
Setelah mereka betiga selesai mengepak barang dan membersihkan isi rumah Kakek Frost yang juga merupakan toko pandai besi, Mereka bertiga mulai pergi menuju desa tempat Lela tinggal sembari mengucapkan salam perpisahan.
* Dham.... Dham.... Dham.... * Sebuah suara dari sesuatu yang besar terdengar dari arah gapura dari Desa Arsa.
Para penduduk yang ketakutan mulai memberanikan diri untuk berbaris di dekat gapura itu sembari membawa senjata seadanya.
Beberapa penduduk membawa sebuah sabit dan garpu rumput serta ada juga yang membawa Golok, parang dan cangkul.
Selain itu pun beberapa penduduk wanita yang bersiap dengan membawa beberapa batu dan ketapel.
" Ka, sepertinya mereka menganggap bahwa kita adalah ancaman bagi desa mereka. " Ucap Fran sembari melihat ke arah penduduk desa yang berbaris.
" Hehehe.... Fran kamu ini bisa saja berkata seperti itu? Lagi pula, siapa juga yang tidak akan merasa waspada jika sebuah Erth golem datang ke desa mereka yang damai!! " Balas Vela sembari melihat ke arah para penduduk desa itu dari atas kereta karavan.
" Yah... mau bagaimana lagi ka. kan kaka tahu bahwa sedari tadi aku tidak menemukan monster untuk dijadikan penarik untuk kereta besi ini. " Jawab Fran setelah menghela nafasnya.
" Tapi untungnya berkat bantuan Fany dan kaka, kereta ini dapat berjalan dengan sempurna dengan erth golem yang kaka ciptakan. " Tambah Fran sembari tersenyum.
Dari pandangan para penduduk kota yang bersiaga, mereka melihat sosok monster berkaki empat dengan sebuah tubuh kecil serta sebuah mata besar berwarna merah menyala sedang menarik sesuatu.
Beberapa penduduk yang melihat dari sisi lain dari gapura itu melihat sebuah kereta dengan bentuk seperti rumah dua tingkat dimana satu tingkatnya berukuran lebih kecil dari tingkatan pertama.
* Dahm.... Dahm... Dahm... * Sosok Monster besar itu terhenti didepan gapura dari desa itu dengan beberpa warga yang bersiap untuk menyerang.
* Druk.... * suara brisik dari sebuah sosok manusia yang memakai zirah baja yang berlapis dengan kitin dengan pelindung wajah layaknya seorang penambang yang dengkapi sebuah rantai besi, kampak besar dua lengan berwarna merah legam yang masih menempel beberapa noda darah serta sebuah perisai kecil adamantiun yang berada di sisi kirinya.
" Selamat siang penduduk Desa Arsn. Apakah saya bisa bertemu dengan sosok kepala desa? " Sapa Fran sembari bersikap hormat pada penduduk yang ketakutan.
__ADS_1
" Ak-aku adalah kepala desa dari desa ini. Ap-apa yang kamu inginkan dari desaku? " Jawab Seorang penduduk desa yang memakai sebuah blangkon merah yang berbalut dengan ukiran tumbuhan.
" Wah... senang mendengar bahwa anda adalah kepala desa dari desa ini " Fran langsung menjabat tangan sosok kepala desa itu.
" Akh... i-iya. " Jawab kepala desa itu kebingungan mengenai sosok Fran.
" Jadi, siapa gerangan tuan muda ini? dan kenapa tuan muda ingin bertemu dengan saya? " Tanya sosok kepala desa itu.
" Enh... maafkan saya karena belum mengenalkan diri saya. Nama saya adalah Platinia Fran Neouro. Anda bisa memanggil saya Fran. " Fran mengenalkan dirinya
" Apakah kamu Fran? cucu dari pandai besi Frosinuel Axe? " tanya kepala desa itu terkejut.
" Anda benar pak kepala desa. saya adalah cucu dari beliau. " Jawab Fran senang.
" Wah, senang mendengar nya. Lalu ada keperluan apa kamu datang kesini? dan lagi, apakah kakakmu sudah sehat? " tanya kepala desa itu sembari memeluk Fran sesat.
