Petualangan Anak SMA Di Dunia Lain

Petualangan Anak SMA Di Dunia Lain
(SIDE STORY) Gorgy Leincory Von Fartoft


__ADS_3

"Apa! Ayah Meninggal?"


"Tidak... tidak..."


"Itu tidak mungkin terjadi, benar kan?"


Tanya Lein dengan perasaan sedih saat mendengar kabar tentang ayahnya yang meninggal dan itu membuatnya depresi.


Lein duduk tersujud dan menatap ke langit saat di halaman mansion dengan rasa sedih.


"Itu benar tuan... Tuan Roy Leincory Von Fartoft telah meninggal dunia"


"Dan ayah anda meninggal karena di bunuh oleh bandit"


Jawab pengantar kabar pelayan keluarga Fartoft menjelaskan kepada Lein dengan penuh rasa bersalah.


Semenjak kematian ayahnya, Lein sangat depresi lalu mengurung diri di kamarnya, dan ibunya mencoba menenangkan Lein tapi itu percuma.


"Lein... ayo buka pintunya dan makan bersama ibu"


"Lein... kumohon, keluarlah dan makan malam bersama dengan ibu. Janganlah kamu mengurung diri seperti ini"


"Ibu sangat khawatir dengan keadaanmu jika kamu seperti ini"


"Lein..."


"Kumohon..."


"Jika ayahmu masih hidup mungkin kamu tidak seperti ini"


Ucap Ibunya Lein dengan perasaan bersalah dan juga khawatir dengan Lein yang mengurung diri.


"Ayah sudah mati ibu...!"


"Ayah mati hanya oleh bandit!"


"Apakah itu mencermikan ayah yang mati oleh bandit! Ibu...!"


"Ayah yang kuat! Roy yang perkasa! Roy yang tak terkalahkan! Platinum Sword! Ahli Pedang Terhebat!"


"Apakah julukan semua itu mencerminkan sosok ayah yang aku sebutkan? Tidak bukan...!"


Teriak Lein kepada ibunya dari dalam kamar karena ayahnya mati oleh bandit, sosok ayah di pikiran Lein adalah Sosok ayah yang kuat, namun kenyataan merubah segalanya.


Setelah kematian Ayahnya Lein, Roy Leincory Von Fartoft, Lein sangat sedih bahwa ayahnya yang di bangga-bangakan mati oleh bandit saat perjalanan pulang.


Dan sejak kejadian itu keluarga Fartoft mengalami kesedihan, semua penduduk desa merasa sedih akibat kehilangan sosok pemimpin hebat.


Tapi hanya Gorgy Leincory yang tidak menerima bahwa ayahnya mati karena bandit.


Selama 3 bulan Lein mengurung diri dari kamarnya dan makan dari dalam kamar dan terkadang keluar dari kamar untuk mandi dan sebagainya, setelah itu mengurung diri kembali.


Setelah 3 bulan kematian ayahnya, Lein keluar dari kamarnya dan ingin berjalan-jalan ke desa.


Lein menyamar dan berbaur dengan penduduk desa dengan meninggalkan nama Fartoft, hal itu diinginkan Lein agar penduduk desa tidak selalu berbicara Formal saat di depannya.


Saat berjalan Lein mendengar omongan orang-orang di pasar.


"Aku kasihan dengan Tuan Lein"


"Iya aku juga, mungkin sejak kematian ayahnya 3 bulan lalu Lein jadi begitu"


"Kita juga sedih karena kehilangan sosok pemimpin"


"Lein yang malang"


Mendengar percakapan 2 orang di pasar Lein menjadi sedikit sadar bahwa yang di lakukan oleh dirinya itu salah.


Lein kemudian berjalan memasuki Guild Petualang, setiap malam ayahnya Lein


Berada di Guild Petualang walaupun sekedar ngobrol dengan teman-teman semasa kecilnya.


Saat Lein ingin memasuki Guild Petualang, Lein melihat bahwa orang-orang yang ada di dalam tertawa, berbicara, dan bercerita bersama. Dan itu mengurungkan niat Lein untuk masuk.


Lein terus melanjutkan berjalan di desa, sambil melihat pemandangan sekitar. Banyak orang yang lewat di desa, itulah yang dipikirkan Lein. Mereka semua terlihat senang dan ada yang murung.


