
Beberapa Minggu kemudian, setelah kejadian malam itu, baik Diffa mau pun Mahe tak saling bertemu, Mahe tidak bisa melupakan malam itu begitu saja, karna pada malam itu, Mahe merasa mengkhianati istrinya.
flashback on
"sayang, maavin mas, maavin mas, sayang" ucap Mahe pada Nindy, dengan mata yang berkaca kaca.
"mas" sahut Nindy dengan suara serak bangun tidur.
"Hay sayang, kenapa bangun? tidur lagi ya, ini masih sangat gelap sayang" ucap Mahe sambil memaksakan tersenyum ke arah Nindy.
"mas dari mana?, ko handphone nya ngga bisa di hubungin?"
"Mas ke asikan sayang, ngobrol sama rekan bisnis mas, trus pulang nya ban mobil mas bocor, mau tak mau kan mas harus ganti dulu" bohong Mahe.
Nindy menajam kan mata nya "Nindy tau, mas Mahe sedang berbohong, tapi apa yang di sembunyikan?" batin Nindy.
"syukur mas, Nindy cemas karna mas susah di hubungin" sahut Nindy dan langsung memeluk Mahe dengan erat
flashback off
Mahe belum sanggup untuk menceritakan nya ke Nindy, Mahe sangat mencintai istri nya, Mahe takut kalau Nindy tau soal malam itu, Nindy akan meninggalkan Mahe, "ngga ngga boleh terjadi" batin Mahe sambil menggelengkan kepalanya.
"mas, mas kenapa? kaya nya mas banyak pikiran ya akhir akhir ini?" tanya Nindy cemas
"ah, iya sayang, mas lagi banyak kerjaan di kantor" bohong Mahe.
*********
Mahe sangat cemas melihat kondisi Nindy saat ini, karna tiba tiba Nindy task sadarkan diri, Mahe panik, dengan gerak cepat membawa Nindy ke rumah sakit.
"Gimana dok, istri saya?" tanya Mahe ke dokter yang menangani Nindy.
"Istri anda tidak apa apa tuan, hanya kelelahan, dan butuh banyak istirahat yang cukup" sahut dokter wanita tersebut.
"Ngga apa apa gimana dok, istri saya tak sadar kan diri, dokter bilang ngga apa apa?" emosi Mahe.
Dokter tersebut tersenyum ke arah Mahe dan mulai memberi pengertian.
"Begini tuan, dalam kondisi seperti ini memang sering terjadi, di semester awal tidak boleh stres atau terlalu lelah, karna bisa mempengaruhi janin yang ada di rahin istri anda, tapi anda tidak perlu khawatir tuan, karna istri anda baik baik saja dan janin nya juga kuat" sahut dokter panjang lebar, membuat Mahe menautkan alis nya karna bingung.
"Janin?, sementara awal? Hamil?, tunggu, tunggu maksud dokter istri saya HAMIL?" tanya Mahe dengan super kaget nya, menekan kata hamil.
"Benar tuan, istri anda hamil, usia kandungannya sudah memasuki 9 Minggu, jadi tolong di jaga dan di perhatikan pola makan dan kesehatan ibu dan si jabang bayi nya tuan"
"Baik dok, baik, terimakasih" sahut Mahe senang, dengan mata berkaca kaca, dokter hanya tersenyum melihat Mahe yang senang mendengar Nindy tengah mengandung anak nya.
******
"sayang, kamu harus hati hati turun tangga nya, apa kita pindah saja di kamar bawah dan di perluas, agar kamu bisa nyaman?" ucap Mahe
"Ngga perlu mas, Nindy akan hati hati, jika ingin pindah yuk kita pindah, tapi tidak perlu di perluas, karna kamar yang di bawah sudah sangat luas mas"
"ah, baik lah"
"Anak ayah, jangan buat bunda kerepotan di dalam sana ya, kasihan bunda nya" Mahe berbicara dengan perut Nindy yang mulai terlihat buncit, dan sambil mengelus pelan dan penuh cinta.
"siap ayah" sahut Nindy menirukan suara anak kecil, seketika Mahe tersenyum ke arah Nindy.
"sayang, mas kerja dulu ya, jaga anak kita baik baik, ingat !! jangan terlalu cape ya?"
"iya mas ku sayang" sahut Nindy manja
Mahe berangkat kerja seperti biasa, tapi perasaannya gelisah dan tak ingin jauh dari istrinya.
"kenapa dengan ku, perasaan ku jadi tak tenang" gumam Mahe terdengar oleh asisten Aji.
"tuan, apa tuan baik baik saja?"
"perasan ku ko ngga enak ya, pikiran ku ke istriku trus" sahut Mahe dengan nada cemas.
__ADS_1
"Aji, tolong suruh Mega ke rumah ku ya, jaga Nindy dan laporkan semuanya ke saya?"
