Prince Of Blacksmith

Prince Of Blacksmith
Awal dari sebuah petualangan besar


__ADS_3

Setelah berulang kali menolak tawaran itu, pada akhirnya Fran dan Vela menerima kantung berisi uang dari kepala desa.


" Lalu, mengenai sosok Lela yang kalian bicarakan, saat ini dia sudh beristirahat dengan tenang di sini " Ucap Kepala Desa Arsn sembari menunjukkan sebuah makam dengan nisan kayu yang telah lapuk.


" Yah, seperti inilah kenyataannya Fran, Vela. Sosok yang sering mendatangi kalian adalah perwujudan dari sosok Lela yang telah tiada. Mungkin karena kenangan bahagianya bersama kalian kala itu membuatnya enggan berpisah dengan kalian atau karena sebab lain, namun pastinya sosok Lela itu sangat menyayangi kalian. " Tambah Kepala Desa Arsn.


Fran dan Vela terdiam tanpa kata sambil menutupi kedua mata mereka yang mengalir kan air matanya tanpa sadar.


Mereka berdua tidak menyangka bahwa sosok yang sering datang dan mengunjungi mereka adalah sosok teman masa kecil yang kini telah tiada.


Walaupun sempat beberapa kali bertanya mengenai kejadian yang sesungguhnya, sosok Kepala Desa Arsn tidak ingin menjelaskan kejadian itu dengan alasan bahwa jika ia menjelaskannya pun itu akan menjadi penjelasan yang sia sia.


Berkat bantuan dari Luna, Fran dan Vela akhirnya bisa merelakan sosok Lela yang telah tiada.


Luna pun sempat berkata bahwa setiap benda yang di berikan makhluk tak kasat mata yang seharusnya berupa racun maupun serangga, justru menampakan barang barang langka dan makanan yang bisa dimakan walaupun Luna sendiri tidak tahu dari mana sosok Lela mendapatkan barang seperti itu.


Kepala Desa Arsn kembali membawa Fran dan Vela untuk tinggal sementara waktu sampai keadaan mereka benar benar pulih sepenuhnya.


Sembari memberikan penyembuhan mental pada Fran dan Vela, Luna terus mencoba menyampaikan pesan dari sosok Lela yang secara mengejutkan muncul sebagai sosok roh yang tidak kasat mata.


Dalam beberapa kali penyembuhan secara berkala, Fran dan Vela akhirnya berhasil pulih dan benar benar merelakan sosok Lela dengan menyajikan sebuah roti buatan Vela dan ditaruhnya diatas batu nisan yang telah Fran perbaiki menggunakan batu granit hingga nampak elok di pandang mata.


" Terima kasih atas semua bantuanmu Lela. Kami harap kamu berada di tempat terbaik selayaknya orang orang yang berbaik hati. " Ucap Vela sebelum akhirnya mengusap wajahnya dan di ikuti oleh Fran.


" Jadi, ka. Mari kita lanjutkan perjalanan kita ke kota yang di tunjukkan oleh Bibi Silya. " Ucap Fran setelah berpamitan pada kepala desa yang ada di belakang keduanya disaat mendoakan sosok Lela.

__ADS_1


" Iya Fran. Mari paman kepala desa. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju kota dan semoga paman selalu sehat dan dilindungi olehnya " Ucap Vela sembari melambaikan tangannya pada sosok kepala desa setelah menjawab pertanyaan Fran.


" Iya, berhati hatilah kalian selama perjalanan. " Ucap Kepala Desa Arsn sembari membalas lambaian tangan dari Vela.


" Jadi, ayah. Apakah Vela bisa diandalkan untuk menjaga Fran agar menjadi sosok yang ayah harapkan? " Tanya sesosok perempuan dengan pakaian dewi alam yang semula berwujud sosok Lela yang tak kasat mata.


" Untuk saat ini, ayah merasa yakin pada sosok Hanah yang berada dalam tubuh Vela. Namun mengenai harapan ayah mengenai sosok Fran di masa depan nanti, ayah pun hanya bisa mengharapkannya agar sesuai harapan. " Ucap sosok kepala desa yang kini telah berubah menjadi sosok penyihir putih yang Vela temui ketika berada di toko pandai besi.


" Kalau begitu, mari kita kembali ke dimensi kita. Karena saat ini, tugas ayah sebagai pengawas sekaligus pengantar para manusia terpilih sudah selesai untuk saat ini. " Tambah sosok itu sembari mengajak sosok yang menyerupai dewi alam dan para penduduk yang telah berubah menjadi berbagai macam sosok yang seharusnya tidak ada dalam dimensi itu kembali ke dimensi yang seharusnya.


" Semoga kalian bisa menjadi sosok pelindung bagi tanah yang kalian pijak " Ucap sosok itu sesaat sebelum kembali berjalan ke celah dimensi dan menutupnya.


" Lalu, bagaimana kaka bisa menciptakan sosok erth golem yang begitu unik seperi ini ka? " Tanya Fran sembari mencocokkan peta yang di berikan oleh sosok kepala desa dengan peta dari Bibi Silya.


" Mengenai itu... Kaka pun tidak tahu Fran. Sosok dari erth golem dengan bentuk seperti ini, tiba tiba terlintas di pikiran kaka setelah kaka meniru rapalan mantra yang di ajarkan oleh Luna sebelumnya. " Jawab Vela pada Fran sembari menunjuk ke arah peta dan mengarahkannya ke sebuah jalan.


