
Suatu malam, ketika pengunjung sangat ramai, Saras dan Dewo pulang larut malam. Saat itu Dewo dan Saras harus menyelesaikan semua pekerjaannya agar besok pagi mereka tidak begitu sibuk, dan sebuah telpon berdering, Saras mengangkat telponnya di tengah kesibukan malam yang ia jalani bersama dengan Dewo.
"Ibu, ruko yang Ibu tempati mengalami kebakaran, dan ruko yang ditempati oleh pak Dewo juga mengalami kebakaran," ucap salah seorang warga yang saat itu sudah berada di lokasi.
"Apa! Baik lah, aku akan segera ke sana."
Tuut
Dengan cepat Saras menutup ponselnya ketika mendengar kabar buruk itu, benar-benar kabar buruk yang membuat seluruh tubuh Saras bergetar, ia tidak menyangka jika kabar buruk itu ia dengar di tengah puncak kebahagiaanya.
"Saras, ada apa?" tanya Dewo yang saat itu mendekati Saras.
"Mas, ruko Mas, ruko kita kebakaran," ucap Saras dengan hati gemetar.
"Apa! Astaga, kalau begitu sekarang kita harus segera pulang." ajak Dewo yang meletakkan semua peralatan kebersihan nya.
Saras mengangguk setuju, saat itu mereka memang harus segera pulang, untuk menyaksikan apa yang terjadi. Tak lupa Saras menutup dan mengunci salon dan menyimpan rapat-rapat benda berharga di salon tersebut. Dan saat tiba di ruko tempat tinggal mereka, semua terlihat tidak nyata, ruko tersebut sudah di kepung api yang terus membesar hingga tidak ada satu pun yang berani menyelamatkan harta benda yang ada di dalam sana.
"Aku harus masuk, di kamarku ada foto kedua orang tuaku, aku tidak ingin kehilangan kenangan itu," ucap Saras yang tiba-tiba ingin masuk menerjang si jago merah.
"Saras, jangan lakukan itu, karena itu akan membahayakan dirimu," seru Dewo yang menahan kepergian Saras.
"Tidak bisa Mas, aku harus masuk ke sana, aku harus selamatkan foto keluarga ku," sergah Saras masih terus ingin menerjang.
__ADS_1
"Saras, kumohon tolong jangan, biarkan tim yang menyelesaikan semua ini, aku mohon tolong tenang lah."
Dewo memeluk Saras dari belakang, ia tahu jika saat ini Saras sedang terpukul dan merasa sangat sedih, namun hal buruk tidak mungkin Dewo biarkan terjadi seperti halnya yang diniatkan oleh Saras saat ini.
Beberapa saat kemudian tim kebakaran yang telah dihubungi itu datang, mereka melakukan tugas mereka sementara Dewo sendiri mengajak Saras untuk menghindar dari bahaya yang ada di hadapannya.
Sebuah tragedi besar terjadi saat ini, Saras terlihat sangat sedih kala melihat ruko itu hangus tanpa sisa, dan Dewo pun ikut terpukul karena itu adalah tempat tinggal meraka selama ini.
Dewo dan Saras saling memeluk erat, di saat semuanya sibuk menonton petugas yang sedang bekerja. Di tengah malam yang ramai, asap tebal membumbung tinggi sehingga membangunkan para warga yang ada di sekitar lokasi.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat ini, dan tidak ada yang menyadari bahwa di sekitar mereka ada seseorang yang tersenyum puas ketika melihat Saras dan Dewo terpuruk dalam kesedihan mereke saat ini, orang itu adalah Mario. Mario lah yang merencanakan semua ini, entah apa yang ada di dalam pikiran Mario, mengapa ia sangat tega sekali merenggut kebahagiaan orang lain, dan orang itu adalah Saras juga Dewo.
Mario memperhatikan Dewo dan Saras dari kejauhan, memakai kacamata hitam di dalam mobil yang kacanya sedang terbuka. Membuat Mario begitu terlihat sangat puas dengan pekerjaan bodyguard nya itu.
"Tentu saja, ini sangat menyenangkan sekali. Kau sudah pastikan bahwa perbuatan kalian tidak akan disadari oleh polisi kan," tegas Mario menatapnya.
