
Beberapa minggu kemudian, Saras dan Dewo sudah harus mulai membuka kembali bisnis yang sebelumnya terbengkalai, ia tidak ingin sampai membuat keadaan itu justru membuat mereka terpuruk hingga meninggalkan semua pelanggan yang ada.
Kesempatan untuk mendapatkan kembali pelanggan tidak semudah mengembalikan telapak tangan, hari itu Dewo sudah mempertanyakan baik-baik pada Saras bahwa akan membuka salon atau tidak, dan Saras pun memilih untuk membuka kembali salon karena menganggap ia membutuhkan kesibukan.
"Saras, kamu yakin akan membuka salon ini?" tanya Dewo memastikan, ia tidak ingin jika sampai keputusan itu akan memaksa Saras.
"Ya Mas, aku sangat yakin sekali, karena beberapa hari terkahir aku sudah cukup merenungi semua yang terjadi, aku tidak ingin terpuruk semakin dalam Mas, aku masih harus bangkit karena tugas ku masih banyak," ucap Saras yang saat itu sangat yakin sekali.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan membuka salon hari ini. Saras, berjanji lah padaku kalau kau akan menjadi pribadi yang jauh lebih kuat lagi, kau mau berjanji padaku, kan!" tegas Dewo mengacungkan jari kelingkingnya pada Saras.
"Ya Mas, aku janji. Terima kasih banyak karena kau sudah menemaniku melewati semua ini, aku sangat bersyukur sekali karena kau selalu ada di sampingku." jawab Saras melempar senyum kala itu.
Dewo membalas senyuman dari Saras, dan saat itu mereka bersepakat untuk membuka salon dengan harapan baru lagi, kehilangan ruko tidak membuat semangat mereka luntur untuk menggapai mimpi, meskipun sebelumnya mereka terpukul dan merasa sangat sedih, namun kini mereka kembali bersemangat untuk meraih kebahagiaan yang sebelumnya telah rusak.
Salon yang sudah tutup beberapa hari sebelumnya kini sudah terbuka lagi, dan semangat Dewo bersama Saras justru semakin memuncak setiap harinya, karena kabar duka kebakaran itu melebar luas di sosial media membuat orang-orang berdatangan hanya untuk memberikan semangat, dan tak lupa juga mereka melakukan perawatan sebagai bentuk kesetiaan mereka. Dukungan dan semangat itulah yang membuat Dewo dan Saras malu jika tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena tentu saja mereka pasti akan kecewa jika melihat mereka semakin terpuruk.
***
1 bulan kemudian
Salon baru milik Dewo dan Saras resmi di buka, untuk cabang kedua mereka yang baru ini, sudah menjadi kesepakatan antara Dewo dan Saras yang saat itu ingin memperluas cabang mereka. Dan bisnis WO pun kini berkembang pesat berkat jerih payah mereka selama ini.
__ADS_1
Kebakaran yang terjadi karena tangan jahil Mario tak membuat semangat mereka surut bahkan padam, kebakaran tersebut justru membawa orang-orang baru yang kini telah menjadi pelanggan setia Dewo dan Saras. Musim kawin yang telah berdatangan pun membawa keberkahan bagi Saras, banyak sekali orang yang ingin memakai jasa riasnya dan tidak ada satu pun yang ditolak oleh Saras maupun Dewo.
Sebuah buku catatan besar yang dibawa oleh Saras mendekati Dewo itu membuat Dewo tercengang, ia nampak fokus menatap Saras yang kala itu juga sedang menatap dirinya.
"Saras, apa ini?" tanya Dewo.
"Ini adalah catatan orang-orang yang akan memakai WO kita di bulan ini Mas, coba lihat, dari tanggal satu sampai tiga puluh semua itu sudah penuh, jadwal kita padat sekali Mas," ucap Saras melempar senyum bahagia.
"Benar kah? Oh ya ampun Saras, dalam satu bulan ini kita tidak bisa buka Salon karena kita harus mengurus WO," seru Dewo yang lebih memilih mendampingi hobi Saras kala itu.
