Prince Of Blacksmith

Prince Of Blacksmith
Awal baru bagi ketiganya


__ADS_3

Di saat Vela kembali terluka cukup parah malam itu, Hanah yang berada dalam diri Vela merasakan ketakutan yang amat dalam.


Namun dalam ketakutan itu, Hanah tidak berhenti berharap dan beberapa kali mencoba membayangkan keberadaan sosok dewi dunia itu maupun sosok yang berkuasa atas ruang dan waktu itu agar ia bisa terbebas dari ruangan itu layaknya beberapa karakter dalam novel fantasi.


" Hmph.... Jadi... Ini yang dirasakan kedua sosok itu ketika ia berada dalam posisi kehilangan kesadarannya kala itu...? " Gumam Hanah sembari mengingat sebuah buku fantasi yang pernah ia baca.


" Hehehe.... Mereka berdua sangat beruntung karena sang author memberikan pertolongannya lewat dewi dunia itu. " Tawanya sesaat ketika membandingkan sosok dirinya dengan karakter utama dari buku fantasi itu.


" Sementara aku... Aku hanya terjebak di ruangan ini tanpa adanya bantuan dari siapapun. " Tambahnya setelah mencoba memanggil sosok dewi atau penguasa dunia itu.


Merasa lelah atas semua percobaanya tidak memberikan sebuah petunjuk sama sekali, Hanah pun memejamkan matanya untuk terakhir kali.


" Nemelesis " Ucap Hanah tanpa ia sadari.


* scriiiiiiingssssss * sebuah cahaya tiba-tiba menyinari jiwa dari Hanah yang terjebak dalam kegelapan itu bersamaan dengan penyihir yang memberikan pertolongan.


" Jadi... Seperti itu penjelasannya? Aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada dirimu, Fany. Tapi... Apakah kamu tidak memikirkan masa depan dari Fran? Jika kamu meminta hal yang bahkan orang normal sekalipun tidak menginginkannya? " Ucap Vela pada penyihir yang sedang terduduk di kursi dekat meja makan.

__ADS_1


" I-iya ka, Se-sebelumnya ak-aku tidak berfikir sejauh itu. Se-sebenarnya yang aku kira sosok Fran yang di juluki penempa gila adalah orang yang benar benar kehilangan kendali atas akal dan pikirannya. " Balas Fany sembari menjelaskan.


Vela sempat marah ketika Fany mengatakan bahwa Fran adalah sosok penempa gila. Namun dari pada terbakar oleh emosinya, Vela hanya menahan amarahnya sembari bersikap seolah itu hanyalah candaan.


" Namun, ka. Ak-aku salah menilai sosok Fran. Para penduduk maupun petualang yang menjuluki Fran sebagai sosok tadi, merupakan sebuah siasat untuk memanfaatkan kepolosan dari Fran yang pekerja keras seperti yang kaka bilang sebelumnya. " Tambah Fany sembari menundukkan kepalanya.


" Hm...?! Jadi... Yang dikatakan Lela itu benar? Fran sering di tipu mengenai harga jual yang sebenarnya dari barang yang telah ia kumpulkan " Gumam Vela sesaat sembari menyelesaikan masakannya yang baru.


" Fany, aku senang kamu akhirnya menyadari hal itu. Namun... Kamu masih belum menjawab pertanyaanku tadi. " Ucap Vela sembari menyajikan piring bersisi makanan ke atas meja makan.


" Fuyuyuh.... Mandi air dingin setelah berburu itu memang menyegarkan... " Fran tiba-tiba muncul dengan hanya memakai handuk di tubuh nya.


" Apalagi jika setelah mandi, ada kaka yang sudah menyiapkan makanan untukku. He--em.... Rasanya seluruh rasa lelah itu hilang entah kemana. " Tambahnya sembari melewati Vela dan Fany yang ada di ruang makan.


" Fran!!!!! Apa yang kamu lakukan?! " Tanya Vela dengan menutupi matanya.


" Heheh... Maaf ya ka. Sebenarnya aku lupa bahwa tadi.... Pakaian yang biasa aku pakai, ikut meleleh bersama beberapa asam yang sempat masuk ke dalam zirahku yang rusak. " Balas Fran sembari berbalik ke arah Vela dan Fany

__ADS_1


" Oleh karena itu.. Aku mau mencari beberapa pakaian kakek yang masih layak untuk aku pakai. " Tambahnya sembari membuka sebuah pintu bawah tanah yang berada di dekat lantai dapur.


" Aduh.... Kasihan sekali kamu Fran.. " Vela terkejut ketika ia baru menyadari ucapan dari Fran mengenai baju yang meleleh itu.


" Kalau begitu, segeralah kamu berpakaian dan nanti setelah kita selesai makan atau sebelunya, kaka akan mengobati lukamu. " Tambah Vela sembari memberikan sebuah perhatian pada Fran.


" Tenanglah ka... Lukaku sudah aku bersihkan dengan beberapa potion yang telah aku bawa sebelumnya. " Sahut Fran yang telah berada di ruang bawah tanah.


" Lagi pula, di rumah ini sudah tidak ada potion yang tersisa. Beberapa potion sempat hancur ketika aku sangat panik kehilangan kaka kemarin malam. " Tambah Fran dengan nada menyesal.


" Kaka tahu, bahwa kamu hanya ingin menolong kaka waktu itu. Maka dari itu, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri Fran. Karena kak juga bersalah. "Jawab Vela sembari memegang dadanya karena merasa cemas akan keadaan Fran.


" Tidak apa apa, ka. Luka semacam ini bukanlah luka yang terlalu menyakitkan untukku. " Jawab Fran yang sedang mencoba keluar dari ruang bawah tanah.


Setelah Fran keluar, Vela dan Fany terkejut atas berbagai macam luka yang ada di bagian tubuh Fran yang sedang ber regenerasi.


" Kakek kan dulu pernah bilang, bahwa aku memiliki sebuah kekuatan yang masih belum berkembang. Jadi... Aku harap kaka tidak menghawatirkan kondisi ku ya ka " Ucap Fran sembari mencoba duduk bersama Vela dan Fany.

__ADS_1


__ADS_2