" Jadi, ka. Seperti itulah mantra untuk pemanggilan makhluk yang sesuai dengan elemen dasar kaka. Lalu, dikarenakan elemen dasar kaka adalah bumi maka kaka dapat menambahkan kata tanah sebagai ganti perwujudan dari elemental bumi. " Jelas Fany di saat mengajarkan sebuah mantra yang kini tidak bisa ia rapalkan akibat dari kehilangan kesuciannya.


" Baiklah Fany, biar kaka mencoba merapakkannya " Ucap Vela dengan sikap percaya diri yang tinggi.


* Splash.... * Waktu tiba tiba terhenti sesat ketika Vela mencoba merapalkan mantra itu.


" Ne... selamat atas aktifnya kekuatan sihir dari dirimu, Hanah. " Ucap sosok penyihir putih disaat waktu terhenti.


" Hehehe.... maaf aku tidak akan membiarkanmu berbicara dahulu. Karena aku akan menjelaskan secara singkat apa yang ada dalam pikiranmu mengenai sihir dunia ini " tambah sosok itu ketika Vela mencoba bertanya dengan wajah marahnya.

__ADS_1


" Sebenarnya aku tidak menyangka bahwa sihir Nemelesis akan diwariskan kepadamu, Hanah. Mengingat bahwa Nemelesis merupakan sihir campuran dari empat elemen dasar tanah ini dengan sebuah elemen cahaya, sihir ini sangat sulit untuk dipelajari maupun di dapatkan dengan mudah. " ucap sosok penyihir putih sembari menunjukkan sebuah serangan sihir area yang dapat menghancurkan musuh dan menyembuhkan seluruh orang yang dianggap sebagai kawan atau alliance.


" Yah... mari kita abaikan dulu mengenai sihir Nemelesis itu. Saat ini kamu memiliki elemen dasar berupa tanah yang merupakan elemen warisan dari sosok Vela yang juga keturunan langsung dari sosok pahlawan. Sebuah dasar elemental di tanah ini berasal dari pemberian dewi yang ditujukan pada seluruh pahlawan yang telah ia panggil ke dunia ini. Namun karena adanya beberapa pahlawan sampah, Elemental dari dalam diri pahlawan mulai melebur bersamaan dengan penduduk negri ini yang menyebabkan beberapa penduduk dewasa dapat memiliki sebuah penguasaan dasar sihir elemental." Jelas sosok itu secara mendetail.


" Dan yah, karena hanya sedikit penduduk tanah ini yang menyadari kekuatan mereka, beberapa penduduk negri ini pun bisa dalam posisi yang hampir setara dengan pahlawan yang di panggil oleh dewi dan salah satunya adalah kakek dari Vela itu sendiri." Tambahnya mengenai status pahlawan yang dimiliki Kakek Frost.


" Oleh karena itu, dengan mengasah kekuatan yang kamu miliki, mungkin secara bertahap sihir Nemelesis akan bisa menjadi milikmu seutuhnya setelah kamu bisa menambahkan pengendalian atas elemen dasar api, air dan angin. Lalu sebagai tanda penyatuan seluruh elemen itu, setidaknya kamu harus memiliki sebuah item dengan spesifikasi elemen cahaya maupun memiliki karunia berkah dari sang dewi sebagai salah satu tahap penyempurnaannya." Lanjut sosok penyihir putih itu sembari menjelaskan penggunaan sihir Nemelesis.


Setelah waktu di dunia itu kembali ke waktu semula, Vela langsung mencoba menggunakan elemen dasar tanah dengan bayangan sebuah golem yang hampir mirip dengan golem di sebuah buku fantasy yang pernah ia baca di dunia asalnya.


* Slongsong..... Dbuuuuuuum..... * sosok Golem tanah yang menyerupai robot dari dunia sci-fi tiba tiba muncul dengan sebuah tembakan tanah yang menghancurkan sisi lain hutan dengan meriam besar yang nampak di bawah mata besar berwarna merah.


" Wah... kaka hebat!! Walau hanya dengan membayangkan nya saja, kaka bisa menciptakan sosok yang unik ini " Fran memuji Vela dengan sedikit ciuman di pipi Vela disaat Vela berada terlalu dekat dengan wajahnya.


* Splak.... ngiiiiiiing!!!!! * suara tamparan terdengar hampir bersamaan dengan suara dengungan dari pelindung kepala yang terbuat dari besi ketika Fran tiba-tiba datang mengejutkannya.


" Hehehe, apakah kaka tidak apa-apa? " Tanya Fran meledek.


" Huh... untung saja dengan cepat kamu memakai pelindung kepala itu. Karena jika tidak! Gehm!!! Aku akan menciptakan benjolan besar di kepalamu itu!!" Ucap Vela sembari mencoba membuka penutup kepala yang melindungi kepala Fran.


" Hehehe, maaf ka. Maaf " Fran meminta maaf sembari meledek dan mempertahankan penutup kepala yang dia pakai agar tidak terlepas oleh tarikan kakaknya.


" Wa~ah, kalian sangat akrab yah. Hihihi." Ucap Luna di saat melihat tingkah dari Fran dan Vela.


" Hehehe, jangan menjaga jarak seperti itu dengan kami, Luna. Kemarilah dan nikmati pemandangan hutan yang indah ini barsama kami. " Vela menarik Luna dengan paksa dan membuatnya jatuh bersamaan dengan Fran yang ada di belakangnya.

__ADS_1


Dalam sebuah tawa yang begitu membahagiakan bagi ketiganya, Sebuah awal dari kisah petualangan bari dari Fran, Vela dan Luna pun dimulai tepat setelah meninggalkan Desa Arsn.


__ADS_2