PRIA TAMPAN SEDINGIN ES

PRIA TAMPAN SEDINGIN ES
Bab 16


__ADS_3

Papih dan Mamih Diffa sudah tiba di rumah, di sambut pelayan rumah nya yang sudah setia puluhan tahun.


"selamat datang tuan, nyonya"


"Iya bi, bibi apa kabar?" tanya Mamih nya Diffa, suaminya hanya tersenyum dan masuk ke dalam rumah duduk di sofa mahal nya.


"baik nyah" sahutnya


"Bi, Diffa ada di rumah?" sambil melangkahkan kakinya , sedangkan pelayan nya menyeret koper milik majikannya itu.


"non Diffa, tidak ada di rumah nyah"


"Baik lah, bi buatkan minum ya untuk saya dan tuan"


"siap nyah"


Maminya Diffa mendudukan diri nya ke sofa sebelah suaminya.


"Gimana mih, apa Diffa ada di rumah?" si Papih bertanya ke sang istri.


"Hem, ngga ada pih, paling juga lagi shoping, kan urusan kantor biasa di kerjakan asistenya, Dimas"


"mau sampai kapan mih, Diffa sudah dewasa tapi kelakuannya malah kekanak Kanakan"


"Sabar pih, nanti Mamih yang bilang ke Diffa"


"Hem"


*******


Di tempat berbeda, Diffa sedang berada di coffe shop, yang berada di mall.


Mata Diffa membulat seketika, setelah menajamkan penglihatannya, Diffa melihat Mahe berada di coffe shop yang sama dengan nya, tapi Mahe tidak sendiri, Mahe bersama rekan bisnisnya.


"ini kesempatan w, buat naklukin hatinya, semangat Diffa" gumamnya dan memberi semangat pada dirinya sendiri.


Setelah di rasa Mahe hanya sendiri, Diffa bangun dari kursinya menuju meja Mahe, dengan langkah pasti, Diffa duduk tanpa meminta izin si pemilik meja tersebut.


"siang tuan Mahendra, senang bertemu anda di sini"


"Mahe yang melihatnya terkejut, tapi bukan Mahe namanya kalau tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


Mahe tidak menjawab ucapan Diffa, malah menampakan wajah datar dan ke tidak sukaan nya ke Diffa, Diffa yang Memeng sudah tebal muka, cuek saja malah dia tersenyum manis.


"tuan Mahendra, saya meminta maav atas perbuatan saya waktu itu, saya hanya cemburu melihat nya tuan, sekali lagi maav kan saya" ucapannya di buat sesedih mungkin.


Mahe yang melihatnya agak tersentuh, dan iba atas pengakuan Diffa kepadanya nya.


"Hem, jangan di ulangi lagi" jawabnya tegas


"Baik tuan, tuan sudah memaavkan saya saja, saya sudah sangat bersyukur, kalau begitu saya permisi dulu tuan Mahendra" ucapan Diffa


"emm, baik lah"


pada saat Diffa sudah melangkah kan kakinya, tiba tiba Mahe memanggilnya, " nona Diffa" Diffa yang namanya di panggil langsung membalikkan badannya, heran mengapa Mahe memangilnya.


"eemm apakah bisa kita makan siang bersama?" tanya Mahe, Diffa terkejut dengan tawaran Mahe untuknya, Diffa langsung memberikan senyuman termanisnya.


"Baiklah, jika itu tidak merepotkan dan mengganggu waktu anda tuan" sahut Diffa


"ah tidak, silahkan duduk"


"baik, tks tuan"


Mereka makan dengan canggung tapi tidak dengan Diffa, dia terus saja mengoceh membahas soal bisnis ke Mahe, Mahe yang awalnya kaku, ikut membalas ucapannya Diffa, karna di rasa Mahe itu masalah tentang pekerjaannya.


Setelah selesain makan siang nya, Mahe dan Diffa berpisah ke rutinitas nya masing masing, dan Diffa merasa dapat angin segar dari Mahe, karna sikap manisnya Mahe yang di tunjukan padanya, padahal Mahe hanya iba saja, melihat Diffa meminta maav atas kejadian yang di buat di acara pernikahannya dengan Nindy.


Semenjak makan siang dengan Diffa, Mahe sudah terbiasa bertemu dengan nya, dan Mahe menceritakan semuanya ke Nindy agar tidak ada salah faham, karna sejatinya Nindy bukan orang yang pendendam, itu yang Mahe suka dari Nindy, yang membuat Mahe semakin cinta sama Nindy.


