Pesona Saraswati

Pesona Saraswati
14


__ADS_3

Setelah melakukan berbagai perawatan untuk ke empat pelanggan baru yang datang kembali, Saras dan Dewo pun akhirnya menerima upah kebahagiaan dan rupiah kecil dari meraka yang datang. Namun rupiah yang meraka terima tidak sebanding dengan rasa bahagia yang mereka rasakan saat itu.


Saras menyeka keringat yang mengucur di keningnya, setelah mereka pergi dengan pujian yang mereka tinggalkan. Tak lupa Dewo menutup pintu salon karena jam makan siang sudah tiba, ia mendekati Saras yang saat itu sedang meneguk air minum yang membuat kerongkongan sangat lega.


"Yuk kita makan siang dulu," ajak Dewo yang saat itu terlihat sudah siap.


"Mau makan siang di luar?" tanya Saras.


"Iya lah, kita cari makan di luar, biar aku yang traktir," seru Dewo mengedipkan salah satu matanya.


"Mas, jangan dong, kalau nanti ada pelanggan baru yang datang terus kita nggak ada gimana? Lebih baik kamu pesan makanan aja dan kita makan di sini," tolak Saras yang memiliki ide lain.


"Astaga, Saras... Bukan kah kita perlu keluar sebentar untuk merasakan dunia luar, kalau kita di sini terus sampai malam, apa kamu nggak jenuh," omel Dewo yang tidak setuju dengan permintaan Saras.


"Enggak Mas, ini adalah jalan terbaik dan kau tidak boleh menolak, lagian aku punya kok nomor nasi nasi padang yang ada di pengkolan sana, aku pesan aja dari sini, nanti pasti karyawannya mau ngantar. Mas, aku nggak mau melewati momen ini, kali ini kamu yang nurut sama aku." jelas Saras menolak dengan keras.


Dewo menggelengkan kepala, mau tidak mau ia harus mengalah lagi karena Saras yang menolak ajakannya, padahal saat itu Dewo ingin sekali makan siang romantis dengan Saras. Agar hubungan mereka semakin erat dan semakin akrab. Namun Saras nampak tidak perduli, saat itu Saras justru fokus menghubungi pemilik warung nasi padang yang ia bicarakan itu, lalu memesan makanan sesuai dengan yang diinginkan oleh Dewo dan dirinya.


Beberapa saat kemudian karyawan yang sudah mengenal baik Saras itu datang, dan Saras pun membuka pintu salon yang sebelumnya di tutup oleh Dewo, Saras melakukan pembayaran lalu menerima dua bungkus nasi padang spesial itu di tangannya, Saras kembali lagi ke tempat istirahat di ruangan khusus yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Dewo, lalu mereka pun duduk di sana.


"Ini nasi padang mu Mas, apa ini tidak sama saja dengan makan di luar?" tanya Saras yang membukakan nasi padang untuk Dewo.

__ADS_1


"Tentu saja tidak sama, aku ingin makan siang romantis di sebuah restoran yang mahal, bukan nasi padang," ucap Dewo yang memprotes ucapan Saras.


"Sama saja Mas, makan berdua di ruangan yang isinya hanya kita berdua ini bagiku jauh lebih romantis dari pada di tempat umum yang banyak orang datang berkunjung, aku tidak begitu menuntut mu untuk melakukan itu, lagi pula seperti ini saja sudah lebih dari cukup bagiku." jelas Saras menatap wajah Dewo dengan sungguh-sungguh.


Mendengar penjelasan Saras, entah mengapa degup jantung Dewo menjadi cepat selaki berdebar, ia tidak tahu bagaimana untuk mengekspresikan nya saat itu selain dengan senyuman yang ada di bibirnya. Dan ketika Dewo terdiam beberapa saat tanpa menyentuh makanan yang ada di meja membuat Saras harus menyadarkan Dewo dari lamunannya.


"Mas, kau melamun lagi!" marah Saras menyenggol tangan Dewo hingga ia benar-benar terkejut saat itu.


"A-apa kata mu? Saras, aku tidak sedang melamun," ucap Dewo mengelak.


"Lalu, apa yang kau lakukan beberapa saat yang lalu kalau tidak sedang melamun," seru Saras membalas tatapan Dewo.


