Putra Naga

Putra Naga
Bab 4 Serigala ABu-Abu


__ADS_3

Kawanan serigala abu abu "Sepertinya tubuhku menjadi lebih kuat!" Ucap Jingsy sambil terkikik.


Monster cacing itu menyerang lagi dan segera


Panji melompat ke atas lalu menusuk kepala cacing itu dan menyayat nya sekuat tenaga sampai setengah tubuh monster cacing itu berhenti bergerak lagi.


Panji duduk di tubuh monster itu dengan tubuhnya yang penuh dengan keringat. "Cacing ini sangat kuat!" Ucap Jingsy seraya mengelap keringat dari dahinya menggunakan tangan.


Setelah memulihkan energinya kembali, Jingsy menggunakan asap hitam untuk menghilangkan tubuh monster cacing besar tersebut. Sebuah bola hitam dengan ukuran tiga kali lipat dari bola hitam biasanya jatuh ke atas tanah, Jingsy mendekati bola itu dan mengambilnya.


"Tidak hanya tubuhnya saja yang besar, bahkan hola hitamnya ini juga lebih besar dari biasanya!"


Jingsy memegang pedangnya dan membelah bola hitam itu menjadi dua, asap hitam yang tebal keluar dari dalam bola yang terbelah, kepekatan asap hitam itu jauh lebih pekat dari bola hitam yang biasanya. Pedang di tangan Jingsy langsung menghisap asap hitam itu dengan lahap.


Setelah menghisap asap hitam dari bola, pedang yang Jingsy pegang langsung bergetar hebat dan ada seperti sebuah sengatan listrik yang masuk ke dalam tubuh Jingsy.


ARGHHHH...


Jingsy merasakan sengatan listrik itu menjalar ke dalam otaknya. Dalam waktu singkat berbagai ingatan misterius masuk ke dalam kepala Jingsy dan setelah selesai, Jingsy duduk dengan tubuh lemas. "Aku mendapatkan sedikit ingatan aneh, sepertinya itu ingatan dari pemilik sebelumnya pedang ini! Orang itu dikhianati oleh temannya sendiri!"


Jingsy melihat ke atas di mana terdapat kabut bal yang menutupi langit. "Kali ini aku mengetahui cara untuk keluar dari jurang busuk ini!"


Dari ingatan yang di dapatkan oleh Jingsy, terdapat ingatan cara untuk berjalan di medan apapun bahkan pada tebing jurang. Namun membutuhkan kekuatan tenaga dalam yang cukup besar agar bisa melakukannya. Tapi untuk


Jingsy dia tidak memerlukan hal tersebut, karna memiliki asap hitam di dalam tubuhnya. "Aku sudah sangat bodoh selama ini, seharusnya aku memanjat tebing ini dengan menggunakan asap hitamku! Mengapa aku tidak terpikirkan cara ini sebelumnya?"


Jingsy mendekati tebing dan menggigit gagang pedang, sedangkan kedua tangannya menyentuh tebing. Jingsy mengeluarkan asap hitam dari tangannya dan dengan cepat tebing itu menghilang, lalu Jingsy menarik kembali menarik kembali asap hitam dan tebing yang menghilang menjadi sebuah lubang kecil. "Berhasil! Dengan cara ini aku bisa kembali ke


atas sana lagi! Tapi sebelum itu aku harus mengambil buah biru lagi sebagai cadangan jika tenagaku habis!"

__ADS_1


Jingsy tetap memutuskan kembali ke tempat banyak buah buahan tumbuh untuk bekalnya naik ke atas tebing.


Setelah berjalan menyusuri jalan setapak selama beberapa waktu, Jingsy melihat kembali tempat banyak buah tumbuh dari kejauhan, segera Jingsy mempercepat langkahnya menuju tempat buah buahan itu tumbuh.


Sesampainya di sana, Jingsy langsung memakan beberapa buah karna bekalnya yang sudah habis sejak lama. Selesai makan, Panji mengambil beberapa buah biru untuk menjadi bekalnya naik ke atas tebing.


Setelah mendapatkan bekal dan memulihkan energinya, Jingsy mulai memanjat dinding tebing dengan menggunakan tangannya yang berlapis asap hitam. Sambil memanjat dinding tebing, penguasaannya terhadap asap hitam semakin meningkat dan mulai bisa mengeluarkan dan menariknya sesuka hati. Setelah tenaganya hampir habis, Jingsy berhenti memanjat dan memakan buah


biru.


Setelah energinya sudah pulih kembali, Jingsy memanjat lagi dan terus melakukannya sampai dirinya menembus kabut tebal yang menutupi jurang.


