
Setelah melalui perjalanan yang begitu sulit untuk dilalui... Kruiya merasa bahwa dunia ini memiliki banyak hal yang tidak diketahui olehnya, dan kata "Misteri" lah yang bisa dikatakan Kruiya untuk dunia ini.
Dan... setelah melawan kawanan Wolfern yang mengejar Kruiya, Elies dan Serra kemarin, mereka bertiga masih melanjutkan perjalanan mereka untuk menemui seorang
《Penyihir》yang berada di kaki gunung yang akan dilalui Kruiya dan yang lainnya.
Sekarang ini Kruiya dan yang lainnya akan memasuki kawasan penggunungan yang berbahaya seperti yang dikatakan Serra waktu itu.
Seberbahaya apakah penggunungan itu bagi Serra? Apa mungkin akan ada makhluk menyeramkan yang menantiku dan yang lainnya? Aku tidak tahu itu karena aku belum pernah merasakan sendiri. Yah... lebih baik nanti tidak ada halangan seperti monster dan binatang buas.
Beberapa jam berjalan menuju penggunungan, mereka bertiga telah sampai di jalan masuk penggunungan. Tapi, jalan yang akan mereka lalui sedikit berbahaya, karena jalan yang akan di lalui mereka adalah jembatan yang menghubungkan hutan dan penggunungan yang dibawahnya jurang yang sangat dalam.
Jembatan itu terlihat sangat tua dan tidak terawat, apa mungkin aku dan yang lainnya bisa melewati jembatan ini? Sudah berapa lama jembatan ini tidak terpakai? Ya sudah lah. Mau tidak mau aku harus melewati jembatan ini, karena aku malas untuk memutar mencari jalan lain.
"Tuan... bagaimana ini, Apakah kita akan melewati jembatan ini?"
Elies bertanya kepada Kruiya mengenai jembatan yang akan di lalui mereka yang terlihat berbahaya karena tidak terawat.
"Lebih baik kita melewatinya"
Jawab Kruiya sembari berpikir apakah jembatan itu aman atau tidak? Kemudian Kruiya mengambil sebuah batu sebesar gengaman tangannya dan melempar batu itu kearah jembatan.
Batu itu terlempar dan jatuh ke jembatan itu, tidak ada reaksi dan keanehan saat batu itu jatuh ke jembatan.
Sepertinya jembatan itu masih kuat dan kokoh walaupun terlihat tuan dan tidak terawat.
"Baiklah, kita akan melewatinya sekarang!" Ucap Kruiya mengajak yang lainnya
Kruiya berjalan melewati jembatan itu terlebih dahulu untuk mengurangi resiko jatuhnya jembatan ini. Dengan pelan dan hati-hati Kruiya berjalan diatas jembatan yang dibawahnya adalah jurang yang sangat dalam. Saat Kruiya melihat kearah bawah jembatan, Kruiya merasakan bahwa ada yang menariknya untuk terjun kebawah, hal itu membuat Kruiya segera melewati jembatan ini dan akhirnya Kruiya berhasil melewati jembatan ini dan sudah memasuki kawasan penggunungan.
Sekarang bagi Elies dan Serra untuk melewati jembatan itu.
Tadi itu apa? Kenapa seolah-olah aku merasa ditarik kebawah jurang saat melihat kebawah jembatan... apakah itu sesuatu yang tidak kuketahui.
"Elies! Kalian jangan melihat kebawah jembatan, pokoknya kalian jangan melihat kebawah dan tetap fokus apa yang ada didepan kalian"
Kruiya berteriak dan memberi saran kepada Elies dan Serra mengenai hal aneh yang akan terjadi jika melihat kebawah jembatan itu.
"Baiklah tuan... jika itu kata tuan!"
Elies membalas ucapan Kruiya dan berjalan melewati jembatan dengan pelan dan hati-hati, Elies berjalan fokus dengan apa yang didepan Elies seperti yang dikatakan Kruiya.
Kemudian Elies pun sampai ke tempat Kruiya berada, sekarang giliran Serra untuk melewati jembatan itu. Serra terlihat ketakutan saat ingin melalui jembatan itu.
"Serra...! Sekarang giliranmu untuk melewatinya"
Teriak Elies kepada Serra yang tak kunjung melewati jembatan.
"Baiklah...! Aku akan melewatinya"
Serra membalas dengan wajah ketakutan, sebab Serra merasakan akan ada sesuatu yang terjadi saat ia akan berjalan di jembatan.
Tak butuh lama... Serra memberanikan dirinya untuk menyebrang melewati jembatan, saat ia akan melangkahkan kakinya ia merasakan ada sesuatu yang menariknya dari kedalaman jurang.
