
Setelah Kruiya dan Elies bertemu Serra dengan cara yang tidak biasa... Kruiya memutuskan untuk membantu Serra dan menjaganya, dikarenakan Serra memiliki hutang kepada Kruiya.
Sekarang Kruiya dan Elies melakukan perjalanan dengan tambahan satu orang bernama "Serra" seorang wanita yang memiliki masa lalu kelam sebelum ia berada di hutan saat bertemu Kruiya dan Elies.
"Hah... bosannya..." ujar Kruiya merasa bosan.
"Apa tidak ada kota terdekat di daerah ini?" Ucap Kruiya bertanya-tanya.
"...-Tuan, kota terdekat agak jauh dari sini, mungkin 2 hari perjalanan" jawab Elies.
Kruiya, Elies dan Serra sedang berjalan dengan santainya sambil melihat pemandangan sekitar yang indah. Tak lama mereka pun melihat sebuah jalan keluar dari hutan ini, mereka pun langsung bergegas menuju jalan itu. Sesampainya... mereka berhasil keluar dari hutan yang berbahaya ini.
"Huh... beruntungnya kita berhasil keluar dari hutan yang kita lalui ini" ujar Kruiya dengan lega.
"Setelah ini kita akan bagaimana? Kita kan sudah keluar dari hutan ini, seterusnya apa yang akan kita lakukan?" Tanya Serra penasaran
"Setelah ini kita akan menuju ke sebuah penggunungan" ucap Kruiya menjawab pertanyaan Serra.
"Bukankah itu berbahaya?" Ucap Serra merasa khawatir.
Kruiya pun semakin kebingungan sekaligus penasaran apa yang diucapkan Serra barusan. Saat Kruiya mendengar ucapan Serra, Kruiya langsung melihat kearah Serra.
"Berbahaya? Katamu" balas Kruiya kebingungan.
"Itu benar... penggunungan bukanlah tempat yang aman bagi kita manusia untuk mendekatinya, apalagi memasukinya" ucap Serra sangat khawatir.
Penggunungan kah... apa itu sangat berbahaya? Apakah seberbahaya itu untuk mendekatinya? Juga apa mungkin ada monster yang berbahaya jika memasukinya.
Yang bisa kusimpulkan hanyalah ada makhluk yang sangat berbahaya tinggal di gunung yang akan ku tuju.
Setelah memikirkan mengapa Serra begitu khawatir saat Kruiya dan Elies menuju penggunungan... Kruiya tetap menuju penggunungan dan memasukinya, karena tujuan Kruiya sekarang adalah pergi ke peramal yang tinggal di kaki gunung dan itu harus melewati jalan yang ada di penggunungan.
Kemudian Kruiya pun menjelaskan tujuannya ke Serra, dan Serra setuju dengan Kruiya... tak lama berjalan di jalan yang di kelilingi oleh pohon besar dan tinggi... tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras di belakang mereka bertiga.
"Rawwrrr!" Suara menyeramkan di belakang mereka bertiga.
Kruiya, Elies dan Serra langsung menoleh kebelakang untuk melihat suara itu berasal darimana. Serra tidak dapat melihat sumber suara itu dari makhluk apa, tapi Kruiya dan Elies... melihat makhluk seperti serigala berlari menuju mereka bertiga.
"Apa-apaan itu?" Tanya Kruiya bingung.
"Sebaiknya kita lari tuan... itu adalah Wolfern" ucap Elies ketakutan, wajahnya sangat ketakutan hingga mengeluarkan keringat dingin.
"Apa! Wolfern?" Ucap Serra terkejut.
Aku tidak tahu Wolfern itu makhluk seperti apa, tapi... dari reaksi Elies dan Serra kemungkinan makhluk itu sangat berbahaya. Melawan atau melarikan diri?
Aku tidak punya pilihan lain selain 2 pilihan itu...
"Elies! Kita lari sekarang, dalam hitungan mundur" ucap Kruiya dengan tegas memerintah.
