
DISKON 70% SETIAP HARI JUM'AT
Saras dan Dewo resmi membuka salon nya pagi ini dengan strategi marketing baru, ide dari Saras yang sudah disetujui oleh Dewo. Diskon yang tertulis pada papan tabel di depan salon sudah dipikirkan baik-baik oleh Saras dan juga Dewo kala itu. Dan mereka sudah sepakat bahwa akan membuat promosi di sosial media dan juga di pinggiran jalan raya.
Karena begitu semangatnya, membuat Saras dan Dewo langsung pergi ke jalanan untuk mempromosikan salon yang saat ini telah resmi dibuka diskon. Mereka adu tanding siapa yang paling cepat mendapatkan peminat, dari banyak nya orang-orang yang melintas di jalanan.
Sasaran mereka adalah pria dan wanita, remaja dan juga orang dewasa, karena semua kalangan usia bisa masuk ke salon itu dan menikmati beragam perawatan kecantikan.
Saras terlihat begitu sangat semangat menjelaskan perawatan apa saja yang sedang promo, dan seorang remaja yang sedang melintas di jalanan itu terlihat sangat tertarik pada penjelasan dari Saras. Begitu juga dengan Dewo yang mengincar ibu-ibu dan menunjukkan bahwa salon bisa dikunjungi oleh siapa saja.
Tidak mengenal kaya atau miskin, beruang atau yang berwenang. Semua kalangan tetap bisa merasakan perawatan berkat diskon di setiap hari jum'at tersebut. Beberapa orang pun terlihat senang ketika ada diskon yang tertulis di kertas yang saat ini meraka pegang, lalu dengan percaya diri mereka memberanikan diri untuk bisa menghadiri diskon yang sedang berjalan itu.
"Di tunggu kehadirannya ya Kakak, semoga berkenan," ucap Saras setelah panjang lebar menjelaskan pada seorang remaja yang menjadi incarannya.
Malu-malu tadi mau, begitu lah Saras menangkap mereka yang saat itu tidak banyak berbicara. Dan Saras yakin bahwa mereka pasti akan menerima tawaran dari Saras dan datang sebagai pelanggan.
Sampai pukul sepuluh pagi, terik matahari mulai memanas, dan Saras pun mulai berkeringat, ia baru sadar bahwa ternyata ia terpisah dari Dewo, di jalanan itu ia tidak melihat adanya Dewo di sana.
"Mas Dewo ke mana ya?"
Saras terus mencari melalui batasan pandangan nya saat itu, namun ia belum juga bertemu dengan Dewo yang ternyata ada di sebuah jalanan yang cukup jauh dari tempat Saras saat ini.
__ADS_1
Di jalanan itu Dewo tak sengaja bertemu dengan Mario, seseorang yang sangat ia kenal sebelum akhirnya ia berada di titik ini, saat Dewo hendak mempromosikan salonnya pada sebuah mobil yang berhenti tepat di lampu merah, Dewo terhenti ketika melihat ternyata yang ada di dalam mobil tersebut adalah Mario.
Mario sendiri tidak lupa akan wajah Dewo yang familiar itu, ia tersenyum menatap Dewo. Bukan, lebih tepatnya Mario saat ini sedang menertawakan Dewo yang sudah berubah drastis itu, ia tidak menyangka jika ternyata ia bertemu juga dengan Dewo, seseorang yang pernah bekerja sama dengannya itu.
"Dewo, apakah ini kau? Ini sungguh kau?" tanya Mario melepas kacamata hitamnya, dan tatapannya mengarah pada Dewo yang hanya memakai celana dasar dan kemeja berwarna biru.
"Ya ampun, aku tidak menyangka jika nasibmu seperti ini sekarang, bagaimana dengan Saras, wanita yang telah kau selamatkan itu?" sambung Mario yang saat itu terlihat sedang menahan tawanya.
"Kami baik-baik saja, dan kehidupan kami sungguh jauh lebih baik setelah lepas dari dirimu," ucap Dewo dengan tegas.
