Petualangan Anak SMA Di Dunia Lain

Petualangan Anak SMA Di Dunia Lain
Reruntuhan


__ADS_3

Pada malam hari tepat setelah Kruiya dan yang lainnya makan malam.


Kruiya sedang berjaga malam sembari mengukir kayu dengan belati yang ia punya.


Di malam yang sunyi ini, Kruiya merasakan hawa aneh di sekeliling hutan, dan itu membuat Kruiya tidak nyaman.


"Shrt...! Shret!"


*Suara belati*


Dengan fokus Kruiya mengukir kayu yang dipegangnya.


"Sebentar lagi..."


"hm..."


"yah, akhirnya jadi"


Kruiya menyelesaikan ukirannya yang ia buat dan memasukan ukiran yang ia buat kedalam tasnya.


Sekarang waktunya tidur dan besok aku harus melanjutkan perjalanan menemui sang Penyihir ramalan.


Karena rasa kantuk yang dihadapi, Kruiya memutuskan untuk tidur dan melanjutkan perjalanan esok hari.


Pada saat Kruiya membuka tenda, Kruiya melihat sesuatu yang indah bagi Kruiya.


Apa mereka tidak kedinginan hanya dengan memakai pakaian dalam saja? Ya sudah lah... aku tidak mau menganggu mereka tidur, lebih baik aku segera tidur.


Yang dilihat Kruiya adalah Elies dan Serra yang tidur hanya memakai pakaian dalam dan selimut, itu membuat Kruiya sedikit terkejut dan tidak mempedulikannya.


Walaupun yang dihadapan Kruiya adalah 2 orang gadis.


Keesokan harinya di pagi hari yang cerah...


Kruiya terbangun dari tidurnya... masih setengah sadar, Kruiya masih berbaring di tempat tidurnya


Elies? Serra? Apa apaan ini, mengapa kalian tidur sambil memelukku? Hah... sudahlah ini juga menghangatkanku.


Kruiya tidak mempedulikan hal itu karena masih setengah sadar saat bangun tidur.


Beberapa menit kemudian, Kruiya bangun dan keluar dari tenda untuk melakukan kegiatan paginya yaitu olahraga.


Tak begitu lama... Elies dan Serra kemudian bangun, dan membereskan tempat tidur mereka dan memakai baju mereka.


Setelah selesai, mereka berdua pun keluar dari tenda untuk menyiapkan sarapan.


"Oh... Elies, Serra. Kalian sudah bangun ternyata"


Kruiya duduk di batang pohon yang tumbang sembari istirahat dari olahraga paginya.


"...Ehm, ah... tuan kah, selamat pagi tuan"


Masih setengah sadar Elies membalas perkataan Kruiya. Elies pun pergi ke sungai terdekat untuk membasuh mukanya dengan air, sesampainya Elies melihat Serra yang sedang duduk di tepi sungai memainkan kakinya ke dalam air.


Melihat serra, Elies langsung menyapanya dan menanyakan apa yang sedang Serra lakukan.


"Serra? Kamu lagi ngapaiin?"


Serra terkejut tiba-tiba Elies datang dari belakang dan bertanya kepadanya.


"...Elies? Membuatku terkejut saja tiba-tiba kamu memanggilku"


"Maaf, tapi... kamu sedang ngapaiin?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu lagi ngapaiin... mungkin ini karena rasa bosan"


"Bosan? Begitukah... kalau gitu nikmati rasa bosanmu itu menjadi rasa tenangmu"


Serra tidak merespon ucapan Elies.


Elies mendekati Serra dan berada di sampingnya, kemudian membasuh wajahnya agar tidak terlihat mengantuk.


Setelah membasuh wajahnya, Elies langsung menyuruh Serra untuk kembali ke tenda.


"Serra, ayo kembali ke tenda dan menyiapkan sarapan... sebelum Tuan menghukum kita karena terlamabat membuat sarapan"


"Kau benar... ayo kembali"


Mereka berdua pun kembali ke tenda untuk menyiap sarapan untuk Kruiya dan mereka berdua, sesampainya...


Elies dan Serra menyiapkan sarapan untuk Kruiya dan mereka berdua.