" Jika seperti itu tujuanmu, mari kita masuk kedalam desa dahulu dan membicarakannya lebih lanjut. " Balas sosok kepala desa itu sembari mempersilahkan Fran untuk masuk.
Setelah menjawab ucapan kepala desa itu, penduduk Desa Arsn yang semula siaga mulai tenang ketika sosok yang mereka anggap monster ternyata adalah sosok yang Fran kendalikan.
Beberapa penduduk yang masih penasaran mengenai sosok Fran terus mengikuti dirinya dari belakang hingga sampai ke rumah kepala desa.
" Nah, Fran selamat datang di rumahku. " Kepala desa menyambut Fran di rumahnya.
" Akh, iya. Permisi. " Fran menunjukkan sikap hormatnya pada sosok kepala desa.
" Ne, Ka Vela dan Fanya, kalian bisa turun sekarang. " Ucap Fran setelah membuka pintu samping dari kereta karavan.
__ADS_1
" Permisi. " Vela dan Fany keluar dari pintu yang di buka oleh Fran di waktu yang berdekatan.
" Walah, sepertinya kamu sudah besar ya Velantia Cruth. " sosok kepala desa itu menyambut sosok Vela.
" Hehehe, iya paman kepala desa. ini aku Velantia Silver Cruth. Senang melihat paman kembali. " balas Vela sembari mengenalkan diri.
" Dan dia?? " Tanya kepala desa pada sosok penyihir berpakaian ungu bercorak kuning.
" Oh, Dia. Dia adalah Fanya Syansa Luna. Seorang penyihir yang kebetulan menyelamatkan kami disaat kami dalam bahaya. " Vela mengenalkan sosok Fany.
" Hm, jadi seperti itu yah. saya sangat berterima kasih pada Nona Fany karena telah menyelamatkan mereka berdua. Lalu saya pun meminta maaf karena tidak mampu melindungi kalian berdua ketika dalam bahaya. " Ucap kepala desa itu sambil memangku kedua tangannya di belakang punggungnya.
" Iya paman kepala desa. Kami pun sudah memaafkannya. " Jawab Vela mengakhiri perkenalan mereka.
Setelah sosok kepala desa dari Desa Arsn mempersilahkan keduanya masuk, Mereka bertiga langsung membicarakan hal yang sebelumnya telah mereka bahas seperti permintaan mengenai dokumen diri dan tanda pengenal bahwa mereka berasal dari desa ini.
Walaupun sempat terjadi sebuah masalah mengenai tanda pengenal milik Fany yang bukan berasal dari desa ini, Fran dan Vela pun berhasil menemukan sebuah solusi untuk menyelesaikan hal itu.
Mereka menjelaskan bahwa Fanya adalah sosok petualang yang telah di serang makhluk buas di Hutan Klawi dan kehilangan beberapa dokumen diri serta teman teman yang ikut dengan partynya dan demi menghilangkan rasa trauma atas ingatan penyerangan itu, nama Fanya Syansa Luna diganti menjadi Luna Fansyanas.
" Saya memberikan baju dan senjata ini untuk paman kepala desa sebagai rasa Terima kasih sekaligus tanda pengingat untuk kami berdua yang pernah berada di desa ini " Fran menyerahkan sepaket zirah kulit berkualitas dan sebuah pedang besar berbahan taring dari wayvrn.
" Ya ampun! Ini adalah benda yang sangat bernilai tinggi Fran. saya tidak bisa menerima nenda seperti ini. " Ucap kepala desa yang terkejut atas pemberian dari Fran.
" Tidak apa, paman kepala desa. Lagipula kan tadi saya sudah bilang bahwa ini adalah tanda Terima kasih sekaligus tanda perpisahan. " Balas Fran sembari memegang kedua tangan kepala desa agar menerima pemberian darinya.
" Kalau begitu, bawalah ini sebagai tanda pertukaran yang layak. Walaupun di dalam kantung ini berisi uang yang tidak terlalu banyak, setidaknya ini bisa menjadi uang saku kalian selama perjalanan menuju kota yang kalian maksudkan itu. " Ucap kepala desa itu setelah mengambil sekantung uang dari bagian lain ruangan rumah itu.
__ADS_1