"Serra! Ingat, jangan melihat kebawah"
Kruiya berteriak agar Serra tidak ditarik kebawah.
Serra dengan hati-hati melangkah demi langkah berjalan menyebrangi jembatan, dengan keadaan takut dan khawatir Serra memberanikan dirinya walaupun sekarang yang ada dipikiran Serra, "apa yang akan terjadi jika aku jatuh" Serra membayangkan jika dirinya jatuh kedalam jurang yang dalam. Jika dirinya terjatuh maka ia tidak bisa diselamatkan oleh siapapun baik itu Elies maupun Kruiya, tapi jika ia masih hidup saat ia jatuh dan di dalam dasar jurang itu juga tidak mungkin ia akan bertahan hidup, ia juga tidak tahu apa yang ada di dasar jurang yang dalam ini? Apakah ada monster yang berbahaya atau sesuatu yang lain. Serra berjalan di jembatan sembari memegang tali jembatan yang menopang jembatan. Dengan fokus menghadap kedepan... akhirnya Serra berhasil melewati jembatan itu dan sampai di tempat Kruiya dan Elies.
"Akhirnya aku sampai..."
Ucap Serra dengan leganya melewati jembatan itu, jantung Serra bedetak kencang dan itu membuat Serra jatuh tersujud saat di depan Kruiya dan Elies.
Apa yang dialui Serra sekarang adalah pengalaman yang membuat dia menjadi seseorang yang berani. Setelah mereka bertiga melewati jembatan itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat 《Penyihir》itu berada. Hanya beberapa menit berjalan mereka melihat makhluk yang terbang diatas kepala mereka, dengan terkejutnya Kruiya melihat makhluk itu... Kruiya langsung bertanya kepada Elies.
__ADS_1
"Hei Elies, makhluk apa yang terbang itu?"
Dengan rasa penasaran yang tinggi Kruiya menanyakan itu kepada Elies.
"T-tuan... itulah yang aku sebut Naga saat itu"
Jawab Elies dengan badannya yang membatu saat menjawabnya karena hal itu lah kenapa kawasan penggunungan sangat berbahaya bagi manusia dan ras lainnya.
Jadi begitu... makhluk yang terbang itu adalah Naga, berarti apa yang dikatakan Elies waktu itu benar. Bahwa Naga adalah makhluk yang besar dan terlihat mengerikan saat melihatnya. Aku ingin melihatnya dengan dekat.
Saat Kruiya bertanya kepada Elies mengenai Naga, Serra mulai berbicara serius dengan yang lainnya.
"Lebih baik kita berhati-hati dan tidak bertemu dengan Naga"
Ucap Serra memberi saran kepada Kruiya dan Elies. Saat ini Serra merasa khawatir dan memutuskan untuk berhati-hati dan tetap waspada.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka melewati jalan penggunungan yang curam dan berbahaya. Sembari melihat keindahan alam penggunungan mereka bertiga bermalam di goa yang mereka temukan saat sore hari, dan mereka bermalam di goa itu. Saat malam hari mereka bertiga memutuskan untuk menjaga bergilir jika ada monster yang akan menyerang mereka saat tidur. Diawali dengan Serra yang menjaga lebih dulu, Kruiya yang kedua dan Elies yabg terakhir.
Keesokan paginya mereka melanjutkan perjalan sebelum matahari terbit.
Disisi lain saat Kruiya melakukan perjalan berbahaya bersama Elies dan Serra. Teman-teman Kruiya yang lain sedang tertidur dengan nyaman di kamar mereka masing-masing sebelum matahari terbit.
Apa yang sekarang kalian lakukan saat ini? Yah... aku sudah tahu jawabannya, kalian pasti sedang tertidur dengan nyaman. Apakah kehidupan di istana itu menyenangkan dan nyaman? Ya, kan Rei...? Sayang sekali aku harus pergi meninggalkan kalian karena keputusanku sendiri.
Sekilas Kruiya membayangkan kehidupan teman sekelasnya yang ada di istana, yang di pikirkan Kruiya bukanlah rasa iri atau apapun itu, melainkan perbedaan nasib yang di laluinya.
Mau sampai kapan perjalanan ini berlangsung, aku sudah tidak sabar lagi untuk menemui 《Penyihir》itu...
Elies dan Serra mulai kedinginan saat berjalan di kawasan penggunungan, badan mereka menggigil akibat cuaca penggunungan yang dingin di pagi hari, Kruiya hanya bisa melihat mereka kedinginan karena tidak ada yang bisa dilakukan Kruiya untuk menghangatkan mereka. Semua kain atau selimut sudah dipakai oleh Elies dan Serra, sedangkan Kruiya hanya memakai pakaian biasanya saja dengan sedikit tambahan kain untuk menghangatkan lehernya.