Terus berjalan dan berjalan mengamati sekitar desa itulah tujuan Lein sekarang. Lein pun Memutuskan Pergi ke taman untuk istirahat dan melihat pemandangan sore hari.


Sesampainya di taman, Lein duduk di bangku taman melihat orang yang sedang memancing di danau desa. Lein sekarang meratapi nasib kedepannya apa yang akan di lakukan.


"Pemandangan yang indah bukan?" Ucap Seorang Gadis duduk di sebelah Lein.


Lein pun menengok kearah gadis dan gadis itu menengok kearah Lein bersamaan. Wajah mereka saling menghadap, dan itu membuat Lein tersipu malu tapi tidak dengan gadis itu.


"Siapa kamu?" Tanya Lein yang masih tersipu malu.


"Aku larsia, dan kamu?" Jawab Larsia dan menanyakan juga.


"Aku Lein" jawab Lein dengan jujur.


"Lein, Salam kenal" ucap Larsia tersenyum kearah Lein.


"Yah... salam kenal juga" jawab Lein masih tersipu malu.


Tapi keadaan Lein semakin membaik karena gadis itu.


"Apa kamu menyukai pemandangan di sore hari?" Tanya Larsia.


"Yah... karena melihat Matahari Terbenam mengartikan Melihat kepergian Seseorang" ucap Lein memendam rasa sedih.


"Aku juga suka melihat Matahari Terbenam, karena itu terlihat indah" ujar Larsia tersenyum.


Setelah matahari terbenam Lein dan Larsia pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Lein pulang ke Mansionnya yang sepi dan hanya berdua bersama ibunya.


Larsia pulang ke rumahnya yang ramai, memiliki 1 adik laki-laki dan masih memiliki kedua orang tua.


Lein makan sendiri di kamarnya saat makan malam dengan rasa sedih.


Larsia makan malam bersama keluarganya dengan rasa senang.


Lein tidur sendiri di kamarnya yang berantakan.


Larsia tidur sendiri di kamarnya yang rapi.


Bangun di waktu bersamaan.


Setelah bangun Tidur Lein langsung ganti baju dan pergi ke taman, dan seterusnya.


Setiap Lein pergi ke taman Lein bertemu dengan Larsia. Dan setiap hari mereka selalu bertemu di taman.


Setelah 3 bulan berlalu, dari mereka berdua Tumbuh rasa cinta yang dalam. Menyadari hal itu Lein langsung melamar Larsia dengan Cincin berlian.


1 hari sebelum melamar, Lein meminta Izin kepada ibunya yang sudah tua. Dan apa yang di dapat Lein adalah pelukan hangat dari ibunya yang sudah tua dan sakit di dalam kamar. Lein pun menangis di pelukan ibunya, kemudian ibunya Lein menyetujui lamaran Lein terhadap Larsia.


Ibunya Lein menyetujui bukan karena tanpa alasan, alasannya adalah seseorang Larsia yang mampu membuat Lein kembali Ceria seperti dulu.


Tak lama, besoknya Lein melamar Larsia di depan rumahnya, dan larsia terkejut bahwa Lein adalah seorang bangsawan. Gorgy Leincory Von Fartoft, keluarga Larsia juga ikut Terkejut bahwa Seorang Lein jatuh cinta dengan gadis desa biasa saja.


Saat pelamaran terjadi kececokan, karena Larsia menolak lamaran Lein karena Lein seorang bangsawan tapi Lein di sini tetap berusaha untuk menyakinkan Larsia agar menerima dirinya. Dan pada akhirnya Larsia menerima lamaran Lein akibat kedua orang tua dan adiknya larsia menyetujuinya.


1 minggunnya undangan Pernikahan di bagikan ke seluruh penduduk desa, semua orang yang ada di desa terlihat senang bahwa ada pemimpin baru dan pernikahan Lein dengan Larsia. Semua Orang di desa sangat senang, pesta diadakan sampai larut malam. Semua orang menari dan bernyanyi bersama-sama.


1 tahun kemudian Larsia Hamil dan mengandung Anak Lein dan setelah mengandung selama 9 bulan beberapa hari. Larsia melahirkan Seorang anak perempuan, kabar itu terdengar sampai ke ibu kota. Dan wilayah Fartoft merayakan kelahiran anak pertamanya. Dan semenjak itu ibunya Lein meninggal dan di makamkan dekat makam ayahnya.


