PRIA TAMPAN SEDINGIN ES

PRIA TAMPAN SEDINGIN ES
Bab 21


__ADS_3

Hari Nindy sudah di bolehkan pulang dari rumah sakit, bersama anak nya, karna kondisi nya juga sudah mulai stabil, RAFAEL PUTRA MALIK, iya Rafael nama anak mahe dan Nindy, sungguh nama yang indah.


Sesampainya di rumah mereka, Nindy dan Rafael di sambut gembira oleh Mega, asisten aji, Bu sari dan bi Ani, mereka membuat ruang keluarga menjadi indah, karna di hias dengan begitu cantik nya.


Wellcome to baby Rafael & bunda Nindy


Begitu lah tulisan yang ada di didinding ruang tamu, dengan banyak balon berwarna biru laut,, sungguh bahagianya Nindy, karna masih ada yang sayang sama dia, walaupun sudah tak memiliki orang tua.


Rafael langsung di ambil alih oleh Bu sari, iya Bu sari pemilik kontrakan tempat tinggal Nindy dahulu, Bu sari sudah menganggap Nindy anak nya sendiri, begitupun sebalik nya.


"Selamat ya nin, aku seneng kamu sudah pulang, dan membawa jagoan kita semua ikut serta" ucap Mega sambil memeluk Nindy dengan lembut.


"Iya, aku seneng bisa kembali ke sini, dan aku juga bahagia kalian sayang sama aku" dengan mata yang berkaca kaca, sedetik kemudian tumpah ke pipi nya tanpa ampun.


"heyy, jangan menangis, kita semua sayang sama kamu dan Rafael, terlebih lagi suami kamu, Nin" sambil menghapus air mata nya Nindy dengan ibu jarinya dan mencium kening Nindy.


"Aku menangis bahagia, aku terharu, bukan karna aku sedih, Kaka ku yang cantik" sahut Nindy ke Mega, karna Nindy menggapainya Mega sebagai Kaka kandung nya sendiri.


"Sudah, hayu kita duduk dulu"


Kebahagian Nindy melupakan keberadaan Diffa, tapi beberapa waktu kemudian,Nindy ingat akan Diffa, pandangan nya trus menyapu ruangan tersebut, tapi tidak ada tanda tanda keberadaan nya.


"mas, Diffa di mana?"


Semua mata tertuju ke arah Nindy, mereka tau kalau Nindy belum di beri kabar soal Diffa, dan tentang musibah yang Nindy dan Rafael alami karna Perbutan jahat nya Diffa.


"hemm, Diffa sedang pulang ke rumah Papih dan maminya, sayang" sahut Mahe setelah memberi kode ke mereka semua, Mahe mengusap lembut kepala Nindy dengan penuh kasih dan sayang.


"oh, tumben mas, memang nya ada apa, sampai Diffa pulang?" tanya Nindy dengan tidak ada curiga sedikit pun, karna mereka semua menutupinya dengan sempurna.


"Papih, Mamih nya kangen, sayang, jadi di jemput oleh mereka"


"emm, baik lah"

__ADS_1


Suka cita mereka di barengi dengan makan siang yang sangat bahagia, lengkap dengan canda tawa mereka.


*****


Hari demi hari kebahagiaan tiada henti, setelah hadirnya Rafael di antar Mahe dan Nindy, pipi embul, bikin gemess, saling membatu merawat Rafael, karna Nindy tidak mau pakai baby sister,, Nindy mau merasakan merawat Rafael, perkembangan nya, masa aktifnya, celotehan nya, itu membuat dia semakin bahagia mengurus Rafael dengan tangan nya sendiri.


"Mas, ko Diffa ngga pulang pulang?" tanya Nindy.


"Eemmm, mas ngga tau sayang" sahut nya gugup, karna sudah lebih dari sebulan ke pulangan Nindy, Diffa tak kunjung kembali, tidak ada kabar atau apapun itu yang menyangkut Diffa.


"Mas sudah ajak Diffa untuk pulang belum?"


