
" Halo....? Permisi....? Apakah ada orang...?" Ucap seorang dari ruang utama toko pandai besi.
" Halo...? " Seorang itu mencari pemilik dari toko pandai besi yang ia datangi.
" Akh... Halo, tuan. Selamat datang di toko yang saya kelola. Apakah ada yang bisa saya bantu? " Tanya Fran pada seorang pengunjung toko
Di hadapan Fran, terlihat sesosok pengunjung toko yang berpakaian penyihir berwarna putih yang bercampur dengan beberapa warna lain serta memiliki ukiran yang unik.
" Terima kasih atas sambutannya, tuan. Saya kemari hanya untuk mencari sosok bernama hanah. Apakah dia ada di sini? " Tanya pengunjung itu pada Fran.
" Hanah....? Sepertinya disini tidak ada seseorang yang bernama hanah di sini. " Jawab Fran sembari memegang dagunya.
" Em...? Benarkah... Apakah kamu bisa bertanya dengan dua orang yang ada di dalam dahulu sebelum memastikan? " Ucap sosok itu yang menimbulkan kecurigaan.
" Tuan...? Bagaimana tuan tahu ada dua orang di belakang? " Tanya Fran curiga.
" Emh...? Itu mudah saja. Karena aku bisa merasakan energi sihir yang berbeda dari ruangan ini " Jawab sosok itu sembari memukulan tongkatnya.
" Baiklah, tuan. Tolong tunggu sebentar. " Jawab Fran tanpa keraguan.
Disaat Fran mulai bertanya pada Vela dan Fany mengenai Hanah, sosok yang bertamu tadi mengalihkan pandangannya ke arah berbagai macam baju yang terpajanh di toko itu sembari menilai harganya secara pribadi.
" Apakah, kaka tahu? " Tanya Fran pada Vela yang terlihat terkejut atas pertanyaan dari Fran.
" Ti-tidak... Kaka tidak tahu. Tapi, bisakah kamu antarkan kaka pada pengunjung toko yang kamu maksudkan? " Jawab Vela sembari menutupi sesuatu .
" Dia ada di luar ka. Apakah kaka ingin menemuinya? " Jawab Fran sembari menunjukkan.
" Kalau begitu, biar kaka saja yang menangani sosok itu. Kamu tetaplah disini sebentar. " Nasehat Vela yang merasa curiga.
" Aku akan menemani kaka. Lagi pula kan kaka tidak tahu berapa harga yang aku pasang untuk setiap perlengkapan " Jawab Fran sembari menyusul kakaknya.
Sesampainya di ruang utama toko itu, Vela hanya terdiam sembari melihat ke sosok yang menyerupai penyihir itu.
" Maaf sudah menunggu tuan. " Fran menyapa sosok pengunjung toko tadi.
" Akh... Iya... Tidak apa. " Jawab sosok itu sambil melihat ke arah sebuah zirah kitin.
" Em... Jadi... Apakah dia yang bernama hanah? " Tanya sosok itu setelah mengalihkan pandangannya kembali.
" Ehehehe... Bukan tuan. Dia adalah Velancia Sliver Cruth yang tidak lain adalah kakak saya. " Jawab Fran sembari mengenalkan.
__ADS_1
" Dan.. Kamu.. Platinia Fran Neouro? " Tanya sosok itu pada Fran.
" Benar tuan. Itu adalah nama saya. Tapi... Bagaimana tuan tahu nama saya? " Tanya Fran tanpa curiga.
" F--fran... mu--mundurlah. Di-dia bu-bukanlah so-sosok pengunjung biasa " Sahut Vela memotong pembicaraan Fran dengan sosok itu.
" Hmph....? Sepertinya kamu sudah tahu siapa diriku yah? Kalau begitu aku tidak perlu lagi mengenalkan siapa namaku. " Jawab sosok itu dengan akhiran senyuman.
" Eh? Kalian saling mengenal? " Fran kaget.
" Tidak, Fran. Bukan itu. Dia itu... Adalah... A... " Vela berusaha menyebutkan nama sosok yang ada di hadapannya.
* splash... * sosok itu bergerak dengan cepat dan menahan bibit dari Vela agar tidak mengucapkan namanya.
" Apa yang kamu lakukan pada kaka?! " Fran marah ketika sosok tadi bergerak dengan cepat dan secara mengejutkan sudah berada di hadapan Vela.
" Kamu tenanglah di situ dahulu. Saat ini masih ada hal yang harus aku bicarakan dengan kakakmu. " Ucap sosok itu sembari memberikan mantra penghenti waktu.
" Ak--aku su-sunguh ti-tidak percaya at-atas apa yang ak-aku lihat saat ini " Gumam Vela ketika sosok itu mengalihkan pandangannya ke arah Fran.
Di saat semua waktu di sekitarnya terhenti, sosok yang ada di hadapan Vela mulai memendekan jarak di antra keduanya sembari menjelaskan sesuatu.
