Putra Naga

Putra Naga
Bab 10 Porsi latihan Jingsy


__ADS_3

Pada keesokan harinya, Jingsy mengatakan kalau dirinya bersedia untuk menjadi murid tetua Ma dan mendapatkan pelatihan dasar seni bela diri olehnya.


Setelah berpikir semalaman, Jingsy menyadari kalau menjadi murid tetua Ma adalah langkah awal baginya untuk menjadi seorang pendekar dan mempelajari dasar seni bela diri.


Tetua Ma sangat senang dengan pernyataan Panji yang bersedia untuk menjadi muridnya, dan saat siang harinya tetua Ma langsung mengajari Jingsy dasar seni bela diri yang berbeda beda.


"Seni bela diri memilki banyak jenis, contohnya seperti, seni bela diri pedang, seni bela diri tombak, seni bela diri tangan kosong, seni bela diri pisau pendek dan lain lainnya. Namun untuk seni bela diri dasar, semua orang memilih antara seni bela diri tangan kosong atau seni bela diri pedang, dan untukmu aku mau kamu mempelajari dua dasar seni bela diri ini!"


"Dua seni bela diri? Apakah itu tidak terlalu berlebihan bagiku yang seorang pemula, guru?"


Tetua Ma menggelengkan kepalanya, lalu bertanya, "Jingsy, berapa umurmu sekarang?"


"Lima belas tahun!"


"Untuk seorang pendekar biasa, mereka sudah mempelajari dasar seni bela diri saat berumur tujuh tahun, sedangkan dirimu sudah berusia lima belas tahun. Kamu memiliki perbedaan delapan tahun dengan pendekar lain, jika kamu mengambil pelatihan yang sama dengan mereka, maka kamu tidak akan bisa mengejar ketertinggalanmu dari mereka. Apakah kamu bisa mengerti?"


"Aku sudah mengerti guru!"


"Bagus! Maka lakukan semua yang aku perintahkan dan jangan mempertanyakan lagi perkataanku seperti tadi!"


Setelah itu tetua Mla mulai mengajari Jingsy dasar seni bela diri tangan kosong dan tetua Ma menggunakan seni bela diri tangan kosong ciptaannya sendiri untuk mengajari Jingsy.


Setelah mempraktekan gerakannya satu kali pada


Jingsy, tetua Ma langsung dikejutkan oleh Paman Jingsy karna ia bisa menguasai sebagian besar gerakan tersebut, walaupun dengan gerakan yang sedikit kaku.


"Ayahnya mengatakan kalau dia tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang pendekar, tapi setelah melatih dan melihatnya sendiri dengan mata kepalaku ini, aku sangat yakin kalau dia adalah orang yang paling berbakat yang pernah aku lihat!"


.......


Satu minggu kemudian...


Jingsy sedang melakukan gerakan dasar seni bela diri tangan kosong yang sudah diajarkan oleh tetua Ma. Pergerakan yang diajarkan oleh tetua Ma kasar tapi penuh dengan kekuatan, namun gerakan yang dilakukan oleh Jingsy


sangat tenang dan lembut seakan akan tidak memiliki kekuatan sama sekali di setiap gerakan nya, tapi jika diperhatikan lebih dalam, setiap gerakan nya mengandung kekuatan yang sangat besar.

__ADS_1


Awalnya Jingsy menggunakan gerakan kasar yang diajarkan oleh tetua Ma, tapi dirinya tidak terbiasa dengan gerakan itu karna terlalu monoton dan mudah ditebak.


Dengan menggunakan ingatan dari pemilik pedang sebelumnya, Jingsy menggabungkan gerakan dasar seni bela diri pedang dalam ingatannya dengan seni bela diri tangan kosong yang diajarkan oleh tetua Ma, dan hasilnya Jingsy membuat seni bela diri baru yang lebih kuat.


Tetua Ma yang melihat kemajuan luar biasa Panji dalam waktu hanya satu minggu saja, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Walaupun itu adalah gerakan dasar seni bela diri tangan kosong, itu masih memerlukan waktu sampai satu bulan untuk seorang pendekar jenius bisa menguasainya, namun dia hanya butuh waktu beberapa hari saja


untuk menguasainya dan beberapa hari berikutnya dia mampu menciptakan seni bela diri baru yang sesuai untuknya. Aku tidak tahu harus senang atau sedih untuk ini.