"Tiga"
"Dua"
"Satu"
"Cepat!"
Mereka bertiga pun lari dengan cepat... tapi mereka terus dikejar oleh Wolfern dari belakang... "Makhluk itu sangat cepat..." ucap Kruiya melihat kebelakang. Kruiya berlari menyamakan dengan Serra dan Elies, hal itu dilakukan agar Elies dan Serra tidak tertinggal saat Kruiya berlari.
Wolfern itu terus mengejar mereka bertiga, Wolfern itu semakin mendekat... hanya berjarak beberapa puluh meter lagi Wolfern itu mendekati mereka bertiga. "Apa itu tidak seperti satu Wolfern yang mengejar, melainkan kawanan Wolfern...!" Ucap Kruiya berlari sembari melihat kebelakang. Masalah yang dihadapi mereka bertambah lahi... sekarang yang mengejar mereka adalah kawanan Wolfern.
Hidup mereka bertiga dipertaruhkam saat ini, apa mereka akan selamat itu sudah ditakdirkan apa yang akan menanti mereka di masa depan.
Sial... aku tidak punya pilihan lain selain lari seperti ini, tapi... sampai kapan berlari terus seperti ini. Melawan kawanan Wolfern yang banyak seperti itu akan sulit untuk melawannya. Tiga orang diantara kami hanya 2 orang yang bisa melawan balik, sedangkan Serra aku tidak tahu apa dia bisa.
Kruiya berlari sembari berpikir, dan yang lainnya terus berlari sampai menemukan solusi untuk menghindari kejaran kawanan Wolfern yang terus mengejar.
Setelah berlari selama puluhan menit... Serra mulai kelelahan, dan itu membuat Kruiya dan Elies melihatnya harus menyamakan larinya dengan Serra yang mulai melambat.
"Apa kau tidak apa? Serra" tanya Elies sambil berlari dengan napas yang berat.
"Tidak...aku tidak apa-apa kok" jawab Serra berbohong sambil berlari.
Napas Serra mulai memberat dan itu membuat sadar Kruiya bahwa Serra berbohong kepadanya. Kawanan Wolfern itu terus mengejar... semakin mendekat, karena keadaan Serra yang kelelahan itu membuat Kruiya dan Elies harus menyamakan larinya dengan Serra.
Saat berlari...
Tiba-tiba!
Kruiya mulai melambatkan larinya, dan kemudian ia berhenti mendadak dan itu membuat Elies dan Serra bingung, mengapa Kruiya berhenti tiba-tiba seperti itu
__ADS_1
"Elies, Serra, kalian larilah duluan... aku akan mengalihkan perhatian kawanan Wolfern itu. -Ini perintah!" ujar Kruiya memerintah dengan tatapan yang tajam.
Elies dan Serra saat mendengar ucapan Kruiya... membuat Elies terkejut setengah mati, dan itu membuat Elies merasa tak berguna bagi tuannya, Elies seperti membatu tak bergerak mendengar tuannya akan mengalihkan perhatian kawanan Wolfern. Yang dipikirkan Elies sekarang adalah perasaan bersalah.
"Mengapa tuan ingin melakukan itu?
"Apakah aku tidak berguna sehingga aku diselamatkan oleh tuanku sendiri?"
"Dan mengapa aku tidak berpikir menawarkan diri saja menggantikan tuanku?"
"Apa tuan mengasihani aku sehingga ia mengorbankan diri?"
"Kenapa aku sebagai budak tidak bisa membantu tuannya?"
"Apa aku benar-benar tidak berguna...?"
Elies berpikir begitu hingga ia sangat depresi karena berpikir bahwa dirinya benar-benar tidak berguna, sekilas Elies melihat masa lalunya kembali...
Masa Lalu yang terlupakan...
"Apa dia masih bertahan?"
