Putra Naga

Putra Naga
Bab 6 Kelurga Zang


__ADS_3

Tetua Ma mengatakan kalau dirinya akan mengajarkan dasar dasar seni bela diri jika Jingsy mau menjadi muridnya, bahkan tetua Ma berjanji akan mengajarkannya gerakan yang diciptakan nya sendiri pada Jingsy jika ia menjadi muridnya.


Jingsy sangat senang dengan hal itu, namun dirinya mengatakan akan memutuskan menjadi muridnya atau tidak setelah menemui keluarganya di kota Bawang putih.


Dua hari pun telah berlalu, Jingsy dan tetua Ma berhasil sampai ke kota Bawang putih. Namun saat baru sampai di gerbang kota, mereka melihat ada sebuah keributan yang terjadi.


Jingsy dan tetua Ma yang nelihat kerumunan orang langsung mendekat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saat sampai di kerumunan, Jingsy dan tetua Ma melihat ada dua orang pria yang sedang bertarung di tengah kerumunan. "Bukankah itu Chen Hap dan Ming Yao!" Ucap Jingsy


Kedua orang yang di ucap oleh Panjang itu sedang beradu pukul satu sama lain dengan seni bela diri mereka masing masing, namun orang yang bernama Chen Hao itu tersudut oleh lawannya dan dipukul mundur.


Saat Ming Yao akan memberikan pukulan terakhir pada Chen Hao, pukulan itu ditahan oleh seseorang dan orang yang menahan pukulan tersebut adalah Jingsy. "Kau!" Wajah Ming Yao sangat terkejut saat melihat wajah Jingsy di hadapannya. "Menyingkir!" Jingsy mendorong tangan Ming Yao dan memberikan sebuah tendangan pada perutnya.


BAMMM


Ming Yao terpental mundur puluhan langkah dari tempatnya berdiri. Semua orang yang menonton itu langsung terkejut dengan tendangan yang dilakukan oleh Jingsy, mereka semua tidak mengetahui identitas Jingsy karna dirinya tidak. "Bukankah itu Chen Hap dan Ming Yao!" Ucap


Jingsy.


Kedua orang yang di ucap oleh Panjang itu sedang beradu pukul satu sama lain dengan seni bela diri mereka masing masing, namun orang yang bernama Chen Hao itu tersudut oleh lawannya dan dipukul mundur.


Saat Ming Yao akan memberikan pukulan terakhir pada Chen Hao, pukulan itu ditahan oleh seseorang dan orang yang menahan pukulan tersebut adalah Jingsy. "Kau!" Wajah Ming Yao sangat terkejut saat melihat wajah Jingsy di hadapannya. "Menyingkir!" Jingsy mendorong tangan Ming Yao dan memberikan sebuah tendangan pada perutnya.


BAMMM


Ming Yao terpental mundur puluhan langkah dari tempatnya berdiri. Semua orang yang menonton itu langsung terkejut dengan tendangan yang dilakukan olehJingsy, mereka semua tidak mengetahui identitas Jingsy karna dirinya tidak


pernah keluar dari kediaman rumahnya. "Siapa pemuda itu? Dia bisa menendang tuan muda Ming Yao!" Ucap salah satu orang yang menonton. "Sepertinya dia berasal dari sebuah sekte, karna tidak mungkin untuk pemuda kota ini bisa menendang mundur tuan muda Meng Yao!"


Balas yang lain.

__ADS_1


Jingsy mendekati Chen Hao dan membantunya berdiri dari atas tanah. "Kenapa kamu menjadi lemah dari yang aku tahu?" Ucap Jingsy. "Heheh, mendengar perkataan itu keluar dari mulutmu membuatku merasa sangat malu. Aku mendapat kabar kalau kamu sudah mati, tapi bagaimana kamu bisa ada di sini sekarang? Apa kamu seorang hantu?" "Ada beberapa hal yang terjadi padaku, namun aku berhasil selamat dari semua itu dan sekarang aku ingin menagih semua hutang itu pada seseorang!" Mata Jingsy menunjukkan kebencian yang sangat dalam.


"Apa itu adikmu?" Tanya Chen Hao.


Wajah Jingsy langsung terkejut seketika, "Bagaimana kamu bisa tahu?" "Aku akan mengatakannya, tapi tidak di sini, di sini terlalu ramai!" Chen Hao melihat sekelilingnya yang ramai.


Jingsy juga melihat sekelilingnya yang ramai dan merasakan tidak nyaman, karna dirinya yang terbiasa sendiri. "Baiklah, kita akan pindah ke tempat lain saja!"


Ucap Jingsy.


Jingsy menoleh ke arah tetua Ma dan melambaikan tangannya untuk memintanya mendekat. Setelah tetua Ma mendekat, Jingsy langsung memperkenalkan tetua Ma pada Chen


Hao. Wajah Chen Hao bereaksi Aneh saat Jingsy memperkenalkan tetua Ma padanya dan menatap tetua Ma dengan penuh hormat, lalu menundukkan sebagian tubuhnya. "Junior ini menghadap senior tetua!" "Bangkit!" Perintah tetua Ma.