4 tahun kemudian. Konflik antara kerajaan makin memburuk, Kerjaan Korseia dan Kerajaan Luygrind mulai bermasalah. Dan kemudian Kerajaan Korseia mengirim pembunuh untuk membunuh Raja Luygrind terdahulu. Alhasil Raja Luygrind masih tetap selamat berkat pengawal Raja Luygrind terdahulu berhasil menangkap Pembunuh yang dikirim itu, pembunuh itu diinterogasi sampai mau buka mulut siapa dalang yang mengirim mereka. Setelah 1 jam penyiksaan, pembunuh itu mulai menjawab dan yang pembunuh katakan adalah "K-or-seia" kemudian pembunuh itu mati karena kehabisan darah. Dan sejak saat itu Kerajaan Korseia dan Luygrind Berperang, dan perang itu berdampak buruk bagi wilayah Fartoft.


1 tahun berperang Gorgy Leincory Von Fartoft Ikut serta berperang melawan kerajaan Korseia menggantikan ayahnya yang sudah meninggal.


Walaupun ini pertama kalinya Lein berperang, tapi Lein mampu mengimbangi rekan berperangnya di medan perang.


Para pemimpin bangsawan harus wajib ikut serta berperang atas nama kerajaan mereka. Setiap pemimpin bangsawan mengontrol pasukan mereka masing-masing agar perperangan mudah di menangkan.


Lein mengontrol pasukannya dengan sangat baik, mungkin lebih baik daripada ayahnya, karena Lein mampu membaca pergerakan musuh dan memahami kelemahannya. Sedangkan ayahnya Lein di lebih unggul daei segi fisik dan teknik dan karena itu membuat nama ayahnya Lein terkenal di kerajaan Luygrind.


Setelah Lein menganalisis kelemahan pasukan Kroseia, Lein langsung menjalankan rencananya, dan hasilnya Lein mampu memukul mundur pasukan Kroseia yang berada di penggunungan perbatasan Fartoft.


Semua pencapaian itu Lein mendapat Pujian yang baik dari pihak kerajaan.


Tapi... itu tak berlangsung lama, ada suatu hari dimana semua pencapaian itu hancur.


"Tuan! Ada masalah...!" Teriak seseorang membanting pintu dengan panik memasuki ruangan.


"Ada apa? Sekarang aku lagi sibuk" ucap Lein sedang membaca sebuah kertas dokumen di meja kamarnya.


"Tuan... pasokan makanan di garis belakang terhambat" jawab Seseorang menjelaskan dengan panik dan berkeringat banyak.


"Jalur untuk mengantarkan pasokan makanan diserang oleh para monster..." jawab Seseorang dengan tergesa-gesa.


"Ini gawat... jika itu terjadi maka, itu akan benar-benar gawat" ucap Lein Gelisah akan masalah yang di hadapinya.


"Cepat kirim pasukan untuk membantu, jika tidak maka kita tidak akan bisa menang, Cepat!" Balas Lein panik berpikir keras.


"Baik tuan..." jawab seseorang kemudian keluar dari ruangan.


Lein terlihat panik... apa yang Lein hadapi adalah berurusan dengan nyawa seseorang, yang bisa Lein lakukan adalah terus berjuang dan berpikir tanpa menyerah. Tapi sekarang yang Lein hadapi semakin dekat dengan jurang keputusasaan.


"Bagaimana ini bisa terjadi...? Seharusnya pasukan monster di jalur pasokan tidak mungkin ada disana" Ujar Tuan itu duduk di kursi.


"Duarr...! Suara petir menyambar.


Cuaca sedang hujan deras disertai petir... hujan yang lebat menyirami daerah yang terdampak... termasuk didaerah Fatoft dan tempat pasokan yang diserang... saat ini Lein sedang ingin berpamitan dengan Larsia istri Lein.


"Larsia aku pergi dulu, kamu jaga anak kita disini, ini belati untuk berjaga-jaga... aku akan segera kembali" ucap Lein memakai tudung dan keluar pergi mengendarai kereta kuda.


"Baik... hati-hati ya sayang..." balas Larsia dengan khawatir.


"Hiyak...!" Suara berangkat kereta kuda.


Dengan keberangkatan Lein yang tiba-tiba, Larsia sangat khawatir dengan Lein karena Lein pergi tanpa memberi tahu apa-apa kepada Larsia.


