Putra Naga

Putra Naga
Bab 2 Buah Mistirius


__ADS_3

Benua Bintang timur, merupakan benua besar yang terdiri dari tiga kerajaan dan satu kekaisaran, Hu, kerajaan


Wang, kerajaan Ming, dan kekaisaran Seribu Bintang.


Dari keempat kekuatan itu, Kekaisaran seribu


Bintang lah yang memiliki kekuatan terbesar dan merupakan penguasa sebagian dari benua ini.


Selain dari keempat kekuatan itu juga ada beberapa sekte yang menguasai sebagian benua lain, beberapa di antara beberapa sekte tersebut terdiri dari beberapa aliran dan tingkatan, seperti sekte aliran putih, sekte aliran hitam, dan sekte netral. Dan tingkatan yang terdiri dari bawah, menengah dan atas.Untuk bisa masuk ke dalam sekte harus memiliki elemen dalam tubuh mereka. Elemen merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh seorang pendekar dan jika tidak memiliki elemen mereka hanya akan menjadi orang biasa untuk selamanya.


Eelemen sendiri memiliki lima jenis yang biasa disebut elemen dasar yaitu, Api, Air, Angin,Tanah, dan Besi. Selain dari lima jenis elemen dasar itu terdapat juga empat elemen lanjutan yang hanya bisa dimiliki oleh seorang jenisu, yaitu,


Es, Petir, Cahaya, dan


Kegelapan.


Setiap Pendekar sendiri umumnya hanya bisa memiliki satu elemen dalam tubuh mereka, tapi ada juga beberapa orang yang bisa memiliki lebih dari satu elemen dalam tubuh mereka, dan mereka merupakan seorang jenius dari yang jenius yang sangat langka.


Pendekar sendiri juga memiliki tingkatan kekuatan yang terdiri dari, pendekar tubuh, pendekar inti, pendekar roh, pendekar raja, pendekar bumi, pendekar langit, dan pendekar suci, dari pendekar tubuh sampai


pendekar inti memiliki sepuluh lapisan, dan untuk pendekar roh sampai seterusnya hanya memiliki tga tingkat lapisan yaitu, awal, menengah, dan atas.


Benua Bintang Timur sendiri hanya memiliki pendekar Raja tingkat menengalh sebagai pendekar terkuat mereka, pendekar tersebut dimiliki oleh kekaisaran yang memiliki sumber daya terbesar di Benua.'''


Jingsy sedang duduk di atas batu, matanya terpejam dan asap hitam di sekelilingnya masilh ada.


Setelah cukup lama, Jingsy baru membuka kembali matanya. "Sialan, kenapa api hitam ini masih saja keluar? Aku sudah bermeditasi dan masih saja api ini keluar


dari tubuhku!"


Jingsy melihat ke atas langit dan merasa dirinya sangat jauh dari dataran atas, sangat tidak mungkin untuk dirinya keluar dari dalam jurang tersebut, ditambah dirinya yang terus menerus mengeluarkan asap hitam dari tubuhnya. "Argh, aku memang hidup tapi aku tidak mungkin bisa keluar dari


tempat ini. Ditambah api hitam ini yang tidak mau menghilang dari tanganku!"

__ADS_1


Asap hitam di tangan jingsy langsung menghilang seketika. "Huh! Api itu menghilang?!"


Jingsy memutar balik tangannya dan tidak lagi melihat asap hitam yang keluar. Namun tiba tiba tubuhnya menjadi lemas dan pusing, dengan cepat


Jingsy kehilangan kesadarannya dan terletak di atas tanah.


Jingsy kembali membuka matanya dan melihat sekelilingnya masih gelap seperti sebelumnya, saat melihat ke atas tidak ada lagi langit malam penuh bintang dan hanya ada kabut tebal yang tidak tahu sampai mana batasnya. "Sudah berapa lama aku pingsan? Tubuhku masih lemas karna tidak memiliki energi lagi!"


Jingsy mencoba kembali berdiri dengan sekuat tenaga. Setelah berhasil berdiri, Jingsy berjalan menuju pedang hitam dan memegang gagangnya, lalu mencabut pedang itu dari tanah dengan mudah.


Setelah itu Jingsy berjalan


menyusuri dalam jurang tersebut untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.


Setelah menyusuri jurang cukup lama, Jingsy tidak menemukan satupun tumbuhan yang hidup dan hanya melihat bebatuan saja.


Di saat kesadaran Jingsy akan memudar, dirinya melihat cahaya yang tidak terlalu jauh dan segera Jingsy mengumpulkan sekuat tenaga untuk mendekati cahaya itu.