Chen Hao sedikit mengangkat kepalanya dan dak berani lagi menatap wajah tetua Ma secara langsung. "Baiklah, kita bisa pergi dari sini sekarang!" ajak


Jingsy "Aku ada satu tempat untuk bisa berbicara dengan aman, ayok ikut aku!" ucap Chen Hao.


Chen Hao membawa Jingsy dan juga tetua Ma ke bangunan di pinggir kota. Mereka bertiga masuk ke dalam bangunan itu. Jingsy melihat sekeliling bangunan itu yang terlihat seperti gudang yang tidak digunakan lagi. "Chen Hao, bangunan apa ini?" tanya Jingsy. "Bangunan ini adalah gudang lama milik keluargaku, sekarang gudang ini sudah tidak digunakan lagi."


Chen Hao duduk di kursi kayu dan berbalik ke arah Jingsy dan tetua Ma.


"Jingsy, tetua Ma. Kalian bisa duduk di sini!" Chen


Hao menunjuk kursi di depannya.


Jingsy dan tetua Ma mendekati kursi itu dan duduk. Jingsy menatap Chen Hao, menunggu jawaban dari pertanyaan yang belum di jawab olehnya. "Jingsy, apa kamu mengetahui sudah berapa lama kamu menghilang?" tanya Chen Hao.


Jingsy menggelengkan kepalanya, tidak mengetahui sudah berapa lama dirinya di dalam jurang itu. "Bahkan kau sendiri saja tidak mengetahaui sudah berapa lama menghilang. Jadi bagaimana aku harus memulai ini?" "Memangnya apa yang terjadi, Chen? Aku rasa aku cuma menghilang selama satu minggu lebih.

__ADS_1


Apa terjadi sesuatu yang buruk pada keluargaku?" tanya Jingsy dengan khawatir. "Keluargamu baik baik saja, hanya saja mereka mengumumkan kematianmu dua minggu yang lalu. Jadi aku rasa kamu sudah menghilang selama lebih dari dua minggu!"


"Aku bisa mengerti tentang pengumuman kematianku setelah kehilanganku diriku tanpa kabar, lalu kenapa kamu terlihat sangat khawatir, apa ada yang masih belum kamu sampaikan, kawan?" "Aku khawatir akan adikmu!"


Jingsy mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu?" "Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi aku mendengar suatu berita kalau dalang dibalik hilangnya dirimu kemungkinan besar adalah adikmu!"


Jingsy menundukan kepalanya dan tersenyum kecut, dirinya juga sudah mengetahui kalau adiknya yang mencoba membunuh dirinya dengan menggunakan anak buahnya, namun


Jingsy masih belum bisa mempercayai kalau itu dilakukan oleh Adiknya sendiri. "Chen hao, bukan itu saja yang ingin kamu katakan, bukan?" "Mei Mei!" ucap Chen hao.


Mata Jingsy lanosuno terbuka lebar sekilas


bayangan dari seorang gadis cantik berambut itam panjang terlintas dalam kepalanya, gadis


Cantik itu tersenyum ke arahnya.


Jingsy menghembuskan napas panjang. "Apa adikku bertunangan dengannya?" "Ya!" balas Chen hao. "Apa itu terjadi setelah pengumuman kematianku!" "Ya!"


Jingsy berdiri dari duduknya, "Sudah saatnya aku untuk pulang ke rumah!" Jingsy berbalik dan berjalan menuju pintu.


Tetua Ma yang dari tadi hanya diam ikut berdiri dan berjalan mengikuti Jingsy, namun saat tetua


Ma berjalan beberapa langkah, Chen hao berbicara padanya. "Tetua Ma, apa aku bisa meminta tolong padamu untuk membawa Jingsy dengan selamat. Saat dia kembali ke rumahnya, pasti akan membuat keluarganya ingin membunuhnya lagi, mau bagaimanapun juga keluarganya pasti akan


memandang dirinya sebagai parasit yang harus disingkirkan!" "Aku tidak biasanya menerima permintaan dari seorang junior! Namun untuk kali ini aku akan menerimanya!" tetua Ma berbalik dan berjalan keluar dari dalam gudang. "Terima kasih tetua!"


Jingsy berdiri di sebuah gerbang kayu yang di atasnya terukir tulisan, "Zang' yang merupakan nama dari kediaman keluarga tersebut, yang juga merupakan nama keluarga milik Jingsy.


Jingsy mendorong pintu kayu itu dan berjalan masuk ke dalam. Saat Jingsy baru masuk beberapa langkah, dua orang penjaga langsung menghadangnya, namun dua orang penjaga itu langsung membeku saat melihat wajah Jingsy. "T- Tuan muda Jingsy!" ucap kedua penjaga itu tidak percaya.

__ADS_1


.......Bersambung.....


__ADS_2