*****


Diffa yang memang awalnya jahat, setelah mengenal Nindy lebih dekat, sekarang mereka bersahabat, tidak ada canggung di antara mereka, dan mereka melupakan yang pernah terjadi, beruntungnya Diffa, bisa dekat dengan Nindy yang awalnya dia hina dan dia rendahkan sedemikian rupa.


Perubahan Diffa, tidak luput dari mata Mamih dan papih nya, mereka senang atas perubahan yang Diffa alami saat ini, lebih dewa dan bertanggung jawab atas pekerjaannya, itu semua berkat Mahe dan istrinya.


"sayang, Mamih mau jodohin kamu sama anak nya temen Mamih" ucap Mamih nya Diffa, seketika Diffa terbelalak dan mengganga atas ucapan yang di lontarkan oleh Mamih nya itu.


"Iya nak, anak temen Mamih mu itu seorang CEO, bergerak di bidang tekstil nak" tambah papihnya .


"mih, pih, Diffa mau cari calon sendiri, ngga mau di jodohin..!!"


"kamu ketemu dulu saja nak, nanti setelah itu terserah kamu, mau lanjut atau tidak"

__ADS_1


"mihhh, Diffa bilang ngga ya ngga mih, pih" Diffa langsung beranjak dari kursi nya dan meninggalkan makan malam yang belum di tuntaskan ya.


"Pih, gimana ini? Mamih takut Diffa masih suka sama tuan Mahendra, pih"


"Mamih tenang aja ya, nanti kita bicarakan lagi, sekarang habiskan dulu makannya"


"Hem, iya pih"


********


"sayang, kamu lagi apa, ko sibuk bangat sih, mas di cuekin nih" ucap Mahe ke nindy yang dari tadi bergelut di dapur.


"ini mas ku sayang, Nindy lagi buat browniss almond kesukaan mas, dan ini juga nindy buatkan mas kopi special buat mas" sahut Nindy sambil membawa nampan yang berisi kue brownies dan kopi untuk Mahe, setelah nya Nindy duduk di sebelah nya Mahe.


"terimakasih sayang, kamu selalu manjakan mas trus ya, tapi mas jarang ada waktu buat kamu, maavin mas ya sayang, nanti kita pergi berlibur ya ke Bali, kamu maukan?"


"emm mau bangat mas, itung itung kita bulan madu" sahut Nindy malu karna menyebutkan bulan madu di depan Mahe, seketika Mahe tersenyum senang melihatnya.


"apa, apa, istri mas bilang apa tadi, bulan madu?" goda Mahe dan itu sontak saja membuat muka nya Nindy seperti kepiting rebus.


"massss, ishh jahat" sahutnya membuang pandangan nya ke arah lain.


"hahahaha" Mahe tertawa terbahak bahak melihat ni Dy yang merajuk dan salah tingkah.


"ko malah ketawa sih" protes Nindy, sontak Nindy mencubit perutnya Mahe yang kotak kotak bak roti sobek itu.


"aw aw ampun sayang, sakit, iya mas ngga akan tertawa lagi, tapi jangan cemberut gitu dong, kan mas jadi gemesss bangat sama kamu , sayang" ucap Mahe sambil memeluk Nindy dan mencubit pipinya yang cabi dengan lembut.


"yuk sudah malam, mas ngantuk sayang, mau Bobo nya sambil peluk peluk kamu" ucap Mahe langsung di anggukan oleh Nindy dan tersenyum ke arah Mahe.


sesampainya di kamar, Mahe langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Nindy, seketika bibirnya menyatu dengan bibir nya Nindy, lembut kenyal. dan bikin candu, iya itu yang Mahe rasakan setelah pernikahan mereka beranjak di bulan ke 3, masih se umur jagung, masih manis manis nya.


Ciumannya semakin lama semakin menuntut dan ingin lebih hanya sekedar ciuman saja, dan terjadilah yang harus nya terjadi "trimaksih sayang" ucap Mahe mencium kening Nindy dengan lembut.


Selesai ritualnya, Mahe dan Nindy terlelap, sambil Mahe memeluk erat pinggang Nindy.


Berasambung..


\=\=\=\=\=\=❤️❤️❤️\=\=\=\=❤️❤️\=\=\=❤️❤️❤️\=\=\=\=❤️❤️\=\=\=\=\=


salam sayang dari author 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2