Pesona Saraswati

Pesona Saraswati
24


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


Usia kandungan Saras sudah semakin besar. Tetapi Saras semakin cantik dan gesit, bahkan tiidak terlihat jka sedang berbadan dua. Lihat saja, perut besar yang sudah berusia embilan bulan, Saras masih mampu menerima konsumen tetapnya di Salon miliknya.


Pagi ini, Saras dan Dewo berencana pergi menuju Kampung Kecil, Kampung halaman Saras. Saras ingin mendatangi Tuan Takur dan membayar semua hutang kedua orang tuaanya yang belum sempat terbayar hingga ajal menjemput keduanya.


Hutang tetaplah menjadi hutang, yang wajib di bayar bukan selagi mampu, tapi harus di upayakan.


"Sudah siap semua? Ayo kita berangkat, sekalian liburan," ucap Dewo kemudian.


"Ya Mas. Bawa ini dua tas hitamnya, isinya baju, siapa tahu kita akan bermalam di sana," ucap Saras kemudian.


"Iya sayang. Ayo ... Kamu, sudah siap kan? Sekarang ke mobil," titah Dewo kepada saras, istrinya.


Perjalanan menuju Kampung Kecil cukup jauh dan memakan waktu yang cukup lama. Awalnya Saras begitu semangat, lama -lama ia bosan dan jenuh dalam perjalanan menggunakan mobil itu. Kini, Saras malash asik mendengarkan musik sambil bermain ponsel hingga kedua matanya terpejam karena kelelahan.


Beberapa jam kemudian, sampailah mereka di Kampung Kecil dan langsung menuju rumah Tuan Takur.


"Rumahnya yang mana, Say?" tanya Dewo pelan sambil menatap ke arah depan sambil melewati gang perkampungan dnegan kondisi jalan yang mulai rusak dan hancur.


"Terus saja Mas, mentok ada rumah besar," titah Saras mencoba mengingat.


Beberapa tahun, ia meninggalkan kampungnya, semua kondisinya sudah berubah drastis. kampungnya terasa sunyi dan senyap serta terkesan dingin.


Saras menoleh ke kiri dan ke kanan mengedarkan pandangannya. Melihat letak rumahnya yang sudah tak ada lagi.

__ADS_1


"Arghh ... Rumahku. Kenapa betrganti jadi kandang sapi," rintih Saras memelas.


"Mana rumah kamu? Itu yang di tengah?" tanya Dewo melirik sekilas ke arah kandang sapi yang ada di sana.


"Iya. Kenapa bisa jadi kandang sapi ya? Padahal rumah Saras masih bagus. Terus barang -barangnya kemana?" tanya Saras kemudia pada dirinya sendiri.


Tak berselang lama, mobil Dewo pun masuk ke pelataran rumah Tuan Takur. Dulu, Dewo memang pernah ke rumah ini untuk meminta penghentian dan pembongkaran perumahan yang kini terbelengkalai di perbatasan desa.


Lihatlah, rumah besar itu sudah nampak tak terawat lagi. Tak terlihat ada satpam atau bodyguard yang biasa menjaga di depan pintu gerbang. Mobil Dewo sudah berhenti dan parkir di halaman rumah besar itu.


"Sudah siap? Uangnya sudah di bawa?" tanya Dewo kemudian.


"Sudah Mas. Sudah lebih dari cukup dari perkiraan jumlah hutang Bapak dan Ibu," ucap Saras pelan.


"Oke ... Kita turun sekarang, yuk," titah Dewo kemudian.


"Ja -jadi ... Tuan Takur sudah meninggal?" tana Saras mengulang ucapannya kembali.


"Benar sekali. Maafkan Sumai kami, bila punya salah," ucap Resti, istri pertama Tuan Takur.


"Maaf. Kedatangan Saras hanya ingin membayar hutang, sesuai yang sudah Saras janjikan dulu," ucap Saras pelan.


Sarasa mengeluarkan satu amplop cokelat berisi segepok uang yang cukup banyak Unag yang selama ini Saras simpan hasil dari tips konsumen selama bekerja di Salon jauh sebelum Saras menikah dengan Dewo.


Saras meletakkan uang itu di meja dan menyodorkan kepada para istri Tuan Takur yang kini hidupnya sengsara.

__ADS_1


"Uang ini lebih dari hutang yang di pinjam kedua orang tua saya. Saras memang tidak tahu, tepat jumlahnya berapa, tapi Saras pikir uang ini sangat banyak sekali. Mungkin, bisa Ibu pakai untuk modal usaha. erima kasih sudah mengajarkan Saras kuat saat itu dan tidak jadi menikah dnegan Tuan Takur, setidaknya saat ini Saras sudah bahagia dengan suami Saras dan menunggu kelahiran anak pertama kami," ucap Saras pelan.


Tidak banyak membuang waktu. Setelah memebriakn uang, Saras dan Dewo lekas berpamitan dan segera pulang. Maslah rumah, kalau memang di ambil alih oleh Tuan Takur, Saras sudah ikhlaskan. Mungkin setelah ini tidak ada lagi Kampung Kecil di pikirannya, tapi semua itu hanya akan Saras kenang selamanya.


"Mas ke makam Bapak dan Ibu ya. Sekalian, saras mau kenalkan Mas Dewo pada mereka. Saras sudah bahagia di tangan lelaki yang tepat, dan bertanggung jawab," ucap Saras kemudian.


"Iya sayang," jawab Dewo pelan emnuruti keinginan istriya.


Memang mumpung ada di sini, semuanya harus di tuntaskan.


Mereka berdua sudah sampai makam, dan berjongkok di makan kedua orang tua Saras. Makam yang sudah lama tak di kunjungi dengan rumput liar yang begitu panjang karena sama sekali tak terawat.


Keduanya memanjatkan doa, dan setelah selesai, saras mengenalkan kedua orang tuanya pada Dewo. Saras memohon doa kedua orang tuanya, agar pernikahan Saras langgeng dunia dan akhirat.


"Arghhh ... Sakit Mas," ucap Saras tiba -tiba saat masih bercerita langsung memegang perutnya. Darah segar mengalir di pkakinya.


"Kamu kenapa sayang? Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu tahan ya," ucap Dewo yang panik.


***


Satu hari kemudian ...


Saras sudah siuman, kini ia sdenag menggendong bayi kecil yang berjenis kelamin perempuan yang di beri nama, Cinta.


"Sayang ... Terima aksih sudah berjuang untuk anak kita," uap Dewo pelan sambil mencium pucuk kepala Saras.

__ADS_1


"Iya Mas. Terima kasih juga sudah memberikan banyak inta untuk Saras termasuk Cinta, putri kita," jawab Saras bahagia.


Keduanya hidup bahagia selamanya. Perjuangan dan pengorbanan tidak akan pernah sia -sia. Terkadang ada nilai hikmah di balik semua proses perjalanan hidup yang kita jalani.


__ADS_2