
Disaat Vela dan Fran berjalan untuk menemui sosok petualang yang mencari kakeknya, Vela sempat bergumam bahwa pengembalian ruang dan waktu dapat mengubah sebuah kejadian yang berlalu dengan cara menempatkan mengubah sosok yang ada dalam ruang dan waktu tersebut.
" Wah.... Ternyata Vela sudah besar. " Sosok itu langsung mendekat ke arah Vela
" Hehehe... Iya, bi. Ini Vela " Jawab Vela yang menyenbunyikan kebingungannya terhadap sosok petualang wanita yang sudah renta.
" Ano... Ka, siapa dia? " Tanya Fran yang tidak mengenali sosok itu.
" Fran, dia itu... " Jawab Vela sembari mengingat sosok itu.
" Hohoh.... Ini yang namanya Fran ya? Ini Bibi Silya. Bisa dikatakan bibi adalah adik dari kakek kalian. " Sahut sosok itu ketika Fran bertanya.
" Maaf ya, Fran, Vela. Bibi baru bisa menjenguk kalian sekarang karena masalah keluarga kita. Yah... Mungkin kalian tidak tahu saat itu terjadi. " Tambah bibi Silya.
" Memang apa yang terjadi pada kakek? Setahun kami, kakek hidup damai dan tidak menyembunyikan apapun dari kami. " Sahut Vela dan Fran yang saling melengkapi.
" Sebenarnya kakek kalian adalah pahlawan yang gagal melindungi negri dan memilih mengasingkan diri hingga akhirnya di saat kematiannya pun tidak ada yang peduli dengan nya. Bibi selaku adik dari kakek kalian merasa sangat kasihan padanya. Namun karena para penduduk serta otoritas negri ini yang tidak memiliki budi pekerti, Bini tidak bisa mengunjungi kakek kalian. " Jelas Bibi Silya.
" Seperti halnya sosok penjaga tanah yang kita tinggali saat ini. Dikisahkan bahwa beliau pernah berkata " Manusia selalu bersikap egois dan tidak mengengiat hutang masa lalu " sebelum akhirnya perang besar dimulai. " Tambah bibi Silya sesaat sembari mengingat sosok dalam legenda tanah yang mereka tinggali.
"[ Bukankah itu kalimat yang dia katakan di arc ke-]" Gumam Vela sesaat sembari mendengarkan.
" [Berhentilah mengatakan apa yang kamu ketahui atau kisahmu akan berakhir saat ini juga!!]" Suara dari sosok penyihir putih itu tiba tiba masuk kedalam pikiran Vela.
" [Kamu sangat egois! ]" Vela membalas perkataan penyihir putih itu dengan kesal
* splash..... Duar...... * sebuah kilatan petir terlihat di siang bolong dan mengagetkan Vela yang seolah menantang sosok itu.
" Iya!!! Iya!!! Aku mengerti maafkan aku!! " Teriak Vela disaat kesadaran dari jiwanya dipermainkan oleh sosok penyihir putih itu.
__ADS_1
Tidak lama setelah kesadarannya dikembalikan, Vela melewati banyak bagian penting dari penjelasan Bibi Silya mengenai Kakek Frost.
" Tapi untungnya di negri ini, tidak ada yang mengetahui asal usul kakek kalian jadi dia dapat hidup damai bersama kalian. Oleh karena itu, Bibi harap kalian akan tinggal di rumah yang telah bibi siapkan untuk kalian di kota nanti. " Bibi Silya mengakhiri penjelasan mengenai Kakek Frost .
" Kalian juga tidak perlu khawatir mengenai identitas kalian, karena hanya bibi seorang saja yang mengetahui hal itu. Jadi, bibi harap kalian bisa membuat sebuah kisah mengenai perjalanan kalian layaknya perjalanan kakek kalian. " Tambah Bibi Silya tersenyum.
" Sebentar bi, kami merasa tidak enak jika bibi tiba tiba datang dan memberikan sesuatu yang begitu besar seperti itu pada kami dengan percuma. " Tanya Vela mencoba memahami sesuatu yang ia lewatkan.
" Bibi tidak apa, Lagipula kan bibi sudah bilang bahwa itu adalah tanda permintaan maaf bibi terhadap mendiang kakek kalian. " Jawab Bibi Vela dengan lembut.
" Tapi, bagaimana dengan rumah kakek ini bi? Apakah rumah ini akan kosong atau bagaimana? " Fran bertanya.
