai bunga. Saras terharu ketika melihat bunga mawar yang ada di tangan seseorang, dan orang itu adalah Dewo.

__ADS_1


"Mas, ini apa-apaan?" tanya Saras yang saat itu terlihat bingung.


"Ini untuk mu, wanita ku," ucap Dewo yang saat itu menyodorkan bunga tersebut pada Saras.


__ADS_2