PRIA TAMPAN SEDINGIN ES

PRIA TAMPAN SEDINGIN ES
Bab 11


__ADS_3

Sesampainya di kosan Mega, Mega menurun Nindy membersihkan diri, agar lebih segar, baju Nindy juga ada di sini, karna sering menginap di kosan Mega.


Setelah selesai membersihkan diri masing-masing, mereka lanjut mengobrol yang seru seru, sebelum nya sudah ada teh manis anget dan cemilan di toples.


"Nin, kamu sudah kasih kabar ke mas Mahe? "


"iya, sudah aku kirim Pasan, mas Mahe minta alamat kosan kamu, tapi belum aku kirim"


"kenapa?"


"aku masih kacau, aku takut dia khawatir sama aku" jawabnya sendu


"sekarang kamu kan sudah lebih tenang, jadi ngga ada salahnya kan kamu kasih alamat di sini, biar ngga ada salah faham dalam hubungan kalian"


"ah iya, baik lah aku akan kirim alamatnya" Mega hanya tersenyum tulus


Setelah berkirim pesan ke Mahe, Nindy dan Mega melanjutkan obrolannya, mendengar ocehan Mega, Nindy tertawa bersama Mega, mood Nindy kembali, berkat Mega.


Satu jam kemudian, Mahe dan asisten Aji sudah berada di depan kosan nya Mega, untuk menjemput Nindy.


Tok tok tok "assalamualaikum" Mahe mengetuk pintu kosan Mega.


"wa'allaikumsalam" Mega membukakan pintu dan menjewab salam.


"permisi, perkenalkan saya Mahe, calon suami nya Mega, dan ini Aji asisten saya" ucap Mahe memperkenalkan diri dan asisten nya.


"cantiknya" batin Aji.


"ah iya, saya Mega sahabat sekaligus Kaka angkatnya Nindy"


"mari masuk"


"baik" jawab Mahe dan Aji bersama.


"silahkan duduk, sebentar ya saya panggilkan Nindy"


"iya"


Mega masuk ke dalam kamarnya, untuk memanggil Nindy, dan pangsung membuatkan minum untuk mereka ber empat.


"sayang" ucap Mahe sambil memeluk Nindy dan mencium keningnya hangat, setelah Nindy bertemu dengan Mahe, dan Nindy membalas pelukannya Mahe.


"mas, duduk dulu yuk"


"Iya sayang"


"asisten Aji, apa kabar? " tanya Nindy


"Alhamdulillah, baik nona"


"sayang, apa ada masalah?" tanya Mahe


"mas, Nindy mau tanya? malah balik nya Nindy.


"Mau tanya apa sayang, kamu kenapa?"


"mas, apa hubungan mas Mahe sama nona Diffa"


Mahe menyerengitkan dahi nya, Aji pun sama.


"memang nya kenapa sayang?"


"mas, tadi di mall Nindy bertemu sama nona Diffa di toilet, dan minta ngobrol sebentar di caffe" ucap Nindya sambil menarik nafas kasar "dan nona Diffa, minta Nindy meninggal kan mas Mahe" ucapnya lagi mata Nindy mulai berbun, seketika air matanya tumpah, Nindy menundukkan wajahnya.


"Hay sayang, mas ngga ada apa apa sama Diffa" jawabnya sambil memegang wajah Nindy agar melihat Mahe, dan menghapus air matanya Nindy dengan ibu jarinya.


"Dengerin mas sayang, mas ngga tau kalau Diffa suka sama mas, mas juga baru ketemu dia tiga kali, pertama pada saat metting untuk memperkenalkan produk mas, kedua di kampus, pada hari yang sama hanya beda di jam setelah metting, itu juga ngga sengaja, ketiga pada saat sama kamu di caffe, jd ada dua pertemuan yang tidak di sengaja, dan mas memang ngga suka sama dia, kalau kamu masih ngga percaya, boleh kamu tanya sama Aji" penjelasan Mahe panjang lebar tanpa jeda, agar tidak ada salahan faham dan ke bohongan di antara dia dan Nindy.


"Nindy percaya sama mas" jawaban Nindy langsung masuk ke pelukan Mahe.