"Oh ya? Kalau bilang hidup mu dan Saras baik-baik saja, begini kah yang kau bilang baik-baik saja? Berada di jalanan dengan membawa, apa itu Dewo? Sebuah kertas tidak penting mu itu, kau bilang baik-baik saja, hahahaha. Lucu sekali ya," seru Mario yang tidak bisa menahan tawa saat itu.
"Terima kasih, karena kau sudah menertawai ku, tawamu seperti cambuk dalam hidupku, untuk bertemu dengan kesuksesan tanpa bantuan darimu." jelas Dewo menatap sangar, lalu dengan cepat ia berpaling dari mobil mewah milik Mario.
Mario memerintahkan supirnya untuk jalan, dan ia kembali memakai kacamata hitamnya, melewati Dewo yang saat itu berjalan kaki. Sementara Saras sendiri kala itu sudah tiba di salon, karena tidak menemukan Dewo akhirnya ia memutuskan untuk menunggu Dewo di salon, karena sudah pasti Dewo akan kembali ke sana untuk istirahat.
Saat tiba di salon, tiba-tiba Dewo membuang semua brosur yang ia gunakan untuk promosi, karena di banting dengan keras membuat brosur itu jatuh berhamburan di lantai dan membuat Saras terkejut ketika melihatnya.
Saras lalu menatap wajah Dewo yang saat itu memerah karena menahan amarah, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Dewo saat ini, namun saat itu Saras mencoba untuk berhati-hati kala berbicara pada Dewo.
Saras mendekati Dewo, dan saat itu Dewo menatap wajah Saras yang terlihat penuh tanya. Saras semakin mendekati Dewo dan merasakan deru nafas Dewo yang tidak beraturan.
__ADS_1
"Mas, apa yang terjadi padamu, kau baik-baik saja?" tanya Saras menatap Dewo serius.
"Tidak Saras, aku tidak sedang baik-baik saja, hatiku sangat kesal dan saat ini aku sedang marah besar," ungkap Dewo yang terlihat sangat menahan dirinya.
"Apa yang membuatmu merasakan hal demikian Mas, apa yang membuatmu semarah ini? Aku boleh tahu, kan!"
Saras meraih kedua tangan Dewo dan ia menyadari saat itu kedua tangan tersebut terasa sangat dingin, gemetar, dan nafas Dewo berderu.
"Aku bertemu dengan Mario di jalanan tadi, dia melihatmu dengan penuh hinaan, dan dia menertawai ku saat aku membawa brosur itu," ucap Dewo tertahan.
"Apa, kau bertemu dengan Mario, lalu di mana dia sekarang?" tanya Saras menatap ke arah luar.
"Aku meninggalkan dia di jalanan, karena jika aku di sana dan mendengar hinaannya, aku tidak bisa memastikan bahwa saat ini dia tetap utuh dan selamat," ucap Dewo marah.
"Mas, tahan dirimu, saat ini kau tidak memiliki apapun, jadi kalau bisa jangan berurusan dengan orang yang memiliki pangkat tinggi, aku takut kau kenapa-kenapa."
Saat itu Saras merasa takut dengan ucapan Dewo yang seolah sangat marah itu, ia tidak mau jika sampai Dewo lepas kendali dan tidak bisa menahan dirinya, dan saat itu Saras mencoba untuk membujuk Dewo agar ia bersedia duduk, dan Saras pun dengan segera mengambilkan air minum untuk Dewo.
"Mas, kamu minum dulu, biar kamu bisa sedikit tenang," ucap Dewo yang saat itu masih terlihat tegang.
"Terima kasih Saras, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika tidak ada kau, sebagai teman ceritaku," seru Dewo menerima gelas pemberian dari Saras, lalu ia meneguk minuman tersebut sampai habis tak tersisa.
__ADS_1
"Sama-sama Mas, itulah tugasku sebagai partner mu, aku harus tetap mendukung mu. Satu hal yang ingin aku katakan padamu, tolong kendalikan dirimu jangan sampai kau lepas kendali, itu saja pesan dari ku." jelas Saras penuh harap.
Dewo mengangguk pelan, lalu ia berusaha mengatur nafasnya kembali dan mencoba untuk tenang. Dan saat itu tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin melakukan perawatan, dengan cepat Saras meminta Dewo untuk bangkit dan menyambut mereka dengan senyuman.