Sosok itu hanya mengangguk setuju.
" Lalu kenapa? Kenapa mereka bisa berada dalam situasi seperti itu? Da--dan kenapa kamu tidak melakukan apapun atas apa yang telah terjadi? " Tanya Vela dengan nada tinggi.
" Bukankah sudah jelas bahwa jika diriku menunjukkan eksistensinya kembali, maka bencana besar akan kembali terjadi. Seharusnya kamu sudah menyadari hal itu jika kamu benar benar mengenal siapa diriku. " Jawab sosok itu dengan nada tenang.
" Akh... Maafkan aku karena pertanyaan bodohku tadi. Tapi... Kenapa aku bisa berada di dunia yang seharusnya hanya sebuah karangan seorang manusia biasa? " Tanya Vela pada sosok yang ada dihadapannya.
" Mengenai itu, mungkin hanya sebuah kebetulan semata ataupun mungkin karena ada beberapa anggota keluargamu yang memiliki keterkaitan dengan dunia ini. " Jawab sosok itu sembari mengusap kepala Vela.
" Jangan menggunakan sihir apapun untuk melakukan hal yang biasa kamu lakukan kepadaku. " Vela langsung menepukkan tangannya ke arah tangan sosok itu yang sedang mengusap kepalanya.
" Hehehe.... Jadi kamu pun sama seperti dia. " Sosok itu tertawa sesaat setelah mendapat sebuah reaksi yang tidak terlalu mengejutkan.
" Apa maksud dari perkataanmu barusan? " Tanya Vela dengan sikap yang siaga.
" Emh... Mengenai itu, kamu akan mengetahui hal itu segera. " Sosok itu melangkah mundur setelah menghentakkan tongkatnya.
" Tu--tunggu dulu. Ak-aku masih memiliki beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab " Tanya Vela di saat sosok itu mulai menghilang.
__ADS_1
" Apa yang ingin kaka tanyakan? " Fran bertanya pada Vela yang bersikap aneh.
" Akh... Tidak apa Fran. " Jawab Vela sembari memegangi kepalanya serta melihat sekitarnya kembali.
" Tunggu sebentar ya ka, sepertinya kita kedatangan beberapa petualang " Ucap Fran sembari meninggalkan Vela dan Fany yang ada di ruang makan.
" Akh... Benar. Salah satu kekuatan yang sering dia gunakan adalah pengembalian ruang dan waktu. " Gumam Vela disaat menyadari dirinya berada di waktu dimana dia dan Fran sedang membicarakan rencana kehidupan untuk Fany.
" Apakah kaka baik baik saja? " Tanya Fany pada Vela yang masih terduduk sambil memegangi kepalanya.
" Akh.. Aku tidak apa Fany, aku hanya sedikit pusing saja. " Jawab Vela.
" Mungkin karena aku meminum teh yang kamu buatkan tadi. Omong omong, dari mana kamu mendapatkan teh itu? Seharusnya disini tidak ada teh semacam itu. " Tambah Vela mencoba mengalihkan topik pembicaraan
" Mengenai itu... Sebenarnya itu adalah sisa dari rerumputan herbal yang sebelumnya ingin aku buat untuk potion penyembuhan.
Namun karena sebagian besar bahannya sudah di gunakan untuk mengobati luka kaka, jadi aku membatalkan niatan itu dan memutuskan untuk membuat teh penambah stamina dan kesehatan " Jelas Fany pada Vela.
" Jadi, kamu rela memberikan semua herb itu demi menyelamatkanku? " Tanya Vela meyakinkan.
" Iya ka. Tidak masalah selama kaka bisa selamat. " Fany meyakinkan.
" A!!! Baiknya dirimu Fanya...." Vela menarik tangan Fany dan menggenggamnya erat.
"Tapi, aku masih tidak merelakan Fran untuk jatuh ke dalam pelukanmu " Tambahnya dengan senyuman.
" Hehehe... Iya ka. Aku tahu " Jawab Fany sembari tertawa sesaat.
" Ne... Ka, apakah kaka tahu siapa nama panjang Kakek Fran? " Tanya Fran di saat keduanya sedang membicarakan sesuatu.
" Em... Kalau tidak salah nama kakek itu Frostinuel Axe Jail " Jawab Vela sembari mengingat nama kakeknya.
" Oh iya, benar. Itu nama kakek. " Fran menepukkan kedua tangannya setelah menemui ingatan yang sama mengenai nama kakeknya.
" Memang kenapa Fran? Apakah ada petualang yang mencari kakek? " Tanya Vela sembari mendekati Fran.
" Iya ka, kaka benar. Ada seorang yang katanya mengenal kakek. Jadi, untuk memastikan nama kakek, aku bertanya pada kaka tadi. " Fran menjelaskan.
" Kalau begitu, bisakah kaka melihat siapa orang itu ? " Vela meminta.
" Baik ka, silahkan ikut saja " Fran mempersilahkan.
__ADS_1