Pesona Saraswati

Pesona Saraswati
6


__ADS_3

Saras nampak berpikir, ia merasa aneh dnegan alasan Dewo yang menurutnya kurang masuk akal. Kalau saja, alasan Dewo itu masuk akal, mungkin Saras masih bisa menimbang keinginan Dewo untuk menikahinya. Tapi, berhubung, Dewo hanya memberikan alasan garis besarnya saja, maka Saras pun kurang bisa menerima alasan itu dengan baik.


"Ada alasan lain yang lebih spesifik ada? Biar jelas," tanay Saras menyelidik.


"Mas jatuh hati smaa kamu. Sejak pertama bertemu, Mas langsung suka, di tambah kamu bercerita tentang kedua orang tuamu yang meninggal dan kehidupanmu yang sdeang tidak baik -baik saja," ucap Dewo dengan jujur.


"Semudah itu?" tanay saras kemudian.


"Kamu memiliki aura lain, Saras, Pesonamu tentu bisa memikat banyak laki -laki. Ini yang aku takutkan," ucap Dewo jujur apa adanya. Ini yang ia rasakan pada Saras saat ini.


"Tapi, kita harus meninggalkan rumah ini, Mas akan menjualnya," imbuh Dewo kemudian dengan pasrah. Dewo ragu, SAras akan mninggalkannya di saat Dewo berada di titik rendah.


"Kenapa?" tanay Saras serius.


"Hutang Mas sangat banyak pada bos besarnya MArio dan Mas belum punya uang. Mas harus jual rumah warisan ini," ucap Dewo lirih.

__ADS_1


"Kenapa bisa? Hutang untuk apa? Urusan bisnis?" tanya Saras bingung.


"Bukan. MAs di jebak. Saat itu MAs ikut tender dan ikut investasi agar bisa mendapatkan keuntungan. Ternyata, Mario dan Bos besarnya memiliki rencana busuk dan Mas di tipu soal investasi ini. Tapi sudahlah, Mas sedang cari bukti untuk menjebloskan Mario dan Bos Besarnya ke penjara, tapi memang ini agak beresiko tinggi. Makanya MAs mau pindah menjauh dari sini, paling tidak hidup Mas tenang kalau sudah membayar hutang," tegas Dewo pada Saras.


"Mas ... Kneapa tidak berikan saja sertifikat rumah ini untuk mereka, kira -kira hutangnya mencukupi atau tidak dari hasil penjualan rumah ini. Memangnya sudah ada pembeli dalam waktu dekat?" tanay Saras kembali.


"Ada. Mas ikut lelang untuk rumah ini, di badan pelelangan," ungkap Dewo jujur.


"Bukannya malah jatuhnya murah Mas?" tanya Saras pelan.


"Memang Mas Dewo mau usaha apa?" tanya Saras kemudian.


Ini dia yang masih membingungkan. MAu buka usaha apa. Dewo memang tidak punya keahlian khusus kecuali menjado fotografer. Bukan fotografer sebenarnya, Dewo hanya suka menjadi tukang foto dan hasilnya sangat bagus.


"Nah itu dia Saras. Mas juga bingung. Eh ... Ngomong -ngomong permintaan tadi gak usah di jawab sekarang. MAs cuma pengen kmau ikut Mas saja, dan kita cari uang sama -sama dan mengumpulkan sama -sama, itu saja," ucap Dewo kemudian.

__ADS_1


"Mas kan suka foto -foto. Saras itu suka banget dandanin orang. Gimana kalau kita buka studio photo sekaligus, buak salon untuk make up aja. Saras gak bisa memotong rambut, atau kita sewain gaun pengantin gitu," usul Saras pada Dewo.


"Wahhh ide bagus tuh. Ini semacam wedding organizer? Terus kita cari kios dan rumah atau ruko gitu. Gimana?" tanya Dewo kembali.


"Yup ... Setuju. Mas Dewo gak apa -apa kalau permintaan tadi di tolak? Kita mending fokus sama usaha saja gimana?" tanya Saras kemudian. Saras ingin hubungannya dengan Dewo hanya sebatas sahabat atau saudara atau lebih dekat lagi ya speerti Kakak Adik saja. Mungkin hubungan seperti itu lebih abadi di bandingkan harus meneikah karena kasihan.


Dewo mengangguk setuju. Ia antusias dengan usulan Saraswati baru saja. Mungkin dnegan mengandalkan hobbynya semua akan terasa mudah.


"Oke. Malam ini kita pindah. Kita cari tempat, lalu Mas kembali kesini untuk penyelesaian jual beli rumah ini," ucap Dewo jelas.


"Asisten Mas, gimana?" tanya Saras kemudian. Ia kasihan dengan beberapa orang asisten yang sudah lama bekerja di rumah ini.


Dewo hanya mendekkan bahunya.


"Mau gimana lagi? Semua sudah jalannya begini. Semakin bertahan, MAs yang pusing," ungkap Dewo kemudian.

__ADS_1


"Waktu kita gak banyak, saras. MAs tidak ingin, Mario tahu keberadaan kita," ungkap Sewo kemudian.


__ADS_2