"Tenang saja Tuan, kami sudah mengatur semua seolah kecelakaan, kami sudah mengerjakannya dengan sangat hati-hati," sahutnya dengan sangat yakin.
"Bagus, hahahaha.... Bagus sekali kerja kalian, sekarang ayo kita pergi dari sini." ajak Mario yang sudah cukup puas dengan permainan yang ia lihat saat ini.
Begitu jahatnya Mario pada Saras dan Dewo, ia pergi meninggalkan begitu saja meninggalkan Dewo dan Saras dalam situasi berduka.
"Saras, kita tidak bisa tinggal di sini lagi, kita harus pergi dari sini," ucap Dewo yang saat itu melepaskan pelukan nya dan menyadarkan Saras dari kesedihannya.
__ADS_1
"Kita akan pergi ke mana, Mas?" tanya Saras menyeka air matanya.
"Salon, tidak ada lagi tempat lain, untuk kita berteduh kalau bukan salon, jadi kita akan kembali ke sana untuk sementara waktu." jelas Dewo mengajak Saras bangkit.
Ya, memang benar. Jika pun ruko dua lokal itu di bakar hangus oleh Mario, Dewo dan Saras masih memiliki tempat tinggal lain yaitu salon, karena setiap harinya mereka sudah menghabiskan banyak waktu di sana, membuat mereka harus kembali lagi ke sana untuk istirahat.
Malam itu Dewo meminta Saras untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuat hatinya sakit, ia tidak mau jika sampai Saras berlarut dalam kesedihan, ia meminta Saras untuk istirahat dan sementara waktu mereka akan tinggal di sana.
Malam berganti pagi, suasana duka masih menyelimuti, namun apa boleh buat, jika takdir sudah berkehendak, mau apa lagi manusia. Beruntung saja ruko hanya menjadi tempat istirahat jika tiba waktu malam, semua aset bisnis yang mereka kelola ada di dalam salon tersebut, karena sehari-harinya mereka memang sudah terbiasa ada di sana.
Pagi itu Dewo mendatangi Saras yang masih dalam keadaan murung. Ia bangun namun tidak beranjak dari tempat tidurnya karena masih memikirkan foto-foto kenangannya bersama dengan keluarga.
"Saras, kau tidak apa-apa?" tanya Dewo menyentuh tangan Saras.
"Mas, selama ini aku berjuang untuk melunasi hutang-hutang ayahku, saat aku lelah dan ingin menyerah menggeluti pekerjaan ku, aku selalu melihat foto-foto mereka untuk mengembalikan semangat ku. Tapi sekarang, aku merasa tidak ada lagi tempat untuk bisa mempertemukan aku dengan mereka, aku sangat sedih Mas," ucap Saras dengan linang air mata.
"Ya, aku mengerti apa yang kau pikirkan, sedih dan terpukul itu pasti, kalau begitu kita tutup saja salon hari ini, sampai hatimu merasa cukup lebih baik lagi." jelas Dewo yang sangat mengerti sekali dengan kondisi Saras kali ini.
Saras tidak menolak ketika Dewo mengatakan akan menutup salon, karena kondisi saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja, dan Dewo pun memahami keadaan Saras yang sedang merasa sedih karena kehilangan kenangan manis bersama keluarganya.
Dewo saat ini hanya fokus dengan Saras, ia memberikan perhatian khusus padanya sampai Saras merasa nyaman dan tenang ketika bersama dengan Dewo, Dewo memberikan Saras makan tepat pada waktunya, karena ia tidak ingin sampai melihat Saras jatuh sakit karena terlalu lama terpuruk dalam kesedihan.
Suatu hari Dewo sedang mengurus kasus kebakaran itu ke pada polisi, dan mendapatkan laporan bahwa kebakaran yang terjadi itu karena kon-sleting listrik. Dewo pun merasakan tenang saat itu karena sudah mendapatkan keterangan dari polisi, dan ia kembali lagi ke salon untuk menceritakan penjelasan dari polisi kepada Saras.
__ADS_1
Saat itu Saras duduk diam mendengarkan, ia mendengar semua cerita dari Dewo dan saat itu ia sudah mulai lebih baik dari sebelumnya, ia ingin kembali semangat lagi seperti sebelumnya, meski pun masih terpukul, namun Saras tidak ingin berlarut dalam kesedihan itu.