"Yah... itu menunjukkan bahwa dia cocok untuk ini"
"Lebih baik kita cepat melakukannya sebelum ada masalah yang datang"
"Kamu benar"
Percakapan dua orang di sebuah tempat yang gelap, kotor dan rahasia, dua orang tersebut kemudian berjalan kearah yang sama menuju sebuah ruangan. Mereka lalu membuka pintu ruangan itu dan memasukinya... salah satu dari mereka berjalan menghampiri seseorang yang ada di ruangan itu.
Langkah demi langkah, suara hentakan sepatu yang terdengar...
"Kasihan sekali nasibmu... ditunggalkan rasnya sendiri, dijadikan korban untuk menyelamatkan rasnya, kemudian berakhir disini karena dikhianati"
"Malangnya... apa tidak ada yang suatu hal yang membuatmu berguna di rasmu sendiri?"
Orang yang diajak bicara itu menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan seolah-olah merespon pertanyaan tadi.
"Jika kamu memang berguna, kamu tidak akan ditinggalkan orang-orang yang mencintaimu dan tidak akan pernah dikhianati oleh rasmu sendiri. Dari apa yang kusimpulkan... rasmu itu memang membencimu sehingga kamu tidak berguna di mata mereka setelah banyak hal yang kamu lakukan kepada rasmu sendiri"
"Tapi tenang saja, hari ini kamu akan menjadi berguna bagiku"
"...-El"
"...-Elie"
"...-Elies!"
Saat ini Elies tak kunjung sadar beberapa kalipun ia dipanggil... saat ini Elies menghadapi masa lalunya dengan kenyataan hari ini. Kemudian Serra menepuk kedua pundak Elies dan menyadarkannya. Elies pun tersadar dengan ekspresi yang kebingungan sekaligus ketakutan, rasa sesalnya masih melekat di dirinya.
Kemudian Serra menarik tangan Elies dan membawa lari bersama meninggalkan Kruiya. Elies tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah tuannya, karena pada waktu itu Kruiya memberi perintah kepadanya sehingga ia harus mengikuti perintah tuannya.
Elies dan Serra mulai berlari menjauh dari Kruiya. Dan sekarang Kruiya berdiam diri menunggu kedatangan kawanan Wolfern itu...
Kruiya mulai memegang senjatanya dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sekarang Kruiya siap menghadapi kawanan Wolfern itu dan siap untuk bertarung.
"Dari apa yang kulihat, Wolfern itu mirip dengan serigala dan pastinya punya pemimpin... mula-mula aku akan mencari tahu pemimpinnya dahulu, setelah tahu akanku bunuh" gumam Kruiya memikirkan cara mengatasi kawanan Wolfern.
Tak lama kawanan Wolfern itu tiba di hadapan Kruiya, satu per satu Wolfern mulai mengelilingi Kruiya. Kruiya sama sekali tidak berubah pada posisinya dan hanya diam memegang senjatanya.
"Sekarang aku tahu pentingnya belajar menggunakan senjata sekarang" ujar Kruiya dalam hati.
Waktu dulu saat Kruiya belum sekolah dan masih kecil bersama ayahnya, tidak hanya bela diri saja yang dipelajari Kruiya, juga Kruiya diajari cara menggunakan senjata.
"Ternyata hanya ada 13 Wolfern yang mengincarku, 8 diantaranya mengelilingiku, sedangkan 5 yang lainnya bersembunyi, mungkin yang kelima itu ada salah satu pemimpin diantaranya. Baiklah... aku akan mengincar yang kelima itu setelah melewati 8 yang ini" pikir Kruiya mengamati.
Tak lama satu persatu para Wolfern yang mengelilingi Kruiya mulai menyerang.
Wolfern (A) menyerang Kruiya duluan dengan melompat kearah Kruiya dari belakang, Kruiya dengan cepat mengayunkan Tombaknya kebelakang tepat saat Wolfern (A) melompat dan serangan Kruiya melukai Wolfern (A)
Setelah itu dilanjutkan serangan Kruiya berikutnya, dengan menusukkan tombaknya kearah Wolfern (A) yang sedang terluka dan serangan Kruiya menusuk tubuh Wolfern (A) dan Wolfern (A) Mati.
