
Bab 12
"Percayalah padaku, usiamu pasti jauh lebih dewasa daripada aku, aku yakin kalau kau mengutarakan perasaan mu pada kekasih hatimu, tidak akan mempengaruhi apapun, kau tetap akan bersamanya dan pertemanan kalian tidak akan terganggu, malah aku yakin kalau kalian akan semakin dekat." jelas gadis itu yang terlihat begitu sangat yakin sekali.
Saat itu Saras terlihat bimbang, apakah ia harus mengatakan hal yang disarankan oleh gadis di hadapannya, atau justru ia akan memutuskan semuanya menurut pemikirannya sendiri.
Entah lah, Saras terlihat sangat bingung saat itu, ia kembali fokus merias gadis tersebut dengan bangga. Dan setalah semua selesai, calon pengantin pun di minta untuk keluar karena sesi ijab qobul akan segera dimulai.
Saat itulah Saras bisa istirahat dan tidak melakukan apapun kecuali duduk sebagai tamu bersama dengan Dewo, saat itu mereka berdua nampak memikirkan sesuatu satu sama lain, entah apa yang ada di dalam benak mereka saat ini, namun senyum mereka tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka.
Saat ini Dewo sedang membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang pengantin pria, betapa bahagia hatinya jika di sana adalah dirinya yang akan menikah dengan Saras. Begitu juga dengan Saras, yang saat itu terlihat berseri-seri ketika membayangkan jika dirinya lah yang menjadi calon pengantin wanita nya, ia terlihat tersenyum tulus hingga menyadarkan Dewo tentang wajah Saras yang dipenuhi dengan senyuman.
"Hei, apakah kau sedang membayangkan sesuatu di pelaminan itu?" tanya Dewo menyadarkan Saras.
Saras pun nampak kikuk ketika tersadar dari lamunannya, "t-tidak, aku tidak memikirkan sesuatu," ucap Saras menutupi perasaannya.
"Aku rasa kau sedang berbohong Saras, terlihat sekali dari wajahmu kalau kau sedang memikirkan sesuatu. Sebentar, biar aku tebak, aku rasa sejak tadi kau sedang membayangkan bahwa dalam waktu dekat ini kau lah yang duduk di pelaminan itu, iya kan?" Dewo tersenyum menatap Saras yang saat itu semakin merasa tersipu.
"Apaan si Mas, jangan menggodaku seperti ini," seru Saras yang justru bertambah malu.
"Ayolah Saras, selama ini aku terus yang mengutarakan perasaan ku, lalu kau kapan, aku ingin kau jujur padaku, Saras." jelas Dewo yang saat itu memaksa Saras.
Saras sendiri masih terdiam, mana mungkin ia jujur tentang perasaan yang saat ini ia sembunyikan, mana mungkin ia jujur dengan kenyataan bahwa ia sudah mulai jatuh cinta pada Dewo.
__ADS_1
Saat itu Saras masih terus menghindar, ia tidak mau mengatakan yang sejujurnya pada Dewo karena ia akan sangat malu, Saras memutuskan untuk tetap duduk di sana sampai sesi ijab qobul selesai.
Hingga sudah tidak ada lagi kesempatan bagi Dewo untuk mencari tahu, karena saat ini adalah gilirannya untuk maju menyelesaikan tugasnya, sesi pemotretan pun dimulai, dan Dewo melakukan itu dengan sangat baik.
Saras memperhatikan Dewo dari kejauhan, dengan senyuman ketika mengingat ucapan calon pengantin wanita yang saat ini sedang duduk di pelaminan.
"Mana mungkin aku jujur padamu mas, itu akan membuat aku sangat malu kalau sampai itu terjadi." ungkap Saras yang menggelengkan kepala saat itu.
***
Saat malam hari tiba, Saras dan Dewo sudah tiba di salon tempat mereka beristirahat. Mereka memiliki karyawan yang sudah terpercaya untuk mengelola salon tersbut.
Saat tiba di sana Saras nampak terlihat lelah, sakit yang ia rasakan masih terasa dan bahkan masih sulit untuk dihilangkan. Kemudian Dewo datang membawakan air hangat untuk Saras agar ia mengkonsumsi nya.