Kruiya sudah terbiasa dengan cuaca yang dingin bahkan lebih dingin lagi, akibatnya Kruiya tidak mudah kedinginan saat di cuaca yang dingin dengan pakaian yang tipis.
Setelah beberapa jam lamanya, matahari mulai terbit, sinar matahari menyinari dari balik penggunungan. Semua terlihat semakin jelas hutan dan jurang yang ada di sekitar penggunungan. Cuaca agak sedikit hangat karena sinar matahari, Kruiya pun melepaskan kain yang menyelimuti lehernya dan memasukannya kedalam tasnya.
Saat mereka berjalan di kawasan penggunungan, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang mereka lihat seperti binatang dan lainnya. Yang mereka lihat hanyalah bebatuan dan salju yang menyelimuti.
Walaupun aku sudah beberapa kali melihat peta ini saat menjelang tidur, tapi sudah kuduga aku masih saja tidak bisa memahami bahasa peta ini. Jika aku bilang kepada Elies dan Serra itu juga sama aja, mereka berdua juga tidak bisa membacanya. Aku hanya bisa melihat gambar dan wilayahnya saja, tulisan dunia ini sulit dipahami... adakah sebuah buku yang membuatku bisa membaca bahasa dunia ini? Lebih baik aku harus mencarinya di kota yang akan ku kunjungi nanti kalau ada.
"Tuan, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa kok, cuma melihat isi tasku saja"
Elies dan Serra masih bingung dengan apa yang dilakukan Kruiya.
"Oh ya Serra, apakah Naga yang kemarin kita lihat tinggal disini?"
Kruiya bertanya kepada Serra tiba-tiba kepikiran hal itu.
"Mungkin iya, karena Naga jarang sekali meninggalkan wilayahnya kecuali untuk berburu"
Jawab Serra kepada Kruiya sembari berpikir maksud dari pertanyaan Kruiya. Kemudian Mereka bertiga melanjutkan perjalanan mereka, tak lama Serra mulai berbicara sesuatu.
"Ngomong-ngomong soal Naga, ada sebuah cerita tentang seekor Naga yang membekukan seluruh ksatria yang menghampirinya"
"Sebuah cerita?"
Tanya Kruiya mengenai sebuah cerita yang diucapkan Serra. Rasa penasaran Kruiya lah yang membuat Kruiya bertanya.
"Yah... sebuah cerita, cerita itu sangat lama sekali. Aku mendengarnya juga dari ibuku saat waktu itu ibuku masih muda, aku tidak tahu kebenaran cerita itu"
"Coba ceritakan, daripada kita hanya berjalan dengan mulut tertutup, apakah kamu mau mendengarnya Elies?"
"Kalau tuan mau, aku juga mau"
"Baiklah kalau begitu aku akan menceritakan kisahnya kepada kalian"
__ADS_1
Ada sebuah cerita mengenai tempat yang diceritakan tempat itu ada sebuah harta yang tak ternilai harganya, tempat itu membuat semua orang tertarik dan berlomba-lomba untuk mengambil harta itu... dengan perlengkapan yang bertingkat tinggi, dengan percaya dirinya mereka menuju ketempat itu... dengan penuh rintangan dan jebakan. Sesampainya di tempat yang dituju, mereka tak menduga bahwa tempat itu dijaga oleh seekor Naga. Tak butuh waktu lama... mereka langsung menyerang Naga itu dengan senjata mereka masing-masing, dengan sulitnya mereka menghadapi Sesosok Naga itu yang sangat kuat. Kemudian Naga itu membuka mulutnya dan menyemburkan Napasnya kearah mereka. Mereka yang terkena semburan napas Naga itu membeku di tempat, dengan keadaan yang tubuh yang utuh mereka mati membeku. Satu persatu mereka yang mencoba berniat mengambil harta ditempat yang di jaga Naga itu semuanya mati membeku. Setelah mendengar rumor tentang Petualang yang hilang setelah mereka mencoba mendatangi tempat yang ada harta tingkat tinggi itu, semuanya orang yang mendatangi tempat itu tak kunjung kembali. Ada sebuah rumor mengatakan "mereka gagal dalam misinya dan mati akibat monster yang berbahaya di perjalanan", juga Rumor lain mengatakan "mereka diserang oleh bandit yang berbahaya" dan... ada satu rumor lain mengatakan "mereka dibunuh oleh penjaga tempat itu" rumor satu ini menarik perhatian pihak kerajaan, karena setiap petualangan tingkat atas/tinggi tak kunjung kembali saat menjalankan misi itu. Alhasil misi tersebut