PRIA TAMPAN SEDINGIN ES

PRIA TAMPAN SEDINGIN ES
Bab 17


__ADS_3

Salam sayang dari author 🤗🤗🤗


Untuk kisah asisten aji dan Mega nanti ya gaesss di judul yang berbeda dan lebih seru karna banyak perbedaan dan pertentangan dari orang tau, konflik nya banyak, romansanya juga ngga kalah seru..


Untuk Diffa ada di bab ini ya, apa yang akan terjadi dengan Diffa dan Mahe, karna lebih seru dan lebih membuat hati Nindy se akan sakit di buatnya.


Jangan lupa like dan koment ya 🤭❤️🌹


\=\=\=\=\=\=\=❤️❤️\=\=\=\=\=❤️❤️\=\=\=\=❤️❤️\=\=\=\=❤️❤️\=\=\=\=\=\=


"maav tuan, hari ini ada undangan di hotel grand, pesta pertunangan anak dari tuan Teguh" ucap asisten Aji yang mengingatkan jadwal nya, karna Minggu lalu mendapatkan undangannya.


"Hem, baik lah, saya datang dengan istri saya" sahut Mahe


"baik tuan, dan untuk jam 10 pagi ini, kita ada meeting tuan dengan para staf tuan, untuk membahas proyek proyek yang sedang berjalan"


"oke, siapkan semuanya"


"siap tuan"


Setelah bergelut dengan pekerjaan yang menguras waktu, akhirnya Mahe pulang kerumah lebih cepat dari biasanya,karna ada undangan pesta, Mahe ingin mengajak sang istri ke acara pesta tersebut.


"sayang, sayang kamu dimana?" ucap Mahe yang tak melihat istrinya merasa khawatir.


Mahe langsung menuju kamar nya, dan benar saja, sang istri sedang tidur, Mahe melihat wajah sang istri pucat saat dia melangkah mendekat dengan sang istri.


"sayang, hey sayang, kamu kenapa? ko pucat sekali?" tanya nya


" emm, ngga apa apa mas, Nindy hanya lelah dan kayaknya Nindy masuk angin mas, rasanya pusing dan mual bangat, mas" sahutnya pelan dengan mata sayu nya.


"Dari kapan? tadi pagi kamu baik baik saja, sayang pas mas berangkat kantor"


"Baru mas, setengah jam lalu"


"kenapa ngga telp mas, sayang?"


"Nindy sudah agak mendingan mas"


"kita ke dokter ya, atau mas telpon doktenya agar ke sini?" bujug Mahe


"ngga usah mas, Nindy sudah enakan ko"


"Beneran?, mas ko jadi cemas ya sayang?"


"Iya mas, bener, cemas kenapa mas?"


"Ya mas cemasin kamu dong sayang"


"hehehe, iya mas, terimaksih ya mas, tapi bener Nindy sudah ngga apa apa, jadi jangan khawatir ya"


"emm" perasaan Mahe agak sedikit gelisah, tapi tidak tau apa, mungkin tentang ke sehatan Nindy kali ya, pikir Mahe.

__ADS_1


"sayang, mas nanti malam ada undangan pesta di hotel grand, rekan bisnis mas, pak Tegun anaknya tunangan sayang, mas tadinya mau ajak kamu,, tapi kayaknya kamu butuh istirahat sayang, apa mas ngga dateng saja ya, sayang?" Mahe mulai bernego, agar Nindy tidak memperbolehkannya pergi.


"mas, mas ngga boleh gitu, yang namanya undangan itu wajib sayang, dan mas berangkat sendiri saja ya ngga apa apa kan??"


"iya deh, mas berangkat, mas bersih bersih dulu ya, oh iya kamu sudah minum obat belum? sudah makan belum?"


"Sudah mas, mas ngga usah khawatir ya"


"iya sayang" Mahe langsung menuju kamar mandi, setelah rapih, Mahe izin pada sang istri tercintanya dan pergi ke acara pesta tersebut.


