Prince Of Blacksmith

Prince Of Blacksmith
Reincarnation


__ADS_3

" Hmph..... " Seorang perempuan mengembuskan nafasnya sembari menatap sebuah pemandangan kota dari balik pagar besi di atas sebuah bangunan.


" Beberapa tahun berlalu semenjak kecelakaan itu terjadi... Namun... Tidak satupun dari keluargaku datang ataupun menjengukku " Kata perempuan itu sembari mengisap air mata yang membasahi pipinya.


" Kak Galih... Kak Mela... Kak Raka... Aku mempunyai tiga kakak hebat... Namun... Mereka tidak pernah datang bahkan bertanya mengenai kabar dariku " Tambahnya dengan memandang langit sore di hari yang kelabu.


" Nona Hana...? Apakah anda ada di sini? " Ucap seorang perempuan berbaju perawat yang keluar dari sebuah ruangan.


" Ah.... Benar... Hanya suster di rumah sakit ini lah yang selalu memperharikanku " Gumam Hana sesat sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah suster yang memanggilnya.


" Hehehe.... Maafkan ya... Suster... Untuk kesekian kalinya, kamu sampai repot repot mencariku ke sini " Ucap Hana setelah mengusap seluruh air mata yang ada di wajahnya


" Hmph.... Yah... Setidaknya nona menyadari bahwa saya sangat kerepotan terhadap hilangnya anda setiap kali operasi akan dilakukan " Suster itu mengusap dadanya sembari menstabilkan pola nafasnya.


" Hehehe.... Maaf. Aku kira Dokter Leo akan datang terlambat seperti terakhir kali... Jadi... Aku memutuskan untuk menikmati pamandangan ini sementara waktu. " Ucap Hana sembari mendorong kursi rodanya mendekati perawat itu.


" Hehehe.... Bukankah Dokter Leo sudah menjelaskan alasan mengenai keterlambatannya pada anada? Tapi sepertinya sampai saat ini anda belum memaafkannya ya " Sahut perawat itu layaknya seorang teman akrab.


" Jadi... Ini adalah operasi terakhirku ya... Suster " Tanya Hana sesaat setelah ia memandang seluruh lantai kosong di bawahnya yang hanya tertutup oleh pintu kaca.


" Iya nona. Saya harap anda kuat dalam menghadapi tahan terakhir ini yah. " Jawab suster itu setelah mengusap air mata yang tiba tiba keluar.


" Iya Sus. Saya pasti kuat menghadapi rasa sakit itu. " Balas Hana dengan senyuman yang dipaksakan.


Dalam rasa pasrah atas apa yang akan terjadi, Hana memalsukan wajah sedihnya ketika para dokter mulai menunyuntikkan obat pereda rasa sakit pada tubuhnya.

__ADS_1


Hana hanya bisa terbaring lemas disaat para dokter mulai melakukan oprasi untuk menyembuhkan tulang belakangnya yang rusak akibat kecelakaan yang menimpa dirinya.


Setelah tempat tidur operasi dibalikkan, hanah hanya memejamkan matanya sembari menahan sebuah rasa sakit yang sesekali terasa kita para dokter melakukan sesuatu terhadap tubuhnya itu hingga pada satu waktu terdengar berbagai macam suara yang menakut, Hana terus memejamkan matanya sembari berharap bahwa para dokter tidak melakukan kesalahan yang membuat dirinya kehilangan nyawanya.


" Vela.... Apakah kamu sudah bangun nak? " ucap seorang yang suara seorang yang mirip seperti suara dokter Leo namun lebih serak terdengar.


" ..... " Hanah hanya terdiam karena takut atas apa yang akan ia lihat justru para dokter yang masih melakukan operasi


" Vela.... Jika kamu masih merasa sakit, setidaknya jawablah kakekmu ini " Ucap seorang itu sembari mengusap kepala Hana


* hmph.... hmph.... hmph... * Hana akhirnya memberanikan diri untuk membuka kedua matanya setelah sebelumnya ia merasa sangat ketakutan.


" Kakek... Apakah Ka Vela baik baik saja? " Tanya seorang anak laki laki di sebelah sosok kakek di samping sebuah tempat tidur dalam ruangan yang asing


" Akh.... " Hana memegangi kepalanya sembari mencoba melihat ke sekeliling kamar yang asing baginya.


" Syukurlah Vela... Kamu berhasil melawan rasa sakit itu dan bertahan. Kakek sangat senang bahwa kamu akhirnya pulih. Lain kali kamu harus berhati hati ketika menyentuh peralatan kakek ya... Karena mungkin kakek lupa membersihkan peralatan yang telah kakek pakai " Ucap sosok pria paruh baya sembari memeluk tubuh Vela.


