Pesona Saraswati

Pesona Saraswati
7


__ADS_3

Malam ini, Saraswati dan sadewo sudah bergegas pergi menuju pinggiran kota dnegan membawa semua peralatan dan perlengkapan pribadi mereka di dalam mobil.


Rumah dan seisinya sudah di jual dan pembayaran akan di lakukan malam ini juga. TAdi, Dewo memberikan sejumlah uang untuk semua asistennya yang berkerjsa di rumah mewah itu dan di berhentikan karena sesuatu hal. Tidak hanya gaji tapi juga uang pesangon untuk mereka. Itu pun, Dewo harus menjual dua motor dan satu mobil bak yang biasa di pakai untuk proyek.


Barang -barang berharga lain ada yang di jual dan ada yang di beli oleh asistennya sendiri. Intinya semua beres tanpa ada masalah.


Dewo pun langsung mentransfer uang kepada Mario sejumlah hutangnya dan mengembalikan uang muka dua puluh persen yang sudah di bayarkan untuk penjualan kegadisan Saraswati.


Untung saja, Dewo sigap dan cepat dalam hal ini. Jika tidak semua akan terlambat.


***


Urusan dengan Mario dan bos besar mafianya itu sudah beres. Tidak ada lagi urusan hutang piutang dan Dewo sama sekali tak memiliki hutang budi. Cukup sudah mulai saat ini Dewo tidak akan lagi bersinggungan dengan Mario. Setidaknya Dwo ingin hidup lebih baik lagi. Walaupun sudah tak berharta seperrti dulu. Percuma saja, bila banyak uang, hidupnya selalu was -was dan ujung- ujungnya banyak penjilang di sekitarnya.


Sudah dua hari ini, Dewo dan Saras menempati ruko dua lokal. Mereka berdua saling mendukung hobby satu sama lain. Wedding organizer adalah pilihan keduanya setelah mencari kata sepakat untuk membuat usaha apa.


Ruko dua lokal itu telah di sulap menjadi sebuah usaha bersama antara Saras dan Dewo. Keduanya kompak menjalani tugas sesuai tupoksinya. Mereka mencari karyawan yang kompeten untuk di jadikan marketing membagikan selebaran sekaligus mempromosikan usaha keduanya yang di beri nama PESONA SARASWATI.


Ya, usaha yang baru saja mereka geluti ini sudah mulai menampakkan hasilnya. Dewo yang selalu ingin tampil sempurna selalu memaksimalkan hobbynya.

__ADS_1


Kini mereka berdua berada di atas balkon rukonya yang telah tutup Baru satu minggu mnereka buka, bisnis salon Saraswati sudah memiliki pelanggan. Begitu juga dengan Dewo yang sudah mendapatkan panggilan foto untuk prewedding.


"Kita berhasil," ucap Dewo tiba -tiba.


Sarasa mengangguk -anggukkan kepalanya pelan.


"Kalau kita berusaha pasti berhasil. Usaha itu niat dan jangan pernah berpikir hasilnya akan seperti apa," ucap Saras kemudian.


Dewo melirik ke arah Saras dan tersenyum. Saras memang masih terbilang muda, tapi semangat kerja dan semangat hidupnya begitu kuat. Ia menjadi wanita mandiri yang luar biasa dengan segala keteguhan obsesinya.


"Kamu hebat Saras," ucap Dewo kemudian.


"Jadi istriku ya?" ucap Dewo kemudian.


Saras tertawa dan menatap Dewo lekat.


"Kamu lagi belajar melamar wanita, Mas?" tanya Saras pelan.


"Gak. Mas serius, Saras," ucap Dewo pelan.

__ADS_1


Saras malah terkekeh dengan raut wajah Dewo yang terlihat kaku dan canggung.


"Nothing spesial. Kita serius kerja yuk. Saras capek Mas, mau istirahat dulu ya. Latihan melamarnya besok lagi, raut wajahnya kurang terlihat serius dan kurang tulus," ucap Saras memberi saran.


Saras langsung berjalan masuk ke dalam ruangan menuju kamar tidurnya.


"Mas serius Saras. Ini bukan latihan atau modus. Kita sudah sebulan ini tinggal bersama selama dua puluh empat jam, secara tidak langsung, Mas tahu kamu itu seperti apa? Kamu adalah wanita baik yang harus Mas jaga," ungkap Dewo dengan jujur dan penuh ketulusan.


Langkah Saras terhenti. Saras memejamkan kedua matanya sejenak. Ia tak mungkin menerima cinta Dewo, karena dalam hatinya memang belum ingin menerima siapapun. Apalagi Dewo, adalah sosok pria baik yang sudah di anggap Saras sebagai Kakaknya sendiri, mana mungkin ia harus jatuh cinta. Saras hanya kagum dan senang dengan cara bekerja Dewo yang tidak setengah -setengah.


"Jawab Ras. Kalau kamu belum bisa menjawab, Mas akan tetap menunggu jawaban kamu, sampai kamu bilang ya. Kalau kamu ragu jangan jawab. Mas hanya ingin kamu menjawab ya, bukan jawaban apalagi alasan lain," pinta Dewo pada Saras.


Saras melanjutkan lagi langkah kakinya menuju kamar tidur. Ia bergegas masuk dan menutup pintu kamar itu lalu menguncinya dengan rapat. Degub jantungnya tak bisa di netralkan hanya dengan tarikan napas saja. Tangannya terus memegang bagian dadanya yang terasa sekali detakan jantungnya.


"Arghhh ... Sudah dua kali ini Mas Dewo memintaku menjadi istrinya. Mmeintaku untuk menikah dnegannya. Aku gak bisa Mas. Aku benar -benar gak bisa. Masa iya menikah tanpa cinta? Masa iya menikah tanpa persiapan? Kalau pun aku mau, itu tandanya aku sudah bisa menerima kamu dan mencintai kamu. Kalau aku mau walaupun terpaksa, itu berarti aku sudah menyelesaikan smeua hutang -hutangku pada Tuan Takur. Ini yang menjadi beban hidupku. Kasihan kedua orang tuaku yang di mintai pertanggung jawaban atas hutangnya yang belum sempat mereka bayarkan," ucap Saras lirih.


Sudah bisa seperti ini saja, Saras sudah senang dan bahagia.


"Pokoknya kau harus bantu Mas Dewo untuk terus memaksimaklkan usaha ini. Biar berkembang dan sukses," ucap Saras kemudian lirih.

__ADS_1


__ADS_2