
"Baiklah, sebelum
menjadikan kamu murid resmi di lembah teratai hitam, aku akan memberikanmu sedikit pengetahuan di dalam lembah. Kau lihat pakaian yang dikenakan oleh semua murid di belakangmu itu!"
Jingsy berbalik dan melihat murid murid lembah. "Kenapa dengan pakaian mereka, apa ada yang salah? Mereka hanya mengenakan pakaian yang sama, hanya saja warnanya ada yang berbeda." "Itu, warna dari pakaian yang kau kenakan adalah
identitasmu di dalam lembah ini. Ada empat jenis warna dan setiap warna menunjukan tingkat kekuatan yang kamu miliki, yang pertama adalah putih, putih adalah pakaian yang dikenakan oleh murid baru masuk, yang
kedua adalah biru, biru adalah pakaian yang dikenakan oleh murid yang telah berlatih di lembah selama dua tahun lebih, yang ketiga adalah hijau, warna ini menunjukan dirimu sudah menjadi murid lembah selama lima tahun lebih, dan yang
terakhir adalah merah, warna ini menunjukan kalau dirimu sudah menjadi murid lembah selama sepuluh tahun lebih, dan mereka bisa disebut juga murid senior. Apa kamu
paham?" "Saya paham!" balas Jingsy dengan anggukan kepala. "Ah, satu lagi, untuk meningkatkan lencana yang kamu miliki, kamu harus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh lembah. Semua tugas yang diberikan oleh lembah ada di papan besar
itu!" pia itu menunjuk ke arah papan besar yang dikerumuni oleh banyak murid sekte. "Terima kasih atas penjelasannya tetua!" "Ya, jika ada pertanyaan yang lain, kamu bisa menemui ku di tempat ini!" Jingsy menganggukan kepalanya lalu meninggalkan aula itu bersama dengan tetua Ma.
Kedua orang itu kembali ke rumah di tengah hutan bambu, setelah sampai tetua Ma mengatakan kalau dirinya harus bertemu dengan ketua lembah dan meninggalkan Jingsy seorang diri selama beberapa saat.
Jingsy yang merasa sangat bosan karna seorang diri, mulai melakukan latihan seni bela diri untuk menghilangkan rasa bosannya.
Setelah berlatih cukup lama, Jingsy pun beristirahat untuk memulihkan tenaganya yang habis. "Latihan hari ini sedikit melelahkan, hanya saja sampai kapan aku akan melakukan latihan seperti ini? Aku tidak tahu sudah seberapa jauh perkembanganku."
Setelah merasa tubuhnya kembali dipenuhi energi, Jingsy kembali berdiri untuk melanjutkan latihannya lagi. Namun, Jingsy mendengar suara langkah kaki dari arah hutan bambu, segera Jingsy berhenti latihan dan langsung waspada. "Siapa itu, kenapa kau bisa ada di sini?"
Dari balik lapisan hutan bambu itu, keluar seekor kucing berbulu oranye. Melihat itu hanya seekor kucing membuat Jingsy menghilangkan kewaspadaannya.
__ADS_1
Namun, selang beberapa waktu terdengar suara orang berlari dari dalam hutan dan muncul di depan Jingsy. Orang itu merupakan seorang wanita dengan mengenakan pakaian berwarna hijau.
Kucing oranye yang keluar dari hutan bambu langsung berlari mendekati Jingsy dan melompat ke pelukannya. "Hmm, kenapa kamu lari ke arahku kucing kecil?" Jingsy mengelus kepala kucing oren itu.
"Oyen, kenapa kau lari sangat jauh sekali!" wanita itu berjalan mendekati Jingsy. "Berhenti! Siapa kamu? kenapa kamu bisa berada di tempat ini?" tanya Jingsy dengan mengerutkan dahinya. "Maaf, aku tanpa sadar ke tempat ini karna mengejar Oyen!" "Oyen? apa itu nama kucing ini?" "Ya, dia adalah Oyen kucingku."
Jingsy menurunkan kucing itu dan segera kucing itu berlari ke arah wanita itu dan melompat ke pelukannya.