"sudah percaya" Mahe bertanya, dan membalas pelukan Nindy dengan hangat, Nindy hanya mengganguk saja, karna malu, Mahe tersenyum melihat anggukan Nindy.


"silahkan di minum, maav hanya ada ini saja" ucap Mega setelah menaruh teh dan cemilan di atas meja.


"terimakasih" jawaban Mahe, Nindy dan Aji serempak, Mega hanya membalas dengan senyum saja.


"manis, baik dan caktik" batin Aji yang melihat ke arah Mega.


Mega tidak sengaja melihat ke arah Aji, seketika merona wajahnya Aji dan Mega, karna bertemu pandang, dua detik kemudian Mega tersadar dan langsung memutuskan pandangan nya ke arah lain.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Esok harinya...


Diffa dengan percaya diri, datang ke kantor Mahe, di jam sepuluh pagi, membawa data diri Nindy untuk di kasihkan ke Mahe, sebagai bukti kalau Nindy tidak pantas untuk Mahe.


Seaampainya di lobby kantor, Diffa langsung menuju reception.


"selamat pagi" ucap Diffa pada dua reception.


" pagi nona, ada yang bisa di bantu" jawab salah satu reception.


"saya mau bertemu dengan tuan Mahendra Malik" jawab nya angkuh


"maav nona, dengan nona siapa ya?"


"saya Diffa Anis, calon tunangan tuan Mahendra"


"apakah nona Diffa sudah membuat janji dengan tuan Mahendra nona?"


"saya rasa, saya tidak perlu membuat janji dengan calon suami saya sendiri? jawab nya angkuh dan ketus, kedua reception itu saling menoleh.


"maav nona Diffa, ini sudah menjadi peraturan kantor, dan saya tidak bisa memberikan nona izin jika tidak ada janji terlebih dahulu"


"Berani sekali kalian melarang saya, untuk bertemu calon suami saya, saya pastikan kalian berdua akan di pecat, sama suami saya!!" semakin kesal dan membual ucapan Diffa.


"sekali lagi maav nona, saya tidak berani membiarkan Anda masuk, jika tidak ada izin"


"kurang ajar ya kalian berdua" jawaban Diffa dan langsung menggebrak meja reception.


Kedua reception itupun terkejut bukan main, karna aksi yang bar bar di tunjukan Diffa ke mereka.


Pada waktu bersamaan Diffa menggebrak meja, asisten Aji keluar dari lift khusus untuk nya dan Mahe.


"Ada apa ini? kenapa berbuat keonaran" tanya Aji saat sampai depan meja reception, setelah melangkahkan kakinya ke arah mereka.


"Asisten Aji"


"Asisten Aji"


"Asisten Aji"


jawab mereka serempak dan terkejut menoleh ke arah asisten Aji.


"Ada apa ini?" mengulang pertanyaannya.


"oh seperti itu"


"Selamat pagi Asisten Aji, saya ingin bertemu dengan tuan Mahendra, karna ada hal yang penting yang saya mau sampaikan"


"Apakah menyangkut proyek yang sedang kita kerjakan bersama?"


"ah iya asisten Aji, tapi ada hal lain juga yang harus saya sampaikan kepada tuan Mahmud"


"katanya tunangan tuan Mahe dan calon istrinya, ternyata dia hanya pembohong" bisik salah satu reception ke pada rekannya.


"ah iya benar, kalau dia calon istrinya tidak mungkin kan asisten Aji tikdak mengetahuinya" sambel metik ke arah Diffa, membalas bisikan rekannya, tapi masih bisa di dengar oleh asisten Aji dan Diffa dengan jelas.


Mata asisten Aji melotot dan menganga, mendengar bisik bisik reception tersebut, dan menghadap ke arah Diffa selanjutnya.


"maav asisten Aji, apakah saya bisa bertemu dengan beliau?" tanya Diffa tanpa memeperdulikan tatapan Aji yang sinis ke arahnya.


"Tunggu sebentar nona, saya lihat jadwal terlebih dahulu" asisten Aji langsung mengirim pesan ke Mahe, jika ada Diffa di lobby, Mahe mau ngga bertemu dengan Diffa.


"baiklah" jawab Diffa.


