
Setelah beberapa saat sebuah bayangan hitam menyelusuri hutan dan berhenti di tempat Jingsy berada. Bayangan hitam itu menatap Jingsy yang tergeletak di atas tanah. "Anak ini berhasil mengalahkan kawanan serigala abu abu seorang diri. Bahkan pendekar tubuh lapisan kelima saja akan kesulitan melakukannya.
Menarik! Aku akan membawa anak ini!"
Bayangan hitam itu mendekati Jingsy dan saat mengangkatnya bayangan hitam itu melihat sebuah pedang yang digenggam oleh Jingsy, bayangan itu langsung terkejut saat melihat pedang tersebut. "Luar biasa, ternyata dia nmengalahkan kawanan serigala ini dengan menggunakan pedang yang hampir hancur ini?! Sepertinya pilihanku sudah tepat untuk membawanya!"
Bayangan hitam itu menggendong Jingsy dengan satu tangan dan membawanya pergi dari tempat itu.
Lembah teratai hitam merupakan sebuah sekte tingkat bawah yang berada di kota Bawang putih, yang berada di bawah kerajaan Hu. Lembah
Teratai hitam menjadi sekte tingkat bawah karna memiliki sedikit murid yang mana mereka semua diambil dari orang jalanan yang kelaparan.
Lembah Teratai hitam tidak menerima murid melainkan mencari murid mereka sendiri.
Walaupun Lembah Teratai hitam hanya sekte tingkat bawah, tapi para tetua yang berada di dalam Lembah tersebut memiliki nama yang terkenal di Kerajaan Hu, dan yang paling dikenal adalah tetua Hantu bayang.
Tetua hantu bayang adalah orang terkuat di dalam Lembah setelah ketua sekte. Nama tetua hantu bayang sangat terkenal di Kerajaan Hu karna kekuatannya yang sudah berada di ranah pendekar Roh tingkat menengah.
Jingsy membuka matanya dan melihat atap yang terbuat dari tumpukan daun kering. Jingsy langsung mengangkat tubuhnya untuk duduk dan melihat sekitarnya yang berupa tempat tidur. da di mana aku? Argh!" Jingsy memegang dadanya yang sudah di balut dengan perban. "Jangan terlalu banyak bergerak, tubuhnya mendapat banyak luka!" Seorang pria berpakaian hitam masuk ke dalam kamar dengan membawa ember yang penuh dengan air. "Apa kamu yang membawaku ke sini? Ada di mana ini?"
Pria itu berjalan mendekat dan menaruh ember yang penuh air itu di dekat tempat tidur. "Bersihkan dulu tubuhmu! Aku akan keluar untuk mengambil makanan, saat aku kembali kita akan berbicara."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, pria tersebut langsung keluar dari kamar.
Jingsy melihat ember yang penuh dengan air itu membuatnya menelan air ludah. Sudah lama dirinya tidak meminum air, Jingsy hanya mengandalkan buah buahan dalam jurang itu untuk menghilangkan rasa lapar dan hausnya, dan saat melihat air sungguhan membuatnya üdak tahan untuk meminumnya.
Jingsy mendekati ember itu dan mengambil air yang berada di ember dengan tangannya, lalu meminum air itu. "Ahhhh, air sungguhan memang jauh lebih nikmat!"
Jingsy meminum sedikit lebih banyak lagi dan baru membersihkan tubuhnya dengan membasahi kain dan mengelap tubuhnya dengan kain tersebut. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, pria berpakaian hitam datang lagi dengan membawa sekeranjang yang penuh dengan berbagai buah.
Pria berpakaian hitam itu menaruh keranjang tersebut di atas tempat tidur, lalu pria itu duduk di kursi kayu yang berada di dekat tempat tidur. "Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan mu.
Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?" "Apa kamu yang membawaku ke sini?" "Ya. aku yang melakukannya !".Jawab pria berpakaian hitam.
Walau, ada di mana kita sekarang ini?" "Lembah Teratai hitam!" "Lembah Teratai hitam?" Gumam Jingsy.
