Prince Of Blacksmith

Prince Of Blacksmith
Titik terang


__ADS_3

" Jadi... Ka... Apakah hubungan kaka denga Fran bik baik saja? " Tanya Fany pada Vela yang baru masuk ke dalam rumah.


" Iya, Fan. Kami baik baik saja. Untuk saat ini, kamu tinggallah disini sebentar sampai Fran kembali.


" Syukurlah jika hubungan kaka dan Fena baik baik saja. Dan.... Ka, aku sangat menyesal atas apa yang telah aku perbuat. Untuk itu.. Ini ka, aku batkan teh untuk kaka agar kaka lebih rileks untuk sesaat. " Fany nenawarkan sebuah gelas berisi teh buatannya.


" Emh... Ya.. Terima kasih " Vela menerima teh itu fen meminumnya tanpa ada keraguan.


" Oh iya Fan... Kamu bilang kamu dihianati oleh sosok yang di sebut pahlawan negri ini? Memang apa yang kamu lakukan pada dirinya ataupun sebaliknya? " Tanya Vela disaat Fany duduk di sampingnya.


" M-nengenai itu... Yah... Jikalau kaka tahu... Salah satu impian seluruh gadis di negri ini adalah menjadi sosok istri dari para pahlawan. Tidak terkecuali pada diriku. " Fany mulai menceritakan apa yang ia impikan.


" Yah... Memang itu hal yang wajar bagi gadis seperti kita. Entah karena perjuangan pahlawan ataupun kisah kisah yang sering kita baca maupun kita dengar, sosok pahlawan memanglah sosok yang luar biasa. " Vela menyetujui apa yang Fany katakan.


" Hehehe... Iya, kaka benar. Oleh karena itu, sedari kecil aku mulai berlatih berbagai sihir penyembuhan dan lain sebagainya agar suatu saat nanti bisa bertemu dengan sosok yang di sebut pahlawan itu. " Fany melanjutkan.


" Namun... Setelah aku berhasil bertemu dengan sosok yang aku kagumi... Entah bagaimana aku hanya menurut atas permintaan dari sosok itu. Beberapa dari para pengikutnya mulai memaksaku untuk tidur dengannya selama beberapa malam dan.... Yah... Beginilah akhirnya ka... Ak-aku menjadi sosok yang hina. Karena kesucianku di ambil... Beberapa sihir ku mulai tidak bekerja yang pada akhirnya di saat kami pergi dalam sebuah ekspedisi, pahlawan itu... serta para pengikutnya itu... melemparkan diriku ke arah monster yang terlalu kuat untuk mereka hadapi... " Jelas Fany sembari menahan rasa kesalnya atas perlakuan pahlawan pada dirinya sendiri.


" Dengan kata lain, kamu dikorbankan untuk menghambat monster itu sementara pahlawan melarikan diri bersama harem dan heroine nya? " Vela menyimpulkan.

__ADS_1


" I... Iya ka.. Kaka mengatakan hal yang benar. " Fany memegangi dadanya karena merasa sakit hati atas oerlakuan dari pahlawan itu.


" Sudahlah... Sudah... Jangan menangis. " Vela mendekati Fany sembari mencoba menenangkan dirinya.


* Hiks.... Hiks... Hiks.... * Fany menangis dalam pelukan Vela untuk sesaat.


" Tapi... Kenapa kamu bisa tahu bahwa ada sosok Fran di sekitar sini? " Tanya Vela pada Fany sesaat setelah Fany melanjutkan perjalanannya sampai ke tempat ini.


" Mengenai itu... Aku tidak sengaja melihat sosok Fran yang sedang berjalan pulang melalui jalan yang tidak biasanya dilalui oleh orang normal pada umumnya. Karena aku merasa penasaran, aku pun memantaunya selama beberapa hari sampai aku mendengar sebuah rumor bahwa Fran merupakan sosok penempa gila. " Jelas Fany pada Vela yang masih mendekapnya.


" Lalu... Setelah aku mencoba mencari kebenaran mengenai hal itu, Fran tiba tiba berteriak tidak jelas dan meminta pertolongan. Di saat itulah aku meyakini bahwa Fran memang seperti sosok yang di rumorkan. Oleh karena itu aku langsung masuk dan mencoba memberinya sedikit sihir pemulihan mental agar kelak ia kembali normal dan bisa menerima diriku. " Lanju Fany.


" I-iya ka. Kaka benar. Pada kenyataannya aku salah mengenai rumor itu dan saat ini... Aku mereasa sangat menyesal atas apa yang aku katakan pada Fran waktu itu. " Jawab Fany sembari mendekapkan dirinya pada Vela sebagai permintaan maaf.


" Hm... Jadi seperti itu kisahnya yang sebenarnya. " Gumam Fran yang sedang duduk di ruang utama dari toko kakek.


" Menurutku.... Kamu seharusnya tidak terlalu jujur seperti itu pada orang lain. " Vela menyahut perkataan Fany


" Seharusnya kamu berkata bahwa kamu hanya membutuhkan tempat tinggal dan sedikit makanan untuk hidup. Lalu setelah beberapa bulan berlalu semenjak kedatanhanmu, kamu baru bilang bahwa kamu adalah korban dari para bandit agar orang lain merasa bahwa kamu adalah sosok yang perlu di tolong. " Jelas Vela.

__ADS_1


" Jika saja kamu berkata demikian, mungkin bukan hanya Fran. Beberapa orang yang mungkin kamu sudah datangi pun akan menolongmu tanpa menyebabkan masalah lain seperti ini Fan. " Tambah nya sembari mengusap wajah Fany yang sedih.


" Untuk sementara, kita akan menjaga toko ini samapai Fran kembali. Lalu setelah nya, kita akan membicarakan masalahmu untuk yang kedua kalinya.


" Itu tidak perlu ka. Aku sudah ada di sini sejak tadi. Lalu... Untuk masalah dari Fany sendiri. Kita bisa menganggap bahwa Fany adalah bibi kita. " Ucap Fran dari balik pintu ruang makan.


" Fran? Sejak kapan kamu disana? " Vela dan Fany terkejut.


" Sudah cukup lama sampai aku bisa membuat keputusan seperti tadi. " Jawab Fran sembari mendekati keduanya.


" Ka, Fany. Aku sangat minta maaf karena sikap ku yang ke kanak kanakan. Yah... Walaupun seharusnya aku bisa menahan rasa sakitnya... Namun mendapat omelan dari ka Vela itu sangat menyakitkan untukku. " Tambahnya sembari berjongkok dihadapan keduanya.


" Iya... Fran.. Kaka juga seharusnya lebih bisa mengendalikan diri ka. Tapi... Hehehe... Sama seperti kamu, kak juga sangat menyesal atas kejadian itu. Jadi... Kita anggap saja pertengkaran tadi tidak pernah terjadi. " Sahut Vela sembari membantu Fran berdiri.


" Mengenai ide darimu, aku kita itu adalah ide yang bagus. Lagipula, nama dari Fany juga hampir mirip seperti kita. " Tambah Vela.


" Ak-aku... Sangat berterima kasih pada kalian berdua... Aku tidak peduli kalian mau memanggilku apa. Namu... Aku sangat bersyukur karena kalian mengijinkanku tinggal " Sahit Fany sembilan mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir.


Melihat Fany yang sedang menangis bahagia, Fran dan Vela saling memandang sesaat dan setelahnya mereka berdua memeluk Fany bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2