PRIA TAMPAN SEDINGIN ES

PRIA TAMPAN SEDINGIN ES
Bab 22


__ADS_3

"non, maav non Diffa, ada tamu yang mencari non Diffa" ucap bi Ani.


"siapa sih" sahut nya kesal.


"bibi ngga tau non"


"hemm, suruh tunggu sebentar"


"baik non"


Diffa kembali ke kamarnya untuk melihat penampilan nya di cermin, di kira nya sudah rapih, Diffa langsung menuju ke ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, Diffa terkejut karna ada 2 orang petugas dari kepolisian.


"Selamat siang nona Diffa" ucap salah satu petugas dari kepolisian.


"si siang, a ada apa ya?" sahut Diffa terbata bata, karna panik melihat mereka.


"nona Diffa, ini surat penangkapan anda, nona Diffa"


"pe penangkapan? atas dasar apa saya di tangkap?"


"nona Diffa, mencoba untuk membunuh seseorang, dengan mengutus orang untuk mencelakai nona Nindy dan anak yang di kandung nona Nindy"


"Apa buktinya hah?" sahut Nindy dengan nada emosi, padahal menutupi kepanikan nya.


"Maav nona, nanti di kantor di jelaskan, mari ikut kami dengan sportif"


"Ngga, saya ngga mau ikut kalian, saya tidak bersalah"


Dengan terpaksa, pihak berwajib memanggil rekan wanitanya yang menunggu di mobil, untuk membawa Diffa dengan paksa.


"Jangan berani sentuh saya" Diffa sudah di bawa paksa tapi dengan hati hati, karna Diffa sedang mengandung.

__ADS_1


Setelah di periksa, Diffa di masukan ke dalam penjara, untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.


Sidang pertama sudah berlangsung, dengan adanya bukti dan saksi, Diffa di kenakan hukuman 7 tahun penjara, karna kena pasal berlapis,, pengacara Diffa mengajukan banding, untuk mengurangi masa tahanan, dan jangan harap bisa bebas, karna semua bukti sudah mengarah ke Diffa, pembunuhan berencana, untuk melenyapkan madunya ( Nindy ).


Kedua orang tua Diffa, terkejut dapat info tentang Diffa yang di tahan, karna kasus pembunuhan berencana dengan mengutus seseorang untuk melenyapkan Nindy dan anak yang di kandung nya.


******


Di tempat lain, Nindy merengek minta di antar ke penjara, untuk menjenguk Diffa, tapi Mahe tidak mengizinkan, dengan berbagai alasan akhirnya Nindy di izinkan, asalkan Nindy berjanji tidak akan memaksa Mahe mencabut laporannya.


Nindy sudah berada di ruang tunggu, untuk menjenguk Diffa, Nindy duduk di kursi ruang tunggu dengan tenang, tapi tidak dengan hatinya, "kenapa Diffa tega sama aku, mengapa sampai seperti ini, apakah dia ingin menguasai mas Mahe seorang diri, jadi dia ingin menyingkirkan aku? , kalau iya tega sekali, tapi Diffa sudah berubah setelah aku membagi mas Mahe sama Diffa, ah aku harus menanyakannya" perang batin Nindy.


Nindy bangun dari kursi nya, setelah melihat Diffa di antar oleh petugas.


"Diffa" ucap Nindy pelan, Nindy melihat Diffa merasa prihatin, raut wajah Diffa begitu kacau, ada lingkar mata di bawah matanya, wajah nya pucat dan, dan Diffa terlihat lebih kurus.


Tanpa Nindy sadari dari ke terkejutan nya, Diffa sudah duduk di bangku depan Nindy.


"Ada apa kamu ke sini, hah? ingin menertawakan aku hah?" ucapan Diffa membuat Nindy sadar dari lamunan nya, dan segera duduk.


"Kenapa kau tidak mati saja hah waktu itu" ucap Diffa dengan perasaan emosi,.


Diffa melihat Nindy, lebih segar, tambah cantik dan anggun, emosi bercampur dendam, karna Diffa merasa Nindy hidup nya bahagia.


"Diffa, aku ke sini ingin menjenguk kamu"


"HAHAHAHA, menjenguk? untuk apa? untuk melihat aku menderita?" Diffa tertawa dan menyahut dengan nada sinis.


"Bukan seperti itu, kamu kenapa ingin membunuhku?, apa salah aku Diff, aku sudah mau berbagi suami dengan kamu, tapi kenapa?" ucap Nindy dengan mata yang berkaca-kaca.


"kamu mau tau?" sahut Diffa di angguki oleh Nindy pelan.


"Aku ingin, Mahendra hanya milik aku, milik anak aku, ngga boleh ada yang memilikinya, termasuk kamu wanita tidak tau diri, miskin dan rendahan, dan kamu tidak pantas dengan nya, hanya aku, hanya seorang Diffa yang pantas, HAHAHAHA" ucap nya lagi, dengan nada yang menyeramkan yang di dengar oleh Nindy.

