
Bab 14
"Ya ampun, ini manis sekali Mas. Aku tidak menyangka kalau kamu seromantis ini," puji Saras melempar senyum sambil menerima bunga tersebut.
"Sudah lama aku ingin bersikap seperti ini Saras, tapi aku takut kau akan marah padaku jika aku belum resmi menjadi kekasih mu, atau paling tidak naik sedikit lagi, sebagai suamimu." jawab Dewo melempar senyum, ia sengaja menggoda Saras karena sikap Saras yang begitu sangat lucu.
Saras melempar senyum menatap lekat bunga itu, sementara Dewo sendiri merasa sangat senang ketika melihat Saras bahagia menerima bunga pemberian darinya. Mereka pun sarapan bersama di meja makan sederhana yang ada di salon itu, lalu berbincang kecil membahas tentang pernikahan yang sudah mereka sepakati. Saras setuju jika pernikahan yang akan menjadi jalan terkahir dalam hubungannya dengan Dewo. Apalagi selama ini mereka sudah cukup lama bersama.
Kesepakatan itu membuat Dewo dengan cepat bergerak. Bergerak untuk membuat kartu undangan dan mengurus semua, Dewo juga lah yang menyewa gedung untuk pernikahan mereka berdua, karena uang sudah cukup banyak bagi keduanya dari hasil bisnis mereka, membuat mereka sudah tidak khawatir lagi untuk masalah keuangan.
Setelah beberapa minggu menyiapkan pesta pernikahan yang tidak begitu besar dan mewah itu, akhirnya tiba di hari di mana semua para calon pengantin merasa sangat deg-degan, terutama dengan Dewo yang masih tidak begitu percaya bahwa ia akan segera menikahi wanita yang selama ini ia cintai.
Saras sendiri dirias oleh rekan kerjanya, ia nampak berbeda ketika mendapatkan riasan, setelah sebelumnya Saras tidak pernah ber-make up tebal. Dan setelah semua selesai, kini tiba giliran mereka di panggil untuk melakukan ijab qobul.
Mereka di pertemukan di hadapan penghulu yang sudah siap menikahkan mereka berdua. Tangan Saras bergetar saat mendengar lantunan ijab qobul yang sedang berlangsung. Dan setelah terdengar riuh para tamu yang mengatakan kalimat sah, entah mengapa semua rasa itu hilang seketika, Saras merasa sangat lega ketika Dewo berhasil mengucapkan kalimat suci itu dengan lantang dan tidak ada kesalahan sedikit pun.
Saras melempar senyum bahagia kala itu, dan ia terlihat begitu menunjukkan kebahagiaannya dengan melempar senyum pada Dewo, Dewo mengulurkan tangannya, lalu diraih oleh Saras yang kemudian langsung menciumnya. Setelah itu Dewo memberikan kecupan mesra di kening Saras.
Momen bahagia itu tidak lepas dari jepretan kamera dari salah satu rekan Dewo yang sudah mendapatkan amanah dari Dewo untuk mengabadikan semua nya yang terjadi pada hari pernikahan itu. Karena Dewo akan sangat mengenang hari penting itu sampai kapan pun.
Pesta pernikahan yang tidak begitu mewah pun berlangsung dengan lancar. Tamu undangan yang datang turut mendoakan Dewo dan Saras atas kelanggengan dan juga kebahagiaan selalu yang akan mereka rasakan.
__ADS_1
Setelah pernikahan itu berlangsung dengan meriah, Dewo sudah mempersiapkan sebuah penginapan untuk dirinya dan juga Saras di sebuah hotel, hotel itu sudah dipesan jauh-jauh hari pada Dewo untuk istirahat mereka.
Saat pesta pernikahan itu selesai. Dewo dan juga Saras pun diantar pulang ke penginapan oleh rekan-rekan kerja yang bersangkutan dengan WO dan juga salon kecantikan. Kebahagiaan Saras kala itu semakin tak bisa digambarkan dengan sebuah kalimat.