"Ibu...!" Teriak Putrinya


"Putriku..." ucap Larsia dengan panik dan bergegas pergi ke kamar putrinya.


Di mansion Fartoft Larsia sekarang berada di kamar Putrinya karena Putrinya berteriak memanggil Ibu (Larsia)


Setelah di depan kamar putrinya, larsia kemudian masuk dan yang dia lihat adalah. Bahwa anaknya ketakutan dengan suara petir yang menyambar.


Kemudian Larsia menenangkan putrinya dan menemani putrinya di kamar.


"Tenang putri ibu yang cantik, ibu akan selalu bersamamu" ucap Larsia sambil mengelus Putrinya yang berada di pelukannya.


"Apapum yang terjadi, ibu akan selalu melindungimu" ucap Larsia menenangkan Putrinya dan menidurkannya.


Setelah menidurkan putrinya, Larsia kembali ke lantai bawah duduk dan meminum teh sambil melihat keluar jendela.


Larsia bukan hanya duduk santai dan tenang, melainkan sedang menenangkan diri dan berpikir positif.


Keadaan Larsia sekarang lebih ke khawatir dan gelisah, karena Suaminya, Lein pergi menyelesaikan tugasnya di medan perang, sedangkan Larsia hanya tinggal di dalam mansion.


Beberapa jam kemudian...


Tak lama terdengar suara seseorang di lantai atas. Larsia penasaran akan suara itu dan memutuskan untuk pergi melihat asal suara itu.


Dan ternyata asal suara itu berada di kamar putrinya. Larsia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar putrinya dan mengecek sumber suara itu.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka...


Dan...


Yang terjadi adalah bahwa Larsia terkejut karena mendapati Anaknya bersama seorang wanita yang sedang mencoba melakukan sesuatu kepada anaknya.


Larsia dengan segera langsung mengeluarkan belati yang Lein berikan dan mengarahkan belati itu ke Wanita misterius itu.


"Siapa kamu! Apa yang kamu lakukan kepada putriku" tanya Larsia ke wanita itu sambil mengarahkan belati yang dipegangnya.


"Aku... kamu tidak perlua tahu tentang siapa aku" ucap wanita itu dengan suara yang menyeramkan.


Kemudian suara kereta kuda terdengar di luar, itu adalah Lein yang kembali. Lein langsung memasuki gerbang dan memasuki ke dalam Mansion, di saat Lein akan membuka pintu. Tiba-tiba! Terdengar suara kegaduhan di lantai atas.


Seketika Lein langsung bergegas ke lantai atas. Lein berlari menuju sumber suara kegaduhan itu dan ternyata berasal dari kamar Putrinya. Lein langsung membuka pintu kamar dan memasukinya.


Tapi Lein menyaksikan hal yang amat mengerikan saat melihat isi kamar putrinya.


Lein melihatnya.


Lein melihat Istrinya terbunuh, tergeletak di lantai dan kehilangan banyak darah.


Darah Larsia berada di dimana-mana, di lantai dan di tembok. Lein sangat amat depresi dan bepikir bahwa apa yang di lihat Lein adalah hanya Mimpi Buruk.


Tapi tidak hanya itu yang di lihat Lein.


Lein juga melihat seorang wanita di depannya yang sedang membacakan sebuah mantra kepada Putrinya yang sedang terkejut karena melihat ibunya dibunuh di depan mata. Lein melihat bahwa Putrinya menunjukan tatapan kosong.


Melihat itu, Lein langsung menyerang wanita yang melakukan itu kepada keluarganya. Lein menyerang, Lein mengucapkan sebuah Rapalan.


"Wąhąī §əñjąþąķų, bųñųh đīą, ķəjąř đīą, §īķ§ą đīą"


Seketika Lein mengeluarkan sebuah senjata dari lubang dimensi yang menyimpan senjata itu, lubang itu berjumlah 4 yang mengeluarkan jenis senjata yang berbeda.


Lein terlihat ingin menyerang wanita itu tapi itu sudah terlambat bagi Lein, sekarang Putrinya telah terkena kutukan dari wanita itu. Kemudian Putrinya Lein tertidur di kasur kamarnya setelah wanita itu memberi sesuatu kepada putrinya Lein.


"Apa yang kamu lakukan kepada putriku!" Tanya Lein penuh emosi.


"Aku hanya mengutuk putrimu itu mengambil emosinya" ucap wanita itu.


