Putra Naga

Putra Naga
Bab 18 Satu Pukulan


__ADS_3

Penolakan Hanabi membuat wajah Bopak menjadi memerah, pasalnya banyak murid lembah yang menyaksikan hal ini.


Wajah yang sudah ia bangun dengan susah payah perlahan pasti akan hancur jika terus seperti ini. "Sialan wanita ini, bisa bisanya dia menolakku dihadapan banyak orang ini.


Jika seperti ini, maka semua murid akan menertawakanku, aku harus mencari cara untuk membuatku kembali ditakuti!" Bopak bergumam dan melihat ke arah


Jingsy yang berada di samping Hanabi "Itu dia, aku akan menggunakan si bodoh itu untuk mengembalikan namaku!" gumam Bopak dengan senyuman licik di wajahnya.


Jingsy merasakan tatapan dari Bopak dan mengabaikannya, lalu melanjutkan langkah menuju ke aula lembah.


"Tunggu! Siapa yang menyuruhmu pergi?" teriak Bopak menghentikan Jingsy dan Hanabi. "Apa yang kau bicarakan, aku sudah mengatakan aku menolakmu dan terus akan seperti itu. Jadi menyerah saja!" teriak Hanabi dengan kesal.


"Aku tahu kau menolakku karna pria yang ada di sampingmu itu, kan? Maka dari itu aku akan menantangnya dan yang menang akan mendapatkanmu!" Bopak menunjuk Jingsy dengan penuh percaya diri.


"Apa! Kau pikir aku ini sebuah barang taruhan!" teriak Hanabi dengan wajah yang sangat kesal. Jingsy menepuk pundak Hanabi, lalu melangkah maju satu kali ke depan. "Orang seperti ini memang harus dihajar dulu baru bisa mengerti, serahkan dia padaku!"


Hanabi menatap punggung Jingsy dan merasakan dirinya sangat aman. "Baiklah, hajar dia dengan satu pukulan!" ucap


Hanabi menyemangati Jingsy.


"Hahah, mengalahkanku, seorang murid berpakaian putih mau mengalahkanku? Apa kau sedang bercanda?" Bopak tertawa lantang.


"Apa kau sudah selesai tertawa, orang aneh? Aku masih banyak hal yang mau ku kerjakan, jadi cepat kemari dan selesaikan ini dengan segera!" ucap Jingsy dengan nada mengejek. "kurang ajar! kau mencari kematian!"


Bopak berhenti tertawa dan langsung menggunakan teknik langkah kaki untuk mendekati Jingsy. Kecepatan langkah kaki Bopak cukup cepat untuk diikuti oleh mata para murid yang melihat, namun di mata Jingsy kecepatan Bopak tidak secepat itu.


Saat sudah dekat, Bopak langsung melompat ke atas dan mengeluarkan seni bela diri tangan kosong untuk menyerang Jingsy. "Pukulan kerbau Tmur!" Bopak memusatkan semua kekuatan miliknya ke dalam pukulannya agar bisa mengalahkan


Jingsy dengan satu pukulan. Namun, bukannya menghindar, Jingsy malah mengajak beradu pukulan dengan Bopak.


Bopak tersenyukm sinis, dirinya sangat percaya akan mematahkan lengan Jingsy dengan pukulannya.

__ADS_1


BAAAM!


KRETAAKK!!!


Suara nyaring dari tulang yang patah terdengar jelas oleh semua murid yang menyaksikan, lalu tidak lama terdengar suara orang tertawa yang sangat keras.


"Hahaha, dasar orang bodoh! Beraninya kau beradu pukulan denganku! Sekarang lenganmu sudah patah karna kebodohanmu sendiri, hahaha!" Bopak tertawa lantang.


Namun semua murid yang menonton menatap Bopak dengan heran. Merasakan ada yang aneh dengan para murid yang menonton, Bopak langsung berbalik melihat bawahannya yang


berada di belakangnya. "Kenapa dengan semua murid? Apa mereka terkejut dengan kekuatan yang aku miliki?" "Se- Senior Bo, le- lengamu!" salah satu bawahan


Bopak langsung menunjuk lengan Bopak dengan gemetar. "Huh! Kenapa denganmu? ada apa memangnya dengan lenganku?" Bopak melihat lengan kanannya, dan melihat lengan kanannya yang telah berputar dengan darah yang mengalir deras.