" Kaka... Aku juga minta maaf karena kesalahanku... Kaka jadi harus terkena racun. " Ucap sosok laki laki itu sembari menempelkan kedua tangan Hana ke wajahnya.


" Vela? Ap--apa mungkin... A--aku di panggil ke dunia lain? " Gumam Hana dalam tubuh seorang gadis bernama Vela.


" Ak... aku harus melihat ke luar jendela itu. " Pikirnya sesaat sebelum akhirnya ia menarik kedua tangannya dari laki laki itu sembari melepaskan pelukan dari kakek tua yang memeluknya .


Sosok laki laki dan sosok kakek tua itu merasa aneh terhadap kelakuan sosok Vela yang baru tersadar.

__ADS_1


* dbuk..... * Hana jatuh dengan keras ke lantai kayu dari kamar itu ketika kaki dari tubuh Vela tidak mampu menompang tubuhnya.


" Kaka!!!! Vela!!! " Kedua sosok yang asing baginya berteriak bersamaan sembari mencoba menangkap tubuh Hana yang terjatuh.


Untuk kedua kalinya, Hana harus merasakan bagaimana sakitnya terjatuh akibat kaki yang tidak mampu menompang tubuhnya. Dalam kondisi yang terbaring menghadap ke lantai kamar aneh itu, kesadaran Hana mulai menghilang.


...----------------...


" Kakek.... Maafkan aku... Jika saja aku tidak memainkan peralatan kakek, seharusnya kakak tidak harus menjadi seperti ini. " Suara dari sosok laki laki yang terdengar menangis beberapa saat sebelum teriakan terdengar dan mulai menghilang.


" Fran!!!! Tunggu!!! " Suara dari kakek tua itu memanggil nama seseorang yang mungkin nama dari sosok laki laki itu.


" Vela... Kakek harap kamu tetap berbaring dulu ya... Kakek akan mengejar Fran sebelum ia kembali masuk kedalam hutan " Tambah kakek itu setelah mengembalikan Hana ke tempat tidur dan mencium keningnya sebelum mengejar sosok bernama Fran.


Dalam kesadaran yang semula tersisa dan masih bisa mendengar sesaat, Hana akhirnya menyimpulkan bahwa dirinya tidak lagi berada di dalam rumah sakit dan dirinya pun juga menyimpulkan bahwa sosok kakek tadi adalah kakeknya dan sosok bernama Fran adalah adiknya.


Setelah sosok kakek tua itu pergi dan mengejar sosok laki-laki itu, Hana hanya bisa kembali terduduk diatas tempat tidur seperti saat ia berada di dalam rumah sakit.


" Hmph.... Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Apa mungkin apa yang aku pikirkan tadi adalah kenyataan yang nyata? " Gumam Hana sembari melihat ke sekelilingnya lagi.


" Navela fin Faran.... " Ucap Hana secara tidak sadar ketika melihat sebuah kalimat yang terukuir di atas langit langit kamar asing itu.


* scrinh..... dbruk * kalimat yang terukir di langit langit tiba-tiba bercahaya dan setelahnya beberapa buku jatuh ke tempat Hana berada.


" Aduh... Apa ini....? Apakah ini buku? " Ucap Hana sembari mengusap kepalanya yang tertimpa beberapa buku yang jatuh

__ADS_1


" Buku harianku..... Velantia Silver Cruth.... Hari ini adalah hari yang menakutkan.... Aku hanya bisa bersembunyi di bawah ruang bawah tanah ketika hujan badai terjadi dan kakek belum kembali ke rumah....... Walaupun kakek sendiri dapat hidup tanpa bantuan ku, aku tetap membantunya sesekali untuk memasak dan mencuci pakaian..... Hari-hari ku berubah ketika kakek menemukan seorang anak laki laki........ Aku sangat berterima kasih pada dewa karena keinginanku untuk menjadi seorang kakak menjadi kenyataan..... Platinia Fran Neuro.... Adalah nama yang kakek berikan ketika kami melihat cahaya putih berkilauan ketika anak laki laki itu menarik sebuah sisik Neurotron yang akan di tempa...... Walaupun Fran memiliki kekuatan yang luar biasa, aku dan kakek terus merahasiakan Fran agar Fran tidak di bawa pergi oleh para prajurit sihir dari Kerajaan ini...... " Hana membaca setiap halaman dari buku yang nampak seperti buku harian dari sosok bernama Velantia Silver Cruth.


__ADS_2