Setelah sarapan selesai, Elies dan Serra sedang beres-beres untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Kruiya mengecek kembali barang-barang yang ia miliki di dalam tasnya.


Hm... potion ada, penawar racun juga ada, semuanya ada. Yosh, kalau begitu aku tidak repot-repot untuk beli lagi nanti. Tapi... apa harganya akan lebih murah jika aku beli di kota yang akan ku kunjungi nanti? Sudahlah... lagi pula aku memiliki banyak uang yang tersisa untuk keperluan lainnya.


"Ini sangat mantap untuk hidup di dunia ini dengan uang yang banyak ini"


"Ahaha... ha,haha..."


*Kruiya tertawa*


"Serra? Apa yang sedang tuan tertawakan?"


"Entahlah... mungkin dia lagi senang"


"...Kau benar"


Setelah beres-beres selesai dan tanpa meninggalkan barang satupun, mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka untuk menemui [Penyihir Ramalan]


Di perjalanan, mereka berjalan dengan sangat hati-hati karena tidak ingin kejadian yang berlalu terulang lagi. Dengan tombak yang dipegang, Kruiya siap untuk menyerang serang yang datang, sedangkan Elies selalu memegang busurnya untuk membantu Kruiya dari belakang.


Walaupun mereka berhati-hati, tapi... tidak ada monster ataupun binatang buas yang menyerang saat berjalan dari tadi.

__ADS_1


"Aneh sekali? Dari tadi berjalan kita tidak melihat binatang atau monster sekalipun? Bagaimana menurutmu? Elies"


"Tuan benar... dari tadi kita tidak melihat binatang maupun monster sekalipun"


Apa mungkin hutan ini yang aneh? Karena tidak seperti hutan yang pernah kulewati pada setiap sisi terdapat binatang dan monster. Apa aku salah jalan?


Untuk memastikan Kruiya tidak salah jalan, Kruiya mengeluarkan peta menuju tempat rumah [Penyihir Ramalan]


"...hm, ini benar kita berada di hutan ini setelah melewati jembatan kemarin, setelah itu pergi ke barat dengan mengikuti arah matahari terbenam"


"Jadi... mengapa tidak ada binatang dan monster yang terlihat?"


Ini semakin membingungkan, daripada berhenti disini terus lebih baik melanjutkan perjalan sesuai dengan peta.


Kruiya pun memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanannya.


Disaat 20 menit berjalan, mereka melihat sebuah puing-puing bangunan yang sudah hancur di depan mata mereka. Melihat hal itu membuat Kruiya sangat penasaran dengan apa yang dilihatnya.


"Tempat apa yang ada di depan itu?"


"Sepertinya itu reruntuhan tuan Kruiya"


Serra menjawab pertanyaa Kruiya mengenai tempat yang ada di depan jalan yang mereka lewati.


"Reruntuhan? Apa itu?"


Reruntuhan adalah tempat yang dulunya banyak menyimpan hal-hal misterius seperti harta kuno pada zaman dulu, contohnya saja seperti (Pedang Suci) dan masih banyak hal yang belum diketahui. Tapi, tidak hanya senjata kuno saja yang terkubur dalam reruntuhan, Buku yang menyimpan penemuan atau informasi yang berharga pada zaman dulu biasanya juga ikut terkubur, juga benda-benda kuno seperti cincin yang memiliki kekuatan khusus ikut terkubur. Tapi, itu tergantung dimana letak reruntuhan itu.


Kita harus berhati-hati saat menjelajahi reruntuhan, hanya saja reruntuhan itu sangat berbahaya, karena awal terjadinya reruntuhan adalah saat penyerangan Raja Iblis pada zaman dulu yang menyerang tempat-tempat penting di dunia yang mengancam Raja Iblis itu sendiri. Oleh sebab itu setiap reruntuhan pasti mempunyai Monster yang menjaga reruntuhan, monster yang menjaga reruntuhan adalah monster yang melindungi tempat itu dari orang-orang yang ingin mengambil harta kuno. Karena itu Raja Iblis bisa dikalahkan sebab Raja Iblis sendiri tidak bisa mengambil harta di tempat itu dan hanya bisa menghancurkan tempat yang menyimpan hartanya saja sehingga terkubur di dalam reruntuhan.