"Silahkan nona ikut dengan saya" asisten Aji sudah mendapatkan jawaban dari pesannya.


"iya terimakasih"


Mereka berdua masuk ke dalam lift, menuju lantai teratas, di dalam lift tidak ada yang berbicara hanya Salinh diam, lift terbuka dan asisten Aji mempersilahkan Diffa untuk keluar lift menuju ruangan Mahe.


"silahkan nona"


"terimakasih" jawabnya angkuh


Asisten Aji hanya geleng geleng kepala saja mendengarnya.


Sesampainya di depan ruangan Mahe, sekertaris Mahe memberi salam ke asisten Aji.


"selamat pagi Asisten Aji" tanyanya dengan menampilkan senyuman seksinya.


"pagi Siska" Jawabannya, Aji melihat senyum Siska dan pakainya ya yang terlalu minim, dengan menunjukan belah dadanya dan paha mulus nya, aji hanya bisa geleng geleng kepala.


Diffa yang melihat sekertaris Siska, melihatnya dengan sinis.

__ADS_1


"silahkan nona" sambil membuka pintu ruangan Mahe.


"Hem"


Mahe melihat pintu di buka langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu, Mahe melihat Diffa dengan datar acuh tak acuh.


"selamat pagi tuan Mahendra" ucap Diffa dengan suara yang di buat agak seksi, Mahe yang mendengarnya jengah, sedangkan Aji hanya senyum sinis.


"pagi nona Diffa, ada perlu apa nona datang ke kantor saya, apakah ada masalah dengan proyek yang sedang kita jalanin?"


"ah tidak tuan Mahendra, saya ke sini ada hal lain yang ingin saya sampaikan"


Mahe mengerutkan kening nya.


"begini tuan Mahendra, apakah boleh kita berbicara 4 mata saja" sambil melirik ke arah asisten Aji.


"asisten Aji" Mahe mengkode dengan kibasan tangan nya.


"baik tuan, saya permisi" jawab Aji ambil membungkuk dan segera keluar menutup pintu ruangan Mahe.


"Hem, silahkan duduk"


"baik, terimakasih"


"ada masalah apa nona, sampai anda repot repot datang ke kantor saya"


"maav jika saya lancang tuan Mahendara, apakah tuan Mahendara tau, siapa calon istri anda, maav bukan maksud saya ikut campur, tapi saya rasa, dia tidak cocok dengan anda tuan Mahendra"


"oh seperti itu, memang nya apa yang anda tau nona Diffa tentang calon istri saya" jawabannya di buat sesantai mungkin, tapi hatinya bergemuruh.


"maav jika saya lancang, calon istri anda seorang yatim piatu yang di besarkan di panti asuhan, dan calon istri anda hanya penjual tissu keliling, saya rasa dia juga menjajakan tubuhnya untuk memikat orang orang kaya, hanya untuk mendapatkan uang" jawabannya Diffa panjang lebar dan merendahkan Nindy, Mahe yang mendengar seketika mengeraskan genggaman tangannya di bawah meja kerjanya.


"Apakah nona Diffa berbicara seperti ini ada buktinya? dan apa tujuan nona Diffa memberi info seperti ini ke saya?" ucap Mahe di buat setenang mungkin.


"Tentu tuan Mahendra, saya punya bukti yang akurat" sambil menyerahkan map coklat ke meja Mahe.


"silahkan tuan, anda lihat sendiri" jawabnya sambil tersenyum.


Mahe langsung membuka map yang di berikan Diffa, dan membaca nya dengan seksama, Mahe hanya tersenyum kecut setelah membacanya.


"wah, anda hebat juga ya nona Diffa, anda merepotkan diri untuk mencari tau tentang calon istri saya"


"karna saya sudah menganggap anda sebagai teman saya, selain rekan bisnis, saya tidak mau anda di permainkan oleh orang yang hanya memanfaatkan kekayaan ada saja, tuan Mahendara" jawabannya senang, karna melihat Mahe mengeratkan rahang nya, Diffa berfikir Mahe beneran tidak tau dan merasa di bohongi oleh Nindy, padahal sebenarnya Mahe marah, sangat marah ke Diffa karna menjelakan istrinya.


