
Dalam kegelapan yang menyelimuti dirinya, Hana terduduk dalam diam sembari menenggelamkan wajahnya ke kedua tangannya yang sedang memegangi kedua kakinya.
" Fran... Maafkan aku karena selama ini aku membuatmu menanggung beban yang berat.... Walaupun sempat terlintas dalam benakku bahwa mungkin akan lebih baik jika aku tiada.... Tapi.... Setelah aku kembali ke tempat ini.... ak...aku... aku takut... Fran.... Aku takut... Fran...!! Tolonglah diriku ini Fran!!! Ji... jika aku di ijinkan kembali untuk hidup... Ak... aku harap.... aku bisa menjadi kakak yang bisa melindungimu....!!! Ak... aku bersedia mengorbankan rasa cinta dalam hatiku ini... Agar... Ak...aku bisa melihatmu bahagia Fran!!! " Ucap Hana dalam posisi yang sama sembari berharap bahwa kesadarannya akan kembali pada tubuh Vela.
" Walaupun.... Ak... aku ingin seperti itu.... Tap....tapi... Aku tidak ingin merasakan rasa sakit di hati ini... Kelak ketika kamu memiliki seorang yang kamu cintai Fran... Fran!!! Aku... Aku ingin kamu tahu... Bahwa... Bahwa aku..... " Tambahnya sembari mengusap air matanya.
" Aku sangat mencintaimu Fran.... " Ucap Vela dalam keadaan koma.
" Aku pun sangat mencintai mu kaka... Bukan sebuah cinta dari adik ke kakaknya.... Melainkan... Aku... Aku sangat mencintai kaka sebagai seorang wanita " Bisikan Fran sembari mengusap wajah Vela yang diselimuti oleh kain putih dengan beberapa bercak darah yang mulai memenuhinya.
" Walaupun aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi... Aku... aku sangat bersyukur bahwa kaka bisa selamat. " Ucap Fran sembari mengusap wajah Vela kembali.
Dalam keheningan malam itu, Fran terus memandangi tubuh Vela yang masih tertidur dengan banyak balutan perban dengan menampakkan wajah yang terlihat bahagia setelah melihat Vela yang merupakan satu satunya keluarganya bisa di selamat kan tepat waktu.
" Fran.... Bisakah kita bicara sebentar? " Tanya penyihir misterius yang menolong Fran dari balik pintu kamarnya.
__ADS_1
" Ba.. Baiklah. Aku akan segera kesana " Jawab Fran sebelum memeluk tubuh Vela untuk sesaat.
Fran mulai berjalan menemui penyihir yang menolong Vela dan kakaknya.
Fran terus membersihkan wajahnya yang sebelumnya penuh dengan air mata dengan sobekan kain dari lengan bajunya.
" No...nona penyihir.... Se...sekali lagi aku berterima kasih atas bantuanmu sebelumnya " Fran langsung membungkuk sujud setelah ia bertemu dengan penyihir yang telah menunggunya di lantai utama toko.
" Tidak perlu berterima kasih seperti itu padaku, Fran. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang Prist. " Penyihir wanita itu mencoba mengangkat Fran dari sujud sembahnya.
" Janganlah seperti itu nona... Ji... jikalau nona bersedia, nona boleh mengambil seluruh uang yang aku miliki.... atau... atau... Jika nona mau... ak... aku bisa buatkan sebuah baju sihir berkualitas secara gratis terus menerus... atau... atau... " Fran mencoba membalas budi pada penyihir wanita itu.
" Aku ingin kamu menjadi seorang ayah dari bayi yang aku kandung " Ucap penyihir wanita itu pada Fran
Fran yang semula dalam kebahagiaan dikejutkan oleh perkataan dari penyihir wanita itu. Fran yang tidak tahu harus berkata apa hanya terdiam dalam raut wajah yang datar.
__ADS_1
" A---aku tahu... i----ini mungkin terdengar memalukan... tapi... a--aku tidak punya pilihan lain Fran. " Kata penyihir itu setelah membungkukkan tubuhnya untuk setara dengan Fran yang terduduk di lantai.
* gbram...... * Sebuah retakan besar di lantai utama toko muncul setelah Fran menghentakkan kedua tangannya untuk bangkit.
Penyihir wanita yang ada di hadapan Fran tersentak kebelakang seolah terkena sebuah gelombang kejut.
" Nona bilang bahwa aku harus merawat bayi yang ada di perut nona? " Tanya Fran dengan nada berat.
" A.... A... A... " Penyihir itu tidak mampu mengatakan apapun ketika Fran bertanya dengan aura yang mengerikan.
" Hmph.... Mengenai keputusan itu.. Akan aku tanyakan pada kaka. Jadi.... Untuk saat ini nona tidurlah dulu di kamar milik kaka sampai kaka bangun dari tidurnya. " Tambah Fran sembari mengangkat penyihir wanita itu yang terdiam tanpa kata sembari menahan tangis air matanya.
" Kakek pernah bilang bahwa mereka yang mengalami nasib seperti nona, akan selalu diasingkan dan bahkan di hina atau semacamnya. Namun... Kakek berpesan bahwa jika di suatu saat nanti akan datang seorang seperti nona ke rumah ini... Itu berarti keputusan ada di tangan kami. " Jelas Fran sembari berjalan.
Sembari mendengar penjelasan dari Fran, penyihir wanita menutupi wajahnya yang sedih dengan menarik penutup kepala dari mantel yang ia pakai
__ADS_1
" Maaf ya, nona. Jika kamar kaka seperti ini dan sekali lagi... aku berterima kasih pada nona atas pertolongan nona. " Ucap Fran sembari menunjukkan kamar Vela yang di penuhi tumpukan buku.
" Aku harap nona bisa menerima apapun keputusan kaka, besok. " Tambah Fran sebelum dirinya membungkuk dan pergi meninggalkan penyihir itu.