"baik tuan"
"nin, kamu apa kabar, sehat kan?" ucap Mega setelah tiba di rumah Nindy dan Mahe.
"aku sehat Mega, Dede nya juga sehat, aktif lagi" sahut nya sambil tersenyum.
"Syukur nin, kalau kamu sehat, aku kangen sama kamu, semenjak tau kalau kamu hamil, aku seneng bangat, tapi mau ke sini aku malu, sama tuan Mahe"
"Ko malu sih, mas Mahe sudah menganggap kamu keluarga ku, Kaka ku Mega"
"iya iya, karna belum terbiasa kali ya, jadi masih sungkan"
Nindy dan Mega masih lanjut mengobrol setelah makan siang nya, beruntung Nindy bisa makan apa aja, tidak ada kendala soal nafsu makan nya.
Lagia asik mengobrol, bi Ani datang menyampaikan bahwa ada tamu wanita cantik, di ruang tamu.
"non, ada tamu untuk non Nindy"
"Siapa bu?"
"ngga tau non, kalau tidak salah namanya non Diffa, non"
"Diffa, untuk apa dia ke sini nin?" tanya Mega
"Entah lah" jawab nya sambil mengangkat bahunya pelan
"Bu, buatin minum sama bawakan cemilan untuk tamu Nindy ya bu"
"baik non"
Nindy dan Mega menuju ruang tamu yang tidak jauh dari tempat Nindy dan Mega mengobrol.
"selamat siang nona Mahendra" ucap Diffa mengulurkan tangannya, dan mata Diffa tak sengaja melihat ke perut Nindy yang membuncit.
"siang nona Diffa, apa kabar?, silahkan duduk" sahut Nindy mempersilahkan Diffa duduk, dan Nindy pun ikut duduk di sebrang Diffa bersama Mega.
"apa ada hal penting apa, sampai nona Diffa datang menemui saya?"
"emm, begini nona, saya mau menyampaikan, sesuatu kepada anda nona" dengan pura pura sendu di setiap ucapan Diffa yang dia sampaikan ke Nindy.
"sesuatu? sesuatu apa ya?" tanya Diffa penasaran
Tanpa sepengetahuan Nindy dan Diffa, Mega merekam percakapan mereka berdua, karna Mega di utus untuk melaporkan apa saja yang menyangkut Nindy ke Mahe.
"Begini nona, sa saya ha hamil nona" dengan mata yang berkaca kaca dan mulai meneteskan air mata nya setelah menjawab pertanyaan Nindy.
"Hamil? bagus donk nona Diffa, selamat ya, saya juga sedang hamil, tapi tunggu, kenapa kamu bersedih, nona?" Nindy heran, "Biasanya kalau hamil pasti senang kenapa malah Diffa bersedih?" batin Nindy.
"saya sedih, karna saya takut, ayah dari bayi yang saya kandung tidak mengakui nya" ucapannya di buat se dramantis mungkin.
"kenapa begitu?, memang berapa usia kandungan mu?"
"karna ayah nya tidak menginginkan saya, usia kandungan saya menginjak 7 Minggu nona"
Usia kandungan Nindy saat ini 14 Minggu.. ya gaesss ðŸ¤
"Saya turut prihatin nona Diffa" ucap Nindy dan berjalan ke arah Diffa dan duduk di samping nya sambil menggenggam erat jemari Diffa, Nindy merasa kasihan sama Diffa.
Nindy belum tau, anak yang di kandung Diffa adalah anak Mahe, iya anaknya Mahe pas malam itu, Mahe menumpahkan pelepasannya di dalam, sampai beberapa kali pelepasan.
"nona, apakah bisa bantu saya?" tanya Diffa dengan senyum licik yang tak terlihat.
"ah, bantu?, bantu apa nona?, jika saya bisa, saya akan bantu"
"Tolong bilang ke ayah anak ini, suruh dia tanggung jawab" ucapan Diffa membuat Nindy semakin bingung, karna Nindy tidak tau menahu soal ayah dari anak yang di kandung Diffa.
"memang nya, siapa ayah dari anak yang kau kandung? bertanya dengan hati hati takut jika Diffa tersinggung.
__ADS_1
Diffa mengeluarkan amplop dari dalam tas mahalnya, dan memberikan nya ke pada Nindy, Nindy menerima dan membuka isi nya, seketika mulut nya menganga dan membelalakkan mata nya,, mata Nindy berkaca kaca dan seketika tumpah juga air matanya, dengan tangan gemetaran dan bibir ikut bergetar menyebut kan nama suami nya yang ada di foto tersebut dengan ke adaannya tanpa sehelai benang pun.
Mega langsung mendat ke Nindy, dan melihat apa yang Nindy pegang, Mega pun tak kalah terkejut dengan yang di lihat oleh Nindy.