__ADS_1


"aku ke sini, mau melihat kamu, mau tau apa yang terjadi, ternyata benar kata mas Mahe, kalau kamu emng jahat, aku memang ngga level sama mas Mahe, tapi aku ngga jahat seperti kamu, Diffa, dan aku masih punya harga diri, tapi kamu apa? lihat karna kebodohan kamu, ke serakahan kamu yang ingin menguasai mas Mahe, dan ke egoisan kamu, kamu menderita di balik jeruji, kamu ngga kasihan sama anak yang kamu kandung?, kamu bilang mencintai mas Mahe, ingin dia hanya punya kamu, punya anak kamu, tapi kamu tega Difa, kamu sama saja menyiksa kandungan kamu" sahut Nindy dengan nada pelan tapi menusuk ke hati Diffa dengan ribuan belati.


Iya karna ke egoisan nya, anak yang di kandung ,yang tidak berdosa, yang harusnya dapat kasih sayang, makan makanan yang bergizi, tempat tinggal yang sehat, tapi sekarang apa, yang ada malah tersiksa, keserakahan nya ingin memiliki Mahe, melupakan anak yang di kandung nya, merasa di perbudak oleh amarah dan rasa ingin memiliki se utuhnya.


"Apa kamu tau Diff, orang tua kamu jauh lebih kacau dari kamu, jauh lebih tersiksa dari kamu, dia di permalukan oleh kolega bisnisnya, di rendahkan oleh lingkungannya, kamu tau kenapa?, itu semua ulah kamu Diff, ulah kamu yang egois dan serakah" ucapnya Nindy lagi, agar Diffa ke buka mata hati nya dan menyadari ke salahan nya itu mempermalukan orang tuanya.


"Papih, Mamih kamu sampai merendah kan diri di depan mas Mahe dan aku, agar bisa membebaskan anak nya, anak yang selalu di sayang, anak yang selalu dia manja, anak satu satu nya yang paling berharga dari apa pun, anak yang harus nya bisa membanggakan tapi malah menjatuhkan mereka, sadar Diff, mereka hanya punya kamu, kamu pun sama" ucapan Nindy membuat Diffa mengeluarkan cairan bening nya, masuk ke hatinya.


"pih, Mih, maavin Diffa" ucap nya pelan, tapi masih di dengar oleh Nindy, Nindy yang mendengar nya seketika tersenyum.


"Diffa, apa kamu ingin bebas?, aku akan memohon ke mas Mahe agar mencabut laporan nya, dan menutup kasus nya, asal kamu menyesali perbutan kamu dan tidak akan mengulanginya kembali, aku akan membantu mu" sambil menggenggam tangan Diffa dan mengusap nya dengan lembut, seketika Diffa melihat Nindy dengan tatapan penyesalan.


"Maav kan aku, maav karna telah mencelakai kamu dan anak kamu" sahut Diffa berlinang air mata, Nindy melihat dari mata Diffa, apakah dia menyesal dan sungguh-sungguh, iya Nindy melihat Diffa menyesalinya.


"Aku seneng, kamu menyesalinya, aku akan usahakan agar kamu di bebaskan, kamu tau Diff, aku sudah anggap kamu seperti saudara sendiri, bukan sebagai madu aku, anak aku anak kamu juga karna kamu Mamih nya, dan aku bunda nya, dan anak kamu anak aku juga, aku bunda nya, kita besarkan anak anak kita dengan penuh cinta dan sayang, kita jadikan mereka anak anak yang bertanggung jawab, anak anak yang mandiri, anak anak yang memiliki rasa sayang terhadap sesama, kamu mau?" Diffa mengangguk mantap dan langsung memeluk Nindy dengan erat.


"maav kan aku, aku janji tidak mengulanginya, aku janji akan jadi ibu yang baik juga untuk anak anak kita, aku janji" menangis tanpa Henti di pelukan Nindy.


Mahe dan ke dua orang tua Diffa merasa senang, Nindy bisa menyentuh hatinya Diffa, Nindy uang usianya lebih muda, tapi malah lebih dewasa dan bijak, kedewasaan tidak harus lebih dewasa, buktinya Nindy, pemaav dan bijak dalam segala hal.


Bersambung..


**********


Hay Hay Hay, terimakasih buat yang membaca karya author ya, karya pertama yang membuat hati author dag Dig dug deerrrrr,,, 🤭🤭🤭 bisa di terima kah, atau malah di hujat, itu yang author pikirkan.


Jadi pembaca yang bijak, author kadang merasa kurang dalam membuat nya.


ah bingung mau bilang apa lagi 🤭🤭 yang pasti, bab berikutnya lebih seru dan lebih menarik,


bantu author ya dengan like koment dan vote nya juga boleh🤭🤭 doain juga ya, semoga kontrak nya di terima amin amain ya robal alamin 🤲🤲


salam sayang dari author buat kalian yang sudah koment like dan kasih Hadian buat author 🙏🙏🙏

__ADS_1


🌹❤️🌹❤️🌹❤️🌹❤️


__ADS_2