"A-aku hanya meresapi kalimat yang kau berikan padaku Saras, aku meresapi sampai aku tidak sadar kalau aku hanyut dalam kata-katamu." jelas Dewo yang saat itu terlihat begitu sangat bahagia.


***


Hari berganti minggu, minggu pin berganti bulan, bisnis yang sedang berjalan itu sudah terlihat hasilnya. Meskipun hanya mendapatkan hasil sedikit, namun jerih kesabaran lah yang meraka tuai saat ini.


Hampir setiap hari salon milik Dewo dipadati oleh pengunjung, tidak hanya kelas atas, yang mendapatkan sambutan ramah oleh Dewo dan juga Saras, namun kalangan menengah pun tetap diperlakukan sebagai tuan dan nyonya ketika masuk di salon tersebut.


Hingga suatu ketika Saras memiliki ide untuk memperluas bisnis WO nya dengan cara menggabung di salon Dewo. Dan mereka berdua bekerja sama agar bisnis mereka semakin berkembang dengan baik.

__ADS_1


Pengunjung yang datang untuk melakukan perawatan, smoothing, rebonding, pun mendapatkan kesempatan untuk menjadi model di salon tersebut, dan Dewo sendiri lah yang menjadi fotografer dan mengabadikannya di sosial media.


Tentu saja ada kebahagiaan tersendiri ketika para remaja masuk di salon tersebut hingga akhirnya bisnis yang di miliki oleh Dewo dan Saras berkembang sangat cepat. WO pun tidak kalah tertinggal karena berkat kerja keras mereka yang tanpa henti.


Melelahkan adalah makanan sehari-hari mereka yang mereka bungkus dengan harapan dan kebahagiaan, mereka berharap bahwa apa yang mereka perjuangkan akan berbuah keberhasilan dan Saras akan berhasil melunasi seluruh hutang-hutangnya.


Suatu hari Mario mendapatkan informasi mengenai Dewo yang tinggal di ruko bersama dengan Saras, dan kala itu ia juga mendengar kabar bahwa mereka sedang memiliki bisnis bersama yang sedang viral. Mario yang penasaran itu akhirnya memutuskan untuk terjun langsung mencari tahu lokasi mana yang akan mempertemukan dirinya dengan Dewo dan juga Saras.


Saat itu mobil mewahnya berhenti di depan salon Dewo yang sedang sangat ramai, kedua matanya sudah menjadi saksi bagaimana padatnya salon tersebut dan Dewo sedang menangani para pengunjung satu per satu.


"Di sini salon milik Dewo, Tuan," ucap salah satu bodyguard yang diperintahkan oleh Mario untuk mencari tahu tentang Dewo.


"Apa yang kau katakan ternyata benar, salon ini sangat ramai sekali pengunjung nya, apakah mereka berdua sudah menikah?" tanya Mario penasaran.


"Sejauh ini belum ada kabar tentang pernikahan di sosial media mereka Tuan, itu artinya mereka belum memiliki hubungan apapun," serunya dengan sangat yakin.


"Kalau begitu kita cari tahu tempat tinggal mereka." titah Mario memakai kembali kacamata hitamnya.


Sang supir pun dengan patuh menerima perintah dari Mario, ia membawa pergi mobil tersebut menuju sebuah ruko yang menjadi tempat tinggal Dewo dan juga Saras, ruko dua lokal yang mereka temui itu akhirnya membuat Mario puas, ada rencana yang ada di kepalanya, entah mengapa ia tidak rela dari awal Dewo keluar dari bisnis meraka dan memilih Saras, Dewo adalah pekerja yang tidak pernah gagal, tentu saja Mario merasa kehilangan hingga membuatnya tidak rela jika kehidupan Dewo jauh lebih baik setelah keluar dari pekerjaannya.


"Aku ingin kau memberikan perhitungan pada mereka, dengan cara apapun itu," ucap Mario dengan tegas saat itu.

__ADS_1


"Maksud Tuan? Kami harus melakukan apa, di ruko ini kah, atau di tempat bisnis mereka?" tanya salah satu dari mereka yang menangkap ucapan Mario.


"Terserah kalian, tapi yang jelas sesuatu yang menyenangkan untukku." jawab Mario.


__ADS_2