PRIA TAMPAN SEDINGIN ES

PRIA TAMPAN SEDINGIN ES
Bab 25


__ADS_3

Mahe dan Asisten Aji pergi ke caffe shop, untuk bertemu dengan rekan bisnisnya, untuk melanjutkan kerjasama nya.


"selamat siang, tuan Mahendra dan Asisten Aji" ucap rekan bisnis nya sambil berjabat tangan ke mereka berdua secara bergantian.


"selamat siang taun" sahut Mahe.


Kerja sama berjalan dengan lancar untuk proyek di kota J, dan setelah metting selesai Mahe langsung keluar caffe dan tidak sengaja menabrak punggung se orang gadis.


"maav nona, saya tidak sengaja" ucap Mahe.


"ah ngga apa apa" seketika Kirana mengangkat wajah nya dan bertemu dengan wajah Mahe.


Mahe dan Kiran terkejut, begitu pula Asisten Aji, ikut terkejut.


"Kirana"


"Mahendra"


ucap nya bersamaan.


Wajah yang tadinya ramah, seketika berubah menjadi dingin setelah melihat gadis yang dulu dia sangat cintai dan meninggal kan nya tanpa kata kata.


"permisi" ucap Mahe dingin.


"Mahendra, tunggu?" sahut Kirana sambil memegang lengan Mahe dengan lembut.


Mahe membeku, karna sentuhan kirana, tanpa berbalik Mahe melepaskan genggaman tangan nya, dan melanjutkan langkah nya ke arah mobil nya, Kirana yang melihat nya, seketika menitikan air mata nya, karna melihat tindakan Mahe se akan membencinya.


"Mahendra, maav kan aku" ucap Kirana setelah mobil yang di kendarai Mahe melaju meninggal kan caffe tersebut.


********


Satu Minggu berlalu, dari kejadian Mahe bertemu dengan Kirana, tapi pikiran Mahe tidak sekali pun tertuju ke gadis itu.


Nindy dan Diffa pergi ke supermarket terdekat dari rumah mereka, Rafael dan Raisya di jaga oleh bi Ani dan pelayan lainnya.


"Nin, sudah semua?, kalau sudah, kita ke coffe shop depan yuk, mumpung anak anak ada yang jaga, jadi bisa QT" ucap Diffa.


"baik lah"


Pada saat Nindy dan Diffa menyebrang jalan, tiba tiba ada mobil truk melaju kencang karna rem mobil blong.


Nindy yang menyebrang duluan, karna Diffa masih memasukan belanjaan nya ke bagasi mobil, Nindy pikir Diffa mengikutinya, tapi ternyata tidak.


"NINDY AWAS" teriak Diffa panik, karna ada mobil dengan kecepatan tinggi ke arah Nindy.


Nindy tidak mendengar teriakan Diffa, dia berjalan perlahan.


"DIFFA" teriak Nindy histeris, karna Diffa tertabrak truk tersebut pada saat Nindy menyebrang jalan, dan Diffa dengan gerak cepat, mendorong tubuh Nindy,, dan jatuh jauh dari mobil yang mau menabrak nya.


"diff, Diffa bangun diff, kenapa kau lakukan itu diff?" ucap Nindy yang sudah memeluk tubuh Diffa yang berlumuran darah.


"Nin, aku titip Ra Raisya" menutup matanya, setelah mengucap kan kata itu.


"TOLONG, TOLONG, bawa saudara ku ke rumah sakit, tolong?, diff bertahan diff?" teriak Nindy meminta tolong, air mata Nindy tumpah sudah.

__ADS_1


Sesampai nya di rumah sakit, Diffa langsung di masukan ke IGD untuk di periksa, Mahe sudah di kabari oleh Nindy dan Papih, Mamih juga sudah di kasih kabar oleh Mahe.


"masss" ucap Nindy saat melihat Mahe, Nindy langsung memeluk nya dengan erat.


"sayang, Diffa akan baik baik saja, ok?" sahut Mahe memenengkan Nindy.


"aku ngga tega mas, Diffa banyak mengeluarkan darah nya mas" tumpah lagi air matanya


"sayang, ini cobaan untuk keluarga kita, jadi kita berdoa saja agar Diffa baik baik saja, ok" sahut Mahe, sambil di angguki oleh Nindy..


beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang IGD.


"dok, bagai mana keadaan putri ku?" tanya Papih nya Diffa


"maav tuan, nyonya Diffa banyak mengeluarkan darah, dan nyawanya tidak bisa di selamatkan, saya minta maav tuan dan nyonya" sahut dokter, dengan berat hati memberi tahunya.


"A APA, tidak dok, anda pasti salah kan, coba periksa lagi anak saya dok?" histeris Mamih nya Diffa.


