
Jingsy memegang pedang miliknya dengan erat dan memasang kuda kuda acak yang menurutnya bisa untuk bertahan. Kedua monster cacing mendekati Jingsy dan membuka lebar mulut mereka seperti ingin memakan Jingsy.
Panji membuang napas berat dan menatap tajam dua monster cacing yang mendekatinya, genggaman tangan Jingsy sangat kuat sampai membuat pedang di tangannya bergetar halus. "Aku ingin lari dari monster ini, tapi kenapa tubuhku menyuruhku untuk tetap di sini dan mengalahkannya? Aku tidak tahu ini hal yang baik atau tidak, tapi mulai sekarang aku tidak akan lari lagi!"
Jingsy menggenggam erat gagang pedang dan berlari mendekati kedua monster cacing itu, saat sudah sangat dekat dengan salah satu monster,
Jingsy menebasnya secara acak dan mengenai tubuh monster cacing itu. Pedang hitam di tangan Jingsy dengan mudah memotong monster cacing itu seperti memotong tahu.
BOOM
Tubuh monster cacing besar itu terjatuh dan mengeluarkan darah hitam beserta isi dari dalam tubuhnya.
Jingsy yang melihat hal menjijikkan itu seperti ingin mengeluarkan isi perutnya, namun belum sempat melakukan apapun, monster cacing yang satunya langsung menyerang ke ayahnya dengan mulut terbuka lebar. "Cih, mau memakan aku? Tidak akan semudah itu!"
Jingsy melompat ke samping dan memotong tubuh monster cacing itu dengan mudah.
BOOM
Tubuh besar monster cacing itu jatuh dan mati dengan seluruh isi tubuhnya yang keluar dari sayatan yang dibuat Jingsy. "Dua monster ini memiliki bau yang sangat menyengat, di dekat sini merupakan tempat buah buahan tumbuh, akan sangat merepotkan jika ini dibiarkan tetap di sini. Aku harus memikirkan cara untuk menghilangkan tubuh bangkai cacing ini, tapi menguburnya akan memakan banyak waktu!"
Jingsy memikirkan cara untuk menghilangkan tubuh monster cacing itu dan dirinya kembali teringat dengan asap hitam yang mengubah batu menjadi abu. Segera Jingsy mengangkat tangannya ke depan dan muncul asap hitam.
Jingsy langsung mendekati salah satu tubuh monster cacing itu dan meletakkan tangannya yang berlapis asap hitam di atasnya, dengan cepat asap hitam menjalar ke seluruh tubuh monster cacing itu dan mengubahnya menjadi debu. Bola berwarna hitam seperti sebelumnya jatuh tepat di mana bekas tubuh cacing berada. Jingsy mendekati bola hitam itu dan mengambilnya. "Bola hitam ini jatuh setelah tubuh monster cacing itu menghilang. sepertinya bola hitam ini milik monster cacing itu!"
Jingsy mendekatkan pedangnya ke bola hitam itu dan membelahnya menjadi dua bagian dengan mudah. Asap hitam keluar lagi dari bola itu dan dihisap dengan cepat oleh Pedang sampai tak bersisa lagi. "Aku tanpa sadar membelah bola ini, tapi aku bisa merasakan pedang ini bergetar hebat setelah menghisap asap hitam itu!"
__ADS_1
Jingsy menoleh ke tubuh monster cacing satunya dan berjalan mendekatinya. Jingsy menggunakan cara yang sama seperti tubuh monster cacing sebelumnya dan membelah bola hitam dengan pedang.
Setelah selesai mengurus kedua monster cacing itu, Jingsy baru menyadari kalau pedang di tangannya tidak terpengaruh oleh asap hitam yang ada di tangannya. "Aku baru menyadarinya sekarang, pedang hitam ini bukanlah pedang biasa! Ini sepertinya sebuah pusaka yang sangat kuat, atau hanya api hitamku ini saja yang terlalu lemah?"
Jingsy belum menyadari kalau api hitam yang ia bicarakan adalah sebuah asap dan itu berasal dari pedang yang ia pegang. "Setelah melawan dua monster cacing itu
perutku jadi lapar!" Jingsy memegangi perutnya yang berbunyi.
