
Dewo sangat senang sekali mengetahui Saras, istrinya tegah hamil dan kini usia kandungannya sudah masuk dua bulan. Pantas saja, Saras selalu mual dan muntah dan kesulitan untuk makan. Rasanya setiap makan ingin keluar kembali.
Saras beberapa hari ini hanya terbaring lemas di kasurnya. Salon miliknya sudah di serahkan sementara pada orang kepercayaannya. Begitu juga dengan tudio foto milik Dewo juga sementar ini di pegang oleh tangan kanannya. Dewo ingin fokus mengurus Saras yang tengah mengandung benih cintanya.
Bisa di bayangkan bagaimana duli ia berjuang untuk mendapatkan Saras, sampai pernah akan ia jual namun ia urungkan dan rela menjual rumah warisannya demai membayar hutang -hutangnya sendiri.
"Sayang ... Mau makan gak? Kalau mau biar Mas belikan atau bisa pesan secara online," tanay Dewo yang duduk di tepi ranjang sambil menemani istrinya yang terlihat lesu.
"Mau jus buah naga Mas, sama es mangga yakult nata decoco," ucap saras kemudian. Lidahnya ingin merasakan yang asam namun masih enak dan manis bukan asam seperti rujak.
"Beli dimana itu sayang? Mas gak tahu," tanya Dewo pelan.
"Itu lho Mas, di Kios Es samping salon, bilang aja, yang biasa Saras beli. Tapi Mas Dewo yang beli ya, jangan nyuruh orang," titah Saras pada Mas Dewo, suaminya.
__ADS_1
"Tapi Sayang. Kamu sendirian di rumah. Asisten rumah tangga kita sedang ijin tidak masuk kerja," ucap Dewo pelan. Dewo tidak mungkin meninggalkan Saras sendirian di rumahnya, tentu ia akan sangat khawatir dan cemas.
"Percaya deh, Saras gak apa -apa Mas. Sekalian beliin, cilok kuah kacang di samping studio Mas ya, sama kue pukis pandan rasa cokelat," ucap saras kemudian. tiba -tiba saja, ia menginginkan banyak sekali makanan.
"Apalagi? Sekalian ini jalannya. janji kamu jangan kemana -mana. Tetap di sini, jangan ke kamar mandi nanti tunggu Mas. Kalau mau muntah di bawah tempat tidur ada ember, sudah muntah di sana saja, bair Mas yang bersihkan," titah Dewo pada Saras dan mengecup kening istrinya dengan sangat lembut.
"Udah itu aja pesenannya. Nanti kalau Saras sudah lebih baik, Saras minta di antar ke Kampung kecil Saras, untuk menemui Tuan Takur dan membayar hutang -hutang kedua orang tua Saras," pinta Saras pada Dewo, suaminya.
Tangan Dewo memegang tangan Saras yang melintang di perutnya.
"Ekhemm ... Saras punya tabungan kok, untuk membayar hutang Bapak dan Ibu Saras, sudah Saras simpan sbegaian tips salon milik Saras," ucap Saras sendu.
"Sudah ah ... Gak mau bahas itu," ucap Dewo kemudian.
__ADS_1
Dewo bergegas memakai jaket dan berpamitan pada Saras untuk membelikan keinginan Saras.
***
Beberapa jam kemudian, semua makanan yang di pesan oleh saras pun sudah tersaji rapi di meja kamar tidurnya.
Sofa panjang dan empuk itu di buat senyaman mungkin untuk Saras agar tetap bisa duduk sambil menikmati berbagai jenis makanan yang ia inginkan. TV besar sudah di nyalakan. Saras nampak begitu sangat menikmati kehamilannya. Mungkin ini yang di namakan mengidam.
"Enak Sayang?" tanya Dewo yang baru duduk dan mencomot cilok kuah kacang. Baru saja akan di makan, Saras sudah berteriak keras.
"Mas Dewo!! Janagn di makan. Gak ada yang boelh minta makanan Saras. tadi bukannya beli," ucap Saras kesal.
"Itu banyak lhoo sayang," ucap Dewo menunjukkan beberapa makanann yang masih utuh belum tersentuh.
__ADS_1
"Nanti juga habis," jawab Saras emngambil cilok dari tangan Dewo lalu di suapkan ke dalam mulutnya.
Dewo hanya menggelengkan kepalanya. Seperti ini ternyata penampakan ibu hamil yang sedang mengidam.Galak, egois dan gak mau kalah.