
Pagi itu kevin seperti biasa yang sudah rapih dengan setelan kantornya kini duduk di meja makan dan menunggu anak anaknya.
"Papa.... vanesa ngga bisa pasang tali sepatunya" suara menggelegar putrinya memenuhi ruang meja makan pagi itu. Melihat hal itu kevin yang tengah membaca korannya kembali meletakan koran itu dan berdiri menghampiri putrinya itu. Tak di ragukan lagi bahwa anak prempuannya ini sekalipun mirip dengan namun melihat tingkahnya kevin selalu di ingatkan dengan akila.
" Sini papa ikatkan " panggil kevin pada putrinya itu. Pelayan yang menyaksikan hal itu hanya mampu menunduk, entah sampai kapan nyonya muda mereka akan terbangun, pelayan pelayan itu seakan ikut merasakan keterpurukan majikan mereka. Dulu saat kepergian nyonya mereka kevin seperti orang gila yang terus mencari akila ke segala penjuru dunia namun saat merka bertemu kembali nyonya mereka malah koma yang sekarang sudah enam tahun berlalu namun tidak ada perkembangan.
Tuan mereka hanya terfokus pada pekerjaan, anak anak juga istrinya.
Bahkan jika itu menyangkut urusan anak anaknya kevin tidak segan segan turun tangan sendiri, kadang saat mengingat istrinya kevin akan menghabiskan waktunya hanya mengurus anak anaknya, bercerita tentang ibu mereka dan masih banyak lagi. Tak jarang pelayan pelayan memergoki tuan mereka sedang menitihkan air mata. Semua itu karna nyonya mereka.
" Pagi pa..." sapa Devan yang langsung mengambil duduk di meja makan.
" Loh... kakak kok belum pake seragam, hari inikan kaka lomba" tanya vanes yang melihat kakaknya yang kini duduk di sampingnya belum bersiap siap.
" Malas...." jawab devan yang acuh tak acuh. Meski devano terlihat dingin sama seperti papanya namun devan sangat perhatian pada adiknya itu, garis bawahi hanya kepada adiknya.
__ADS_1
" Devan ada apa ???"
" Devan malas pa"
" Malas kenapa ??? Mau mamamu marah " tekan kevin, yang seketika emosi pada putra nya ini, bukan hanya kali ini sudah berulang kali devan tidak masuk bahkan meninggalkan perlombaan dengan alasan malas. Melihat anaknya itu yang hanya asik makan tak menggubris kata katanya membuat kevin tidak bisa lagi menahan amarahnya.
" Jawab papa ??? Malas kenapa " bentak kevin
Kevin hanya mampu terdiam, anak laki lakinya itu memang tidak seperti vanesa, jika vanesa akan membicarakan segalanya pada kevin maka lain halnya dengan devan dia hanya akan mendengarkan dan tak berbicara apapun.
-----------------------------
__ADS_1
" Sayang.....kapan kamu bangun ???" bisik kevin yang menggenggam tangan sang istri.
" Kamu ngga cape tidur terus ??? Bangun dong, anak anak kita sekarang sudah tumbuh dewasa, tapi tetap saja aku tidak bisa mengisi kekosongan mereka tanpa kamu, aku tidak bisa mendidik mereka seperti kamu, mereka sangat merindukanmu.
Devan sekarang tumbuh sebagai anak yang pintar, sangat pintar tapi jika tanpa kamu mereka semua lemah, aku bahkan juga tak mampu mendidik mereka sebaik kamu.
Bangunlah sayang.... bangunlah....
tanpamu rasanya sangat susah....
Sampai kapan kamu akan terus tertidur...
Vanesa sekarang semakin cantik meski mirip denganku tapi senyumnya berjejak dirimu.
Bangunlah.... temani aku mengarungi kerasnya kehidupan ini....
Temani aku mendidik anak anak kita, sekuat apapun aku berusaha tetap saja kekosongan tanpamu begitu terasa di hati mereka.
__ADS_1