Pesona Saraswati

Pesona Saraswati
11


__ADS_3

"Saras, ayo kita pulang," ajak Dewo mendatangi meja kasir, di sana lah tempat Saras duduk sejak tadi.


"Kenapa pulang sekarang Mas, nanti saja, kan kita buka sampai malam," ucap Saras menolak, karena masih optimistis bahwa akan ada orang yang datang untuk membeli.


"Iya, kalau salon kita ini ramai, maka kita akan buka sampai malam, tapi hari ini? Hari ini cukup sepi dan kita tidak mendapatkan satu orang pun pen-datang, jadi untuk apa lama-lama di sini," seru Dewo yang saat itu membujuk Saras agar bersedia pulang bersamanya.


"Nanti Mas, sebentar lagi, aku masih ingin menunggu di sini," tolak Saras yang masih ingin menanti keajaiban.


"Tapi Saras, apa kau tidak merasa lelah dan istirahat di rumah," Dewo masih mencoba untuk terus membujuk wanita yang ia cintai itu.


"Tidak Mas, seharian ini kan aku tidak mengerjakan apapun, jadi tidak ada alasan untukku merasa lelah. Mas, kalau kau ingin pulang ke ruko, tidak apa-apa, kau pulang lah." Saras membalas tatapan Dewo dan meminta nya untuk pulang.


Dewo menggelengkan kepala, tentu saja hal itu tidak mungkin Dewo lakukan, Saras adalah harta yang paling berharga untuknya, saat Saras berkata tidak mau, Dewo pun tidak mungkin memaksakan kehendaknya.


"Baik lah, kalau begitu aku akan di sini menemani mu," ucap Dewo dengan tatapan semangat.


"Kau serius?" tanya Saras tidak percaya.


"Ya, untuk apa aku bercanda. Aku tentu saja serius, karena tidak mungkin aku meninggalkan dirimu yang sudah jelas-jelas ingin di sini." jawab Dewo dengan tegas.


Saras melempar senyum, ia merasa senang ketika Dewo mengatakan itu padanya. Saat ini Saras duduk berdua dengan Dewo, hanya berdua saja di ruangan yang teramat sepi itu. Hingga di dalam kesunyian Dewo mendengar sebuah suara dari dalam perut Saras. Dan saat itu Saras merasa malu ketika perutnya berbunyi.


"Kau lapar?" tanya Dewo menatap Saras serius.


"Sedikit," lirih Saras sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Kenapa kau tidak bilang Saras, aku bisa pergi mencarikan mu makanan," marah Dewo saat itu.

__ADS_1


"Aku tidak enak jika harus meminta bantuan terus padamu Mas," sahut Saras beralasan.


"Kalau begitu minta saja bantuan pada security yang berjaga di mall depan, kalau kau tidak enak hati meminta pertolongan denganku." cetus Dewo yang tidak suka ketika Saras tidak mau berbagi cerita.


Saras hanya bisa pasrah ketika Dewo memarahinya, namun kemarahan Dewo tidak membuat Saras takut, karena setelah itu ia bangkit dan pamit bahwa ia akan pergi mencari makanan.


Sementara sambil menunggu Dewo kembali, Saras membereskan salon itu agar besok pagi ia bisa kembali dengan pekerjaan yang sedikit mengurang. Tiba-tiba saat membersihkan tempat itu Saras memiliki sebuah ide yang muncul di kepalanya, hingga ia ingin sekali menceritakan ide tersebut pada Dewo dengan segera, lantaran menganggap bahwa idenya itu adalah sebuah jalan keluar bagi dirinya dan Dewo.


Saras menunggu kedatangan Dewo dengan gelisah. Dan beberapa saat kemudian Dewo pun kembali dengan membawa makanan yang ada di dalam kotak, Dewo melempar senyum kala itu sementara Saras sendiri justru sebaliknya.


"Saras, ada apa, kenapa kau terlihat sangat gelisah sekali?" tajua Dewo dengan tatapan bingung.


"Tidak, tidak, aku tidak gelisah, hanya saja aku tadi sedang membereskan semua peralatan salon dan tiba-tiba aku memiliki ide," ucap Saras yang saat itu nampak terlihat gugup.