"maav nyonya, tuan, saya sudah mencoba nya" sangat menyesal sang dokter.


"Diffa, jangan pergi diff, kenapa kamu harus menyelamat kan aku, Diff?" ucap Nindy histeris, dan Mamih dan Mega langsung memeluk Nindy dengan erat. sedang kan Mahe dan Asisten Aji, mengurus administrasi.


**********


Beberapa tahun kemudian


Rafael, sudah menginjak usia 7 tahun, sedangkan Raisya, berusia 6 tahun, setelah kepergian nya Diffa, Raisya di asuh oleh Nindy, dan orang tau Diffa kembali ke luar negri, untuk melanjutkan bisnisnya.


"Bunda, Ayah, ka Rafael nih, ganggu aku terus" terik Raisya, kesal karna Rafael selalu mengganggu nya.


"Beneran yah, Bun, kk bikin aku kesel, mainan aku di berantakin sama kk" kesal Raisya sambil menangis di pelukan Nindy, Nindy langsung menenangkan Raisya.


"Sudah, sudah, ngga boleh seperti itu Rafael, Raisya kan adik kamu, yang harus nya kamu lindungi sayang, kenapa malah di jahilin sih" Nindy menasehati Rafael.


"Iya Bun, aku minta maav, Raisya maavin ka Rafael ya?" ucap Rafael.


"Iya ka, aku terima permintaan maav mu" sahut Raisya


"Nah gini kan enak, sudah sekarang waktunya kalian mengerjakan tugas dari sekolah"


"baik bunda" ucap Rafael dan Raisya bersama.


Mahe, keluar dari ruang kerja nya bersama Asisten Aji, Mahe melihat semua ke jadian tadi, dan Mahe merasa kan jika Nindy memang ibu yang terbaik buat Rafael dan Raisya, Mahe merasa bangga, begitu juga Asisten Aji, tersenyum melihat Nindy yang bijak dan tegas penuh kasih kepada anak anak nya.


"mas, sejak kapan berdiri di situ?"


"sejak Raisya teriak panggil mas, sayang" Mahe sambil mendekat dan memeluk nya dengan lembut.


"mas, malu ada Aji" muka Nindy merona.


"maav tuan, nyonya, saya permisi dulu, mau ke kantor"


"baik lah, jika ada yang penting segera hubungi saya"


" baik tuan"

__ADS_1


Mahe hari ini tidak ke kantor, karna Mahe sedang kurang enak badan.


*******


"Bisa kita bertemu? (kirana) " : ( 19.30 ) satu pesan masuk ke hape Mahe.


Mahe mengabaikan. pesan tersebut, dan langsung menghapus nya, karna Mahe tidak ingin membuat hati Nindy sakit.


"aku mohon (Kirana)" : ( 20.00 )


.Mahe langsung mematikan teleponnya, karna ngga mau di ganggu.


Esok harinya, mereka sarapan dengan tenang, Rafael dan Raisya akan berangkat ke sekolah bareng Mahe dan Asisten Aji.


"anak anak bunda, yang tampan dan yang cantik, sudah siap untuk berangkat sekolah?, kalian di antara ayah ya hari ini" ucap Nindy ke Rafael dan Raisya sambil membantu memakai kan tas nya Raisya.


"sudah Bun" sahut mereka bersama.


"Bun, besok bunda ya yang antar Raisya, Raisya ingin bunda yang antar ke sekolah?" rengek Raisya, karna Raisya begitu manja dengan bunda nya.


"iya sayang, besok bunda yang antar" sahut Nindy.


"hore, hore" ucap Raisya dengan loncat senang.


"uuhh, dasar anak manja" ucap Rafael kesal.


"biarin, Wee"


"sudah, sudah nanti kesiangan" sahut Mahe yang mencegah pertengkaran yang tiada habis nya.


"assalamualaikum bunda"


"wa'allaikumsalam salam anak anak bunda, jangan nakal ya di sekolah"


"baik Bun" ucap mereka bersama.


"sayang, mas berangkat ya"


"iya mas, hati hati di jalan"


"dah Bunda" ucap Raisya dan Rafael bersama dari dalam mobil.


"dah sayang, hati hati ya"


"baik bunda"


Nindy mencium punggung tangan Mahe, dan Mahe mencium kening Nindy, mobil melaju keluar gerbang rumah, setelah sudah tak terlihat baru lah Nindy masuk ke dalam rumah.


Bersambung


*******


gaess author kesel deh, kontak nya ngga lulus, padahal udah seneng bangat tau ngga, mungkin belum rezeki nya kali ya.


salam rindu dan sayang ya dari author,, jangan lupa dukung karya author ya gaess 🌹🙏❤️🥰😘

__ADS_1


__ADS_2