Sesampainya di pesta Mahe bertemu dengan rekan rekan yang lain, asisten aji tidak bisa hadir karna orang tua aji sedang sakit dan di rawat di rumah sakit.


jadinya Mahe hanya sendiri ke pestanya pak Tegun.


pikiran Mahe tertuju ke Nindy, walupun dia sedang ngobrol sama teman bisnisnya tapi rasa gelisah nya semakin mendalam, dan untuk pulang cepat pun Mahe tidak bisa, karna acara baru saja di mulai, Mahe tak enak dengan pak teguh dan yang lainnya.


Diffa juga berada di pesta yang sama dengan Mahe, dia juga di undang di acara pertunangan anak nya pak teguh.


Tidak sengaja mata Diffa melihat sosok Mahe, sedang mengobrol dengan teman bisnis nya, pikiran jahat Diffa kembali lagi, entah cinta atau ambisi yang mendominasi nya.


Diffa sudah menaruh sesuatu ke dalam minuman Mahe, untuk di berikan ke Mahe, agar Mahe masuk perangkap nya, Diffa sudah melupakan persahabatannya dengan Nindy,yang ada di otak dan pikirannya hanya ada Mahe dan Mahe saja.


"selamat malam" ucap Diffa dengan 2 gelas minuman di tangan kanan dan kirinya.


"malam, oh nona Diffa, apa kabar?" sahut Mahe


"aku baik, kamu sama siapa di sini, apakah sama Nindy?" padahal Diffa sudah tau, kalau Mahe ke sini sendiri.


"ah aku sendiri, Nindy sedang kurang enak badan"


"Istriku tidak mau, katanya sudah enakan" ada guratan sedih di mata Mahe, tapi Diffa tidak perduli, Yang dia perduli kan saat ini hanya bisa bersama Mahe.


"ah seperti itu, semoga cepet sembuh ya"


"Hem, terimaksih nona Diffa"


"oh iya, ini minum biar merasa lebih baikan, hanya minuman bersoda tanpa alkohol" tawaran Diffa, tanpa curiga Mahe menerimanya dan meminum minuman itu sampai tandas, karna Mahe memang agak kering tenggorokan nya karna terlalu banyak mengobrol.


Ada yang aneh, yang Mahe rasa di tubuhnya, tiba tiba tersa panas dan berkeringat di kening Mahe.


"kenapa aku ini, kenapa panas sekali" batin Mahe gelisah.


Diffa yang melihatnya tersenyum senang, rencananya berjalan sempurna.


"kamu kenapa?, kanapa berkeringat?" ucap Diffa pura pura cemas.


"tidak tau, tapi terasa panas dan ada yang aneh di tubuh saya" sahut Mahe sambil mengendurkan dasi nya.


"ah seperti itu, kalau begitu kita istirahat saja dulu, nanti aku antar kamu pulang setelah istirahat, bagai mana?"


"ah baik lah, sepertinya saya juga ngga bisa nyetir dalam kodisi seperti ini"

__ADS_1


Diffa sudah memesan kamar hotel lewat telpon, sebelum menjalan kan ide jahat nya.


Di tempat berbeda, Nindy merasakan ke gelisahan, entah lah yang pasti pikirannya semakin kacau, dan tertuju ke suaminya, takut terjadi apa apa sama suaminya.


Nindy mencoba menghubungi handphone nya Mahe, tapi malah tidak aktif, semakin cemas tentang keberadaan suaminya, Nindy menelpon asisten Aji untuk menanyakan tentang Mahe.


"hallo"


"hallo nona, ada yang bisa saya bantu?" sahut asisten Aji di sebrang sana.


"ah iya, maav merepotkan, apakah mas Mahe sedang bersama mu, asisten Aji?" terdengar cemas suara nya Nindy di telinga Aji.


"maav nona, saya tidak ikut dengan taun Mahe, karna ayah saya sedang di rawat di rumah sakit"


"ah baik lah, terimakasih, salam buat ayah asisten Aji, semoga lekas sembuh"


"terimakasih nona"


Nindy semakin gelisah, karna Mahe masih belum biasa di hubungi, sedangkan asisten Aji menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan tuan nya, inisiatif aji dengan herak cepat, karna aji pun merasa khawatir dengan tuan nya.