Langit biru dan udara yang sejuk bisa dirasakan kembali oleh Jingsy, hanya beberapa langkah lagi dirinya akan berada di atas tebing, Dengan semua kekuatannya, Panji langsung mendaki ke atas tebing dan berguling di rerumputan hijau. Hanya rerumputan hijau yang menjadi alas tidurnya saja sudah membuat Jingsy sangat senang. "Aku kembali, aku benar benar kembali! Aku tidak percaya bisa keluar dari jurang terkejut itu!" Jingsy berbicara dengan tawa bahagia pada dirinya sendiri.


Setelah cukup lama berguling di atas rumput,


Jingsy kembali berdiri dan menarik pedang yang dia ikat di punggungnya. "Aku terlalu cepat bahagia, masih ada hutan ini yang harus aku lewati sebelum bisa kembali ke kota!"


Jalan masuk ke dalam hutan. Baginya yang seorang tuan muda terbuang, dirinya tidak pernah sama sekali masuk ke dalam hutan dan hanya mengurung diri di dalam kamar selama hidupnya.


Karna untuk pertama kalinya masuk ke dalam hutan, Jingsy langsung terjebak dalam kepungan Monster yang kelaparan. "Aku tahu kalau ini adalah pengalaman pertamaku masuk hutan. Tapi bagaimana mereka semua bisa mengetahui keberadaanku?"


Sekeliling Jingsy saat ini sudah ada banyak serigala abu abu yang mengepungnya, semua serigala itu menggeram dan mengeluarkan air liur dari mulut mereka. Tatapan semua serigala itu seperti melihat seekor kelinci gemuk yang ketakutan.


Satu ekor serigala melompat dan menyerang


Panji, segera Jingsy menghindar ke samping dan mengayunkan pedang nya ke arah serigala itu.


Namun serigala itu menghindari serangannya dengan mudah.

__ADS_1


Serigala lain langsung ikut menyerang ke arah


Jingsy yang sedang teralihkan, Jingsy menyadari ada yang menyerangnya dari samping dan menahannya dengan menggunakan pedang.


Pedang itu menahan gigi runcing milik serigala,


Jingsy menendang perut serigala itu agar menjauh darinya. "Mereka sangat banyak, aku tidak bisa menghadapi mereka semua sekaligus. Aku harus memikirkan cara agar biasa kabur dari mereka!"


Selama di dalam jurang, Jingsy hanya bisa melawan tiga monster secara bersamaan. Namun, untuk melawan satu kelompok yang memiliki belasan monster serigala bukanlah sebuah hal yang bisa dilakukan oleh Jingsy, walaupun dirinya memiliki pedang yang bagus. Selama di dalam jurang, Jingsy hanya mengandalkan kecepatan untuk melawan monster, Tapi sekarang kecepatannya tidak sebanding dengan serigala, juga Jingsy tidak memiliki seni bela diri yang ia kuasai. "Andai saja aku memiliki seni bela diri, tunggu!"


Jingsy baru ingat kalau dalam ingatan dari pemilik pedang sebelumnya ada sebuah Jiwa bela diri


dasar menggunakan pedang. Jingsy mengingat kembali semua tentang seni bela diri tersebut. "Bagus, sekarang aku sudah mengetahui cara menggunakan pedang ini dengan baik. Sekarang majulah kalian!"


Seperti mengetahui apa yang dikatakan oleh


Panji, dua serigala langsung berlari menyerangnya. Jingsy menggenggam erat pedangnya dan mengayunkannya dengan lembut. "Ayunkan pedang seperti air yang mengalir, tenang dan ikuti arusnya!"


BRUK!!


Dua serigala itu terjatuh dengan tubuh terbelah menjadi dua bagian. "Namun di balik ketenangan itu terdapat kekuatan yang sangat besar!"


Jingsy tersenyum mengejek ke arah serigala.


Serigala merasakan provokasi itu dan langsung menyerang Jingsy secara bersamaan. "Majulah kalian semua!"


Jingsy tetap tenang dan mengayunkan pedang miliknya dengan lembut, namun ayunan tersebut mengandung kekuatan tekanan yang sangat kuat.


Satu persatu serigala terbelah menjadi dua bagian dan hanya dalam waktu singkat Jingsy berhasil membunuh semua serigala, namun tubuhnya di penuhi oleh luka dari serangan Serigala. "Aku berhasil mengalahkan mereka semua. Aku berhasil.. " Jingsy kehilangan kesadarannya dan jatuh ke tanah dengan tubuhnya yang dipenuhi darah

__ADS_1


...........BERSAMBUNG.....


__ADS_2