"Ide, bagus sekali, kau selalu memiliki ide yang tidak pernah gagal Saras, sekarang kita bahas ide itu sambil makan malam, ayo." dengan antusias Dewo mengajak Saras duduk di dalam dan membukakan makanan untuknya.


Setelah selesai membahas tentang ide yang disampaikan oleh Saras, Dewo pun mengacungkan dua jempol untuk Saras.


"Apa itu?" tanya Saras.


"Ini adalah cap jempol yang aku berikan sebagai tanda bahwa aku sangat, sangat, setuju dengan konsep yang kau curahkan tadi, masih kurang? Aku akan mengangkat kedua jempol kakiku untuk menambah menjadi empat jempol," seru Dewo yang saat itu menahan tawa.


"Astaga, Mas... Kau ini lucu sekali, kalau kau angkat kedua jempolmu juga, yang ada aku tidak akan berhenti tertawa karena akan sangat lucu jika dilihat." sergah Saras yang meluapkan tawanya.


Saat itu Dewo dan Saras tertawa bebas seperti seseorang tengah berbahagia. Kekecewaan lantaran belum mendapatkan satu pelanggan pun tak membuat mereka menyerah, Dewo terdiam sejenak, begitu pun juga dengan Saras yang tiba-tiba senyam, Dewo hendak meraih tangan Saras yang ada di meja, namun dengan cepat Saras menyingkirkan tangan tersebut dari sana sehingga membuat Dewo tidak bisa menggenggam tangan Saras.


"Kenapa Mas?" tanya Saras.

__ADS_1


Dewo kikuk ketika Saras menolak untuk disentuh tangannya, namun Dewo tidak tersinggung karena mungkin apa yang ia lakukan itu cukup berlebihan bagi Saras.


"A-aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas ide yang kau berikan padaku tadi, Saras," ucap Dewo menatap malu.


"Oh, soal itu, tidak masalah Mas, kita ini kan partner kerja, jadi kau tidak perlu merasa berhutang budi padaku. Dan, kau harus tahu, bahwa masih cukup lama bagiku untuk menampung cintamu dalam hatiku, jadi aku harap kau bisa menahan diri ya Mas." jelas Saras melempar senyum lalu pergi dari tempat itu.


Saras membuang makanan yang ada di kotak tersebut ke tong sampah besar yang ada di depan salon, dan setelah itu ia kembali masuk menemui Dewo.


Sudah hampir jam sembilan malam mereka menanti kedatangan satu pelanggannya, namun tidak ada satu pun yang datang hingga membuat mereka akhirnya merasa lelah mananti, Saras akhirnya menyerah, dia lah yang mengajak Dewo untuk pulang karena ingin istirahat.


"Mas, sepertinya memang hari ini tidak akan ada pelanggan yang datang, ini sudah hampir jak sembilan, tidak mungkin kan ada orang yang nyalon malam-malam begini," ucap Saras yang saat itu terlihat sangat sedih.


"Kau benar Saras, lebih baik kita lanjutkan besok pagi saja, sembari menerapkan ide yang baru saja kau berikan padaku," sahut Dewo yang sudah berkemas dan bersiap untuk pulang.


"Ya sudah, ayo kita pulang." ajak Saras setelah meraih tas yang ia punya.


Tibanya si ruko dua lokal itu, Saras dan Dewo berpisah. Dan mereka pun masuk ke kamar mereka masing-masing untuk mendapatkan istirahat, Saras pun istirahat setelah selesai mandi. Rencana yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu membuat Saras semangat untuk menyambut matahari pagi, ia memejamkan kedua matanya dengan harapan yang masih terbungkus dengan doa.


Sampai tiba waktu pagi, Saras sudah bersiap-siap untuk berangkat. Begitu juga dengan Dewo yang tidak terlambat seperti biasanya, ia melempar senyum ketika menatap wajah Saras yang ceria.


"Selamat pagi," sapa Dewo menghampiri Saras.


"Selamat pagi Mas, sudah siap?" tanya Saras menatap penuh keyakinan.


"Tentu saja, ayo." ajak Dewo yang saat itu terlihat sangat bersemangat.


Langkah kaki mereka pun beriringan, di hari yang spesial ini, yaitu hari jum'at, mereka akan melancarkan niat mereka untuk membangun semangat baru, dan mereka yakin bahwa usaha mereka kali ini akan berhasil.

__ADS_1


__ADS_2