
Jingsy menghela nafas panjang dan mendesah lega, "Kalau begitu aku akan menggunakan cara ketiga untuk membuat diriku sekuat kaisar seribu bintang, dengan begitu semua orang akan mengenaliku!"
Hanabi tersenyum kecil, "Kenapa seorang pria selalu saja mengatakan hal bodoh seperti itu?" gumam Hanabi.
Tidak beberapa lama kemudian, tetua Ma dan tetua Han muncul kembali dari balik hutan bambu. Kedua tetua itu langsung berjalan mendekati Jingsy dan Hanabi yang berada di depan rumah.
Tetua Ma berhenti di depan Jingsy, "Nak, aku dan tetua Han akan melakukan sebuah tugas dari ketua lembah, tugas ini sangat sulit dan akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikannya."
"Memangnya berapa lama gru?" Potong Jingsy. "Aku dan tetua Han tidak terlalu tahu waktu pastinya, hanya saja paling cepat itu sekitar satu tahun!" Jawab tetua Ma. "Satu tahun?!"
Tetua Ma menepuk pundak Jingsy dan berkata, "Nak, aku memang baru menjadikanmu muridku dan belum banyak memberimu pelajaran. Jadi, selama aku pergi, kau harus berlatih dengan giat sesuai yang pernah aku ajarkan waktu di hutan.
Jika kau memiliki pertanyaan atau masalah, kau temui saja tetua Aji di aula yang pernah kita temui, dia pasti akan membantumu!" "Apa guru akan pergi sekarang?" "Ya, dan sebelum aku pergi, aku akan memberikanmu
ini untuk kau pelajari!" Tetua Ma mengeluarkan sebuah buku dari balik bajunya dan memberikan buku itu kepada Jingsy. "Langkah Hantu kegelapan!"
Jingsy membuka buku itu dan melihat isi di dalamnya, wajah Jingsy langsung terkejut setelah mengetahui kalau buku itu adalah sebuah buku seni bela diri sesungguhnya.
"Guru, ini, " Jingsy memegang buku itu dengan tangan gemetar kana sangat bahagia. "Itu adalah seni bela diri yang pernah aku janjikan padamu, nama seni bela diri itu sesuai dengan julukan pendekar ku.
Aku harap kamu bisa mempelajarinya dengan baik!" "Terima kasih guru, aku akan berlatih dengan giat dan menguasai seni bela diri ini sebelum kamu pulang."
Tetua Han berjalan mendekati Hanabi dan menyentuh kepalanya. "Muridku, aku dan tetua Ma akan melakukan tugas, selama aku pergi aku mau kamu tinggal bersama
dengan Jingsy di rumah ini jika kamu bersedia, jika kamu tidak mau, kamu bisa kembali ke rumah biasanya!" Hanabi sedikit menundukkan kepala seperti sedang berpikir. Jingsy dan tetua Ma melihat ke
arah Hanabi untuk mendengar jawabannya.
Selang beberapa saat, Hanabi mengangkat kepalanya menghadap ke arah tetua Han.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tinggal bersama Jingsy, jika aku tinggal di rumah guru, akan sangat membosankan karna sendirian, jika di sini paling tidak ada seseorang yang bisa diajak bicara."
Selepas itu tetua Ma dan tetua Han langsung pergi dari tempat itu dan meninggalkan Jingsy dan Hanabi berdua, hal itu membuat Hanabi menjadi sedikit terbawa suasana.
Tiba tiba Jingsy membuka bajunya dan memperlihatkan tulbuh bagian atasnya. Hanabi yang melihat itu langsung berteriak dan mundur beberapa langkah dari Jingsy.
"A- apa yang mau kamu lakukan? K- kenapa kamu melepas pakaian?" "Aku hanya mau melepaskannya karna sedikit panas saja, kenapa wajahmu memerah?" Jingsy berbicara dengan santai.
Jingsy menaruh bajunya dan berjalan menuju halaman di depan rumah, lalu mulai melakukan gerakan dasar seni bela diri tangan kosong.
Hanabi membuang nafas panjang, pikirannya masih dipenuhi dengan hal hal aneh yang membuatnya menjadi semakin malu. Setelah memenangkan dirinya, Hanabi melihat ke halaman di mana Jingsy sedang melakukan latihan.