Di salon tersebut hanya ada satu ruangan kosong yang sekarang dijadikan tempat tidur Saras, di kasur lantari yang tidak begitu empuk itu lah Saras beristirahat. Sementara Dewo sendiri saat itu memilih untuk tidur di sofa yang ada di ruangan depan.
Dewo tiba-tiba berpikir bahwa ia harus mencari cara untuk membuat Saras lepas dari penderitaan tersebut. Dan saat itu Dewo memutuskan untuk menghubungi seseorang yang ada di ponselnya ketika Saras sudah tertidur lelap.
Esok paginya Dewo harus pergi ke suatu tempat tanpa Saras, beberapa bulan telah bersama, kini terasa aneh ketika Dewo pamit akan pergi ke suatu tempat tanpa dirinya, apalagi saat itu Dewo terkesan sangat terburu-buru sekali, membuat Saras memilki pertanyaan lain ketika Dewo melakukan hal demikian.
"Mau ke mana si mas Dewo, tumben banget dia nggak ngajakin aku?" tanya Saras pada dirinya sendiri.
Saat tiba di sebuah lokasi, komplek sederhana yang Dewo pilih adalah komplek yang ramah lingkungan, di mana para tetangga yang masih sering keluar rumah hanya untuk berbincang ringan dengan tetangga yang lain.
__ADS_1
"Ini Pak, lokasinya," ucap salah seorang yang melakukan janji temu pada Dewo.
"Oh, ini ya. Cukup strategis si, rumah minimalis yang indah," puji Dewo ketika menetapa sebuah rumah yang tidak begitu kecil dan juga tidak begitu besar itu.
"Iya Pak, cukup menyenangkan. Karena di depan rumah ini juga ada sebuah taman yang sangat indah sekali jika menghabiskan waktu di sini," sahut nya menambahkan.
"Ya, kau benar sekali. Saya sangat suka dengan pemandangan di sini, apakah tidak bisa kurang, Pak?" tanya Dewo yang sudah terlanjur jatuh hati pada rumah yang saat itu ingin ia hadiahkan pada Saras.
"Wah, kalau soal itu sudah mentok Pak, saya sendiri sebenarnya sayang ingin menjual rumah ini, tapi bagaimna lagi, saya harus pindah dari sini untuk sebuah pekerjaan." jelasnya pada Dewo.
Dewo mengangguk pelan, ia tidak mungkin memaksa, dan tidak mungkin juga tidak membeli rumah tersebut karena ia sudah jatuh hati sejak pertama kali melihatnya.
Setelah setuju dengan semuanya, Dewo pun akhrinya melakukan kesepakatan untuk melakukan pembayaran secara langsung dengan uang kes yang ia miliki tanpa sepengetahuan dari Saras. Dan setelah semua deal Dewo pun kembali ke salon untuk bertemu dengan Saras.
Saat itu Dewo menangkap sesuatu yang membuat dirinya penasaran, dan karena tidak mau terlalu lama berdiri di depan pintu, akhirnya Dewo masuk hendak mengejutkan Saras. Ketika itu Saras benar-benar terkejut karena melihat Dewo yang tiba-tiba kembali.
"Mas, kau dari mana saja si, kenapa kau baru datang jam segini?" tanya Saras sedikit marah.
"Maafkan aku, aku ada sedikit keperluan tadi," ucap Dewo yang saat itu langsung meminta maaf pada Saras.
"Apa keperluan mu Mas, apa keperluan mu sangat tertutup sampai kamu tidak mengajak ku? Keterlaluan kamu Mas," marah Saras berpangku tangan saat itu, dan membuang muka pada Dewo.
"Apa kau sangat penasaran sekali Saras? Sampai kau ingin aku memberitahukan mu tentang keperluan ku di luar tadi, emmm... Baik lah, aku akan menceritakan semua padamu, tapi aku ingin tahu dulu, kenapa kau terlihat sangat panik ketika aku pergi?" tanya Dewo penasaran ketika menatap wajah Saras.
__ADS_1
"Tidak ada sesuatu yang serius Mas, hanya saja aku berniat utnuk membayar semua hutangku hari ini pada tun Takur, aku ingin semua beres." jelas Saras yang sejak tadi menunggu kedatangan Dewo.