Setelah Jingsy selesai melatih gerakan seni bela dirinya, tetua Ma memanggilnya dan mulai mengajarkan cara untuk melakukan meditasi


"Jingsy, apa kamu tahu arti dari melakukan meditasi?" Tanya tetua Ma.


"Meditasi itu untuk melatih tenaga dalam agar tubuh menjadi lebih kuat kan, guru?" Jawab Jingsy.


"Itu memang bisa dianggap benar. Namun, meditasi yang sebenarnya berguna untuk membuka jalur meridian dalam tubuh seseorang.


Saat seseorang baru memasuki dunia pendekar, mereka harus melakukan meditasi agar jalur meridian dalam tubuh mereka terbuka dan mempercepat


"Baik guru, aku akan melakukannya sesuai perintah mu!" Jingsy menjawab dengan penuh semangat.


"Bagus, itu baru muridku!"


Selepas itu tetua Ma mulai mengajari Jingsy untuk melakukan meditasi yang benar, namun baru


sekali tetua Ma mengajari, Jingsy langsung bisa memahaminya dengan baik.


"Aku tidak tahu apakah cara mengajarku yang terlalu sempurna, atau anak ini yang terlalu jenius untuk aku ajari."


***


Satu minggu lagi sudah terlewati.


Jingsy melakukan pelatihan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh tetua Ma. Saat siang hari dirinya melakukan gerakan seni bela diri dan beberapa latihan fisik lain, sedangkan saat malam harinya ia melakukan meditasi untuk membuka jalur meridian di dalam tubuhnya secara bertahap.

__ADS_1


Semua latihan itu membuahkan hasil pada Panji, karna dirinya berhasil memasuki ranah pendekar tubuh lapisan pertama, hal itu membuatnya sangat senang.


Tapi, hal itu membuat tetua Ma sangat terkejut, karna tetua Ma berpikir kalau


Panji muridnya ini paling tidak sudah berada di ranah pendekar tubuh lapisan ketiga.


Karna rasa penasaran di dalam dirinya, tetua Ma


mengetes kekuatan milik Jingsy dengan menyuruhnya untuk memukul sebuah pohon dengan semua kekuatan miliknya. Jingsy pun melakukan itu dan menyerang batang pohon dengan pukulan terkuat miliknya.


BOOM


Pukulan Jingsy berhasil membentuk bekas yang cukup dalam pada batang pohon. Jingsy sedikit kecewa karna tidak bisa merusak lebih pada pukulannya namun tetua Ma sangat terkejut dengan kekuatan pukulan milik Jingsy.


"Dia banya pendekar tubuh lapisan pertama, tapi kekuatan pukulannya hampir menyamai kekuatan pendekar tubuh lapisan kelima. Anak ini sungguh luar biasa!" Gumam tetua Ma.


"Maafkan aku guru! Pukulanku masih sangat lemah, dan hanya bisa merusak sedikit batang pohon itu!" Jingsy berkata dengan menundukkan kepala merasa kecewa.


"Tidak perlu kecewa seperti itu, kamu baru saja belajar untuk menjadi seorang pendekar kamu masih memiliki banyak waktu untuk bertambah kuat lagi!"


"Baik guru, aku akan berlatih lebih giat lagi!"


Jingsy kembali ke tempat dia biasa berlatih dan mulai melakukan semua latihan fisiknya.


Tetua Ma menghela nafas dan sedikit menggelengkan kepalanya, "Mau bagaimanapun juga dia masih bertingkah seperti anak anak, kehidupan seperti apa yang ia jalani dulu?"


Malam harinya Jingsy melakukan meditasi seperti biasa sebelum tidur.


Setelah melakukan meditasi selama satu minggu, Jingsy berhasil membuka jalur meridian kecil di dadanya dan sekarang dirinya mencoba untuk membuka jalur meridian di bagian lengan kanannya.


Saat mencoba membukanya, lengan kananya tiba tiba mati rasa dan membuat Jingsy menghentikan meditasinya dengan keringat yang lumayan banyak di dahinya. Ketika sudah berhenti melakukan meditasi, lengan kananya yang mati rasa kembali pulih dengan cepat.


"Kenapa membuka jalur meridian di lengan kanan membuat tanganku menjadi mati rasa?


Apa ada yang salah dengan yang aku lakukan

__ADS_1


__ADS_2