Setelah mendengar penjelasan dari Serra Kruiya semakin penasaran harta apa yang terkubur dalam reruntuhan itu.


"Jika Raja Iblis tidak bisa mengambil Harta di reruntuhan itu, berarti Monster yang menjaga reruntuhan itu lebih kuat dari Raja Iblis?"


"Sebenarnya Monster yang menjaga reruntuhan tidak lebih kuat dari Raja Iblis, hanya saja Raja Iblis tidak bisa menggunakan Harta itu, aku tidak tahu mengapa Raja Iblis tidak bisa menggunakannya. Tapi kita harus bersyukur karena Raja Iblis tidak bisa menggunakannya"


"Jadi kenapa Monster yang menjaga tempat yang disebut reruntuhan itu masih hidup? Seharusnya monster itu sudah mati saat diserang Raja Iblis?"


"Aku juga tidak tahu mengapa"


Semua semakin menjadi misteri dan penasaran dengan apa yang dipertanyakan Kruiya.


Kemudian Kruiya memutuskan untuk mendekati reruntuhan itu dan menjelajahinya.


"Aku akan menjelajahi reruntuhan itu"


"Tuan... sebaiknya tuan jangan menjelajahi reruntuhan, karena itu berbahaya seperti apa yang sudah kujelaskan tentang reruntuhan"


"Yah... tapi itu juga membuatku sangat penasaran dengan reruntuhan, karena itu aku akan menjelajahi reruntuhan dan melihatnya sendiri"


"Apa tuan Kruiya yakin dengan keputusan tuan?"


Serra sangat khawatir dengan apa yang diputuskan Kruiya untuk menjelajahi reruntuhan.


"Ya... aku yakin dengan apa yang aku putuskan. Kalian berdua tenang saja, tidak perlu khawatir begitu"


Mendengar jawaban Kruiya, Serra dan Elies semakin khawatir... tapi mereka berdua tetap mengikuti Kruiya menjelajahi reruntuhan.


Sesampainya di reruntuhan, Kruiya sangat takjub melihatnya karena itu sangat indah di mata Kruiya.


"Jadi ini reruntuhan?"


Tempat seindah ini berada di dunia ini, sungguh beruntung aku bisa melihatnya. Apa teman sekelasku sudah melihat reruntuhan di sana? Ya sudahlah.


"Waktunya menjelajah"


Disaat Kruiya dan yang lainnya menelusuri reruntuhan... Kruiya tidak menemukan apa-apa setelah menelusuri semua sudut reruntuhan.


"Argrhhhrgg!"


"Kenapa tidak ada sesuatu yang bisa kutemukan di reruntuhan ini?"


Elies dan Serra sedang kelelahan karena setelah mencari harta kuno di reruntuhan mereka tidak menemukan apa-apa.


Mereka berdua pun duduk istirahat bersandar di puing-puing reruntuhan.


"Tuan... lebih baik kita istirahat dulu"


Tidak mungkin reruntuhan tidak terdapat harta kuno atai semacamnya seperti yang sudah dijelaskan Serra. Apa mungkin ada sesuatu yang kulewatkan?


Ayolah coba ingat-ingat dulu...!


Pasti ada yang telah kulewatkan dari penjelasan Serra.


Kruiya sedang kembali mengingat kembali apa yang diucapkan Serra tentang reruntuhan...


Reruntuhan adalah tempat yang dulunya banyak menyimpan hal-hal misterius seperti harta kuno pada zaman dulu, contohnya saja seperti (Pedang Suci) dan masih banyak hal yang belum diketahui. Tapi, tidak hanya senjata kuno saja yang dalam reruntuhan, Buku yang menyimpan penemuan atau informasi yang berharga pada zaman dulu biasanya juga ikut , juga benda-benda kuno seperti cincin yang memiliki kekuatan khusus ikut . Tapi, itu tergantung dimana letak reruntuhan itu.


Itu dia yang kulewatkan... kata Terkubur. Akhirnya aku bisa menemukan jawabannya. Jadi, aku harus mencari harta yang terkubur di bawah reruntuhan.


"Hanya ada 2 pilihan dalam kesimpulanku dari kata terkubur"




Terkubur dalam arti terpendam dibawah tanah reruntuhan.