ditutup, tapi... pihak kerajaan mengirimkan seorang komandan ksatria beserta ksatria hebat lainnya dan beberapa prajurit untuk berjaga-jaga. Saat malam tiba, para ksatria yang dikirim pihak kerajaan mulai beristirahat ditenda yang mereka dirikan saat sebelum menjelang malam. mereka yang dikirim pihak kerajaan mulai membahas tentang tempat itu. Ada salah satu Ksatria berkata "Tempat itu pasti sangat berbahaya sampai-sampai petualang tingkat atas/tinggi tidak pernah kembali" mendengar ucapan ksatria itu, salah satu ksatria lainnya menganggap remeh pernyataan itu dan ia berkata "mungkin saja itu hanya sebuah rumor yang dilebih-lebihkan, kita juga tidak tahu apa yang terjadi disana, bukan?" Setelah beradu pendapat mereka para ksatria lainnya mulai berjaga malam bergantian dan tidur bergantian. Keesokan paginya mereka berangkat menuju tempat itu, sesampainya mereka ditempat itu... mereka melihat sebuah pintu masuk menuju tempat itu, mereka pun memasukinya dengan hati-hati dan waspada, disaat beberapa menit berjalan dengan penerangan lentera... mereka melihat sebuah pintu yang sangat besar seukuran gerbang tembok benteng yang menghalangi jalan mereka. Sesaat itu para ksatria tingkat tinggi mulai berdiskusi untuk memikirkan rencana apa yang akan terjadi dibalik pintu itu dan apa yang ada di balik pintu itu? Setelah beberapa menit memikirkan sebuah rencana, merekapun membuka pintu itu bersama-sama... dengan sekuat tenaga mereka mendorong pintu itu dan akhirnya pintu itu terbuka. Diasaat mereka melihat apa yang dibalik pintu itu, mereka melihat sesuatu yang menjawab pertanyaan sebelumnya "mengapa orang-orang yang mendatangi tempat itu tak kunjung kembali?" Dan jawaban dari pertanyaan itu ada di depan mata mereka. Sebuah patung es yang didalamnya adalah seseorang, dengan kata lain mereka mati membeku menjadi patung es. Salah satu ksatria berkata "apa-apaan ini, sesuatu yang mengerikan ini ada di tempat ini?" Saat mereka ingin memasuki lebih dalam tempat itu, mereka melihat sosok mengerikan yang menjaga sebuah harta itu. Sosok itu adalah seekor naga bersisik biru diselimuti Es, yah... Naga itu adalah Naga Es atau disebut 《Dragon Ice》. Naga itu sedang tertidur, mengambil kesempatan ini para ksatria langsung menyerangnya bersamaan menggunakan busur dengan panah api. Mereka langsung menembakan panah itu kearah Naga yang tertidur. Tapi semua serangan itu tidak berhasil melukai naga itu, alhasil naga itu terbangun dari tidurnya... melihat ada penyusup dihadapannya, naga itu langsung menyerang para ksatria dan prajurit. Singkat cerita mereka yang melawan naga itu kesulitan menghadapinya dan sebagian besar dari mereka sudah membeku, sekarang tinggal 4 ksatria tingkat atas/tinggi yang masih bertahan. Dengan badan penuh luka, 4 ksatria itu dengan titik darah penghabisan dan pantang menyerah tetap melanjutkan menyerang naga itu.
"hei sobat, mungkin hari ini adalah hari terakhir kita"
Salah satu ksatria berkata disaat-saat penyerangan terakhir.
"Yah... hari ini juga aku teringat dengan masakan ibuku"
Salah satu ksatria membalas pertanyaan ksatria tadi dengan wajah yang pasrah menghadapi kenyataan didepan mereka.
"Hei kapten... apakah ada kata-kata terkahir yang kapten ucapkan?"
"Kata-kata terkahir yah... aku ingin menemui istriku yang sedang mengandung anakku"
Jawab kapten ksatria yang memimpin ksatria lainnya, sekarang ia sedang memikirkan istrinya yang menunggu dirumah dan sedang mengandung anak pertamanya.
"Benar juga ya... kapten sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, tapi kita tidak boleh kalah disini karena ada seseorang yang menunggu kapten dirumah"
Balas salah satu Ksatria untuk menghibur suasana dan menyemangati yang lain.
"Hei kamu, ksatria baru... lebih baik kamu pergi dari sini!"
Ucap Kapten ksatria memerintahkan salah satu Ksatria baru yang masih bertahan dengan wajah tersenyum.
