
Saat itu Saras masuk ke dalam kamarnya dengan senyuman yang tak tertahankan, entah mengapa permintaan Dewo kali ini mengganggu pikirannya, meminta untuk menikah sudah dua kali diucapkan oleh pria yang ia kagumi itu, namun hati kecil Saras justru tidak ingin cepat-cepat hal itu terjadi. Karena menikah banyak sekali tugas besar yang harus di pikirkan.
Entah itu emosional, ekonomi dan lainnya yang harus di pikirkan matang-matang, ia tidak mau kedekatannya dengan Dewo merusak pertemanan baik antara dirinya dengan Dewo. Selama ini Saras sudah merasa cukup senang karena bisa sedekat ini dengan Dewo.
Sementara di tempat lain, Dewo juga sedang memikirkan Saras. Ia bertanya-tanya mengapa Saras tidak bersedia ketika ia mengajak menikah, padahal Dewo mengatakan itu dengan tulus dan cintanya juga sangat besar pada Saras.
"Apa alasan terbesarmu tidak mau menerima ku sekarang Saras, kenapa kau gantungkan cintaku yang tulus ini untukmu." ungkap Dewo yang sejak tadi tidak bisa memejamkan kedua matanya.
Nampaknya malam ini ia harus tersiksa karena Saras tidak mau pergi dari pikirannya, sampai jam menunjukkan pukul sebelas malam, Dewo masih tetap saja ke sana ke mari di kamarnya seperti setrikaan yang saat itu sedang menghaluskan sebuah baju.
***
Saat pagi tiba, Saras terbangun dengan wajah yang ceria. Hari ini adalah hari di mana ia akan membangun mimpi lagi untuk mengembangkan bisnis nya itu, dan ia tidak ingin membuat mimpinya hancur hanya karena sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Sebelum berangkat bekerja, Saras mendatangi kamar Dewo, ia ingin pagi ini bisa sarapan bersama dengan partner kerjanya itu, beberapa kali ia mengetuk pintu namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Di mana si mas Dewo, padahal pagi ini harusnya kita berangkat lebih pagi, tapi ini kok nggak ada suaranya ya?"
Saras terlihat gelisah, apalagi jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Saras mencoba menghubungi Dewo melalui panggilan telpon, dan setelah beberapa kali menghubungi Dewo, akhirnya telpon itu pun tersambung.
"Iya, ada apa?" tanya Dewo yang masih memejamkan kedua matanya.
"Mas, kamu di mana? Kamu nggak lupa kan kalau pagi ini kita harus berangkat pagi!" ucap Saras dengan nada paniknya.
__ADS_1
"Astaga," Dewo terperanjat dari tempa tidurnya dan melihat jam yang ada di dinding kamarnya, sudah jam delapan pagi, "maaf Saras, aku baru saja bangun, tapi lima menit kemudian aku akan segera keluar dari kamarku." seru Dewo dengan cepat mematikan ponsel nya.
Saras baru saja hendak berbicara, namun tiba-tiba ia menyadari bahwa Dewo sudah mematikan ponselnya, dan pada akhirnya Saras harus menunggu di depan ruko dengan kecewa.
Lima menit telah berlalu, Dewo keluar dan menemukan Saras yang saat itu menatap nya dengan kecewa. Sementara Dewo sendiri terlihat melempar senyum genit untuk menggoda Saras agar tidak marah padanya.
"Maafkan aku ya, aku semalam tidur larut malam," ucap Dewo yang saat itu sudah ada di hadapan Saras.
"Beruntung sekali, di dalam bisnis kita, kita berdua lah yang menjadi bosnya, jadi tidak akan takut akan di skors atau di pecat karena melakukan kesalahan, tapi ingat ya Mas! Ini yang pertama dan terkahir, tolong jangan ulangi lagi, karena tim kita akan kecewa kalau kita sebagai bos tidak profesional!" tegas Saras yang saat itu menatap Dewo dengan serius.
"I-iya, aku janji, dan ini yang terkahir." jawab Dewo yang saat itu tidak punya pilihan lain untuk menjawab.