"Jaga dia, jangan sampai kabur lagi!" "Baik, terima kasih!" Wanita itu berbalik dan segera berlari menjauh dari tempat itu.
Jingsy menghela nafas, lalu melihat langit biru di atasnya. Malam harinya, hutan bambu dipenuhi dengan banyaknya kabut yang tidak terlalu tebal, namun kabut tipis itu membawa hawa dingin yang membuat tubuh menggigil.
Panji yang sedang duduk di depan rumah sambil menatap bulan di atas langit. Jingsy sedang menunggu tetua Ma pulang. "Kenapa guru lama sekalu, bukankah guru hanya menemui ketua lembah saja? kenapa bisa selama ini?"
"Kabut ini membawa aroma yang seperti aku kenal, aneh sekali!" Jingsy pun berbalik dan berjalan menuju sumber aroma yang dia cium. Jingsy terus mengkuti aroma itu tanpa menyadari ke mana dia akan pergi.
Setelah cukup lama Jingsy berjalan, ia berhenti di dekat sebuah danau yang cukup besar. Jingsy mencium aroma yang dibawa kabut berasal dari danau tersebut. "Sektar danau ini sangat dingin, apa memang seperti ini saat dipinggir danau jika malam hari?"
Jingsy melihat sekelilingnya dan tidak menemukan apapun, selain tumbuhan liar dan kunang kunang yang beterbangan. "Tidak ada sesuatu di sekitar sini, lebih baik aku kembali, mungkin saja guru sudah kembali di rumah."
Jingsy berbalik dan baru sadar kalau dirinya tidak mengetahui arah kemlbali ke rumahnya. "Arah mana yang harus aku ambil? sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
aku datang ke sini dari rumah."
Jingsy mencoba mengingat lagi jalan yang ia lalui, namun tetap sedikit kesulitan untuk mengingatnya karna dirinya datang ke sini tanpa sadar.
__ADS_1
"Huuh! Sudahlah, lebih baik aku berjalan saja dari pada berdiri diam di sini sampai pagi!" Jingsy pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan, tanpa tahu jalur yang dia masuki benar atau salah.
Selama berjalan Jingsy merasakan dingin dari kabut yang menyelimuti tubuhnya, dengan kekuatannya Jingsy tidak bisa menahan dingin dari kabut dan hanya bisa menahannya dengan menggigil kedinginan.
Setelah berjalan cukup lama di dalam hutan,
Jingsy tidak kembali ke hutan bambu tempat tinggalnya dan malah masuk lebih dalam ke hutan yang tidak ia ketahui.
Jingsy bisa merasakan banyak tatap mata dari setiap sudut hutan yang memperhatikan gerak geriknya. Jingsy mengambil pedang yang ia ikat di pinggang dan memegangnya dengan erat sambil
berjalan menyusuri hutan. "Sebenarnya ada di mana aku ini?" Jingsy terus berjalan hingga dirinya melihat sebuah cahaya di kejauhan.
Jingsy langsung berlari dengan cepat menuju cahaya itu, saat semakin dekat dengan cahaya itu, Jingsy berhasil keluar dari hutan dan melihat api unggun. Jingsy juga melihat wanita yang ia lihat tadi siang berada di dekat api unggun. "Kamu!"
Jingsy menggeser penglihatannya ke samping dan melihat seorang pria berbadan tegap yang sepertinya adalah gurunya, namun pria itu memiliki rambut putih yang sedikit terurai. "Nak, siapa kamu? Dan bagaimana kamu bisa sampai di tempat ini?" tanya Pri itu
dengan mengerutkan dahinya. "Mmm, aku tadi hanya sedang berjalan jalan saja.
Tapi aku malah tersesat dan sampai ke sini."
Jingsy sengaja tidak mengatakan tentang danau yang ia temui.
"Hmm, ternyata seperti itu. Lalu, apa kau tahu kalau ini adalah kawasan lembah tertai hitam?"
Saat ini Jingsy sedang tidak mengenakan pakaian murid lembah dan menggunakan pakaian biasa karna dirinya habis latihan.
__ADS_1