Ketika akan sampai ke cahaya itu, Jingsy terjatuh karna tidak memiliki tenaga dan saat menghadap ke depan,


Tanpa pikir panjang Jingsy langsung membuka mulutnya dan menggigit buah itu dengan gigitan besar. Jingsy mengunyah dan menelan buah itu,


Jingsy merasakan tubuhnya menjadi panas dan energi dalam tubuhnya kembali lagi terisi dengan cepat. "Buah ini sangat luar biasa, tenagaku kembali pulih hanya dengan satu kali gigitan saja!"


Jingsy duduk dan memetik buah biru itu dan


memakannya lagi, buah biru itu memiliki tekstur yang mirip seperti apel dan rasanya juga sama persis. Namun buah biru itu mengandung banyak energi di dalamnya yang membuat tubuh orang yang memakannya menjadi panas. "Satu buah ini sudah membuatku sangat kenyang, sayangnya aku hanya bisa menemukan


satu saja!"


Jingsy berbalik untuk mengambil pedang yang terjatuh sebelumnya dan saat dia melihat apa yang ada di belakangnya, Jingsy langsung terkejut karna buah biru yang barusan dia makan ada sangat banyak dan ada beberapa buah lain yang tumbuh selain buah biru. "Aku tidak menyangka akan ada banyak tumbuhan seperti itu di dalam jurang ini. Tapi dengan ini aku bisa bertahan hidup!"


Jingsy melihat ke atas langit yang dipenuhi dengan kabut tebal yang menghalangi cahaya masuk. "Tapi tujuan utamaku adalah keluar dari tempat ini secepatnya!"

__ADS_1


Tiba tiba tanah yang di pijak oleh Jingsy bergetar hebat dan dari dalam tanah muncul seekor cacing besar yang memiliki mulut penuh dengan gigi tajam.


Tubuh Jingsy langsung terjatuh gemetar, untuk pertama kalinya dia melihat seekor monster nyata yang sangat menakutkan.


Monster cacing itu mendekat ke arah Jingsy


dan membuka mulutnya dengan lebar, giginya yang sangat banyak dan runcing terlihat di mulutnya yang terbuka lebar itu.


Jingsy yang ketakutan menggenggam erat pedang di tangannya dan menegaskan secara acak.


Asap hitam keluar dari dalam pedang dan menyelimuti cacing monster hingga membuat monster itu menjadi debu.


Jingsy melepas pedang miliknya dan langsung jatuh ke tanah. Apa yang barusan dia lakukan menghabiskan semua kekuatan dalam tubuhnya, hingga membuatnya kehilangan kesadaran.


Beberapa jam kemudian...


Jingsy kembali membuka matanya dan merasakan tubuhnya kembali kehilangan energi seperti sebelumnya. Segera Jingsy


berlari mendekati buah biru dan memakannya, dengan cepat energi di dalam tubuhnya kembali pulih setelah memakan buah biru. "Tempat ini ternyata memiiki monster di dalamnya, untung saja aku memiliki pedang ini di tanganku, jika tidak mungkin aku sudah mati oleh monster cacing tadi, huh! Monster tadi?!" Jingsy melihat sekitarnya dan tidak melihat tubuh dari monster yang ingin membunuhnya. "Apa aku berhasil mengalahkannya? Lalu ke mana tubuhnya pergi?"


Jingsy berlari ke tempat dia sebelumnya dan melihat lubang di mana monster cacing itu keluar, Jingsy melihat sekeliling lubang dan menemukan bola hitam berukuran kecil.


Jingsy mengambil bola hitam itu dan melihatnya dari dekat. "Benda apa ini? Terlihat seperti bola, tapi di dalamnya seperti ada yang bergerak. Coba kita lihat isinya!"


Jingsy mengambil pedang dan membelah bola hitam itu dengan menggunakan pedangnya. Pedang hitam itu membelah bola hitam itu seperti memotong tahu.


"Bola hitam itu mengeluarkan asap!"


Bola hitam yang dibelah oleh Jingsy mengeluarkan asap hitam dan dengan cepat asap hitam itu masuk ke dalam pedang, hanya dalam hitungan detik semua asap itu masuk ke dalam pedang. "Apa itu? Pedang ini menghisap asap?"


Jingsy ingin mencoba membuktikan kembali, namun dia tidak menemukan lagi bola hitam seperti sebelumnya. "Di mana aku harus mencari bola hitam seperti tadi?"


Saat Jingsy sedang memikirkan cara mendapatkan bola hitam lagi. Tanah di bawahnya kembali bergetar dan kali ini muncul dua ekor cacing monster yang sama seperti sebelumnya

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2