Pesona Saraswati

Pesona Saraswati
22


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ...


Hoek ... Hoek ... Hoek ...


Suara muntahan setiap pagi selalu membuat Dewo ikut terbangun. Kali ini suara muntahan itu begitu keras dan sangat mengganggu seklai.


Dewo bergegas lari menuju kamar mandi menghampiri saras, istrinya yang sedang memegang perutnya dan tangan satunya lagi memegang keran air yang ada di wastafel.


Hoek ... Hoek ... Hoek ...


Entah sudah berapa kali Saras memuntahkan isi perutnya yang masih kosong, yang keluar hanyalah cairan bening sedikit kuning dan terasa pahit di tenggorokan.


Dewo bergegas membantu Saras dengan memijat tengkuknya.


"Kamu kenapa Ras? Perasaan beberapa hari ini kamu muntah -muntah terus? Kamu kecapean mungkin. Istirahat dulu saja, jangan terlalu lelah dan berobat. Gimana kalau pagi ini kita ke Klinik?" tanya Dewo dengan suara lembut.


Saras berusaha berdiri dan mengelap mulutnya dengan air yang masih mengucur dari keran wastafel.


"Entah Mas. rasany tuh mual terus kalau pagi. Lemes ini juga," ucap saras pelan.

__ADS_1


"Mau kembali ke kamar? Biar Mas bantu kembali ke tempat tidur," ucap Dewo kemudian membnatu memapah Saras masuk ke dalam kamar tidurnya. Tubuh lemas dan lemah itu di rebahkan di kasur empuk milik mereka.


Saras pun mulai memejamkan matanya. Selimut tebal sudah menutup sebagian tubuhnya hingga bagian dada.


Dengan cepat tanpa memberi tahu Saras, Dewo pun menelepon seoarng dokter untuk memeriksa kondisi istrinya yang sudah beberapa hari ini pucat, lesu, lemah, dan lemas.


Sambil menunggu dokter yang akan memeriksa Saras datang, Dewo pun membuat bubur ayam untuk istri kesayangannya.


***


Tepat pukul delapan pagi. Dokter yang di mintai tolong untuk datang ke rumah pun telah samapi di rumah sederhana mereka. Kbetulan Dewo sedang menyuapi istrinya yang baru saja terbangun. satu mangkuk bubur yang baru habis beberapa sendok dengan air teh manis hangat.


"Kapan terakhir haid?" tanya Dokter itu pelan sambil memeriksa perut Saras.


"Ekhemmm ... Satu bulan yang lalu. Iya sih, ini telat sekitar satu minggu. Tapi sudah biasa begini," ucap Saras pada Dokter itu


"Ohh ... Sudah telat seminggu," jawab Dokter itu santai. Dokter itu melepaskan alat -alat pemeriksaannya tadi dan di masukkan ke dalaam tas dokternya. Lalu mengambil beberapa obat untuk di berikan kepada Saras.


"Istrinya saya sakit apa Dok?" tanya Dewo dengan cemas.

__ADS_1


Dokter itu hanya tersenyum lebar dan merapikan duduknya.


"Jadi, Bu Saras ini tengah mengandung," ucap Dokter itu singkat sekali.


Mendengar ucapan Dokter itu, Dewo dan Saras saling bertukar pandang. Mereka sling menatp lekat.


"Mengandun? Maksudnya istri saya sedang hamil, Dok?" tanya Dewo antusias.


"Dokter? Saras hamil?" tanya Saras taak percaya.


Saras dan Dewo saling berebut bicara. Mereka ingin memastikan apakah benar ucapan Doketr itu dan bisa di buktikan dengan pembuktian.


"Iya hamil. Kita test urine dulu yuk? Ini alat testnya sekarang Bu Saras ke kamar kecil dulu untuk menampung air seninnya ke dalam wadah ini," titah Dokter itu lembut.


Saras tanpa pikir panjang, ia langsung terbangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menampung air seninya dan setelah ini ia akan test sendiri bagaimana hasil dri alat test kehamilan itu.


Setelah di tampung dan diberikan kepada Dokter itu, alat test itu langsung di celupkan untuk melihat hasilnya.


Dan ternyata dmemag ada dua garis jelas tercetak di alat test tersebut. Itu tandanya, Saras memang benar hamil.

__ADS_1


__ADS_2