" Mengenai rumah ini? Tentunya rumah ini bisa kalian kosongkan. Sementara barang barang yang ada di rumah ini, bisa kalian jual pada bibi maupun kenalan bibi di kota yang akan kalian tuju. " Jawab Bibi Silya.
Mendengar jawaban dari Bibi Silya, Fran dan Vela saling memandang untuk sesaat yang kemudian di lanjutkan dengan diskusi singkat di antara keduanya sebelum memutuskannya.
" Hm.. Menurut kaka bagaimana ka? Apakah kaka ingin pergi meninggalkan rumah ini atau bagaimana? " Tanya Fran setelah tertarik dengan pilihan yang diberikan.
" Menurut kaka, mungkin sebaiknya kita mencoba lingkungan baru itu Fran. Lagipula, setelah mendengar perkataan dari Fany, kaka tidak tega melihat hasil kerja keras kamu harus di bayar dengan harga di bawah pasaran. " Jawab Vela sembari mengusap kepala Fran yang berharap.
" Apakah tadi kamu bilang harga di bawah pasaran?!! Siapa yang berani melakukan hal itu pada ponakan bibi?!! " Bibi Silya marah.
" Hehehe... Tenanglah bi. Mereka hanya beberapa petualang kelas rendah yang menginginkan perlengkapan hebat " Fran mencoba meredam amarah bibinya.
" Jikalau tidak ada mereka, mungkin saat ini aku dan kaka sudah tidak ada di tempat ini lagi. " Tambah Fran sembari tersenyum.
" Dan yah... Walaupun kami sangat menginginkan hal yang lebih, namun kami memilih untuk menerima apa yang mereka berikan sebagai cara untuk menyambung hidup " Vela menambahkan.
" Hm.... Ya sudah jika seperti itu keadaannya " Ucap Bibi Silya dengan tatapan sinis.
__ADS_1
" Jadi... Bagaimana keputusan kalian? " Tambah Bibi Silya.
" Aku akan menyerahkan keputusan itu pada Fran. " Jawab Vela spontan.
" Eh...? Kenapa harus pada ku ka? " Fran terkejut.
" Hehehe... Walaupun kaka adalah yang tertua dari keluarga kita, tapi setidaknya kamulah yang pantas untuk mengambil keputusan itu Fran. " Vela menjelaskan.
" Tapi ka ! " Fran kembali menolak
" Karena Fran adalah pelindung kaka, maka kaka akan mengikuti Fran kemanapun Fran mau.
Terlebih lagi, kaka tidak bisa mengambil keputusan itu sepihak Fran. Seperti kata kakek, jika ada masalah untuk memutuskan sesuatu, kita harus memutuskannya bersama. Lalu karena kaka sudah menyarankan padamu mengenai lingkungan baru dan menyerahkan keputusan pada dirimu, dengan kata lain kaka sudah memberikan keputusan kaka. " Tambah Vela sembari menepuk kedua pundak Fran dan menatapnya dengan serius.
Fran terdiam sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima pilihan Bibi Silya dengan syarat bahwa jika mereka tidak betah tinggal di sana, maka mereka boleh kembali kemari.
Mendengar jawaban dari Fran, Bibi Silya tersenyum senang yang membuatnya langsung memeluk kedua keponakannya sembari mengatakan kebahagiaan nya terhadap keputusan mereka.
" Ano, bibi. Bolehkah kami mengajak seorang lagi untuk tinggal bersama kami? " Tanya Vela di tengah kebahagiaan mereka bertiga.
" Emh ? memang siapa yang akan kalian ajak itu ? bibi akan memutuskannya tergantung pada pandangan bibi mengenai dieinya" tanya Bibi Silya dengan penasaran.
" Mengenai itu. Sebentar ya bi, aku panggilan dulu seorang itu " Vela memiliki ijin untuk memanggil seorang yang tidak lain adalah Fany.
" Jadi, Fran. siapa sosok yang akan Vela panggil? apakah dia adalah orang yang penting bagi kalian ataukah hanya orang yang merepotkan ? " tanya Bibi Silya disaat Vela pergi memanggil seorang.
" Seorang yang akan kaka panggil itu, bisa dikatakan sebagai penolong bagi kami Bi. Dia adalah seorang prist yang telah menyelamatkan kaka dan menyembuhkan nya dari kelumpuhan. " Jelas Fran sembari mengingat sosok Fany.
" Ini dia Bi. dia adalah Fanya Syansa Luna. dia adalah sosok priest yang telah menolong kami disaat kami sangat membutuhkan bantuan " Vela mengenalkan sosok Fany disaat Fran sedang menjelaskan kejadian yang membuat kaki Vela lumpuh.
__ADS_1