"Aaaah... Apa yang terjadi! Kenapa lenganku patah seperti ini?" Bopak melihat ke arah Panji dan melihat Jingsy tidak terluka sedikitpun. Bopak langsung berlutut di atas tanah dan bersujud meminta maaf pada


Jingsy.


lembah.


Bopak yang tidak tahan dengan rasa sakit yang baru ia rasakan, lansung hilang kesadaran, lalu segera dibawa pergi oleh para bawahannya.


Jingsy dan Hanabi masuk ke dalam aula lembah dan akhirnya berhneti di meja yang sudah pernah ia datangi sebelumnya. "Ohh, Panji, sudabh sangat lama sekali kau tidak ke sini!" sapa tetua Aji.


"Tetua Aji, aku datang kemari mau mengambil jatah makanan dan mau meminta pakaian yang lebih besar!" "Hmm, ya, kau tumbuh dengan sangat cepat.


Terkhir kali aku melihat mu tidak setinggi ini.


Baiklah, aku akan mengambil pakaian yang pas untuk kau kenakan!" Tetua Aji berdiri lalu berlari meninggalkan Jingsy. "Jingsy, apa kau mau meliha tugas di papan sana?" tanya Hanabi.


"Tugas? Hmm, ayok!"

__ADS_1


Jingsy mengikuti Hanabi menuju papan yang dipenuhi dengan tugas dan banyak orang. Jingsy melihat banyak tugas yang berbeda dengan bayaran yang juga berbeda.


Di dalam lembah tidak menggunakan uang sebagai imbalan atas keberhasilan tugas, melainkan poin kontribusi yang akan dimasukan ke dalam lencana yang mereka miliki. "Jingsy, kenapa kita tidak mengambil satu tugas untuk diselesaikan.


Kau sudah berlatih keras, namun belum memiliki waktu untuk menggunakan hasil dari latihanmu, mengambil tugas seperti ini juga bisa menjadi salah satu solusinya!"


Jingsy melihat papan tugas dengan jeli dan berhenti pada satu tugas yang membuat dirinya sedikit tertarik. Segera Jingsy mendekati papan itu dan menarik lembaran tugas yang mau dirinya selesaikan. "Hanabi, aku sudah menemukan tugas yang


cocok untuk kita selesaikan!" "Oh, tugas apa itu, biarkan aku melihatnya!" Jingsy memberikan kertas tugas itu ke Hanabi dan segera Hanabi membacanya.


"Huh! Ini tugas berburu serigala abu abu. Apa kau mau kita menyelesaikan tugas ini?" tanya Hanabi. "Ya, aku sudah pernah melakukannya sekali secara tidak sengaja, jadi kali ini pasti tidak akan terlalu sulit" jawab Jingsy.


Tetua Aji kembali dengan membawa pakaian milik Jingsy serta stok makanan untuk mereka berdua, setelah tetua Aji memberikan Jingsy pakaian dan stok makanan, Jingsy


memberikan tetua Aji kertas tugas yang ia ambil di papan tugas. "Tetua Aji, aku dan Hanabi akan mengambil tugas yang ini!"


Tetua Aji mengambil kertas itu dan membaca isi


tugasnya. "Tugas ini tidak terlalu sulit, tapi apa kalian yakin bisa melakukannya hanya dengan dua orang saja?"


"Ya tetua Aji, kami berdua bisa melakukannya!" jawab Jingsy dengan cepat. "Baiklah, kalian berdua bisa melakukannya, tapi


jika kalian tidak sanggup, kalian bisa kembali ke lembah!" Tetua Aji mengembalikan kertas tugas pada Jingsy, "Untuk menyelesaikan tugas ini, kalian harus membawa 10 inti serigala abu abu!"


Jingsy mengambil kertas itu lalu alisnya menekuk mendengar apa yang diucapkan oleh tetua Aji. "Inti? Apa itu tetua Aji?" "Inti itu adalah pusat dari energi hidup dari montser, semakin kuat montser, maka akan semakin


besar inti yang mereka miliki, warna dari inti montser juga disesuaikan dengan elemen yang mereka miliki, contohnya elemen api, maka warna intinya akan berwarna merah.


Biasanya inti itu berbentuk seperti bola kecil seukuran tangan, dan untuk montser serigala abu abu, biasanya seukuran batu kecil." "Berbentuk seperti bola dan memiliki energi kehidupan?" Jingsy teringat kembali dengan bola hitam yang dijatuhkan oleh monster cacing dan serangga lain, saat dirinya berada di dalam Jurang


........Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2