Jingsy. "Untuk menjadikanmu muridku!" "Apa?" "Apa itu mengejutkanmu?" Tanya pria berpakaian hitam. "Tentu saja, dalam ingatanku Lembah Teratai hitam tidak pernah menerima murid, kan?" "Kau salah nah, Lembah Teratai hitam menerima murid, namun mereka harus lulus dari ujian orang yang akan menjadi gurunya dan kau sudah lus!" "Tunggu! Aku tidak merasa melakukan ujian apapun?" "Ya, kau benar. Namun kau sudah mengalahkan sekawanan serigala abu abu dan itu sudah cukup untuk lulus ujianku!"
Jingsy kenmbali teringat dengan belasan serigala yang menyerangnya dan saat membunuh mereka. "Huh! Pedangku! Di mana pedangku?" Tanya
Jingsy dengan panik. "Tenanglah, pedangmu ada tepat di samping tempat tidurmu!" Pria berpakaian hitam menunjuk ke arah tempat tidur.
Jingsy melihat ke tempat tidur dan melihat pedangnya tergeletak di sana. Jingsy menghela nafas lega setelah melihat pedang itu. "Awalnya aku ingin meninggalkan pedang itu, tapi kamu terus menggumamkan pedang itu. Jadi aku membawamu bersamanya!" "Terima kasih!" Ucap Jingsy. alu, bagaimana keputusanmu untuk menjadi muridku?" Tanya pria berpakaian hitam. "Maaf, apa kamu bisa memberikan waktu untuk aku berpikir? Aku harus kembali ke rumahku dulu saat ini!"
__ADS_1
Pria berpakaian hitam mengelus dagunya, "Di mana rumahmu?" "Kota Bawang putih!" Balas Jingsy. "Baiklah, kau bisa pulang lebih dulu, aku akan mengantarmu." "Terima kasih tuan!"
Setelah pria berpakaian hitam menyuruh Jingsy untuk makan dan istirahat agar tubuhnya lebih cepat sembuh. Saat pria berpakaian hitam keluar dari dalam kamar, Jingsy langsung meraba raba pakaian yang ia kenakan dan menemukan buah cerry kuning dari dalam jurang. "Untung saja aku membawanya sebagai keadaan darurat. Buah ini mempercepat aliran darahku dan menyembuhkan luka, dengan buah ini aku bisa sembuh lebih cepat!"
Keesokan harinya...
Jingsy keluar dari gubuk tempatnya tinggal dan melihat cahaya matahari dan langit biru yang penuh awan putih. Tidak lama pria berpakaian hitam datang dan mengajaknya pergi.
Tubuh Jingsy sudah sepenuhnya pulih dari luka serangan serigala, namun Jingsy tetap mengenakan perban agar tidak membuat pria berpakaian hitam curiga. "Tuan, bukankah kamu mengatakan kita berada di lembah Teratai hitam, lalu kenapa aku hanya melihat gubuk tua itu saja dan tidak melihat bangunan lain?" "Bangunan yang kamu sebut itu hanya ada di area dalam Lembah Teratai hitam. Kita sekarang ini hanya berada di wilayah luar Lembah Teratai hitam, hanya anggota Lembah Teratai hitam saja yang boleh masuk lebih dalam. "Lalu tuan, berapa lama kita akan sampe ke kota
Bawang putih dari sini?" "Sekitar dua hari. Juga berhenti memanggilnya ian, kau bisa memanggilku dengan tetua Ma!" "Baik tetua Ma!"
Selama perjalanan, Jingsy yang haus akan pengetahuan terus bertanya pada tetua Ma, namun tetua Ma hanya menjawab beberapa pertanyaan saja karna dirinya sendiri tidak terlalu tahu jawaban atas pertanyaan Jingsy.
Tetua Mo juga bertanya pada Jingsy bagaimana dirinya bisa mengalahkan kawanan srigala dulu, dan Jingsy menjawab dengan mengatakan kalau dirinya hanya mengayunkannya pedang secara acak karna tidak memiliki dasar bela diri.
Tetua Ma sangat terkejut dengan jawaban dari
Jingsy dan saat melihat matanya, tetua Ma bisa mengetahui kalau apa yang dikatakan olehnya adalah kebenaran.
Jingsy memang tidak memiliki dasar seni bela diri, pada pertarungan sebelumnya Jingsy hanya mengandalkan ingatan dari pemilik pedang sebelumnya dan itu masih sangat berantakan jika disebut sebagai dasar seni bela diri.
__ADS_1
......Bersambung.....