Jerih payah dan kerja keras mengantarkan dirinya bertemu dengan pasangan yang selama ini justru menemaninya di masa-masa yang amat sulit.
"Sudah sampai, kami pulang dulu ya Bu, Pak, selamat berbahagia," ucap salah satu dari mereka yang terlihat sangat bahagia.
"Terima kasih untuk kalian semua yang telah mengantarkan kami, kami berdua tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan kalian," seru Dewo pada para karyawannya.
"Bapak tenang saja, cukup lebihkan saja gaji kami di bulan ini, ya nggak teman-teman." seru salah satu dari mereka yang menggoda Dewo dan juga Saras.
Setelah mereka semua pulang, Dewo pun mengajak Saras masuk ke hotel tersebut untuk istirahat. Saras yang merasa sudah cukup lelah itu akhirnya mengikuti tanpa penolakan sama sekali. Mereka berada di lantai satu dengan kamar bernomor 09. Dewo membuka pintu tersebut dengan kunci yang baru saja ada di tangannya.
"Ayo masuk," ajak Dewo pada Saras.
"Ya Mas, terima kasih banyak." jawab Saras melemparkan senyum.
Rasanya sedikit berbeda malam ini, jika mereka tinggal di tempat yang sama namun berbeda tempat tidur. Maka malam ini mereka akan menghabiskan waktu di tempat tidur yang sama, dan hal itu membuat Saras merasa sedikit kikuk.
Saras cukup lama duduk di ujung ranjang, sementara Dewo sendiri baru saja keluar dari kamar mandi karena ia ingin menyiram tubuhnya dengan air hangat. Dan ia menyadari bahwa saat itu Saras sedang melamun kan sesuatu di sana.
__ADS_1
"Saras, ada apa?" tanya Dewo yang saat itu sedang mengeringkan rambutnya.
"Mas, apa sangat segar sekali air nya? Aku juga ingin mandi," ucap Saras yang saat itu masih menggunakan kebaya pengantin.
"Ya sudah mandi saja, aku sudah menyiapkan baju ganti untuk mu di tas itu," suruh Dewo menyodorkan handuk yang baru saja ia gunakan untuk mengering kan rambutnya.
"Mas, kapan kamu masuk ke kamar ku? Kok kamu sudah menyiapkan baju ganti untukku?" tanya Saras penasaran.
"Aku tidak masuk ke kamarmu Saras, tapi aku membeli baju baru untuk ganti mu. Aku sudah mempersiapkan ini sebelumnya." jelas Dewo melempar senyum.
Saras terdiam, lagi-lagi ia dibuat tidak percaya dengan Dewo yang sangat teliti dalam memikirkan hal yang sama sekali tidak ada di kepala Saras sebelumnya. Akhirnya Saras pun masuk ke kamar mandi, sementara Dewo sendiri memutuskan untuk bersandar di ranjang tempat tidur.
"Ya Tuhan, terima kasih atas kesempatan ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan berusaha menjaga Saras semasa aku bisa, bantu aku untuk menjadi suami yang baik Tuhan." ungkap Dewo yang saat itu menengadahkan tangannya ke atas.
Sementara Saras sendiri akhirnya keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat berada di sana, Saras menyiram rambutnya yang panjang hingga membuat baju baru yang dipakai oleh Saras menjadi sedikit basah.
"Saras, kau sudah selesai?" tanya Dewo pada istrinya.
"Udah Mas, rupanya sangat enak sekali ya, mandi disaat suasana sangat panas seperti ini," seru Saras yang ikut duduk di tepi ranjang.
Dewo terdiam dengan senyuman, lekukan tubuh Saras ketika memakai piyama yang dibelikan oleh Dewo sedikit terlihat, dan sebagai pria yang baru saja menjadi suami Saras, tentu saja membuat Dewo tergoda. Apalagi malam ini adalah malam pertama bagi mereka.
__ADS_1