Melihat salah satu Wolfern mati, kawanan Wolfern laiinya menyerang bersamaan. Itu membuat Kruiya kesulitan saat menghadapinya, geraman dari gigi Wolfern membuat suasana menjadi mengerikan. Kruiya hanya bisa menghindari 7 serangan dari Wolfern dan hanya bisa menggores tubuhnya saja.
Setelah beberapa menit bertarung dengan kawanan Wolfern, Kruiya mulai terpojok menghadapinya. Kemudian salah satu Wolfern berhasil menyerang tangan kanan Kruiya saat ia ingin menghalau serangan Wolfern sebelumnya, alhasil Tangan kanan Kruiya tergigit. Dengan sigap Kruiya langsung menusuk leher Wolfern yang menggigitnya dengan Belati yang dipegangnya dengan tangan kiri.
"Sial! Aku tergigit... aku tidak tahu apa gigitan ini beracun atau tidak, tapi aku sudah menyiapkan pencegahan agar itu tidak terhajadi" ucap Kruiya dengan cepat mengambil sebuah botol dan meminumnya.
__ADS_1
"Huh... sekarang aku tahu pemimpin kalian" ujar Kruiya mulai menemukan pemimpin para Wolfern.
Dengan kesulitan Kruiya mulai membunuh satu persatu para Wolfern yang menyerangnya.
(1 terbunuh) Kruiya membunuh Wolfern itu dengan cara mencekik lehernya saat Wolfern itu melompat menyerang di hadapan Kruiya, dengan cengkramannya yang kuat sampai membuat Wolfern yang dicekiknya mati kahabisan napas.
(2 terbunuh) kruiya membunuh Wolfern selanjutnya dengan menghancurkan rahang Wolfern itu dengan tombaknya saat Wolfern itu menggigit tombaknya Kruiya saat ingin menghalau gigitan untuk kedua kalinya sehingga Wolfern itu tidak berhasil menggigit Kruiya dan alhasil menggigit tombaknya saja, kemudian Kruiya memutar tombaknya dengan kuat sehingga rahang Wolfern itu hancur dan membanting Wolfern itu.
(3 terbunuh) Serangan Wolfern ketiga dengan mudah Kruiya menghalaunya dan membunuh Wolfern itu dengan menusukkan tombaknya.
Saat ini dihadapan Kruiya hanyalah mayat Wolfern yang terbunuh olehnya, darah ada dimana-mana. Sekujur tubuhnya dipenuhi darah Wolfern...
"Huh..."
4 Wolfern yang masih hidup mulai mundur sesaat terdengar suara salah satu Wolfern.
Dan itu membuat Kruiya berpikir bahwa suara itu berasal dari pemimpin Wolfern.
Tapi... itu membuat Kruiya berpikir. Kruiya mulai memegang tombaknya keatas kearah pemimpin Wolfern itu dan Kruiya mengurungkan niatnya untuk melempar tombaknya kearah pemimpin itu.
"Aku harus menemui mereka berdua sekarang" gumam Kruiya.
Dan setelah itu Kruiya berjalan menuju kearah Elies dan Serra dengan keadaan terluka berlumuran darah.
"Tuan...! apa ada yang terluka parah tuan?" Ucap Elies histeris dan sangat khawatir dengan tuannya yang datang dengan keadaan terluka dan berlumuran darah.
"Kruiya...! apa ada yang sakit?" Teriak Serra juga khawatir dengan keadaan Kruiya.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Kruiya diobati oleh Elies dan Serra, Elies mengobati Kruiya sedangkan Serra mengambil air di sungai terdekat untuk membersihkan badan Kruiya yang kotor.
"Syukurlah... syukurlah tuan berhasil selamat dari kawanan Wolfern itu" ucap Elies sembari meneteskan air mata karena sangat khawatirnya terhadap Kruiya.