"terimaksih nona Diffa, sudah memperlihatkan ini semua ke saya, apa ada lagi yang ingin Anda sampaikan nona Diffa?"


"taun Mahendra, saya rasa anda harus membatalkan pernikanan anda tuan, karna anda akan malu jika rekan bisnis anda yang lain tau tentang calon istri anda" memprovokasi Mahe agar membatalkan pernikanan ya dengan Nindy.


"hemm, seperti itu ya, apa anda suka dengan saya nona Diffa, maav jika saya lancang berbicara seperti itu ke anda nona" tersenyum sinis ke arah Diffa.


"ah sebenernya, yang tuan Mahendara katakan benar, saya suka sama anda, pada pertemuan pertama kita, saya rasa hanya saya yang pantas mendampingin anda tuan Mahendara" tersenyum malu dan dengan percaya dirinya Diffa dia membanggakan dirinya sendiri.


HAHAHAHA Mahe tertawa terbahak bahak.


"nona Diffa, saya rasa, sudah terlambat untuk membatalkan pernikanan saya dengan calon istri saya, karna undangan sudah tersebar, dan ini undangan untuk anda nona Diffa, jika anda berkenan silahkan datang ke acara pernikahan saya dan istri saya"


"A apa tuan Mahendra, anda akan tetap melangsungkan pernikahan ini, apa anda tidak malu dan reputasi Anda akan jatuh tuan Mahendra, jika publik tau tentang siapa istri anda?"


"maav nona Diffa, kerjaan saya masih banyak, silahkan tinggalkan ruangan saya nona"


"tuan Mahendra, saya mencintai kamu, dan hanya saya yang pantas untuk mendampingi kamu Mahendra" jawaban di histeris.


"Tapi saya tidak ada rasa sama sekali dengan anda nona Diffa, dan untuk masalah reputasi saya di depan publik itu akan jadi urusan saya nona, anda tidak perlu repot repot" ketus jawabnya Mahe.


Diffa berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Mahe, dengan gerak cepet Diffa langsung memeluk Mahe dari samping, dan mencium paksa bibir Mahe.


Mahe yang tidak siap dan tidak tau tindakan lancang Diffa seketika melotot pas bibir Mahe bertemu bibir Diffa, Diffa mengambil kesempatan pas liat Mahe terbengong langsung ******* bibir Mahe dengan lembut.


Beberapa detik kemudian, pintu ruangan Mahe terbuka lebar, Mahe mendengar pintu ruangannya di buka, langsung sadar atas tindakan Diffa yang tidak pantas, Mahe langsung mendorong tubuh Diffa agar menjauh dan melihat siapa yang datang ke ruangan nya.


Mahe terbelalak dan menganga melihat siapa yang ada di depan pintu ruangan nya.


Diffa tersenyum senang, karna Nindy melihat dia dan Mahe ciuman.


Nindy berjalan ke arah Mahe, dengan tersenyum manis, dan langsung mengambil tissu basah di atas meja Mahe, Nindy langsung menghapus bekas lipstick Diffa di bibir Mahe yang tertinggal, dengan lembut dan penuh dengan senyuman di bibir mungil Nindy.


Mahe takut Nindy marah, langsung memeluk Nindy dan berbisik " terimaksih sayang, kamu telah menyelamatkan mas dari wanita ular ini" uacannya tanpa di dengar oleh Diffa.


"iya mas, Nindy percaya sama mas, karna Nindy melihat dari CCTV di handphone nya asisten Aji, di luar ruangan mas" sambil tersenyum.


Diffa yang melihat reaksinya Nindy tidak marah..semakin kesal dan yakin jika Nindy hanya mau kekeyaan Mahe saja.


"selamat pagi nona Diffa, ah maksuk saya selamat siang"


"Mahendra pertimbangkan ucapan aku yang tadi, saya permisi"


"tunggu" Nindy menahan Diffa

__ADS_1


"nona Diffa, anda meninggalkan undangan pernikahan kami, karna jika anda mau datang, anda harus membawanya, jika tidak anda tidak bisa masuk ke dalam untuk mengucapkan selamat ke kami"


"hem, terimakasih nona" jawab Diffa dan mengambil undangan dari tangan Nindy, "permisi" ucap nya lagi


__ADS_2