"Sudah sayang, Diffa nya ngga mau, masih betah katannya di rumah Papih Mamih nya" sahut Mahe bohong.


"oh begitu, ya sudah, tapi mas, apa kandungan Diffa baik baik saja?"


"baik sayang" jawab seadanya.


******


"Ah iya, malam, ada nyonya, silahkan masuk nyonya, nanti saya panggil kan tuan" sahut bi Ani agak panik, pasalnya non Nindy ada di rumah, bisa gawat kalau sampai tau, bahwa non Diffa di penjara.


"Baik bi terimakasih bi" Mamih dan papih Diffa sudah duduk di sofa ruang tamu, wajah Papih dan Mamih nya Diffa, jangan di tanya lagi, kacau, sedih, memprihatinkan itu semua karna memikirkan Diffa yang di penjara dan sedang hamil juga, karna kasus mencelakakan Nindy dan bayi nya.


tok tok tok


"Tuan"


"Ada apa bi?" tanya Mahe setelah membukakan pintu kamar nya.


"Tuan, di bawah ada orang tuan non Diffa" ucap bibi pelan, takut Nindy dengar.


"Apa, mereka ada di sini bi?" terkejut Mahe,

__ADS_1


"Iya tuan"


"oke bi, bibi jaga Nindy di sini jangan sampai dia keluar kamar ya"


Mahe masuk ke dalam kamar dan meminta izin ke ruang tamu, karna ada rekan bisnis nya yang datang untuk membicarakan soal kerja sama, bohong nya.


"Pih, Mih, ada apa malam malam ke sini?" Mahe tetap sopan sama orang tua Diffa.


"Nak, Papih mohon, keluarkan Diffa nak dari penjara, kasihan Diffa nak, dia lagi mengandung anak mu" ucap Papih Diffa dengan memohon dan mata nya berkaca kaca, sedang kan Mamih nya Diffa sudah banjir air mata.


"Pih, Mih, saya minta maav, saya ngga bisa keluarin Diffa dari penjara"


"Kenapa nak, Diffa sudah sebulan di sana, apa kamu tega nak sama anak kamu, nak Mahendra?"


"Diffa Pih, Diffa yang tega sama Nindy dan anak saya yang Nindy kandung, Nindy kurang apa pih,mih? dia rela berbagi suami, dia rela memberikan separuh waktu saya untuk Diffa, tapi apa yang Nindy dapat, celaka, hampir merenggut istri dan anak saya" ucap Mahe panjang lebar dan tegas, karna emosi sama kedua orang tua Diffa yang terus saja meminta anak nya di bebaskan.


"Ma maksud mas a apa? Diffa kemana mas? ucap Nindy yang terkejut atas ucapan Mahe dengan orang tua Diffa, iya Nindy dengar hanya ucapan Mahe saja, karna Nindy penasaran, siapa tamu yang datang malam malam, ngga biasanya rekan mas Mahe ke rumah.


"sa sayang" gugup Mahe


sedangkan orang tua Diffa, melihat Nindy ada di depan mereka, mereka merasa senang, karna pada akhirnya ada yang akan bisa bujuk Mahe untuk membebaskan dan mencabut laporan nya Diffa, sudah hampir satu bulan, orang tua Diffa ingin menemui nya, tapi apa daya, Mahe selalu melarang mereka untuk bertemu dengan Nindy.


"Mas, katakan dimana Diffa, mas?" tanya Nindy lagi


"Diffa, di penjara nak" buka Mahe yang menjawab, melainkan Mamih Diffa.


"A apa? di di penjara?" sahut Nindy terkejut "Tapi kenapa?" ucap nya lagi.


"Diffa sudah mencelakai kamu, sayang" Mahe angkat bicara.


"maksudnya?" Nindy belum faham sama ucapan Mahe.


Mahe menceritakan semua kejadiannya, saat Nindy di buat celaka sama orang suruhan Diffa.

__ADS_1


Bersambung


jangan lupa like dan koment ya ❤️🌹


__ADS_2