Balik ke Diffa


Mahe dan Diffa sudah ada di kamar hotel yang di pesan Diffa, Mahe merasakan badannya semakin panas, tanpa sadar Mahe melepas semua baju dan celana nya hanya tersisa boxer saja, Mahe yang tadinya mau masuk kamar mandi di urungkan nya, karna Mahe melihat Diffa tanpa mengenakan baju, hanya tersisa "bra" dan "cd " saja.


Diffa mendekat secara perlahan ke arah Mahe, Mahe yang sudah terpengaruh dengan obat yang di campur Diffa semakin tak terkendali, Diffa menyentuh tangan Mahe dengan lembut, di tautkan jemari Diffa ke jemari Mahe, Mahe merasakan hawa dingin masuk ke tubuhnya seketika.


Tangan Diffa menarik tangan Mahe untuk menyentuh tubuh Diffa. "dingin, sejuk" batin Mahe


"Mahendra sayang, sentuh lah semau mu, aku milik mu malam ini, sayang" ucap Diffa dengan suara yang di buat se seksi mungkin.


Dengan gerakan perlahan, Mahe menyentuh tubuh Diffa dan memeluk nya erat, Mahe mulai menggila, ada glayer berbeda di tubuhnya, dengan rakus Mahe mencium bibir Diffa dan Diffa membalas dengan tak kalah bringas nya.


Diffa menuntun Mahe ke ranjang, dan menjatuhkan Mahe di tempat tidur king size tersebut, Diffa sudah berada di atas Mahe, menyentuh tubuh sisfack nya, tangan Mahe menjamah tubuh Diffa dengan tak sadar menenggelamkan wajah nya di dada nya Diffa.


Dan terjadilah yang se harus nya tak terjadi, berapa kali Mahe pelepas dengan nafsu yang tak terkendali, Diffa marasakan tubuhnya seketika remuk, tapi Diffa puas atas permainan ranjang nya.


Tepat pukul 3.00 dini hari, Mahe terbangun dari tidur nya, dengan mengumpulkan kesadarannya, mata Mahe mulai membuka lebar saat dia melihat, bahwa dia berada bukan di kamar nya malah di tempat lain, Mahe mengedar kan pandangannya, seketika mata membulat saat melihat ada seseorang di samping nya, Mahe membuka selimutnya dan terkejut karna tidak memakai sehelai benang pun.


Mahe masih menerka siapa kah wanita di samping nya, yang pasti bukan Nindy istrinya.


Tangan Mahe gemetar, saat akan membalikan tubuh wanita yang membelakanginya dengan bahu yang Ter ekspos tanpa sehelai benang pun juga.


Mahe membelalakkan mata nya, pada saat melihat Diffa yang ada di samping nya. Mahe langsung macari pakainya dan memakai nya, dengan gerak cepat Mahe langsung keluar dari kamar hotel tersebut.


Diffa masih terlelap karna lelah, hasil dari pertempurannya dengan sang pujaan hati nya.


sesampainya Mahe di rumah, Mahe langsung masuk ke kamarnya, Mahe melihat istrinya terlelap dengan mata sembab dan memegang handphone yang di peluk nya, Mahe membersihkan diri di bawah shower, mandi dengan air dingin, Mahe masih mengingat kejadian semalem, dia frustasi karna telah mengkhianati istri tercinta nya.


"sial, sial, w di jebak sama Diffa, brengsek Diffa" umpat Mahe.


Setelah ritual mandinya selesai, Mahe langsung merebahkan dirinya di samping Nindy dan memeluk nya erat, seketika air mata nya terjun bebas, karna merasakan rasa bersalah yang hebat, iya benar benar hebat.

__ADS_1


"sayang, maavin mas, maavin mas, sayang, mas udah melakukan dosa besar, mas di jebak sayang" ucap Mahe pelan.


Bersambung


__ADS_2