Terkubur dalam arti ada ruang bawah tanah yang menyimpan harta kuno dan terpendam oleh reruntuhan.

__ADS_1




"Kemungkinan besar ada di kesimpulan nomor 2, jadi apa yang bisa kulakukan untuk mencari jalan ke ruang bawah tanah yang kusebutkan tadi?"


Disaat Kruiya sedang berpikir keras mencari jalan tersembunyi yang menyimpan harta kuno, Elies dan Serra sedang istirahat dengan santai.


Tak berlangsung beberapa lama...


"Klick"


*Suara Tombol tertekan*


Tanpa disengaja tangan Elies menekan sebuah tombol saat istirahat di sebuah puing-puing.


Dan saat itu tiba-tiba tanah yang ada disekitar reruntuhan bergetar dan terdengar suara sesuatu yang terbuka.


Menyadari hal itu Kruiya lamgsung mencari sumber suara itu, dan ternyata suara itu berasa di belakang tempat Elies dan Serra istirahat.


Elies dan Serra pun langsung berdiri saat tanah bergetar dan terlihat panik.


"Akhirnya aku berhasil menemukan sebuah jalan menuju temoat harta kuno tersembunyi..."


"Kamu memang hebat Elies... dengan tanpa kesengajaanmu itu"


"Tidak... ini hanya sebuah kebetulan tuan..."


"Aku beruntung memilikimu, Elies"


Dengan pujian yang diberikan Kruiya secara tiba-tiba membuat Elies terkejut dan perkataannya terbata-bata.


"...T-tuan?"


Melihat Kruiya yang tiba-tiba memuji membuat wajah Elies memerah dan melihat hal itu membuat Serra terkejut akan sikap tiba-tiba Kruiya.


Tak lama Kruiya langsung menuju jalan kebawah itu. Bersama dengan Elies dan Serra, Kruiya memasuki ruang bawah tanah tempat yang menyimpan harta kuno.


Tapi, rasa khawatir dan takut yang Elies dan Serra rasakan tetap ada.


Disaat akan memasuki jalan menuju ruang bawah tanah, Kruiya merasakan hal aneh dibalik gelapnya jalan itu. Hawa aneh yang menyelimuti ruangan itu semakin terasa disaat Kruiya dan yang lainnya semakin dalam memasukinya.


Hanya dengan 1 lentera untuk penerangan Kruiya melihat ukiran aneh didinding jalan.


Tiba-tiba!


Sebuah tombak melesat diantara dinding jalan hampir menusuk kelapa Kruiya. Kruiya yang merasakannya terkejut akan tombak yang hampir menusuk kepalanya.


"Apa ini!? Hampir saja aku tertusuk oleh tombak ini?"


"Apa tuan baik-baik saja!?"


"Yah, mungkin saja jalan ini penuh jebakan yang mengancam nyawa, kita harus berhati-hati dalam melangkah"


"Baik"


Tadi itu sangat berbahaya, jika aku melangkah sedikit saja sudah dipastikan aku sudah tidak terselamatkan. Jalan ini penuh jebakan aku harus hati-hati.


Disaat mereka berjalan... jebakan demi jebakan mereka lewati dengan sulit.


Kruiya yang hampir terjatuh kedalam lubang yang dalam.


Elies yang hampir terpotong akibat kapak yang tiba-tiba terlempar.


Serra yang setengah mati hampir terkena jebakan tombak yang muncul dari bawah hampir mengenai dirinya.


Dan lagi-lagi mereka hampir terkena jebakan di lorong yang mereka lewati.


Dengan napas berat, Elies dan Serra akhirnya berhasil melewati lorong penuh jebakan itu bersama dengan Kruiya. Dan pada akhirnya mereka bertiga menemukan sebuah ruangan tertutup pintu.


Disaat ingin membuka pintu itu...


Tiba-tiba!


"Blurgkhghkkg!"


*Darah Keluar dari Mulut*


Apa-apaan ini? Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur, dan... tubuhku seakan akan tidak merespon perintahku. Kenapa wajah kalian terlihat panik?


"...E ... lies, K ... ru ... i ... ya."


"...-Se!"


"...-Ser!"


"...-Serra!"


"Brukg"


*Terjatuh*


-


-


-


-


Apa yang terjadi?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2