Saras melangkah lebih dulu, padahal saat itu Dewo ingin menjelaskan alasan mengapa ia bisa kesiangan. Satu hal yang ingin sekali Dewo beritahukan pada Saras, bahwa semalaman ia memikirkan Saras dan tidak pergi walau sedetik dari pikirannya.
"Mas, kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Saras yang menyadari bahwa saat itu Dewo sedang memperhatikan dirinya.
Dewo tersadar di dalam mobil taksi itu, Dewo menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, karena telah ketahuan oleh Saras bahwa ia sejak tadi sedang memperhatikan dirinya.
"Ah, tidak, aku tidak apa-apa," ucap Dewo melempar senyum.
"Ayo Mas, fokus. Jangan banyak melamun dan memikirkan sesuatu yang akan menggangu pekerjaan kita, kita harus serius untuk mencapai cita-cita kita, kau lupa ya, kalau kau baru saja kehilangan semua harta yang kau miliki hanya untuk membantuku terbebas dari mafia itu," Saras melotot tajam ke arah Dewo, berharap bahwa ia akan mengingat nya.
"Lalu, apa hubungannya dengan ke-fokusan yang kau minta dariku, Saras?" tanya Dewo tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku mengingatkan mu tentang hal itu karena aku ingin kau bersemangat dalam bekerja, siapa tahu berkat kerja keras kita ini, kau akan kembali menjadi orang kaya Mas." jelas Saras dengan penuh kepercayaan.
Saat itu Dewo melempar senyum, ia sangat suka sekali ketika melihat Saras yang begitu sangat bersemangat. Baik lah, pagi itu Dewo akan menyimpan rapat-rapat apa yang seharusnya ia beritahukan pada Saras, mengenai bagaimana ia berjuang keras mengusir wanitanya itu dari pikiran nya semalaman.
Dewo menara Saras, dan Saras pun membalas tatapan Dewo. Mereka kini memiliki satu semangat yang luar biasa, dan akan bangkit bersama dengan tujuan mencapai cita-cita yang mereka impikan selama ini.
Tibanya di tempat kerja, Saras dan Dewo melakukan tugas mereka masing-masing. Peran meraka sangat penting agar mendapatkan hasil yang terbaik, dan selama bekerja sama dengan mereka terlihat memetik buah dari kerja mereka.
Mereka berada di sebuah gedung, di sana akan ada sepasang kekasih yang akan menikah, Saras akan menyulap pengantin wanita dengan riasannya yang sudah cukup terkenal keindahannya. Sementara Dewo sendiri sedang melakukan pengecekan karena ia bertugas untuk mengabadikan momen-momen indah baik pengantin, kelurga, kerabat, dan semua momen yang perlu di simpan.
Sementara yang lain juga nampak sibuk menyiapkan semua perlengkapan yang akan membuat gedung itu nampak indah nanti sempurna.
"Sudah selesai, Nona," ucap Saras setelah memoles pengantin wanita nya.
Saat itu pengantin wanita nampak membuka kedua matanya, dan ia bisa melihat wajahnya yang sudah berubah sempurna di depan cermin. Pengantin wanita nampak merasa sangat puas sekali dengan riasan yang dilakukan oleh Saras, dan ia beberapa kali memuji sebuah karya yang dibuat oleh Saras.
"Aku sabar menyukai riasan mu, Mbak Saras, dan aku sangat puas sekali," ucapnya dengan senyuman.
"Wah, terima kasih banyak ya Nona, semoga kau akan membantuku untuk mempromosikan aku sebagai WO di terbaik pernikahan mu," seru Saras tidak lupa dengan pekerjaan untuk promosi.
"Itu pasti, aku akan mempromosikan WO mu pada semua teman-teman ku, dan akan aku pastikan merasa menggunakan WO dari mu." jawabnya dengan sangat yakin.
Saras merasa senang, senyum lebarnya terlihat kala itu, karena telah membuat orang lain bahagia, tentunya hati Saras ikut bahagia karena merasa sukses dengan pekerjaannya. Dalam hati Saras pun berharap bahwa tim nya kali ini juga akan melakukan hal yang sama, melakukan yang terbaik untuk membuat klien nya bertambah bahagia.
__ADS_1