"Bisa Mas, kita harus tetap buka salon, nanti yang ada pelanggan kita akan kecewa kalau kita tutup dalam waktu sebulan ini," sahut Saras yang merasa sayang kala itu.
"Tapi bagaimana caranya kita membagi waktu Saras, apalagi saat merias kita tidak bisa buru-buru kan." tegas Dewo yang merasa bingung saat itu.
"Mas, sepertinya kau membutuhkan karyawan untuk salon mu," ucap Saras melempar senyum menyampaikan idenya.
"Karyawan? Apa kamu yakin, Saras?" tanya Dewo yang saat itu menatap ragu.
"Kenapa tidak, aku justru sangat yakin sekali untuk menambah karyawan baru untuk salon mu, dengan begitu pelanggan tidak akan kecewa ketika datang, kalau tidak bertemu dengan kita berdua, setidaknya mereka akan bertemu dengan karyawan yang akan melayani keinginan mereka." jelas Saras dengan sangat yakin.
Setelah diam sejenak dan diskusi itu dapat di terima dengan baik oleh Dewo, akhirnya Dewo pun menyetujui saran dari Saras, mereka akhirnya menyebar lowongan pekerjaan bagi karyawan yang bersedia menjadi karyawan di salon, dengan bakat-bakat tertentu yang sudah tertulis di kertas tersebut.
__ADS_1
Selang beberapa hari kemudian sudah banyak sekali yang datang untuk melakukan interview di salon tersebut. Dan hanya dua orang saja yang dipilih oleh Saras dan juga Dewo, setelah melakukan tes kemampuan untuk mencukur rambut dan juga yang lainnya.
"Oke baik, karena kalian berdua yang telah terpilih untuk menjadi karyawan kami, kami harap kalian bisa memberikan kinerja yang baik untuk kami," ucap Dewo menatap dua karyawan nya itu.
"Baik Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin, terima kasih atas kesempatan yang Ibu dan Bapak berikan pada kami," seru mereka melempar senyum bahagia.
"Sama-sama, selamat bergabung ya." jawab Dewo membalas senyuman mereka.
Anton dan juga Nia adalah sepasang kekasih yang sedang merantau ke kota, dan saat itu mereka berdua kebetulan memang sedang mencari pekerjaan, dan mereka melihat lowongan pekerjaan yang di tempel di sebuah pohon yang mereka lewati, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk datang dan melakukan interview.
Wajah mereka sangat berbeda ketika mendengar kabar bahagia bahwa mereka lolos, dan mereka sekarang ini bekerja di sebuah salon yang sama, dan mereka pun bertekad akan melakukan yang terbaik untuk atasannya itu.
Dewo dan Saras merasa lega, karena salah satu masalahnya telah selesai, mereka berdua dapat mengerjakan tugas mereka tanpa merasa takut dan cemas.
"Mas, kita akan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya, sebentar lagi uang ku akan segera terkumpul dan akan kuberikan pada tuan Takur, setelah semua selesai aku akan sangat merasa lega," ucap Saras yang saat itu terlihat begitu sangat bersemangat.
"Setelah itu mau ya terima cintaku, dan menikah dengan ku," seru Dewo yang saat itu kembali mengulangi ucapannya yang dulu.
"Mas, apa kau tidak sakit hati karena selama ini aku selalu menolak mu?" tanya Saras terlebih dahulu.
"Kau menolak ku bukan karena kau tidak mencintai ku kan? Tapi karena kau tidak siap, dengan beban hutang-hutang mu," ucap Dewo dengan yakin.
__ADS_1
Saras terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh Dewo adalah kebenaran yang nyata, selama ini Saras selalu mengundur waktu hingga tak terasa waktu semakin berjalan dan Saras semakin melihat keseriusan Dewo yang ingin sekali memiliki dirinya.
Saat itu Saras terdiam sejenak, kali ini ia tidak bisa berkata apa-apa atau menolak dengan sebuah kalimat, perjalanan panjang selama ini cukup membuat Saras mengetahui sifat Dewo yang sangat baik dan tulus.