Segera Jingsy berlari menuju buah biru dan memakannya dengan puas, Jingsy juga memakan buah yang lain dan rasanya sama enak seperti dengan buah biru. Namun buah lain yang dimakan oleh Jingsy memberikan efek yang berbeda pada tubuhnya. Buah yang berbentuk anggur dengan warna putih membuat tulang
Jingsy menjadi dingin, buah yang berbentuk pir dengan warna hitam membuat otot Jingsy berdenyut seperti bergerak sendiri, dan buah berbentuk cerry dengan warna kuning membuat darah Jingsy mendidih dan meluap luap.
Jingsy memakan buah itu secara bergiliran dan menahan efeknya sekuat tenaga. "Efek setelah memakan semua buah ini memang sangat menyakitkan, tapi setelah efek itu menghilang tubuhku menjadi lebih baik dan ringan."
Jingsy melihat ke depan di mana terdapat sebuah jalan setapak yang tidak diketahui ujungnya. "Mungkin di ujung jalan ini ada sesuatu yang bisa membawaku keluar dari jurang ini!"
Jingsy melepas pakaian miliknya dan mengikatnya empat sisi untuk dijadikan keranjang buah, jingsy memetik banyak buah dan menaruhnya di pakaian miliknya yang sudah diikat. Setelah persiapannya selesai, Jingsy langsung bejalan menyusuri jalan setapak itu.
Seminggu kemudian...
Jingsy sudah menyusuri jalan setapak dan mendapati ujung jalan tersebut hanyalah sebuah dinding batu besar. Jingsy menyerah dan memutuskan untuk kembali ke tempat tanaman buah sebelumnya.
Sepanjang jalan menyusuri jalan setapak, Jingsy menemui banyak monster cacing dan beberapa monster lainnya. Awalnya Jingsy hanya mnelawan monster cacing dan akan menghindar jika bertemu dengan monster lain. Namun Jingsy tanpa sengaja membunuh monster serangga dengan mudah menggunakan pedangnya. Semenjak itu Jingsy akan membunuh apapun yang muncul di hadapannya.
Selama membunuh monster, Jingsy juga mendapatkan bola hitam dari para monster itu dan membelahnya dengan pedang, lalu asap hitam yang keluar langsung dihisap oleh pedang.
__ADS_1
Setelah membelah bola hitam sangat banyak. Jingsy merasakan getaran pada pedangnya menjadi semakin kuat dan sesekali mengeluarkan cahaya hitam redup.
Jingsy sedang beristirahat untuk makan buah yang ia petik seminggu yang lalu, walau sudah satu minggu dipetik buah buahan itu masih terlihat segar dan memiliki efek yang sama namun efeknya semakin lama semakin berkurang, bahkan salah satu buah tidak memberikan efek lagi pada tubuhnya, dan membuat Jingsy memakannya sampai habis, karna tidak perlu memikirkan rasa sakit dari efeknya.
Saat Jingsy selesai makan, seluruh tempat di jurang itu bergetar dengan hebat dan beberapa batu di tebing berjatuhan ke bawah. Getaran semakin kuat dan kuat sampai terdengar suara yang berada dari dalam tanah. BOOM
Groouaaahh
Monster cacing yang berukuran sepuluh kali lipat dari yang biasanya muncul dari dalam tanah.
Monster cacing itu memiliki banyak mata dan semua mata itu melihat ke arah Jingsy, segera monster cacing itu mendekati Jingsy dan membuka mulutnya yang super besar dengan penuh gigi runcing. "Cih, trik seperti itu tidak akan bekerja lagi padaku, mau sebesar apapun tubuhmu kau tetaplah seekor cacing di mataku!"
Saat monster cacing itu akan menyerang, Jingsy lebih dulu melompat ke sampingnya dan menyerang cacing itu dengan pedangnya.
Serangan Jingsy berhasil namun serangannya tidak melukai monster cacing itu terlalu dalam. "Aku pikir hanya tubuhnya saja yang besar, ternyata kulitnya juga lebih keras dari monster cacing biasa!"
Ketika Jingsy akan mundur, Monster cacing itu bergerak ke samping dan membuat Jingsy
terpental hingga membentur dinding jurang.
Walaupun Jingsy terbentur dengan cukup keras, dirinya tidak merasakan sakit sama sekali. "Sepertinya tubuhku menjadi lebih kuat!" Ucap
Jingsy sambil terkikik
...... BERSAMBUNG.....
__ADS_1