"Maksud kamu apa ini semua?" bukan Nindy yang bertanya melainkan Mega, dengan nada yang kesal
"Jangan ikut campur, dengan urusan ku" sahut Diffa tak kalah kesal.
"Nindy, sahabat ku, jadi aku berhak tau apa yang terjadi"
"Baiklah, aku akan ceritan kan semuanya" sahut Diffa santai, yang awalnya nangis Bombay sekarang keluar wujud aslinya.
Diffa menceritakan semua nya, tapi tidak dengan dia menaruh obat perangsang ke dalam minuman Mahe, dan Diffa menambahkan jika Mahe memperkosanya dan memaksanya melakukan itu sampai berulang kali.
Mega tidak langsung percaya dengan ucapannya Diffa, akan tetapi Nindy langsung tak sadarkan diri, setelah mendengar pengakuan Diffa.
Mega yang panik langsung menelepon asisten Aji, untuk datang ke rumah, karna kondisi Nindy yang menghawatirkan, sedangkan Diffa, dia bersikap tenang, acuh tak acuh.
"hahaha, rasakan kau Nindy, biar sekalian kau mati bersama anak yang kau kandung" batin Diffa tertawa puasss.
*******
Setelah di periksa oleh dokter, dan kondisi nya baik baik saja serta anak yang di kandungan nya sehat, Mahe merasa lega, akan tetapi Nindy belum sadarkan diri, karna pengaruh obat yang di berikan oleh sang dokter.
"Apa yang kau lakukan, sama istri ku hah?" tanya Mahe emosi dengan mata yang menyalang.
"Aku tidak melakukan apa apa, aku hanya berbicara jujur padanya" sahut Diffa membela diri.
"Jujur?, jujur soal apa?" masih dengan emosi tanya nya
"Jujur soal, aku hamil anak mu" sambil tersenyum puas di hati.
"A apa, ka kau ha hamil?" tanya nya terbata dan panik
"Iya, aku hamil, hamil anak mu, anak kita" sahut nya sendu, tapi di hati tertawa
"Aku tidak percaya" Mahe mengelak
"Terserah, kau percaya atau tidak, aku hamil anak mu 7 Minggu, dan kamu hitung saja, kapan kita melakukannya, karna kamu melakukannya berulang kali, maka dari itu, tertanam benih di rahim ku, yaitu anak mu Mahendra"
Mahe tak dapat berfikir jernih, dia kelihatan kacau sekali, pada saat waktu bersamaan, orang tua dari Diffa datang ke kediamannya.
"Selamat malam tuan Mahendra" papi Diffa
"malam tuan" sahut nya
""maav, malam malam datang berkunjung ke rumah mu tuan Mahendra"
"ah, iya tak apa tuan, saya tidak merasa di repotkan"
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu, termasuk Nindy dan Diffa, Nindy sudah siuman pada sat sore. tadi, dan Mahe sudah menjelas kan semuanya, sampai Mahe mengeluarkan bukti bukti yang sudah di dapat oleh asisten Aji.
"Begini tuan dan nyonya Mahendra, anak saya Diffa telah mengandung anak anda, dan info yang di berikan Diffa bahwa dia telah di lecehkan oleh anda pada saat pesta tuan Teguh" ucapan Papih nya Diffa
"sebelum nya saya minta maav atas kejadian itu tuan, tapi saya di jebak oleh putri anda sendiri"
Papih dan Mamih nya Diffa sontak terkejut dengan penuturan Mahe, termasuk Diffa dia membelalakkan matanya.
"sialan, tau dari mana dia" batin Diffa.
"Apa? di jebak?" sahut Papih dan Mamih Diffa bersama.
"iya tuan, Diffa mencampur kan obat perangsang ke dalam minuman yang dia berikan ke saya" ucap Mahe tegas
Mahe mencerikan semua yang terjadi, dan memberikan bukti rekaman CCTV nya ke mereka yang di perlihatkan oleh Mahe.
Orang tua Diffa langsung menatap tajam anak semata wayangnya, walaupun dia tau bahwa anaknya terobsesi dengan Mahe, tapi mereka tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
"tuan, saya sudah membicarakan nya dengan istri saya dan istri saya menyarankan untuk saya menikah siri oleh putri anda, karna anak yang di kandung Diffa tidak tau apa apa tentang masalah orang tuanya"
__ADS_1
"Dan setelah saya dan Diffa menikah, Diffa tidak bisa tinggal sama kami, untuk nafkah lahir saya akan berikan tapi tidak dengan nafkah batin, dan satu hal lagi, setelah anak ini lahir saya akan mentalak Diffa, tapi saya akan tetap bertanggung jawab oleh anak saya yang Diffa kandung, itu permintaan saya" ucap Mahe mengutarakan ke inginanya
Tapi Diffa melak hal tersebut, dia ingin tinggal bersama sebagai syarat, kalau nanti dia mau di talak setelah melahirkan anaknya.