Kemudian lein menyerang wanita itu dan menembakan senjatanya terus menerus, namun wanita itu terus menangkis serangan dari Lein terus menerus, dan menyebabkan seisi kamar putrinya hancur berantakan akibat dari senjata yang di tangkis wanita itu.


Dan beruntungnya tidak mengenai putrinya Lein.


Kemudian wanita itu menghancurkan tembok kamar putrinya dan keluar dari Mansion ke halaman mansion, Lein pun mengejar wanita itu melompat dari lantai 3 ke tanah.


Pertarungan pun terjadi di halaman mansion, Lein berhadapan dengan wanita itu dan terus menyerang, Lein menyerang terus menerus sedangkan wanita itu terus menangkis serangan Lein.


Alhasil... Lein kehabisan stamina dan mulai kelelahan, Lein tidak bisa mekancarkan serangannya.


"Apa cuma segini kemampuan Fartoft?" Ejek wanita itu meremehkan Lein.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Lein dengan napas yang berat dan terlihat lelah.


"Aku adalah seorang Iblis Penyihir. Baiklah... karena tugasku sudah selesai, aku mau kembali ke tuanku tercinta" ujar Iblis itu kemudian terbang pergi menjauh dari Lein.


Setelah itu Lein terjatuh kelelahan dan pingsan.


Keesokan harinya. Lein berada di kamarnya dan terbangun, Lein melihat istrinya berada di depannya, tapi itu hanya bayangan istrinya Lein... Lein kemudian bergegas menuju ke kamar putrinya dan apa yang dilihat Lein hanyalah kamar kosong.


Tibuh istrinya tidak ada di kamar putrinya, juga putrinya juga tidak ada, yang ada hanyalah bekas kerusakan dan lubang besar di kamar putrinya.


Tiba-tiba datang seseorang dari belakang Lein, ternyata dia adalah pelayan keluarga Fartoft dari generasi Roy Leincory Von Fartoft ayahnya Lein.


Pelayan itu kemudian menjelaskan kepada Lein dimana tubuh istrinya dan putrinya.


Tubuh istrinya Lein sekarang berada di peti mati, sedangkan putrinya sekarang berada di tempat ibunya berada, yaitu di gereja.


Kemudian Lein bergegas ke gereja yang di jelaskan pelayan itu, Lein berlari walaupun keadaanya sedang lelah dan kurang bertenaga.


Lein datang ke gereja dan...


Semenjak kematian Istrinya Lein Bernama Larsia, Lein menjadi sangat sedih dan merasa sendirian lagi.


Sejak saat itu Lein merawat Putrinya sendiri dan membagi tugasnya, walaupun pelayan keluarga Fartoft yang merawat Putrinya Lein saat Lein sedang sibuk.


Setelah perperangan selesai, masalah baru terjadi wilayah Fartoft.


Semua Monster, Binatang Buas, dan masih banyak lagi, bermigrasi ke Hutan Tak Bernama. Semua itu disebabkan oleh perperangan di Padang Rumput perbatasan Kroseia dan Luygrind, karena hutan di perbatasan Kroseia dan Luygrind rusak, akibatnya Monster berpindah ke Hutan Tak Bernama.


Karena hal itu banyak petualang yang terbunuh oleh Monster saat melewati jalur jalan di Hutan Tak Bernama.


Pedangang, Petualang, Pengembara, semua orang yang datang ke Wilayah Fartoft berhenti berdatangan karena hal itu.


Dan akibatnya semua penghasilan Wilayah Fartoft turun drastis. Sehingga itu menjadikan Desa di wilayah Fartoft menjadi sepi.


Sejak saat itu Lein menjadi depresi dan banyak menerima Komplain dari penduduk desa. Kesampingkan hal itu.


Disaat bersamaan Lein juga mencoba membuat Putrinya terhibur dengan tindakan Konyol Lein di mansion.


Seperti melakukan hal Konyol yang memalukan untuk membuat senang Putrinya, tapi itu sia-sia karena sekarang Putrinya tidak memiliki Emosi seperti Manusia dan Makhluk lain.


Dan semenjak kejadian itu, Gorgy Leincory Von Fartoft akan bersedih saat ada orang menanyakan tentang Putrinya dan Istrinya.


Sekarang Lein tetap Bahagia karena tidak ditinggal sendirian dan Lein bahagia bersama Putrinya berdua di Mansion.


-


-


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2