"Apa maksudnya pergi dari sini kapten?"
"Maksudku kamu pergi keluar dari tempat ini dan melaporkan kejadian yang sebenarnya mengenai tempat ini, dan jika kamu di temui oleh istriku katakan saja bahwa aku akan kembali dari tempat ini"
Dengan rasa kepemimpinan yang tinggi, kapten ksatria memegang senjatanya dihadapan naga itu untuk menghalau serangan naga itu.
"Tapi, kapten... aku tidak bisa meninggalkan kalian yang menghalau naga itu untuk memberikanku jalan keluar"
Balas ksatria baru itu dengan perasaan yang sedih dibanjiri oleh tangisan yang terus mentes.
"Cepat pergi dari sini! Kami pasti akan kembali hidup-hidup, juga berikan ini kepada istriku, ini perintah! "
Setelah mendengar perintah dari kapten ksatria, ksatria baru itu langsung berlari menuju pintu keluar... sempat naga itu melihat kearah ksatria yang berlari, tapi 3 ksatria lainnya termasuk kapten mengahalu naga itu dengan mengalihkan perhatiannya.
Ksatria itu pun telah keluar dari pintu masuk itu dan segera menunggangi kudanya, sesaat terdengar suara naga itu berteriak dengan sangat keras. Kemudian ksatria baru itu pun pergi meninggalkan rekan-rekan juga kaptennya yang mengorbankan diri untuk ksatria baru itu. Dengan tetesan air mata yang tak tahan merasakan pengorbanan rekan-rekannya dan kaptennya, dengan cepat ksatria itu mengendarai kuda. Ksatria itu tanpa henti terus mengendarai kudanya tanpa istirahat, sesampainya di depan gerbang kerajaan... ksatria itu terjatuh lelah dan pingsan. Setelah bangun dari pingsannya, ksatria itu ditanyai tentang "dimana ksatria lainnya?" Dan apa yang dijawab ksatria baru itu membuat semua seisi ruangan yang ada di disana terlihat ketakutan dan khawatir. Akhirnya mereka pun yang bertanya-tanya mengenai hilangnya petualang yang mendatangi tempat itu akhirnya terjawab. 1 minggu setelah berita mengenai terbunuhnya pasukan pihak kerajaan tersebar, semua orang mulai membahas cerita itu. Tapi... dilain sisi terdapat seorang istri yang kehilangan suaminya akibat misi itu, istri itu adalah istri kapten ksatria yang memimpin pasukan yang ksatria baru itu ikuti. Ksatria baru itu mendatangi tempat istrinya kapten dan mengunjunginya, saat ingin mengetok pintu rumahnya... pintu itu terbuka dan yang dilihat ksatria baru itu adalah seorang wanita yang mengendong bayi yang belum pernah melihat ayahnya.
Dengan sedih ksatria baru itu memberikan sebuah surat yang diberikan kapten kepada dirinya untuk diberikan kepada istri kapten ksatria. Setelah memberikan surat itu, ksatria baru itu langsung pergi... ia melihat kebelakang sesaat istri kapten membuka surat pemberian suaminya. Ksatria baru itu memalingkan wajahnya kedepan tak tahan melihatnya, dan kemudian ia mendengar suara tangisan seorang istri setelah menerima surat pemberian suaminya. Setelah itu, ksatria baru itu di lantik menjadi komandan ksatria setelah prestasinya menyelesaikan misi dari pihak kerajaan dan menggantikan Ksatria yang telah gugur. Pada akhirnya ksatria baru itu menjadi komandan ksatria dengan bahagia, walaupun rekan-rekannya gugur ia tetap bahagia karena Jiwa rekan-rekannya masih tetap ada di sampingnya.
"Tamat... begitulah ceritanya"
Ucap Serra selesai menceritakan sebuah kisah mengenai seekor Naga yang menjaga wilayahnya, kepada Elies dan Kruiya.
"Cerita yang mengharukan..."
Ujar Elies setelah mengetahui akhir cerita tersebut dengan rasa sedih mendengarnya.
"Cerita yang bagus Serra"
Puji Kruiya kepada Serra karena ceritanya tidak membuat Kruiya bosan dengan perjalanan ini.
Setelah mendengar kisah yang diceritakan Serra, Mereka bertiga melanjutkan perjalanan mereka bersama-sama menuju menemui《Penyihir》yang sekarang menjadi tujuan mereka.
-
-
-
-
Mendengar sebuah kisah dari Serra, membuat Kruiya tidak bosan dengan perjalanannya. Akan tetapi apa yang akan menanti Kruiya dan yang lainnya selanjutnya?
__ADS_1
Bersambung.