"Beberapa saat yang lalu ia terlihat sangat lemah dan mudah untuk ditindas, namun saat ini ia terlihat sangat berbeda!" Hanabi terus memperhatikan latiha Jingsy dan tanpa sadar dirinya terus memandang wajah
Jingsy yang dipenuhi dengan keringat.
"Sedikit, tapi tidak terlalu lapar." "Hmm, baiklah, aku akan memasak sesuatu untuk kita makan bersama!" "Kau bisa masak?"
Jingsy hanya membalas dengan sedikit senyuman.
Selama dirinya di keluarga Zang Jingsy tidak memiliki pelayan yang mau memasakannya makanan, dengan terpaksa Jingsy harus memasak untuk dirinya sendiri agar bisa bertahan hidup.
Dengan semua pengalaman itu, Jingsy bisa menciptakan beberapa masakan yang enak.
Jingsy pun membersihkan semua keringat di tubuhnya, lalu masuk ke dalam rumah bersama dengan Hanabi. Setelah itu Jingsy
memasak sup sayuran untuk mereka berdua makan. Hanabi yang awalnya mengatakan kalau dirinya tidak terlalu lapar, menghabiskan dua mangkuk sup sayur dengan lahap. Malam hari yang gelap dengan cahaya bulan yang
redup serta kabut tipis yang membawa hawa dingin. Rumah yang berada di tengah hutan bambu itu sangat sunyi tanpa ada suara terdengar selain suara dari jangkrik dan serangga hutan lainnya.
__ADS_1
Jingsy sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan posisi bermeditasi, sudah satu minggu semenjak dirinya ditinggal gurunya yang menjalankan tugas, dan selama itu pula dirinya tinggal bersama dengan Hanabi.
Setiap malam Jingsy melakukan latihan meditasi untuk memperbesar jalur meridian miliknya, walaupun sedikit demi sedikit, Jingsy tetap menunjukkan kemajuan dalam usahanya.
Jingsy membuka matanya dan membuang nafas panjang, lalu Jingsy melihat ke arah sampingnya di mana tempat tidur Hanabi berada. "Sepertinya di sudabh tidur, kalau begitu aku akan keluar sebentar!"
Melihat Hanabi yang sudah terlelap, Jingsy turun dari tempat tidur miliknya dan langsung berjalan
keluar rumah. Saat berada di luar rumah, Jingsy melihat banyak kabut tipis yang mengelilingi rumahnya. "Kabut ini masih membawa aroma yang sangat familiar bagi hidungku, dan asal kabut ini dari danau itu.
Pasti ada sesuatu di bawah danau itu!"
Jingsy mengikat padang miliknya di pinggang, lalu berlari masuk ke dalam hutan bambu. Jingsy berniat untuk kembali ke tempat danau sebelumnya berada dan melihat apa yang ada di bawah danau itu.
Setelah menelusuri hutan cukup lama, Jingsy akhirnya kembali lagi ke danau sebelumnya dan bisa melihat banyak kabut mengambang di atas danau. Aroma yang terasa oleh hidung Jingsy semakin kuat saat mendekati danau itu.
Jingsy berdiri di pinggir danau lalu menyentuh air danau yang berwarna biru kehijauan. Saat menyentuh sedikit air danau Jingsy bisa merasakan dingin yang kuat mengalir pada jarinya, dengan cepat Jingsy menarik kembali tangannya yang menyentuh air.
"Air ini sangat dingin, jika langsung masuk saja tubuhku pasti akan langsung membeku. Jika seperti ini aku tidak bisa masuk ke dalam air dan melihat apa yang ada di bawah danau!"
Jingsy menghela nafas panjang dan menyayangkan apa yang terjadi, dirinya sangat penasaran dengan apa yang ada di bawah danau namun tidak mungkin untuk langsung menerobos karna dinginnya air.
"Tunggu! Jika aku menggunakan api hitam milikku apa bisa menahan dingin air ini?"
Tanpa menunggu lama, Jingsy langsung mengeluarkan asap hitam dalam tubuhnya dan melapisi tangannya, lalu Jingsy kembali menyentuh air itu, dan benar saja, dingin dari
air itu tidak dirasakan sedikitpun oleh Jingsy. "Hehe, dengan begini aku bisa masuk ke dalam danau dan melihat apa yang ada di bawahnya."
......Bersambung.....
__ADS_1