"Yah... aku juga tidak menduga bahwa aku akan selamat dari para Wolfern itu, andai saja jika pemimpin Wolfern tidak menyuruh yang lainnya mundur, mungkin pertarungan ini akan berlangsung lama dan mungkin saja aku akan terluka parah" ujar Kruiya mengingat pertarungan tadi.
"Neh... tuan-" ucap Elies kemudian memotong ucapannya.
"Ada apa Elies?" Tanya Kruiya mendengar Elies memanggilnya.
"Tidak ada tuan... " jawab Elies mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya... kalian hebat juga bisa menemukan tempat ini saat berlari mengamankan diri" ucap Kruiya memuji.
"Sebenarnya tempat ini aku dan Serra menemukan di dekat sekitar hutan, dan saat kami ingin mengeceknya sepertinya sudah ditinggalkan oleh pemiliknya dan beruntung lagi terdapat 1 kamar yang masih layak untuk ditempati dan kami membersihkan tempat ini sambil menunggi tuan" ucap Elies menceritakan kejadiannya.
"Jadi begitu, kamu sudah bekerja keras ya, Elies" ucap Kruiya memuji Elies.
Kemudian... Kruiya berhasil diobati oleh Elies dibagian tubuh yang terluka akibat serangan Wolfern juga di bagian tangan kanannya yang tergigit oleh Wolfern. Saat Elies melihat bahwa tangan Kruiya tergigit oleh Wolfern, reaksi Elies sangat khawatir karena gigitan Wolfern itu beracun dan racunnya dapat melemahkan tubuh saat tergigit. Karena melihat reaksi Elies yang begitu khawatir... Kruiya pun menjelaskan bahwa ia sudah meminum penawar racun yang saat pertama ia mengambil dari tasnya.
Mendengar hal itu membuat Elies lega, karena tuan tidak hanya kuat, tapi juga menyiapkan hal yang kemungkinan akan terjadi, seperti waktu pertama kali memasuki Hutan Tak Bernama dan bertemu Orc, Kruiya sudah menyiapkan racun untuk mencegah jika ada monster yang sulit dikalahkan hanya dengan senjata biasa saja.
Dan sekarang Kruiya menyiapkan penawar racun mengingat bahwa dunia ini adalah dunia lain yang tidak diketahui saat akan melawan Wolfern.
Tak lama... Serra datang membawa air dengan ember yang ditemukannya. Kemudian Elies dan Serra membersihkan punggung Kruiya dengan kain bersih.
Setelah itu Kruiya membersihkan tubuhnya sendiri.
Malam mulai tiba, Elies membuat api unggun untuk menerangi malam dan mencegah binatang buas untuk mendekati mereka.
Setelah itu mereka memasak makan malam, dan saat masakannya sudah matang, Kruiya, Elies dan Serra mulai makan bersama. Setelah makan mereka bertiga pun tidur di kasur yang sama, dan itu membuat Kruiya mengalami susah tidur karena disamping Kruiya kanan kiri adalah dua wanita yang tidur bersama Kruiya dan membuat Kruiya tidak leluasa dalam tidurnya.
"Huh... kapan terakhir kali aku tidur sendiri ya? Oh ya mungkin saat di desa" ujar Kruiya kemudian tidur terlelap.
Malam hari yang mencekam dan mengerikan, saat Kruiya, Elies dan Serra tertidur, terdapat beberapa Wolfern mengintai tempat mereka tidur dari dalam kegelapan malam.
Wolfern (Makhluk mirip Serigala dengan gigitan beracun, Bertubuh besar, sangat lincah, Berkelompok, memiliki pemimpin yang cerdik)
-
-
-
-
Kruiya, Elies dan Serra tertidur dalam intaian para Wolfern dari dalam kegelapan malam. Dan apa yang akan menanti mereka besok?
__ADS_1
Bersambung.